Arabelle, seorang barista, tak menyangka hidupnya akan berubah ketika Lorenzo Devereaux, pemimpin dunia bawah yang dikenal sebagai Damon, datang menagih utang ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4
Arabelle terbangun sendirian.
Sisi kasur di sebelahnya masih sedikit hangat, tapi Lorenzo sudah tidak ada. Di atas bantal, ada selembar kertas kecil terlipat.
Aku datang jam tujuh.
Arabelle membaca ulang kalimat itu dua kali, lalu meletakkan kertas itu kembali dan bangkit dari kasur. Ia menyelesaikan rutinitas paginya, cuci muka, sikat gigi, rapikan tempat tidur, sebelum turun ke bawah.
Keluarganya sudah ada di ruang tamu. Mila berlarian dengan Mochi yang semangatnya seperti tidak pernah habis, sementara Daniel dan Catherine duduk menonton TV dengan tenang.
"Selamat pagi, sayang," kata Catherine.
"Pagi, Bu. Pagi, Yah."
"Pagi," sahut Daniel dengan senyum.
Arabelle sarapan secukupnya lalu kembali ke kamar. Ia menelepon Tori dan Chloe, bercerita sedikit tentang malam sebelumnya, sampai Catherine berteriak dari bawah.
"Arabelle!"
"Sebentar ya." Ia menutup telepon dan turun.
Catherine sudah berdandan rapi, baju yang ia kenakan bukan baju sehari-hari. Begitu pula Daniel. Dan Mila sudah dipakaikan baju cantik lengkap dengan pita di rambut.
"Mau ke mana?" tanya Arabelle bingung.
"Aduh, Ibu lupa bilang." Catherine menepuk dahinya sendiri. "Sebulan lalu Samantha kirim undangan pernikahan anaknya. Kita diundang. Mungkin pulangnya tengah malam, bisa sampai jam satu atau dua."
Arabelle mengangkat alis. "Jam dua pagi baru pulang dari nikahan?"
"Resepsinya memang sampai malam." Catherine mengangkat bahu.
"Oke. Hati-hati di jalan, semuanya."
Mereka keluar menuju mobil Daniel, dan Arabelle kembali ke kamarnya dengan langkah santai. Matanya jatuh pada catatan Lorenzo di atas bantal.
Jam tujuh.
Ia melirik jam di ponselnya. Pukul enam lebih lima puluh menit.
Arabelle turun ke sofa dan menyalakan TV, tapi pikirannya tidak benar-benar mengikuti apa yang ada di layar. Beberapa menit kemudian, bel pintu berbunyi.
Ia membuka pintu.
Lorenzo berdiri di sana, tangan di saku, dengan tatapan yang selalu tampak seperti sedang menilai sesuatu. Arabelle tidak tahu kapan persisnya, tapi sesuatu di dadanya bergetar dengan cara yang tidak bisa lagi ia abaikan.
Ia memeluknya duluan dan ia sendiri sedikit terkejut dengan keputusannya itu. Tangan Lorenzo bergerak naik menyusuri punggungnya, dan Arabelle merasakan sensasi yang sulit dijelaskan menjalar di sepanjang tulang belakangnya.
Ia melepaskan pelukan, mundur selangkah, dan membiarkan Lorenzo masuk sebelum mengunci pintu.
"Apa kabar?" tanya Lorenzo.
"Baik. Kamu?"
"Kamu peduli soal kabarku?" Satu sudut bibirnya terangkat.
"Itu... hal yang wajar untuk ditanyakan."
"Tidak tidak, aku tidak protes." Matanya berbinar. "Aku baik. Dan sekarang, setelah melihatmu, lebih dari baik."
Arabelle memalingkan muka, tapi pipinya sudah terlanjur panas.
Lorenzo melangkah lebih dekat. "Merah cocok untukmu," gumamnya, lalu mencium pipinya ringan.
*Dia akan jadi masalah besar.*
"Kenapa datang?" tanya Arabelle, berusaha terdengar biasa saja.
"Untuk melihatmu. Aku sudah bilang, kamu milikku."
"Aku bukan milik siapapun."
Ia melangkah maju perlahan, dan Arabelle mundur tanpa sadar sampai punggungnya menyentuh dinding.
Lorenzo merendahkan wajahnya, bibirnya bergerak menyusuri tulang selangka Arabelle dengan lembut. Tangannya menangkap kedua pergelangan tangan Arabelle di sisinya.
"Aku berhenti?" bisiknya, dan Arabelle bisa merasakan senyum di bibirnya.
Arabelle tidak menjawab, tapi kepalanya tidak bergerak ke mana-mana.
Bibirnya menelusuri naik, ke leher, sampai menemukan bibir Arabelle. Hangat. Lembut. Dengan cara yang Arabelle tidak siap hadapi.
Tangannya mencengkeram pinggang Arabelle, dan tanpa izin, desahan kecil lolos begitu saja.
Lidahnya menyentuh bibirnya, dan Arabelle merasa jantungnya seperti meledak menjadi serpihan-serpihan kecil.
"Milik siapa kamu?" tanyanya, bibirnya masih nyaris menyentuh bibirnya.
"Bukan milikmu," bisik Arabelle.
Ia menciumnya lagi, lebih dalam, lebih sabar.
"Milik siapa?"
Arabelle menghela napas pendek. "...Milikmu."
"Aku tidak dengar."
"Milikmu." Kali ini lebih jelas, dan ia tidak bisa menyembunyikan nadanya yang lemah.
Lorenzo tersenyum, senyum yang sesungguhnya, bukan yang dingin atau separuh sinis. Ia melepaskan ciumannya dan mundur selangkah, memberi Arabelle ruang untuk bernapas.
Arabelle menatap ke arah lain, tidak sanggup langsung bertemu matanya. Wajahnya pasti seperti tomat sekarang.
"Jangan pernah malu di depanku," kata Lorenzo pelan.
Arabelle mengangguk kecil.
"Bersiaplah. Kita pergi."
"Ke mana?"
"Kejutan."
**
Arabelle berganti pakaian, merapikan rambut, dan memakai riasan tipis. Ketika ia turun, Lorenzo sudah tidak ada di dalam rumah, ia menunggu di mobilnya seperti dugaan Arabelle.
Selama perjalanan, Arabelle masih mencerna apa yang baru saja terjadi di ruang tamu. Perasaan itu ada, nyata, hangat, dan sedikit menyebalkan karena ia tidak bisa lagi berpura-pura tidak merasakannya.
Tangan Lorenzo bergerak dan meletakkan telapak tangannya di atas tangan Arabelle yang ada di atas paha. Ia tidak menjelaskan apa-apa. Arabelle pun tidak menarik tangannya.
"Aku sudah bilang ini kejutan," katanya ketika Arabelle hendak bertanya lagi.
Arabelle menutup mulut.
Mereka berhenti di depan Taverna Notte, dari luar tampak seperti restoran mewah, tapi begitu lebih dekat, tampilannya lebih mirip bar atau pub bergaya premium. Dan di depan pintunya, ada kerumunan.
Kamera. Blitz. Orang-orang dengan recorder di tangan.
Arabelle menegang.
"Dengarkan," kata Lorenzo sebelum turun. "Paparazzi sudah menunggu di luar. Mereka mungkin akan tanya macam-macam. Jangan ditanggapi, cukup jalan terus."
Arabelle mengangguk.
Begitu pintu mobil terbuka, cahaya blitz langsung menyerang dari segala arah.
"Siapa kamu?"
"Ada hubungan apa dengan Lorenzo Devereaux?"
"Kalian pacaran?"
"Maaf," ucap Arabelle singkat kepada satu orang yang hampir menyelipkan mic ke wajahnya dan kemudian pintu Taverna Notte tertutup di belakang mereka.
Arabelle menghembuskan napas panjang.
Mereka duduk di bar. Lorenzo memesan tequila, dan Arabelle mengambil gelasnya begitu datang, meneguknya tanpa pikir panjang. Hangat, sedikit pahit, dan langsung terasa turun ke tenggorokan.
Tidak lama kemudian, Lorenzo beranjak ke arah beberapa orang di sudut ruangan, sepertinya kenalan atau rekan bisnis. Arabelle tinggal di bar.
Dan di sinilah masalahnya.
Begitu Lorenzo tidak ada di sampingnya, tatapan orang-orang mulai terasa. Bisik-bisik. Lirik-lirik yang tidak terlalu berusaha disembunyikan. Arabelle memesan satu shot lagi. Lalu satu lagi. Ia turun dari kursi bar dan masuk ke keramaian lantai dansa, membiarkan musik mendorongnya bergerak.
Tapi kemudian seseorang ada terlalu dekat.
Arabelle tidak langsung menyadarinya, kepalanya sudah mulai berputar dan lampu di sekelilingnya berbayang. Tangan itu ada di pinggangnya dulu, dan ia kira itu Lorenzo. Tapi ketika tangan itu turun ke tempat yang tidak seharusnya, Arabelle langsung berbalik.
"Hei! Berhenti!"
Pria itu tidak melepaskan.
"Lepaskan aku!" Arabelle mendorong, tapi cengkeramannya kuat. "Lepas! Tolong--!"
Sesuatu bergerak cepat di sisi kiri Arabelle. Lorenzo.
Ia menarik pria itu mundur dengan satu tarikan dan tinju pertama mendarat sebelum pria itu sempat bereaksi.
"Dia--" BRAK. "--bilang--" BRAK. "--tidak." BRAK.
"Lorenzo, cukup!" Arabelle memegang lengannya. "Kamu akan membunuhnya!"
Lorenzo berhenti. Pria itu sudah tidak dalam kondisi untuk melanjutkan percakapan apapun.
Mereka keluar dari Taverna Notte. Udara malam langsung menyergap Arabelle yang masih setengah limbung. Di bawah lampu jalan, ia melihat tangan Lorenzo berlumuran darah.
"Kamu baik-baik saja?" tanyanya.
Lorenzo menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca, lalu tersenyum miring. "Bukankah seharusnya aku yang tanya itu ke kamu?"
Arabelle mengeluarkan tisu basah dari tasnya dan membersihkan darah di tangannya pelan-pelan. Lorenzo membiarkannya tanpa berkata apa-apa.
Ketika Arabelle berdiri kembali, dunia tiba-tiba berputar. Ia memegang kepalanya.
"Arabelle."
"Aku..." Kakinya goyah. "Aku mau muntah."
Dan memang, ia muntah, di tepi jalan, di depan Lorenzo yang dengan sigap mengangkat rambutnya menjauh dari wajahnya.
Setelahnya, Arabelle berdiri dengan malu. "Itu alkohol. Maaf."
"Tidak apa-apa."
Di dalam mobil, Arabelle baru menyadari arah yang mereka tempuh bukan menuju rumahnya.
"Ini bukan jalan ke rumahku."
"Benar." Lorenzo tidak mengalihkan pandangannya dari jalan. "Kamu menginap di tempatku malam ini. Besok pagi aku antar pulang."
"Tapi aku tidak bawa--"
"Aku kasih kamu baju."
Arabelle terdiam sejenak. "...Oke."
**
Gerbang besi hitam terbuka otomatis begitu mobil Lorenzo mendekat.
Arabelle menatap keluar jendela dan tidak bisa tidak terkagum-kagum. Ini bukan rumah. Ini kompleks. Halaman depannya saja lebih luas dari taman komplek perumahannya. Ada air mancur di tengah, diterangi lampu kuning hangat, dikelilingi tanaman berbunga dengan warna yang berbeda-beda. Beberapa penjaga berdiri di pos-pos tertentu, berseragam gelap, diam seperti patung.
Mobil diserahkan ke salah satu penjaga, dan keduanya masuk ke dalam.
Interiornya tidak kalah mengejutkan. Langit-langitnya tinggi, didekorasi dengan warna hitam, putih, emas, dan perak, elegan tapi tidak berlebihan, seperti seseorang yang tahu persis batas antara mewah dan norak.
Seorang perempuan sekitar usia empat puluhan muncul dari arah lorong, senyumnya hangat dan profesional sekaligus.
"Selamat malam. Saya Rabeka, asisten rumah tangga di sini." Ia mengulurkan tangan.
"Arabelle." Mereka berjabat tangan.
"Rabeka, tolong tunjukkan kamarku ke Arabelle. Aku ada sebentar di ruang kerja," kata Lorenzo.
Rabeka mengantar Arabelle menaiki tangga utama dan membuka pintu kamar Lorenzo. Arabelle masuk dan berdiri sebentar di ambang pintu.
Besar. Gelap. Tapi nyaman dengan caranya sendiri. Skema warnanya hitam dan emas, dengan sedikit putih di beberapa sudut. Kasurnya lebar, headboard-nya tinggi, dan di pojok ruangan ada rak buku yang lebih terlihat seperti koleksi serius daripada pajangan.
Aku tidak akan terkejut kalau ada koleksi senjata di balik dinding.
Lorenzo masuk tidak lama kemudian. Mereka pergi ke walk-in closet yang ukurannya hampir sebesar kamar Arabelle di rumah, dan Lorenzo mengambilkan kaos dan celana pendek boxernya.
"Terima kasih," gumam Arabelle.
Ia berganti pakaian di kamar mandi. Kaosnya menjuntai hampir ke lutut, dan boxernya lebih mirip rok pendek. Arabelle menatap dirinya di cermin sebentar, lalu keluar.
Lorenzo sudah duduk di tepi kasur, menaruh ponselnya begitu Arabelle keluar. Ia membuka lengannya sedikit, undangan yang tidak perlu kata-kata.
Arabelle duduk di sampingnya. Lorenzo melingkarkan lengannya dari samping, dan Arabelle menyandarkan kepalanya.
"Kamu baik-baik saja?" tanyanya.
"Iya. Lelah saja."
Mereka berbaring. Selimut ditarik. Lorenzo memeluknya dari belakang seperti malam sebelumnya dan keheningan di antara mereka terasa berbeda dari sebelumnya. Bukan canggung. Bukan awkward. Hanya... tenang.
"Aku mencintaimu," bisiknya pelan di dekat telinganya.
Arabelle tidak menjawab.
Tapi ia juga tidak menyanggah.
Dan tidak lama kemudian, keduanya tertidur.