Dituduh Cinta karena kesalahan. Rama membuktikan kalau cintanya bukan kesalahan, murni rasa dari mata turun ke hati. Usaha mendapatkan cintanya seolah didukung oleh jagat raya meski berawal dari kesalahpahaman.
“Nggak masalah nikah karena digrebek, yang penting sah.”
“Siapa kamu, berani mencintai seorang Bimantara.”
“Di dunia ini, Rama jodohnya Gita.”
Kisah cinta Rama Purwangga dan Gita Putri Bimantara, jadilah saksi seberapa darurat cinta mereka.
Spin off Bosku Perawan Tua dan Diam-diam Cinta
=== Mohon dengan sangat agar tidak baca dengan melompat bab dan ikuti sampai akhir ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Nyonya Purwangga
Bab 25
...Tim Pencari Kitab Suci🤸...
Yuli Imut : Hei, jawab dong. Rama kenapa sih. Kok bawa pengacara segala
S4pri : Saya telpon gak ada yang respon
Lisa Kanaya : Sabar guys, meski aku juga penasaran
Beni Ganteng : Lagi sibuk, nanti dikabarin lagi
Lisa Kanaya : Info terbaru. Rama akan menikah hari ini kita doakan biar lancar ya
Yuli Imut : Demi apa. Rama, bisa-bisanya lo nikah diem-diem
S4pri : Mengetik
Yuli Imut : Mengetik
Rama memakai baju koko boleh Beni beli mendadak macam tahu bulat, lengkap dengan pecinya. Beni berdecak sambil menggeleng pelan sedangkan Asoka tergelak.
“Untung gue lagi off, coba kalau masuk kerja. Senengnya bikin heboh aja.”
“Kan gue udah bilang lo berdua harus dampingi gue nikah dan ikut rombongan.” Rama mematut wajahnya di kaca jendela. Mereka berada di beranda kediaman Bimantara sedangkan di dalam sedang sibuk menyiapkan akad nikah dadakan.
“Cita-cita nikah digerebek, terkabul juga ‘kan.”
“Udah hafal belum? Tiga kali mengulang batal nikah loh,” seru Asoka dan Rama dengan lantang mengucapkan lafaz ijab qabul. Masih saja bisa berkelakar padahal tadi sempat ciut dan mellow.
“Gue masih ganteng ‘kan? Nggak malu-maluin jadi bagian keluarga ini. Gil4, pada keren semua, nggak yang laki yang perempuan. Pantesan si cinta cantik banget, emaknya blasteran.”
“Pengen banget gue getok kepalanya pake gayung, masih bisa bercanda dia.” Keluh Beni sambil menggeleng lalu menekan area lebam di wajah Rama membuatnya mengump4t dan menghindar.
Sedangkan di dalam, Edric dan Ares sedang berbincang bersama Darma sambil menunggu kedatangan penghulu serta tokoh masyarakat di sekitar tempat tinggal itu.
“Pah, masih ada waktu untuk membatalkan rencana ini. Papa yakin menyerahkan Gita pada laki-laki itu?” Mada masih emosi, meski sudah disimpulkan kalau Gita menjadi awal penyebab masalah.
“Lalu papa harus serahkan Gita pada siapa? Mereka tidak macam-macam, tapi Rama sudah melihat tubuh adik kamu, ini aib. Sekarang kalian pikir, diantara kita para laki-laki yang Gita selama ini percaya, kenapa malah menghubungi Rama saat dia berada di situasi terburuk. Kenapa tidak papa, kenapa bukan Gilang atau kamu. Padahal dia baru mengenal Rama,” tutur Arya. Mada diam karena membenarkan analogi itu, begitu pun dengan Gilang.
“Andai bukan Rama yang menolong Gita, entah bagaimana nasibnya sekarang.”
“Maksud aku, bagaimana kehidupan Gita nanti. Rama, dia ….”
“Untuk menafkahi Gita dan membiayai kuliahnya, papa yakin Rama mampu. Papa sudah tahu latar belakang keluarganya. Papa tidak akan lepas begitu saja.” Arya meninggalkan kedua putranya bergabung dengan Sarah yang berbincang dengan Mira dan Cing Rohman di ruang keluarga yang akan dijadikan tempat ijab qabul. Karpet sudah digelar dan meja untuk akad pun sudah siap.
“Saya minta maaf tidak bisa membawakan hantaran pernikahan dengan layak, mahar pun mungkin seadanya.”
“Tidak masalah Bu, ini mendadak. Demi kebaikan anak-anak kita.” Sarah mencoba ikhlas dan tegar meski dalam hatinya ia bersedih.
“Maaf kalau putra saya lancang menyukai putri keluarga ini.”
Penghulu akhirnya datang, semua bergabung di ruang keluarga untuk menyaksikan akad nikah putri bungsu Arya Bimantara.
“Lah, ini mana mempelai prianya,” seru Dewa.
“Biar saya panggilkan.” Cing Rohman beranjak untuk memanggil Rama yang masih berada di beranda.
“Dari tadi gue belum lihat neng cinta, Cuma denger dia teriak sambil nangis. Kasihan banget, udah cinta mati kayaknya sama gue ya.”
“Setelah ini seumur hidup kamu bakal lihat dia terus. Tanggung jawabnya akan berpindah sama kamu Ram, nggak akan mudah. Kamu lihat dia dibesarkan di keluarga seperti apa,” tutur Asoka dan Rama paham akan hal itu.
“Astaga, Rama. Lo emang seneng bikin masalah. Di dalam akad mau dimulai lo masih ngegibah di sini. Cepet masuk,” titah Cing Rohman. Pria itu sempat menyampaikan saran mahar dari Mira dan Rama menyanggupinya.
“Calon bini gue udah siap Cing?”
“Nggak ada, gue belum lihat. Ayo, cepat!”
Rama dipersilahkan duduk berhadapan dengan Arya terhalang meja akad. Mira menggeser duduknya tepat di belakang sang putra.
“Sudah siap, mas?” tanya penghulu sambil memperbaiki letak kaca matanya.
“Lahir batin saya sudah siap, dari kemarin-kemarin malah.”
Suasana yang tadinya serius dan canggung perlahan mencair, apalagi Sadewa, Ares dan Edric malah terkekeh.
“Pantas aja jodoh, agak mirip sama calon mertuanya,” ejek Edric menyenggol lengan Arya.
“Serius, Ram,” tegur Beni.
“Rama,” tegur Mira mengusap punggung putranya.
“Iya, bu. Maaf.” Rama menatap sisi di sampingnya yang masih kosong. “Calon istri saya belum dikeluarin ya.”
“Astaga,” ujar Beni.
“Belum Ram, masih dioven. Tunggu mateng dulu.”
“Mas, diem,” ujar Moza karena suaminya malah menanggapi ocehan Rama.
Arya menatap Rama dan menghela pelan. Acara pun dimulai sampai pada penghulu mengarahkan Arya dan Rama untuk berjabat tangan. Rama sudah mengulurkan tangannya, Arya masih terdiam sampai Sarah menyentuh lengannya. Meski sudah yakin dengan keputusannya, ada rasa berat melepas putrinya dengan cara di luar harapan.
Akhirnya Arya menjabat tangan Rama. Rangkaian lafaz ijab dan qabul diucapkan bergantian antara Arya dan Rama. Serempak terucap kata, “SAH”.
Rama berucap syukur dan mengusap wajahnya. Sedangkan Sarah menyusut ujung mata, Mira kembali mengusap punggung putranya. Mahar yang disebutkan Rama, dua hektar tanah yang awalnya akan dibangun kontrakan. Definisi juragan yang sebenarnya.
“Moza, bawa Gita kemari!’ titah Arya.
Rama tidak bisa mengalihkan pandangannya saat melihat Gita diapit dua orang wanita. Meski dengan kebaya sederhana, tidak melunturkan kecantikannya.
“Ngedip,” ejek Asoka, Rama langsung berdeham.
Penghulu mengarahkan agar Gita mencium tangan Rama. Dengan mata berkaca-kaca karena rasa bersalahnya, meraih tangan Rama dan mencium dengan takzim.
“Maafin aku ya bang, aku yang salah,” ujar Gita dilanjut dengan isakan. Rama langsung meraih Gita ke dalam pelukan. Sarah ikut menangis menyaksikan momen itu, begitu pun dengan Mira.
Momen haru itu masih berlanjut saat pasangan yang baru saja halal itu bersimpuh untuk memohon maaf. Moza dan Rindu ikut meneteskan air matanya.
“Bu, maaf, caranya harus begini. Aku janji akan bahagiakan Gita dan ibu, aku sayang kalian,” seru Rama bersimpuh di pangkuan Mira.
Selesai proses akad, Arya mengenalkan anggota keluarganya pada Rama dan Mira dilanjut dengan sesi foto dengan Beni sebagai fotografer. Rama melipir mengajak Gita menjauh dari kumpulan keluarga.
“Cantik banget sih, istri abang.”
Gita menatap sendu wajah Rama, mendapati ada dua lebam di sana.
“Ini sakit?” tunjuk Gita dan Rama menggeleng sambil tersenyum. “Maafin aku ya bang.”
“Iya, aku maafkan. Sudah takdir jalannya harus begini, yang penting udah sah. Gita Putri Bimantara resmi menjadi nyonya Purwangga.”
dah tau pake nanya 🤭
orang tua kalian juga kalau tau kelakuan kalian begitu pasti kecewa 😔
denger arlan orang baik mah pasangannya sama orang baik, nah situ maniak cewe dapetnya juga tar yang sama kaya kamu 😏
Kalian yang jomblo & dokter vampire duda tambah ngiri aja ya, jangan sampe nganan itu lampu shein hatinya, ngiri aja 😜
ndak jujur az kalo ketangkep basah ma Camer???
hadew....