NovelToon NovelToon
Cinta Kontrak Seorang CEO

Cinta Kontrak Seorang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ana Sutiana

Ketika hidupmu dipenuhi dengan rutinitas dan kesibukan, tiba-tiba sebuah kontrak cinta muncul di depan mata. Sakira Anindya, seorang wanita muda yang mandiri, harus menjalani perjanjian unik dengan seorang CEO tampan dan misterius, Rafael Pratama. Awal dari perjanjian itu hanyalah formalitas, tapi hati tak pernah bisa diajak kompromi.

bisakah Sakira menjaga jarak tanpa terjerat perasaan? Ataukah kontrak ini justru membuka jalan bagi cinta yang tak pernah ia duga? Drama, romansa, dan rahasia CEO menanti untuk mengubah hidup Sakira selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Sutiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 22. perasaan yang tak tercantum dalam kontrak

Malam itu hujan turun tanpa aba-aba.

Langit Jakarta seperti ikut menumpahkan sesuatu yang selama ini ditahan. Dari balik dinding kaca apartemen mewahnya, Sakira berdiri diam, memandangi gemerlap kota yang buram oleh air.

Kontrak itu masih tergeletak di meja.

Tinta hitam di atas kertas putih. Tanda tangan Rafael yang tegas. Tanda tangannya sendiri yang sedikit gemetar.

Semuanya terlihat sah.

Semuanya terlihat jelas.

Kecuali satu hal yang tidak pernah mereka tuliskan.

Perasaan.

Pintu apartemen terbuka dengan bunyi pelan. Sakira tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang masuk.

Langkah itu terlalu dikenalnya sekarang.

“Kenapa belum tidur?”

Suara Rafael terdengar rendah, tapi lelah. Jasnya masih melekat rapi di tubuh tinggi itu, meski dasinya sudah dilonggarkan.

“Aku tidak mengantuk.”

Rafael berjalan mendekat. Berdiri tepat di belakang Sakira. Jarak mereka tidak bersentuhan, tapi cukup dekat hingga kehangatan tubuhnya terasa.

Hening.

Dulu hening seperti ini terasa canggung.

Sekarang… terasa berbahaya.

“Kamu memikirkan apa?” tanya Rafael pelan.

Sakira tersenyum tipis. “Memikirkan isi kontrak.”

Rafael mengernyit. “Apa ada yang salah?”

“Ada yang kurang.”

Pria itu kini benar-benar menatapnya. “Kurang apa?”

Sakira berbalik perlahan. Mata mereka bertemu. Dalam. Terlalu dalam.

“Pasal tentang batas perasaan.”

Rafael terdiam.

Hujan di luar semakin deras, seperti memberi latar pada ketegangan yang tak kasat mata.

“Kita sepakat ini hanya kerja sama,” Rafael akhirnya berkata. “Tidak lebih.”

“Benarkah?”

Nada suara Sakira lembut. Tapi justru itu yang membuat Rafael sulit bernapas.

“Rafa…” Sakira jarang memanggilnya seperti itu. “Kalau ini hanya kerja sama, kenapa kamu marah waktu aku hampir jatuh ke pelukan pria lain di acara gala?”

Rafael menegang.

Flashback itu masih jelas di benaknya. Seorang investor muda mencoba mendekati Sakira terlalu dekat. Tangannya hampir menyentuh pinggang wanita itu sebelum Rafael datang dan menarik Sakira ke sisinya.

Posesif. Tanpa alasan resmi.

“Itu bagian dari peran,” Rafael membela diri.

“Benarkah?” Sakira melangkah mendekat. “Lalu kenapa kamu terlihat seperti ingin memukulnya?”

Rafael terdiam.

Untuk pertama kalinya sejak kontrak ini dimulai, CEO dingin itu tidak punya jawaban.

Sakira menatapnya lama. Ada sesuatu yang rapuh di balik keberaniannya malam ini.

“Aku tidak ingin kita saling menyakiti karena pura-pura tidak merasakan apa-apa.”

Kata-kata itu menggantung di udara.

Rafael menelan ludah. “Sakira…”

“Kontrak ini akan berakhir enam bulan lagi,” lanjut Sakira. “Apa setelah itu kita akan kembali menjadi orang asing?”

Pertanyaan itu sederhana.

Tapi bagi Rafael, terasa seperti pisau yang menekan dadanya.

Ia selalu hidup dengan kendali. Dengan perhitungan. Dengan strategi.

Perasaan bukan bagian dari rencana hidupnya.

Namun sejak Sakira masuk ke dalam kehidupannya — semuanya berubah.

Cara wanita itu tersenyum ketika gugup. Cara ia membela diri dengan kepala tegak. Cara ia tidak pernah meminta lebih, padahal jelas ia layak mendapatkan lebih.

Rafael mengangkat tangan.

Hampir menyentuh wajah Sakira… lalu menghentikannya.

“Kita tidak boleh melewati batas,” katanya lirih.

Senyum Sakira meredup.

“Jadi memang ada batas?”

Rafael tidak menjawab.

Karena sebenarnya, batas itu sudah kabur sejak lama.

Keesokan paginya, suasana kantor terasa berbeda.

Sakira duduk di ruang sekretaris CEO, menatap layar laptop tanpa benar-benar membaca isinya. Pikirannya masih tertinggal pada percakapan semalam.

Pintu ruang kerja Rafael terbuka.

“Masuk,” suara itu terdengar profesional. Dingin.

Seolah tidak ada pembicaraan emosional semalam.

Sakira berdiri dan masuk dengan membawa beberapa dokumen.

Rafael sudah kembali menjadi CEO Rafael Mahendra yang dikenal semua orang. Tegas. Rasional. Tak tersentuh.

“Kita ada meeting dengan direksi jam sepuluh,” ucapnya formal.

“Baik, Pak.”

Satu kata itu terasa seperti jarak yang kembali dipasang.

Pak.

Bukan Rafa.

Rafael mengangkat wajahnya. “Sakira…”

Wanita itu berhenti di ambang pintu.

“Iya, Pak?”

Tatapan mereka kembali bertemu. Ada sesuatu yang ingin Rafael katakan.

Tapi langkah kaki seseorang terdengar mendekat.

Tok tok tok.

“Masuk.”

Pintu terbuka. Seorang wanita tinggi berambut panjang masuk dengan senyum percaya diri.

“Saya tidak mengganggu, kan?”

Sakira membeku.

Wanita itu… terlalu cantik. Terlalu elegan. Dan jelas bukan karyawan biasa.

Rafael berdiri. “Anindya. Sudah lama.”

Nama itu seperti gema yang tidak nyaman.

Anindya tersenyum. “Aku kembali ke Indonesia. Dan kupikir sudah waktunya kita bertemu lagi.”

Sakira merasakan sesuatu menusuk di dadanya.

“Aku mantan tunangan Rafael,” Anindya menambahkan dengan santai, seolah membaca kebingungan di wajah Sakira.

Dunia Sakira seperti berhenti sejenak.

Mantan tunangan.

Bukan sekadar mantan pacar.

Rafael terlihat tidak nyaman. “Kita bisa bicara nanti, Anindya. Sekarang saya ada urusan.”

Anindya menoleh ke arah Sakira, mengamatinya dari ujung kepala hingga kaki.

“Dan ini?” tanyanya.

Rafael terdiam sepersekian detik.

“Sekretaris saya,” jawabnya akhirnya.

Hanya itu.

Sekretaris.

Bukan istri kontrak. Bukan pasangan pura-pura. Bukan wanita yang semalam mempertanyakan batas perasaan.

Hanya sekretaris.

Senyum Anindya melebar tipis. “Oh.”

Sakira menggenggam map di tangannya lebih erat.

Ia profesional. Ia tidak boleh menunjukkan apa pun.

“Kalau begitu saya permisi, Pak.”

Ia menunduk sedikit dan keluar ruangan.

Begitu pintu tertutup, napasnya terasa berat.

Mantan tunangan.

Jadi itu alasan Rafael selalu dingin soal masa lalu.

Dan sekarang wanita itu kembali.

Siang harinya, gosip menyebar cepat di kantor.

Semua orang tahu siapa Anindya. Putri pengusaha besar. Calon istri sempurna bagi seorang CEO seperti Rafael.

Sakira mencoba fokus bekerja.

Namun setiap kali pintu ruang CEO tertutup bersama Anindya di dalamnya, hatinya seperti diremas pelan.

Ini hanya kontrak.

Ini hanya enam bulan.

Kamu tidak berhak cemburu.

Tapi logika dan hati jarang berjalan searah.

Pukul lima sore, Rafael keluar dari ruangannya.

“Sakira, ikut saya.”

Tanpa banyak tanya, Sakira mengambil tasnya.

Mereka masuk ke mobil.

Sunyi.

Hanya suara mesin dan lalu lintas sore Jakarta.

Kamu tidak bertanya kita mau ke mana?” Rafael membuka percakapan.

“Tidak perlu.”

Jawaban itu terlalu datar.

Rafael meliriknya. “Kamu marah?”

“Tidak, Pak.”

Kata itu lagi.

Rafael menghela napas pelan. “Berhenti memanggil saya Pak.”

“Di kantor, saya memang sekretaris Anda.”

“Kamu lebih dari itu.”

Sakira menoleh cepat. “Lebih dari apa?”

Rafael menghentikan mobil di lampu merah. Menatap lurus ke depan.

“Lebih dari sekadar peran.”

Hati Sakira bergetar.

Tapi tadi pagi Anda bilang saya sekretaris.”

“Itu untuk menghindari penjelasan panjang.”

“Atau karena memang itu memang itu posisi saya?”

Lampu berubah hijau.

Mobil kembali melaju.

“Aku tidak ingin Anindya mencampuri hidup kita.”

Kata “kita” terdengar samar, tapi jelas.

Sakira menatap keluar jendela. “Hidup kita atau hidup Anda?”

Rafael akhirnya menepikan mobil secara tiba-tiba.

Ia menoleh pada Sakira, wajahnya serius.

“Kenapa kamu menjauh?”

Sakira tertawa kecil. “Aku hanya kembali ke posisi yang seharusnya.”

“Dan posisi itu apa?”

“Wanita dalam kontrak. Tidak lebih.”

Rafael meraih pergelangan tangan Sakira sebelum wanita itu membuka pintu mobil.

Sentuhan itu hangat.

Terlalu hangat.

“Jangan bicara seperti itu,” suara Rafael merendah.

“Kenapa? Bukankah itu kenyataannya?”

Tatapan mereka bertemu. Kali ini bukan penuh tanya. Tapi penuh sesuatu yang lebih dalam.

“Kalau aku bilang… aku tidak ingin kontrak ini berakhir?”

Jantung Sakira seperti berhenti.

“Kamu serius?”

Rafael tidak langsung menjawab. Ia menatap wajah Sakira, seolah mencari keberanian di sana.

Namun ponselnya tiba-tiba berdering.

Nama yang muncul di layar membuat ekspresinya berubah.

Anindya.

Rafael menghela napas, melepaskan tangan Sakira.

Hanya sedetik.

Tapi cukup untuk membuat jarak kembali tercipta.

Sakira tersenyum tipis. Senyum yang dipaksakan.

“Angkat saja, Pak.”

Pak.

Kata itu terasa seperti tembok.

Rafael menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya menerima panggilan. Sementara itu, Sakira menatap lurus ke depan.

Ia tahu satu hal.

Jika Rafael tidak berani melangkah keluar dari bayang-bayang masa lalunya, maka perasaan yang tak tercantum dalam kontrak ini… hanya akan menjadi luka.

Dan Sakira tidak mau menjadi luka sementara dalam hidup seorang CEO.

Mobil kembali berjalan.

Namun untuk pertama kalinya sejak kontrak itu ditandatangani, Sakira merasa perjalanan ini mungkin tidak akan berakhir seperti yang ia harapkan.

Karena di antara hujan, mantan tunangan, dan kontrak enam bulan…

Ada hati yang mulai takut berharap.

Dan mungkin, seseorang yang belum siap memilih.

Malam itu, Sakira menerima sebuah pesan anonim.

“Kalau kamu tahu alasan sebenarnya Rafael membatalkan pertunangannya dulu, kamu tidak akan bertahan di sisinya.”

Tangannya gemetar membaca kalimat itu.

Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu Rafael?

Dan apakah ia siap mengetahui kebenarannya?

Bersambung… 💔✨

1
Ana Sutiana
bagus dan menarik ceritanya untuk di baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!