Sebuah kesaksian hidup yang di angkat dari kisah nyata yang pernah terjadi di kota Manado di tahun1998,tentang keterlibatan seorang gadis bernama Laura dalam kelompok penyembah iblis/ Satanic Church,sebuah perjanjian lama dan satu nyawa sebagai taruhan.
Bagi Laura,kebebasan adalah segalanya.namun,ia tidak pernah menyadari bahwa apa yang ia dapat dari kebebasannya harus ia bayar dengan potongan jiwanya sendiri.
Dalam pelarian mencekam antara logika dan mistis,Laura harus mencari cara untuk membatalkan dan memutuskan kontrak darahnya dengan Lucifer.
Bisakah ia lepas dari cengkraman Lucifer sebelum fajar terakhir menyapa? ataukah ia akan menjadi penghuni abadi dalam kegelapan tak berujung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gans March, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konferensi dan materi Illuminati
Pria berambut pirang itu berdiri tepat di tengah aula, tepat di bawah bayangan piramida raksasa yang seolah-olah menjadi mahkotanya. Ia tidak segera berbicara. Ia membiarkan keheningan yang menyesakkan itu merayap ke setiap sudut ruangan selama beberapa detik, memaksa semua orang untuk merasakan kehadirannya.
Matanya yang berwarna biru pucat, sedingin es, menyapu satu per satu perwakilan negara Asia yang hadir. Ketika tatapannya melewati Laura dan Steven, Laura merasa seolah-olah udara di paru-parunya tersedot habis. Meskipun ia mengenakan topeng, ia merasa pria itu bisa melihat menembus porselen, langsung ke dalam ketakutannya yang paling dalam.
"Saudara-saudaraku dari Timur," suara pria itu berat, dengan aksen Eropa yang kental namun sangat fasih. "Kalian telah dipanggil karena kalian adalah fondasi dari tatanan baru yang sedang kita bangun."
Ia berjalan perlahan mengitari meja besar, langkahnya terdengar berirama di atas lantai granit. Wanita bertopeng di sampingnya tetap diam, berdiri seperti patung hitam yang menjaga rahasia besar.
Pria itu berhenti di belakang kursi kosong yang paling megah. Tangannya yang mengenakan cincin emas dengan simbol yang sama dengan di dinding, mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu hitam.
"Tamu-tamu kita dari Barat telah setuju. Transisi akan dimulai dari sektor keuangan dan energi di wilayah kalian. Tidak ada ruang untuk kegagalan."
Ia mencondongkan tubuh ke depan, suaranya kini hampir berupa bisikan yang tajam. "Jika ada di antara kalian yang merasa ragu... ingatlah bahwa mata ini melihat segalanya. Tidak ada tempat untuk bersembunyi bagi mereka yang mengkhianati garis keturunan."
Steven mengepalkan tangannya di bawah meja, mencoba mengendalikan gemetar di jemarinya. Di sampingnya, ia bisa melihat tangan Laura yang mencengkeram kain gaunnya dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Wanita bertopeng hitam itu kemudian melangkah maju. Ia membuka map kulit tua yang dibawanya dan meletakkannya di tengah meja. Di dalamnya terdapat dokumen dengan segel lilin merah yang harus ditandatangani oleh setiap perwakilan—sebuah kontrak darah yang tidak bisa dibatalkan.
Satu per satu, perwakilan dari setiap negara dipanggil maju ke meja besar di bawah bayangan piramida emas. Prosesi ini dilakukan dengan presisi yang mengerikan; tidak ada suara selain gesekan jubah hitam di atas lantai granit dan goresan pena bulu di atas perkamen tua.
Wanita bertopeng hitam yang mendampingi pria pirang itu berdiri kaku di sisi meja. Ia membuka map kulit tersebut, memperlihatkan lembaran kertas yang tampak kekuningan dan bertekstur kasar. Setiap perwakilan harus menusuk ujung jari mereka dengan jarum perak kecil yang telah disediakan, lalu membubuhkan tanda tangan menggunakan campuran tinta hitam dan setetes darah mereka sendiri.
Pria pirang itu mengawasi setiap gerakan dengan mata birunya yang dingin, memastikan tidak ada keraguan dalam setiap goresan pena. Baginya, ini bukan sekadar kontrak bisnis, melainkan penyerahan kedaulatan jiwa kepada ordo.
Saat giliran perwakilan dari setiap daerah tiba, jantung Laura berdegup kencang di balik gaunnya. Ia memperhatikan dengan saksama sosok pria bertopeng porselen putih yang berdiri beberapa langkah di depannya. Meskipun wajahnya tertutup, ada sesuatu yang sangat familiar dari gestur tubuhnya.Pria itu berdiri dengan tegak, tangan kiri di belakang punggung—posisi khas yang sering terlihat dalam upacara kenegaraan di televisi.
Saat pria itu mengulurkan tangan untuk menandatangani dokumen, lengan jasnya tersingkap sedikit. Laura menangkap kilatan jam tangan emas edisi terbatas yang sangat spesifik, yang ia ingat pernah melingkar di pergelangan tangan seorang pejabat tinggi kementerian yang sering muncul di berita utama.
Ruangan terasa semakin sempit. Laura melirik ke arah Steven, mencoba memberikan kode melalui tatapan mata di balik lubang topengnya. Steven tampak menyadari kegelisahan Laura; ia sedikit merapatkan posisinya, memberikan perlindungan fisik yang halus.
"Jangan menatap terlalu lama," bisik Steven sangat pelan, hampir tidak terdengar.
Pria yang dicurigai sebagai pejabat itu menyelesaikan tanda tangannya. Ia berhenti sejenak, menoleh sedikit ke arah Laura seolah-olah ia bisa merasakan bahwa identitasnya sedang dikuliti. Detik itu terasa seperti keabadian. Hawa dingin merayap di punggung Laura. Jika benar orang itu adalah pejabat yang ia kenal, maka pengkhianatan ini jauh lebih dalam dan berbahaya dari yang mereka bayangkan sebelumnya.
Kini, giliran Laura yang dipanggil maju. Pria pirang itu menatapnya dengan tajam, tangannya memberi isyarat agar ia segera mendekati meja kontrak darah tersebut.
Lampu gantung kristal di atas meja besar itu seolah memusatkan seluruh cahayanya pada Laura saat ia melangkah maju. Di balik topeng porselennya, ia menarik napas dalam, membiarkan keanggunan alaminya menutupi badai kecurigaan yang berkecamuk di dalam dadanya. Gaun hitamnya menyapu lantai granit dengan suara desis halus, memberikan kesan wibawa yang setara dengan para elit di ruangan itu.
Di hadapan simbol raksasa Laura berdiri. tepat di depan meja kontrak, di bawah bayangan piramida Illuminati yang menjulang. Di sekelilingnya, perwakilan dari berbagai negara Asia—termasuk pria yang ia curigai sebagai pejabat tinggi tadi—terdiam dalam posisi hormat. Atmosfer ruangan yang tadinya penuh tekanan, kini berubah menjadi penuh antisipasi saat sosok wanita yang mewakili salah satu titik kunci itu bersiap memberikan komitmennya.
Jemari Laura yang ramping meraih pena bulu angsa hitam yang ujungnya telah dibasahi tinta pekat. Gerakannya sangat tenang dan terkontrol, menunjukkan kelasnya sebagai bagian dari lingkaran dalam yang terdidik.
Pria pirang tegap itu, sang tamu kehormatan dari Barat, tidak melepaskan pandangannya dari Laura. Ada kilatan yang berbeda di mata birunya—bukan lagi tatapan dingin yang menilai, melainkan sebuah pengakuan akan karisma.
Melihat cara Laura berdiri dengan dagu terangkat dan punggung yang tegak sempurna, pria itu melangkah keluar dari balik bayangan singgasananya. Ia menghampiri Laura, mengabaikan protokol kaku yang biasanya ia terapkan pada perwakilan lain.
"Luar biasa," suaranya rendah, hanya bisa didengar oleh Laura dan wanita bertopeng hitam di sampingnya. "Keberanian dan keanggunan yang jarang ditemukan di wilayah ini."
Sebelum Laura sempat menggoreskan pena di atas perkamen, pria itu mengulurkan tangannya yang besar dan kuat. Laura meletakkan pena itu sejenak dan menyambut uluran tangan tersebut.
Telapak tangan pria itu terasa dingin namun mantap, sebuah jabat tangan yang menyimbolkan aliansi gelap yang tak terpatahkan.
Pria itu sedikit membungkukkan kepalanya, sebuah gestur penghormatan yang membuat ruangan itu mendadak sunyi senyap. Para petinggi lain yang menyaksikan momen ini saling bertukar pandang di balik topeng mereka; mereka tahu bahwa Laura baru saja mendapatkan posisi istimewa di mata sang pemimpin.
"Selamat bergabung dalam tatanan baru, Nona," bisiknya sambil melepaskan genggamannya perlahan.
Laura merasakan tatapan tajam dari pria yang ia curigai sebagai pejabat kementerian itu. Kecurigaannya semakin kuat—jika seorang pejabat tinggi negara tunduk pada pria pirang ini, maka jaringan kekuasaan yang mereka hadapi sudah merambah hingga ke jantung pemerintahan.
Sang Tuan kembali ke posisi sentralnya di depan simbol piramida raksasa. Ia memberikan isyarat kecil, dan tiba-tiba sebuah proyektor mutakhir—teknologi yang sangat langka untuk tahun 1998—memancarkan citra digital ke dinding marmer yang bersih.
Suasana ruangan berubah menjadi laboratorium ideologi yang gelap saat ia mulai memaparkan cetak biru masa depan.
The Luciferian Corporation,Monopoli Tanpa Wajah.
Ia mengetuk meja, dan muncul bagan struktur organisasi global yang rumit.
"Kita tidak lagi berbicara tentang negara," suaranya menggema. "The Luciferian Corporation adalah entitas di atas kedaulatan. Ini adalah penggabungan perbankan pusat, media massa, dan industri militer menjadi satu kendali tunggal. Tujuannya? Menghapus kepemilikan pribadi secara bertahap dan menggantinya dengan ketergantungan total pada sistem kita."
Ia melirik ke arah pejabat yang dicurigai Laura. "Para politisi hanyalah manajer operasional. Pemilik sebenarnya ada di ruangan ini."
Luci Project,Rekayasa Identitas Global
Gambar di dinding berubah menjadi skema DNA dan transmisi sinyal satelit.
"Luci Project adalah tahap kedua,"
lanjutnya dengan mata berbinar jahat.
"Ini bukan hanya tentang kontrol ekonomi, tapi kontrol biologis. Kita akan memulai standarisasi pemikiran melalui pendidikan global. Di masa depan, manusia tidak akan lagi memiliki identitas spiritual yang independen. Mereka akan menjadi unit produktif yang terhubung dalam satu jaringan kesadaran yang kita kendalikan."
Ia menjelaskan bahwa melalui frekuensi dan teknologi informasi yang sedang dikembangkan, "cahaya" Lucifer akan ditanamkan sebagai satu-satunya kebenaran intelektual, menggantikan agama-agama lama yang dianggapnya sebagai 'belenggu kuno'.
Program Iblis Agenda "Pembersihan" Dunia
Di bagian akhir, ia menampilkan sebuah peta dunia yang dipenuhi titik-titik merah, terkonsentrasi di wilayah Asia.
"Program kita untuk abad mendatang adalah Chaos to Order (Kekacauan menuju Keteraturan). Kita akan memicu krisis yang terencana—baik itu wabah buatan, keruntuhan ekonomi, maupun konflik perang antar negara. Mengapa? Karena hanya dalam kondisi ketakutan yang ekstrem, massa akan memohon untuk diberikan perlindungan dan ketertiban. Saat itulah, kita akan hadir sebagai penyelamat dengan sistem satu dunia."
Laura merasakan hawa dingin yang luar biasa. Penjelasan itu bukan sekadar teori konspirasi; itu adalah instruksi kerja yang sangat sistematis. Ia melihat perwakilan dari negaranya mengangguk setuju dengan sangat antusias, seolah-olah pengkhianatan terhadap jutaan rakyatnya adalah sebuah prestasi karir yang gemilang.
"Nona Laura," sang Tuan tiba-tiba memecah lamunannya, suaranya kembali lembut namun menuntut. "Sebagai perwakilan wilayahmu, tugasmu adalah memastikan bahwa benih-benih 'Luci Project' mulai ditanam di institusi pendidikan di sana. Apakah kau siap menjadi tangan kanan cahaya kami?"
Ruangan itu mendadak sunyi. Semua mata bertopeng porselen kini tertuju pada Laura, menanti jawaban yang akan menentukan hidup atau matinya di mansion tua itu.