Perjalanan 50 KM, Tabungan Sebulan, Berakhir di Centang Biru.
Rafi, siswa SMA dengan uang saku pas-pasan, rela makan nasi garam selama sebulan demi satu proyek besar: mengajak Nisa berkencan ke Irian Kisaran. Menempuh 50 KM demi bioskop 5D dan makan di McD, semuanya tampak sempurna hingga mereka berpisah di terminal.
Di dalam bus pulang yang sunyi menuju Tanjung Balai, Rafi mengirimkan pesan terindahnya. Ia menunggu dalam cemas hingga bus tiba di tujuan, namun harapannya hancur saat layar HP hanya menunjukkan status paling menyakitkan: "Dibaca."
Apakah pengorbanan keringat dan harga diri Rafi hanya dianggap hiburan satu hari bagi Nisa? Di dunia di mana perasaan diukur dari kecepatan membalas chat, Rafi harus belajar bahwa investasi hati tak selamanya berbalas janji.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Panas yang Menyengat
Bab 20: Panas yang Menyengat
Matahari Sumatera Utara pada pukul sepuluh pagi bukan lagi sekadar kawan bagi para petani, melainkan musuh bagi siapa pun yang terjebak di dalam kaleng besi bernama bus ekonomi. Begitu bus meninggalkan area perkebunan yang agak rimbun dan memasuki jalanan aspal terbuka menuju arah Kisaran, suhu di dalam kabin melonjak drastis. Secara termodinamika, bus ini telah berubah menjadi oven berjalan.
Rafi melirik ke arah ventilasi di atas kepala Nisa. Tidak ada sedikit pun embusan angin dingin. Yang ada hanyalah debu yang sesekali rontok dari sela-sela plastik penutup AC yang sudah patah.
Supir bus mungkin sengaja mematikan kompresor demi menghemat solar, atau mungkin memang mesin tua itu sudah tidak sanggup lagi memutar kipas pendingin.
"Panas banget ya, Rafi..." gumam Nisa.
Suara Nisa terdengar agak lemah. Rafi menoleh dan hatinya langsung mencelos. Di dahi Nisa yang putih, butiran keringat mulai bermunculan seperti embun yang dipaksa lahir oleh hawa panas. Beberapa helai rambut halusnya menempel di pelipis, dan wajahnya yang tadi segar saat di gerbang terminal kini mulai memerah karena suhu udara yang mungkin sudah menyentuh 34 derajat Celcius di dalam kabin.
Rafi merasa sebuah bogem mentah menghantam harga dirinya. Secara logis, ia tahu ini bukan kesalahannya—ia tidak punya kuasa atas cuaca atau kondisi mekanis bus perusahaan orang lain. Namun, secara emosional, ia merasa gagal total.
Seharusnya aku punya motor. Seharusnya aku bisa menyewa mobil.
Pikiran-pikiran "seharusnya" itu berputar di kepala Rafi seperti baling-baling kipas angin yang rusak. Ia melihat Nisa mengambil selembar tisu dari tasnya dan menepuk-nepuk lehernya yang mulai basah. Gerakan itu sangat sederhana, namun bagi Rafi, setiap tepukan tisu itu adalah pengingat betapa tidak nyamannya Nisa saat ini.
"Maaf ya, Nis. AC-nya kayaknya mati," kata Rafi, suaranya penuh sesal. Ia merasa menjadi pria paling tidak berguna di sepanjang jalan lintas Sumatera ini.
Nisa menoleh, mencoba tersenyum meskipun terlihat kepanasan. "Nggak apa-apa, Rafi. Kan ada jendela. Cuma ya... debunya itu, lho."
Nisa benar. Begitu jendela digeser lebih lebar, yang masuk bukan hanya angin, tapi juga asap hitam dari knalpot truk sawit di depan mereka dan debu jalanan yang pedih di mata. Nisa terpaksa menutup hidungnya dengan tisu.
Rafi segera beraksi. Ia meraih buku catatan kecil yang ia bawa di tas ranselnya—buku yang awalnya ia siapkan untuk mencatat draf biaya cadangan. Ia mulai menggerakkan buku itu maju mundur, menciptakan aliran udara manual ke arah wajah Nisa.
"Eh, nggak usah, Rafi. Nanti tanganmu capek," cegah Nisa.
"Nggak apa-apa, Nis. Biar kamu nggak terlalu gerah," jawab Rafi tegas. Ia tidak peduli jika otot lengannya pegal. Secara analitis, mengipasi Nisa adalah satu-satunya kompensasi yang bisa ia berikan atas kemiskinan fasilitas yang ia sajikan hari ini.
Sambil terus mengipasi, mata Rafi tidak sengaja melirik ke arah tangannya sendiri yang sedang memegang buku. Kemeja flanel birunya sudah mulai basah di bagian ketiak dan punggung. Ia bisa merasakan keringat mengalir di tulang belakangnya, menciptakan rasa gatal yang sangat mengganggu. Ia sangat khawatir jika bau keringatnya mulai mengalahkan aroma parfum jeruk nipis murahannya.
Sial, kalau aku bau, habis sudah reputasiku di depan Nisa, pikirnya cemas.
Ia mencoba mengatur jarak duduknya agar tidak terlalu menempel pada Nisa, demi menjaga suhu di antara mereka tidak semakin meningkat.
Namun, bus yang berguncang hebat setiap kali melindas lubang jalanan terus melemparkan tubuh mereka untuk saling bersentuhan bahu.
Rafi memperhatikan Nisa lagi. Gadis itu sekarang memejamkan mata, kepalanya bersandar lemas pada bingkai jendela yang panas. Bibirnya tampak sedikit kering.
Secara cepat, Rafi melakukan audit terhadap inventarisnya. Ia punya botol air mineral yang ia bawa dari rumah (Bab 19). Ia mengambil botol itu.
"Nis, minum lagi? Biar nggak dehidrasi," tawar Rafi.
Nisa membuka mata, menerima botol itu dengan tangan yang sedikit gemetar karena panas. "Makasih, Rafi."
Saat Nisa minum, Rafi memperhatikan jakun Nisa yang bergerak naik turun. Ada rasa haru sekaligus perih di hati Rafi. Nisa tidak mengeluh. Dia tidak marah-marah atau meminta turun dan pulang. Dia bertahan di dalam bus apek ini bersamanya. Bagi Rafi, kesabaran Nisa adalah sebuah kemewahan yang tidak bisa dibeli dengan uang 315 ribu miliknya.
"Nanti kalau sudah sampai di Kisaran, kita cari tempat yang AC-nya dingin banget ya, Nis. Aku janji," ucap Rafi lirih.
Nisa mengangguk kecil sambil memberikan kembali botol airnya. "Iya, Rafi. Aku cuma pengen duduk di tempat yang nggak goyang-goyang kayak gini."
Bus mengerem mendadak karena ada angkot yang berhenti sembarangan di depan. Tubuh Nisa terdorong ke depan, dan Rafi dengan sigap menahan bahu Nisa dengan tangan kirinya agar wajah gadis itu tidak menghantam kursi depan.
"Hati-hati!" seru Rafi.
Tangan Rafi tertahan di bahu Nisa selama beberapa detik. Ia bisa merasakan panas tubuh Nisa melalui kain kemeja putih gadingnya. Begitu bus kembali stabil, Rafi segera menarik tangannya dengan canggung. Jantungnya berdegup lebih kencang daripada getaran mesin bus.
"Makasih," bisik Nisa. Pipinya yang sudah merah karena panas tampak sedikit lebih merona.
Rafi kembali mengipasi Nisa dengan buku catatannya. Lengannya mulai terasa pegal, namun ia tidak berhenti. Ia menatap ke luar jendela, memperhatikan pohon-pohon sawit yang seolah mengejeknya dengan ketenangan mereka di bawah terik matahari.
Secara objektif, perjalanan ini adalah sebuah bencana kenyamanan. Namun secara emosional, di tengah panas yang menyengat dan peluh yang membanjiri, Rafi merasa ada sesuatu yang sedang tumbuh di antara mereka. Sebuah rasa solidaritas dalam penderitaan.
Ia meraba dompet di saku celananya lagi. Uang itu masih ada, kering dan aman. Ia bersumpah dalam hati, begitu mereka menginjakkan kaki di lantai Mal Irian Kisaran yang dingin nanti, ia akan memperlakukan Nisa seperti seorang ratu, meski hanya untuk beberapa jam.
Terlihat pemandangan butiran keringat yang jatuh dari dagu Rafi ke atas celana jinsnya, sementara tangannya terus bergerak lincah mengipasi Nisa tanpa henti, seolah buku catatan itu adalah satu-satunya alat pertahanan hidup yang ia miliki di dunia ini.