Bagi Liana, mencintai Justin dimulai dari sebuah sore di lobi kampus. Hanya karena melihat Justin bermain basket di bawah hujan, Liana nekat mengejar pria dingin itu hingga mereka bersatu di tengah lapangan basket yang basah.
Namun, janji itu hancur saat Justin memutusnya secara sepihak di hari kelulusan Justin dan menghilang tanpa jejak.
Tiga tahun kemudian.
Liana terkejut saat harus berhadapan dengan CEO baru di kantor tempatnya melamar kerja. Justin kembali, namun ia kini asing, dingin, dan terjebak dalam pusaran perjodohan.
Meski waktu berlalu, Liana menyadari: "There was something about you that I can't forget." Hidupnya tetap terjebak pada melodi yang sama Lagu kesukaannya "About You" milik The 1975. Karena baginya, ini masih tentang Justin di setiap detiknya.
Apakah takdir memberi mereka kesempatan kedua, ataukah hujan kali ini benar-benar menghapus jejak mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Tawaran Pulang Bersama
Suasana di dalam ruang Sekretariat UKM Basket kembali mendingin, bahkan lebih kaku dari pertemuan sebelumnya. Cahaya lampu neon yang putih pucat memantul di atas meja kayu yang dipenuhi lembaran kertas revisi anggaran. Kaila, dengan mata yang tajam dan wajah yang tidak menunjukkan kompromi, menyodorkan map merah ke hadapan Justin.
"Ini data final yang gue susun semalaman. Gue nggak mau denger alasan soal 'realistis' lagi, Justin. Ini kebutuhan mendasar tim putri kalau kita mau bawa pulang piala tahun ini," suara Kaila terdengar tegas, bergema di ruangan yang sempit itu.
Justin membaca dokumen tersebut dengan teliti. Dahinya berkerut. Perdebatan sengit kembali pecah. Justin tetap pada pendiriannya untuk menjaga efisiensi, sementara Kaila menuntut keadilan bagi timnya. Argumen demi argumen terlontar, membuat suasana semakin tegang. Raka, yang duduk di antara mereka, berkali-kali menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya.
"Oke, oke! Stop!" seru Raka akhirnya, memotong kalimat Justin yang baru saja akan keluar. "Justin, Kaila, dengerin gue. Gimana kalau kita bagi dua selisihnya? Tim putra tetep dapet tambahan suplemen, tapi pengadaan sepatu baru tim putri nggak dipotong, melainkan diambil dari dana sisa sponsor tahun lalu yang belum terpakai. Adil, kan?"
Justin terdiam sejenak, menimbang-nimbang angka di kepalanya. Kaila juga tampak berpikir. Setelah beberapa menit keheningan yang menyesakkan, Justin akhirnya mengangguk pelan.
"Oke. Kita pake saran Raka. Rapat anggaran selesai. Final," ucap Justin sambil menutup map merah tersebut.
Kaila mengembuskan napas lega, meski wajahnya masih tampak sedikit lelah. "Akhirnya. Makasih, Rak. Lo emang penyelamat."
Setelah suasana mencair dan para staf lain mulai meninggalkan ruangan, Justin merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan ponsel yang sengaja ia silent selama rapat berlangsung agar bisa fokus. Begitu layar menyala, ada dua notifikasi pesan yang muncul.
Pesan pertama dari Mamanya.
Mama: Justin, maaf ya, urusan di Singapura ternyata lebih rumit. Kepulangan Mama dan Papa kayaknya diundur sampai bulan depan. Kamu jaga diri baik-baik di rumah, ya.
Justin menatap pesan itu dengan datar. Tidak ada rasa terkejut, hanya ada rasa hambar yang kembali menyelimuti hatinya. Baginya, rumah hanyalah sebuah gedung besar yang kosong tanpa kehangatan keluarga. Ia kemudian beralih ke pesan kedua, yang berasal dari Liana.
Liana: Kak Justin, maaf ya saya ketiduran. Makasih banyak catatannya, ini sangat membantu! Saya baru bangun dan mau lanjutin sedikit tugasnya.
Liana: Semangat ya rapatnya sama Kak Kaila dan Kak Raka!
Membaca pesan itu, garis keras di wajah Justin perlahan melembut. Ada sesuatu yang hangat menyelinap di antara rasa sepi yang baru saja dikirimkan oleh orang tuanya. Ia tidak langsung membalas, melainkan segera membereskan tasnya.
Di perpustakaan, Liana baru saja menutup buku tulisnya. Ia meregangkan otot-otot lengannya yang terasa kaku. Saat ia melirik jam di sudut layar ponselnya, matanya membelalak.
"Hah? Sudah jam tujuh malam?!" pekiknya tertahan.
Ia tidak menyangka bahwa mengerjakan tugas Pak Bram dengan panduan dari Justin akan membuatnya lupa waktu. Perpustakaan sudah mulai sepi, hanya ada beberapa mahasiswa tingkat akhir yang masih berkutat dengan skripsi. Liana segera memasukkan buku-bukunya ke dalam tas, memastikan kertas kuning dari Justin tersimpan aman di saku hoodie-nya yang masih ia kenakan.
Liana berjalan cepat keluar dari perpustakaan menuju lobi fakultas. Suasana kampus sudah gelap, hanya diterangi lampu-lampu jalanan yang temaram. Saat kakinya menginjak lantai lobi, ia melihat sosok tinggi yang sangat familiar berdiri di dekat pilar besar.
Itu Justin. Laki-laki itu sedang berdiri membelakanginya, tampak sibuk mengetik sesuatu di ponselnya—mungkin membalas pesan Mamanya tadi. Liana ragu untuk menyapa. Haruskah ia memanggilnya? Ataukah pura-pura tidak melihat?
Namun, sebelum Liana sempat memutuskan, suara gemuruh terdengar dari langit. Dalam sekejap, hujan kembali turun dengan derasnya, jauh lebih lebat daripada pagi tadi.
Sret!
Liana terhenti di depan pintu keluar lobi. Ia menatap butiran air yang menghantam lantai aspal dengan keras. "Aduh, hujan lagi..." keluhnya pelan. Ia membayangkan harus berlari ke halte bus dalam kondisi gelap dan basah kuyup seperti ini.
Justin, yang mendengar suara hujan, langsung mendongak. Ia memasukkan ponselnya ke saku dan bersiap membuka payung biru besarnya yang selalu ia bawa di tas. Namun, gerakannya terhenti saat ia menyadari ada seseorang di sampingnya. Ia menoleh dan mendapati Liana sedang menatap hujan dengan wajah bingung.
"Mau pulang?" suara Justin memecah keheningan lobi.
Liana tersentak dan menoleh. "Eh... iya, Kak Justin. Tapi hujannya deras banget."
Justin menatap keluar, lalu kembali menatap Liana. Pagi tadi ia membawa mobil karena ramalan cuaca yang buruk, jadi ia tidak perlu khawatir soal basah kuyup. Namun, melihat Liana yang tampak kedinginan di balik hoodie-nya yang kebesaran, Justin merasa tidak tega membiarkan gadis itu menunggu bus sendirian di jam segini.
"Gue bawa mobil hari ini. Ayo, gue anter," ucap Justin datar, seolah itu adalah hal paling biasa di dunia.
Liana membelalak. "Eh? Enggak usah, Kak! Beneran. Saya bisa tunggu bus kok, atau pesen ojek online nanti kalau hujannya agak reda."
"Jam segini jarang ada bus yang lewat depan komplek lo kalau hujan deres begini. Ojek juga pasti lama nyampenya," balas Justin tanpa ekspresi. "Daripada lo nunggu sampai jam sepuluh malem di sini sendirian, mending ikut gue."
Liana merasa sangat tidak enak. Ia merasa sudah terlalu banyak merepotkan Justin hari ini. "Tapi rumah saya arahnya beda sama rumah Kakak..."
"Nggak apa-apa. Nggak jauh," potong Justin cepat. Ia tidak memberi kesempatan bagi Liana untuk menolak lagi. "Ayo. Mobil gue di parkiran sana."
Justin membuka payung birunya, lalu memberikan isyarat agar Liana masuk ke bawah perlindungannya. Sekali lagi, mereka berjalan berdekatan di bawah satu payung. Suara hujan yang berisik di atas kain payung menciptakan ruang privat kecil di antara mereka. Liana bisa merasakan aroma dingin air hujan yang bercampur dengan wangi maskulin Justin.
Sesampainya di mobil sedan hitam mengkilap milik Justin, laki-laki itu membukakan pintu penumpang depan untuk Liana. Liana masuk dengan perasaan canggung yang luar biasa. Bagian dalam mobil itu sangat rapi dan berbau harum, khas seperti pemiliknya.
Justin menutup payungnya, lalu masuk ke kursi pengemudi. Ia menyalakan mesin dan hawa hangat dari heater mobil mulai terasa, mengusir rasa dingin yang tadi sempat menyergap Liana.
"Alamat rumah lo?" tanya Justin sambil mulai menjalankan mobilnya perlahan keluar dari area kampus.
Liana menyebutkan alamat rumahnya dengan suara pelan. Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa sangat sunyi, hanya diisi oleh suara sapuan wiper kaca depan yang beradu dengan hujan. Liana mencuri pandang ke arah Justin yang sedang fokus menyetir. Wajahnya yang diterangi lampu dashboard terlihat sangat tenang namun menyimpan sejuta misteri.
"Makasih ya, Kak... buat semuanya hari ini," ucap Liana memecah keheningan. "Udah di pinjemin jaket, diajarin tugas, terus sekarang dianter pulang."
Justin tidak menoleh, matanya tetap pada jalanan yang basah. "Hm. Anggap aja investasi biar maba gue nggak ada yang sakit pas latihan besok."
Liana tersenyum tipis. Jawaban Justin selalu terdengar kaku, tapi tindakannya berkata lain. Di balik kemudi mobil itu, di tengah badai hujan yang mengguyur kota, Liana merasa lebih aman daripada di mana pun. Ia tahu, di balik sifat dingin Justin, ada hati yang sebenarnya peduli. Dan malam ini, di dalam mobil yang melaju tenang, Liana merasa detak jantungnya semakin mantap memilih siapa yang ingin ia perjuangkan.