NovelToon NovelToon
Lupa Bahwa Kau Milikku

Lupa Bahwa Kau Milikku

Status: tamat
Genre:CEO / Perjodohan / Tamat
Popularitas:44.8k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Menikah tanpa kehadiran suami bukanlah impian Sheena. Ia terpaksa menandatangani dokumen pernikahan di catatan sipil hanya didampingi oleh ibu mertuanya, sementara Matthias—sang suami—lebih memilih merayakan kelulusan S2-nya di The Spire Of Wisdom tanpa sedikit pun memberi kabar.

Tiga bulan penuh pengabaian membuat hati Sheena mendingin. Saat Matthias pulang dengan aura black flag yang kaku dan dingin, Sheena dipaksa pindah ke mansion pribadi pria itu. Matthias bersikap seolah Sheena hanyalah orang asing yang menumpang hidup, karena hatinya masih tertahan pada sosok gadis kecil di halte bus bertahun-tahun lalu—satu-satunya orang yang membolehkannya menangis.

Matthias tidak sadar, sapu tangan yang ia simpan bagai nyawa adalah milik wanita yang kini ia abaikan di rumahnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, apakah Sheena masih mau menunggu pria yang sudah membuang waktunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Balik Kegelapan dan Trauma

Sheena masih melamun di kamarnya, menghirup sisa aroma wood and musk yang tertinggal di lorong. Pikirannya carut-marut antara tugas anatomi jantung dan kecurigaan bahwa suaminya baru saja mengupingnya bernyanyi.

"Sial, fokus Sheena! Jantung manusia lebih penting daripada jantung si tiang gapura itu," gerutunya sambil memijat pelipis.

Namun, tepat saat ia hendak kembali duduk, suara guntur menggelegar dahsyat di langit Makati. Detik berikutnya, PET! Seluruh lampu di mansion padam seketika. Kegelapan pekat menelan ruangan itu tanpa peringatan.

Sheena membeku. Jurnal medis di tangannya terjatuh ke lantai dengan bunyi debub yang berat.

Udara di sekitarnya mendadak terasa tipis. Kegelapan ini bukan sekadar hilangnya cahaya; ini adalah lubang hitam yang menyeret paksa ingatannya ke ruang teater sekolah belasan tahun lalu. Ingatan tentang perampok yang mendobrak masuk, tentang jeritan guru seninya yang hancur berkeping-keping di bawah kekejaman mereka, dan tentang rasa sesak saat ia bersembunyi di balik tirai panggung yang berdebu.

"Jangan... tolong... jangan di sini..." suara Sheena bergetar.

Ia merosot ke lantai, memeluk lututnya erat-ratat. Napasnya pendek dan tersengal, serangan panik (panic attack) mulai melumpuhkan logikanya. Kamar yang luas itu kini terasa seperti penjara bawah tanah yang mencekam.

Di sayap kanan, Matthias yang baru saja menutup pintu kamarnya mendengus kesal melihat kegelapan total. Ia segera menyalakan senter ponselnya. Langkahnya yang semula ingin menuju dapur terhenti saat ia mendengar suara rintihan tertahan dari arah sayap kiri.

"Sheena?" Gumamnya.

Awalnya ia ragu, namun instingnya memerintahkan untuk berlari. Matthias melintasi lorong dengan langkah panjang dan mendapati pintu kamar Sheena sedikit terbuka. Cahaya senternya menangkap sosok mungil yang meringkuk di pojok ruangan, gemetar hebat seperti daun yang tersapu badai.

"Sheena! Kau kenapa?" Matthias berlutut di depannya.

Saat tangannya yang besar menyentuh bahu Sheena, gadis itu menjerit histeris. "Jangan! Pergi! Jangan sakiti aku! Gelap... tolong, jangan menyentuhku!"

Matthias tertegun. Ia belum pernah melihat Sheena yang seberani singa di kampus kini tampak sehancur ini. Tanpa pikir panjang, ia mematikan senternya—takut cahayanya justru menyilaukan mata Sheena yang sedang trauma—dan menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.

"Sshhh... ini aku. Matthias. Tidak ada siapa pun di sini kecuali aku," bisik Matthias. Suaranya yang berat dan dalam memberikan efek menenangkan yang tak terduga.

Ia menggendong tubuh kecil Sheena menuju tempat tidur, namun Sheena mencengkeram kemejanya begitu kuat sampai kancing atasnya nyaris lepas. "Jangan pergi... tolong... jangan tinggalkan aku di tempat gelap," isak Sheena di dada Matthias.

Matthias menghela napas panjang. Gengsinya runtuh. Ia ikut merebahkan tubuhnya di kasur, membiarkan Sheena bersandar di dadanya yang bidang. Ia mengusap punggung Sheena perlahan, sebuah gerakan hangat yang bahkan ia sendiri lupa pernah ia miliki.

Pelan-pelan, isakan Sheena mereda. Kehangatan tubuh Matthias yang kekar itu seolah membungkus rasa takutnya. Sheena tertidur karena kelelahan emosional, wajahnya masih menyisakan bekas air mata di balik kacamata yang miring.

Pukul 05.30 Pagi. Cahaya fajar mulai mengintip dari celah gorden. Matthias terbangun dan menyadari lengannya mati rasa karena tertindih kepala Sheena semalaman.

Ia menoleh ke samping. Di sana, Sheena masih terlelap. Kacamata bulatnya sudah dilepas oleh Matthias semalam agar tidak patah. Tanpa bingkai kaca itu, wajah Sheena terlihat sangat berbeda. Sangat cantik. Bibirnya yang mungil, hidung button-nya yang imut, dan ekspresi tenangnya membuat Matthias terpaku selama beberapa saat.

"Ternyata kau bisa terlihat setenang ini," gumam Matthias hampir tak terdengar.

Ada dorongan aneh di hatinya untuk terus menatap, namun ego besarnya segera mengambil alih. Ia tidak ingin Sheena bangun dan menganggapnya mengambil kesempatan dalam kesempitan. Dengan gerakan sangat hati-hati, ia melepaskan pelukan Sheena, menggantinya dengan bantal, lalu turun dari ranjang.

Pukul 06.00, Matthias sudah rapi dengan setelan kantornya dan berangkat tanpa sarapan, seolah ingin melarikan diri dari perasaan hangat yang sempat mampir di hatinya semalam.

Dan pukul 07.00 pagi. Sheena mengerjap, sinar matahari menyilaukan matanya. Ia meraba-raba nakas mencari kacamatanya. Saat kesadarannya pulih, jantungnya mencelos. Ia ingat tangan besar yang memeluknya, suara berat yang menenangkannya, dan dada bidang yang menjadi bantalnya semalaman.

"Tiang gapura itu... dia benar-benar menemaniku?" Wajah Sheena memanas. Ia merasa gelisah, malu, sekaligus bingung.

Ia segera turun ke bawah dengan langkah terburu-buru. "Bi! Di mana Matthias?"

"Tuan sudah berangkat satu jam yang lalu, Nona," jawab kepala pelayan.

Sheena terdiam di depan ruang makan. Rasa terima kasih yang sudah ia susun di kepala mendadak menguap. "Satu jam yang lalu? Pagi sekali? Apa dia sengaja menghindariku?" gumamnya kesal.

Ia menatap kursi kosong di ujung meja makan. "Pria monster itu... ternyata punya sisi hangat juga ya," bisik Sheena, sambil menyentuh dadanya yang berdebar aneh. "Tapi kenapa harus kabur secepat itu? Dasar pria menyebalkan."

1
Ira Nadira
astga nagaaaaaaaa bagus bgt thorrrr😍😍😍 aku padamu pokoknya mah😍
Bae •: makasih ya kak 😍
total 1 replies
Ira Nadira
baper bgt kalo punya laki model gini nih🤭, kira2 ada g yah di dunia nyata😁
Ira Nadira
mampus lu rasain😒
Ira Nadira
tp di awal td ada kata2 kalo si mathiass tau Senna pemilik sapu tangan itu kan??
Ira Nadira
yahhh pecah perawan dah😁
Ira Nadira
duh thorrrr🤣kan gw yg salting ihhh malu ahh🤭
bagus, ceritanya ringan dan manis. gak ada konflik. tapi panjangkan lah lain kali ceritanya hahah🤣
Ira Nadira
wahhh salut sama si othorrr keren bgt penulisannya😍😍 hampir g ada typo samsek😍😍
Ira Nadira
astaga astagaaaaaaaa😍😍😍 manis bgt sih akhhh🤣🤣
Ira Nadira
dari awal bab g pernah komen karna saking serunya😍😍
Bae •: makasih ya kak😍
total 1 replies
Naufal hanifah
keren /Good//Good//Good/
Sari Purnama
Hmm..saya suka saya suka saya sukaaaaaaaa
Sari Purnama
ahay deuy..🤭🤭
YuWie
seru sih..tapi klo salah sangkanya dipanjang2 in jadi malz jg ya
YuWie
berubah kah wajah mereka shg tak saling mengenali?
LEECHAGYN
wihh terpanaa juga😭
Anonymous
ceritanya bagus bgttttt...,. sayang terlalu pendekkkkk....
mili
suka cerita nya
falea sezi
keren
Mirda Julianti
karya yang bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!