NovelToon NovelToon
A Feeling Rising In Chaos

A Feeling Rising In Chaos

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Misteri / Hari Kiamat / Fantasi / Romansa / Action
Popularitas:49
Nilai: 5
Nama Author: Aurora Veganadia

Dunia runtuh bukan karena virus itu sendiri—melainkan karena vaksin yang dijanjikan sebagai penyelamat. Saat wabah menyebar dan ketakutan menguasai setiap sudut kota, pemerintah memerintahkan seluruh rakyat untuk menerima vaksin demi mencegah penularan. Mereka percaya itu adalah harapan terakhir umat manusia. Namun harapan itu berubah menjadi bencana.

Vaksin yang seharusnya melindungi justru memicu mutasi tak terduga. Tubuh manusia berubah, naluri mereka terdistorsi, dan kemanusiaan perlahan terkikis. Dalam hitungan waktu, peradaban yang dibangun selama ratusan tahun runtuh—bukan oleh penyakit, tetapi oleh “obat” yang diciptakan untuk menghentikannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Dua Belas — Pertemuan yang Tak Terduga

selamat membaca cerita barukuu, semoga kalian suka

Di tempat lain, jauh dari jalur atap yang dilalui Arsya dan yang lainnya.

Lyno mendorong pintu besi besar hingga menutup dengan bunyi berat yang menggema di dalam ruangan kosong. Regan segera menggeser rak tua ke depan pintu sebagai pengganjal.

Tiga orang lainnya membantu, tangan mereka gemetar bukan hanya karena lelah, tapi juga karena adrenalin yang belum sepenuhnya turun.

Mereka kini berada di dalam sebuah gudang tiga lantai. Bangunannya tinggi, dindingnya tebal, dengan atap seng yang masih utuh. Bau kayu tua dan debu memenuhi udara. Beberapa kardus kosong berserakan, dan di sudut terdapat tangga besi menuju lantai dua dan tiga.

Sunyi.

Untuk sementara… aman.

Lyno terhuyung lalu bersandar di dinding. Nafasnya berat, dada naik turun cepat. Keringat bercampur darah–entah miliknya atau milik kanihu—menodai lengan bajunya.

Regan duduk di lantai, punggungnya menempel pada rak logam. Ia menunduk, mencoba mengatur nafas. “Kita kehilangan dua orang…” gumam salah satu dari mereka lirih.

Tidak ada yang menjawab.

Lyno memejamkan mata sesaat. Ia ingin marah dan ingin sekali memukul sesuatu namun yang tersisa hanya lelah yang menekan tulang. “Kita istirahat lima menit,” ucapnya akhirnya, suara serak terdengar lebih dewasa dari usianya yang lima belas tahun.

Lyno dan Regan tidak membuang waktu terlalu lama untuk beristirahat. Setelah nafas mereka lebih teratur, keduanya bergerak menyusuri setiap sudut gudang itu—lantai satu yang dipenuhi rak kosong, lantai dua dengan peti kayu berdebu, hingga lantai tiga yang lebih sempit dan pengap.

Tidak ada kanihu maupun jejak baru, hanya bekas lama—debu yang tidak terganggu, sarang laba-laba yang masih utuh di sudut langit-langit. “Untuk sementara bersih,” bisik Regan saat mereka kembali turun.

Kini Lyno berdiri di dekat pintu utama, punggungnya menempel pada dinding. Pipa besi tergenggam di tangan kanannya. Matanya terus menatap ke arah pintu besi besar itu, seakan takut jika pintu itu akan terdorong dari luar.

Ia tahu suara benturan kecil saja bisa menarik perhatian. Ia tahu bau darah yang menempel pada mereka belum sepenuhnya hilang. Sebenarnya ada satu akses lagi, pintu menuju atap, namun ketika mereka mencoba untuk membukanya, gagang itu tidak bergerak.

Terkunci dari luar.

“Kalau atapnya bisa di buka, kita punya jalur alternatif,” gumam Regan pelan. Lyno mendengus tipis, “berartu ada yang pernah menutupnya. Atau… ada yang tidak ingin kita keluar lewat sana.”

Kalimat itu membuat salah satu dari tiga orang yang tersisa menelan ludah, sunyi kembali memenuhi ruangan. Angin tipis terdengar menyentuh atap seng di atas mereka. Lyno menatap pintu utama lagi, setiap bunyi kecil membuat otonya menegang.

Regan menatap Lyno beberapa saat sebelum akhirnya berjalan mendekat dan duduk di sampingnya, masih menyisakan jarak atau tas di antara mereka. Tas itu tergeletak sebagai pembatas tak terlihat—ruang pribadi di tengah situasi yang terlalu sempit.

Ia menghela nafas pelan.

Lyno masih berdiri setengah siapa, punggungnya menempel dinding, pipa besi tergenggam seperti bagian dari tangannya sendiri, usianya baru lima belas tahun tapi sorot matanya tidak lagi seperti anak seusianya.

Regan menggeleng kecil. “Tenagamu nggak habis-habis ya..” gumamnya pelan. Lyno tidak menjawab, ia tetap menatap pintu, waspada.

“Aku capek,” lanjut Regan jujur. “Tapi kamu… kayaknya nggak dikasih waktu buat capek.” baru kali itu Lyno meliriknya sekilas. “Aku juga capek,” jawabnya datar. “Cuma nggak bisa berhenti.”

Regan terdiam.

Ia memang lebih tua beberapa tahun dari Lyno. seharusnya ia yang terlihat lebih tangguh. Tapi sejak kekacauan ini dimulai, justru Lyno yang selalu berdiri paling depan—memukul lebih keras, bergerak lebih cepat dan berpikir lebih tenang.

“Kamu yakin kakakmu masih hidup?” tanya Regan hati-hati. Pertanyaan itu menggantung beberapa detik. Lyno menatap lantai sebentar, lalu kembali ke pintu. “Harus,” katanya singkat. “Kalau aku berhenti percaya, buat apa aku terus bergerak?”

Jawaban itu membuat Regan tersenyum tipis—bukan karena lucu, tapi karena rasa kagum yang ia beri kepada Lyno.

Di luar gudang, terdengar bunyi gesekan samar. Entah angin… atau sesuatu yang lewat. Keduanya langsung menegang lagi, Regan meraih kayu panjang di sampingnya serta Lyno berdiri tegak.

Sunyi.

Beberapa detik berlalu. Tidak ada dorongan maupun benturan.

🍂

Tempat Arsya berdiri kini berada di atap gedung yang sedikit lebih rendah dari Gedung Akasia. Bangunan itu menjulang tepat di hadapan mereka—besar, abu-abu pucat, dengan jendela-jendela tinggi yang memantulkan cahaya pagi yang muram. Terlalu tenang dan terlalu diam.

Mereka sudah tiba.

Namun justru karena sudah sedekat ini— suasana di sekitar Gedung Akasia terasa berbeda. Bukan hanya sunyi biasa, melainkan sunyi yang menekan. Tidak terlihat kanihu berkeliaran di halaman depan. Tidak ada bangkai, tidak ada puing yang mencolok. Itu yang membuatnya lebih menyeramkan.

“Sepi,” gumam Niki pelan. “Bukan sepi,” koreksi Jay lirih. “Kosongnya terasa di jaga.”

Arsya menatap pintu utama gedung itu dari kejauhan. Kaca besar di lobi tampak utuh. Tirai di beberapa lantai bergerak tipis tertiup angin dari dalam—atau mungkin bukan angin.

Perutnya terasa mengencang. Adiknya mungkin ada didalam atau mungkin pernah ada. Jay menilai jarak terakhir yang harus mereka tempuh. “Kalau kita turun langsung ke halaman depan, terlalu terbuka.”

Niki mengamati sisi bangunan. “Ada akses samping. Pintu servis.”

Arsya menarik nafas panjang, menahan rasa gelisah yang sejak tadi menekan dadanya. “Bagaimana jika kita masuk kedalam gedung atap ini terlebih dahulu?” bisiknya pelan. “Kita cek sebelum benar-benar masuk kedalam Gedung Akasia.”

Ia tidak ingin terlihat takut. Namun bangunan besar di depan mereka terasa terlalu luas. Terlalu mudah menelan.

Jay dan Niki saling pandang sebentar, lalu mengangguk tanpa banyak berkomentar. Jay langsung mendekati pintu akses atap gedung kecil itu. Tangannya menyentuh gagang pintu yang ternyata terkunci dari luar.

Ia menoleh sebentar, memberi isyarat. Niki membantu membuka pengaitnya dengan hati-hati. Bunyi kecil logam bergesekan terdengar, membuat ketiganya membeku beberapa detik.

Sunyi. Tidak ada reaksi. Jay perlahan mendorong pintu itu sedikit saja—cukup untuk mengintip. Gelap. Lorong sempit dengan tangga menuju lantai dua. Ia melirik kanan, kiri, mencari atau mendengarkan apakah ada gerakan lain di lantai tiga ini. Hanya bau lembab bangunan kosong.

Mereka masuk perlahan. Pintu ditutup kembali tanpa bunyi. Langkah mereka terukur, ringan, hampir tak terdengar di anak tangga beton. Namun—langkah mereka berhenti bersamaan. Dari lantai bawah terdengar suara bukan patah khas kanihu, melainkan gesekan seperti sesuatu di seret.

Lalu bisikan samar, Jay langsung mengangkat tangan, memberi isyarat diam total. Niki merapat ke dinding. Arsya perlahan melangkah mendekati celah tangga untuk sedikit mengintip namun tubuhnya sedikit terlalu mencondong ke depan, ia menyipitkan kedua matanya, menyesuaikan pandangan dengan cahaya redup dari lantai dua.

Bayangan bergerak. Bukan satu, lebih dari satu. Dan suara itu jelas sekarang, suara manusia. Arsya menahan nafas.

“Itu, manusia, kan?” bisik Arsya, suaranya nyaris tak terdengar. Matanya terpaku ke satu sosok dibawah sana.

Terima kasih sudah membaca, lanjut besok yaa jam 10 am.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!