NovelToon NovelToon
Secret Admirer: Surat Untuk Bintang

Secret Admirer: Surat Untuk Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Rebirth For Love / Cintapertama / Idola sekolah / Cinta Murni
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Keyla Aluna, siswi kelas XI IPA 2 di SMA Cakrawala Terpadu Surabaya, adalah definisi 'invisible girl'. Selama dua tahun, ia menyimpan perasaan pada Bintang Rigel, kapten basket sekaligus siswa paling populer di sekolah. Karena terlalu takut untuk bicara langsung, Keyla menumpahkan perasaannya melalui surat-surat tulisan tangan yang ia selipkan secara diam-diam di laci meja Bintang, menggunakan nama samaran 'Cassiopeia'.

Masalah muncul ketika Bintang mulai membalas surat-surat tersebut dan merasa jatuh cinta pada sosok Cassiopeia yang cerdas dan puitis. Situasi semakin rumit ketika Vanya, primadona sekolah yang ambisius, mengetahui hal ini dan mengaku sebagai Cassiopeia demi mendapatkan hati Bintang.

Keyla kini terjebak dalam dilema: tetap bersembunyi di balik bayang-bayang demi menjaga harga dirinya, atau memberanikan diri keluar ke cahaya dan memperjuangkan cintanya sebelum Bintang menjadi milik orang yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: ANOMALI ORBIT

Hujan di Surabaya sore itu turun tanpa permisi, mengubah langit SMA Cakrawala Terpadu menjadi kanvas abu-abu yang muram. Suara gemericik air yang menghantam atap koridor terdengar seperti orkestra sumbang yang menemani langkah gontai Bintang Rigel.

Sudah tiga hari. Tiga hari sejak laci mejanya kosong. Tidak ada amplop biru laut. Tidak ada wangi lavender tipis yang biasanya menyeruak saat ia membuka meja kayu itu. Tidak ada kutipan tentang galaksi yang membuatnya merasa dimengerti di tengah riuh rendah popularitas yang mencekik.

Di sebelahnya, Vanya Clarissa berjalan sambil menggamit lengannya erat-erat, seolah Bintang adalah trofi berjalan yang harus dipamerkan ke setiap pasang mata yang lewat. Ponsel Vanya tidak henti-hentinya berkedip—notifikasi Instagram, pesan WhatsApp, komentar tentang betapa serasinya mereka sebagai *power couple* sekolah.

"Bin, liat deh!" Vanya memekik kecil, menyodorkan layar ponselnya ke wajah Bintang. "Postingan kita di Pensi kemarin udah dapet dua ribu *likes* cuma dalam tiga jam. Gila, kan? Kita bener-bener *goals* banget."

Bintang hanya bergumam, matanya menatap kosong ke arah rintik hujan di lapangan basket. Ia merasa ada lubang menganga di dadanya. Kekosongan yang aneh justru saat ia seharusnya merasa 'lengkap' karena akhirnya bersama gadis yang ia kira adalah Cassiopeia.

"Van," panggil Bintang tiba-tiba, suaranya berat.

"Hmm? Kenapa, Sayang?" Vanya masih sibuk membalas komentar dengan ibu jari yang menari lincah di layar.

"Di surat ke-tujuh belas..." Bintang memulai, mencoba mengabaikan rasa tidak nyaman saat mengucapkan kata 'sayang' yang terasa asing di lidahnya sendiri. "Kamu nulis soal Paradoks Fermi. Soal ketakutan terbesar manusia bukan karena kita sendirian di alam semesta, tapi karena kita *tidak* sendirian. Kamu bilang itu mirip rasanya kayak jadi populer tapi kesepian."

Jari Vanya berhenti bergerak. Ia menoleh, senyum manis terpasang sempurna di wajah cantiknya, namun matanya menyiratkan kebingungan yang gagal ia sembunyikan.

"Ah... iya. Paradoks... Vermin?" Vanya tertawa renyah, tawa yang dilatih untuk terdengar menyenangkan. "Kamu kok serius banget sih, Bin? Itu kan cuma tulisan iseng. Aku lagi puitis aja waktu itu. Udah ah, jangan bahas yang berat-berat. Kepala aku pusing abis ulangan Fisika tadi."

Bintang terdiam. Langkahnya melambat.

*Fermi*, bukan Vermin. Dan itu bukan tulisan iseng. Surat itu adalah surat paling emosional yang pernah ia baca, di mana Cassiopeia menceritakan ketakutannya akan ekspektasi orang lain. Bagaimana mungkin penulisnya lupa inti sari dari curahan hatinya sendiri?

"Kamu nggak pernah lupa detail, Van. Biasanya," ujar Bintang datar.

"Aduh, Bintang Rigel," Vanya merengut manja, menarik lengan jaket Bintang. "Manusia kan bisa lupa. Lagian, ngapain sih bahas masa lalu? Yang penting kan sekarang kita udah jadian. *Real life* lebih penting daripada surat-surat itu, kan?"

*Real life*. Kata itu berdenging di telinga Bintang. Kenapa *real life* ini terasa lebih palsu daripada kertas-kertas surat itu?

"Aku mau ke perpus sebentar," kata Bintang mendadak, melepaskan tangan Vanya dari lengannya secara halus namun tegas.

"Hah? Ngapain? Anak-anak basket udah nunggu di kantin, lho. Ada Dito sama yang lain..."

"Aku butuh ketenangan, Van. Sebentar aja. Kamu duluan," potong Bintang. Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik arah menuju gedung sayap timur, meninggalkan Vanya yang berdiri dengan mulut sedikit terbuka karena kaget.

***

Perpustakaan SMA Cakrawala adalah tempat di mana waktu seolah melambat. Aroma kertas tua, debu, dan pendingin ruangan menciptakan atmosfer hening yang menenangkan. Di sudut paling belakang, tersembunyi di balik rak kategori *Sains & Astronomi*, Keyla Aluna duduk bersimpuh di lantai.

Ia tidak sedang membaca. Di pangkuannya, sebuah buku catatan kecil terbuka. Tangannya menggenggam pulpen gel hitam dengan gemetar. Meskipun ia sudah bersumpah untuk berhenti, membuang semua peralatan suratnya, dan mengubur nama Cassiopeia, jari-jarinya masih gatal. Otaknya masih merangkai kata-kata yang menuntut untuk dimuntahkan.

Ia tidak akan mengirimkannya. Tidak akan pernah lagi. Ini hanya untuk kewarasannya sendiri. Sebuah mekanisme pertahanan diri agar tidak meledak.

*Untuk Bintang yang kini mengorbit matahari lain,*

*Aku kira berhenti menulis akan membuat segalanya lebih mudah. Seperti mematikan sakelar lampu. Gelap, tapi tenang. Ternyata aku salah. Berhenti menulis untukmu seperti menahan napas; paru-paruku terbakar, menuntut oksigen yang tak lagi berhak kuhirup.*

*Hari ini aku melihatmu tersenyum di koridor. Tapi kenapa matamu tidak ikut tersenyum? Apakah gravitasinya terlalu berat di sana? Maafkan aku yang pengecut ini. Aku hanya debu nebula yang takut mendekat, khawatir akan mengotori kilaumu. Biarlah aku menjadi pengamat diam, mencatat cahayamu dari jarak ribuan tahun cahaya...*

Keyla menghela napas panjang, menahan genangan air mata yang mendesak keluar. Bodoh. Ia benar-benar bodoh. Kenapa ia masih menulis draf kasar ini?

"Keyla?"

Suara bariton itu memecah keheningan, membuat jantung Keyla nyaris melompat keluar dari rongga dadanya. Ia tersentak hebat, buku catatannya terlepas dari pangkuan dan jatuh ke lantai dengan suara *buk* yang terdengar terlalu keras di ruangan sunyi itu.

Keyla mendongak. Di ujung lorong rak buku, berdiri sosok yang baru saja ia tuliskan namanya. Bintang Rigel.

Laki-laki itu tampak berantakan. Rambutnya sedikit basah terkena hujan, seragamnya tidak serapi biasanya, dan tatapan matanya... tatapan itu menyiratkan kelelahan yang luar biasa.

"B-Bintang..." suara Keyla tercekat. Ia buru-buru membereskan barang-barangnya dengan panik. Tangan-tangan dinginnya menyambar buku paket Fisika, tempat pensil, dan buku catatan—atau setidaknya ia pikir ia sudah mengambil semuanya.

"Kamu ngapain di sini sendirian? Gelap begini," tanya Bintang, melangkah mendekat. Nadanya tidak seperti saat ia bicara pada Vanya tadi. Lebih lembut. Lebih... manusiawi.

"Nggak... nggak ngapa-ngapain. Cuma nyari referensi tugas," jawab Keyla tanpa berani menatap mata elang itu. Ia berdiri dengan kikuk, memeluk buku-bukunya di depan dada sebagai tameng. "Aku... aku harus pergi. Dinda nungguin."

"Tunggu, Key," Bintang menahan napas, tangannya terulur seolah ingin menahan gadis itu, namun berhenti di udara. "Soal yang kemarin... waktu Vanya narik aku. Sorry ya. Aku nggak bermaksud ninggalin kamu gitu aja."

Keyla merasakan nyeri di ulu hatinya. Kenapa Bintang harus sebaik ini? Kenapa dia harus meminta maaf untuk sesuatu yang bukan salahnya? Kebaikan Bintang adalah racun yang paling mematikan bagi pertahanan Keyla.

"Nggak apa-apa, Bin. Wajar kok. Pacar kamu lebih prioritas," jawab Keyla, berusaha tersenyum meski bibirnya bergetar. Kata 'pacar' terasa seperti silet yang mengiris lidahnya.

Bintang terdiam mendengar kata itu. Ia menatap Keyla lamat-lamat. Gadis di depannya ini selalu terlihat ingin menghilang. Bahunya yang merunduk, rambut yang menutupi sebagian wajah, cara berdirinya yang seolah meminta maaf karena telah memakan tempat di dunia.

Namun, anehnya, Bintang merasa lebih nyaman berdiri di lorong sempit berdebu ini bersama Keyla daripada di kantin mewah bersama Vanya.

"Kamu... suka astronomi juga?" tanya Bintang tiba-tiba, matanya menangkap judul buku tebal yang dipeluk Keyla: *Kosmos* karya Carl Sagan.

Keyla mematung. *Skakmat*. "S-sedikit. Cuma iseng baca."

"Vanya nggak suka baca," gumam Bintang, lebih kepada dirinya sendiri. "Dia bahkan nggak tahu bedanya meteor dan meteorit."

Keyla menggigit bibir bawahnya. Ia ingin berteriak, *'Aku tahu! Aku tahu bedanya! Meteor itu fenomena cahayanya, meteorit itu batunya yang sampai ke bumi!'* Tapi ia hanya diam. Menelan kembali semua pengetahuannya.

"Aku duluan ya, Bin. Permisi," Keyla membungkuk singkat, lalu bergegas setengah berlari melewati Bintang. Bahu mereka sempat bersgenggolan pelan, mengirimkan sengatan listrik statis yang membuat Keyla semakin mempercepat langkahnya keluar dari perpustakaan.

Bintang berdiri diam, menatap punggung Keyla yang menghilang di balik pintu kaca. Ia menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya ke rak buku. Ia merasa gila. Kenapa ia berharap Keyla berbalik? Kenapa ia berharap bisa mengobrol lebih lama tentang bintang dan alam semesta dengan gadis pendiam itu?

Ia menunduk, hendak merapikan tali sepatunya yang lepas, ketika matanya menangkap sesuatu di lantai.

Selembar kertas.

Bukan kertas biasa. Itu adalah sobekan kertas binder bermotif garis-garis tipis, yang sepertinya terlepas dari buku catatan Keyla saat ia panik tadi.

Bintang memungutnya. Ia berniat menyusul Keyla untuk mengembalikannya, tapi matanya tanpa sengaja menangkap tulisan tangan di kertas itu. Tulisan tegak bersambung yang rapi. Tinta gel hitam.

Jantung Bintang berhenti berdetak selama satu sekon.

Ia mengenal tulisan ini. Ia sudah menghabiskan berjam-jam selama dua bulan terakhir memandangi lekukan huruf 'g' dan 'y' yang khas dalam tulisan ini.

Dengan tangan gemetar, Bintang membaca kalimat pertama yang tertera di sana.

*Untuk Bintang yang kini mengorbit matahari lain...*

Napas Bintang tercekat. Matanya membelalak, membaca baris demi baris dengan rakus. Diksi itu. Metafora itu. Cara penulisnya menggambarkan perasaan dengan analogi antariksa.

*Debu nebula... Jarak ribuan tahun cahaya...*

Ini bukan tulisan Vanya. Vanya tidak tahu apa itu nebula. Vanya bahkan tidak ingat apa isi surat minggu lalu.

Kertas di tangan Bintang bergetar hebat. Ingatannya berputar mundur dengan cepat seperti film yang diputar ulang. Keyla yang selalu ada di perpustakaan. Keyla yang selalu diam. Keyla yang pernah ia pergoki di dekat mejanya pagi-pagi sekali. Keyla yang meminjam buku astronomi.

Dan Vanya... Vanya yang gelagapan saat ditanya soal isi surat.

Bintang merasa tanah di bawah kakinya runtuh. Selama ini, ia telah memeluk bulan palsu yang hanya memantulkan cahaya, sementara bintang aslinya sedang meredup sendirian di sudut yang gelap.

"Keyla..." bisik Bintang, suaranya parau penuh penyesalan dan realisasi yang menghantam keras.

Ia meremas kertas itu, bukan karena marah, tapi karena takut kehilangan jejak lagi. Tanpa mempedulikan tasnya yang masih tergeletak, Bintang berlari. Ia berlari keluar dari lorong rak buku, menerobos pintu perpustakaan, mengabaikan seruan penjaga perpus yang memintanya diam.

Ia harus menemukan Keyla. Sekarang juga. Sebelum gadis itu benar-benar menjadi *remnant* yang menghilang dari orbitnya selamanya.

1
Mymy Zizan
bagussssssssss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!