NovelToon NovelToon
Pamanku Ternyata Jodohku

Pamanku Ternyata Jodohku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Pernikahan Kilat / Nikahmuda
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

Namaku Valerie. Hidupku adalah sebuah kompetisi yang sudah ditentukan kekalahannya bahkan sebelum dimulai. Di rumah ini, aku hanyalah bayangan dari Kakakku yang seorang dokter muda sukses. Orang tuaku menganggapku investasi gagal; mereka mengirim Kakak ke sekolah elit, sementara aku cukup di sekolah pinggiran karena dianggap hanya membuang-buang uang.
Muak menjadi sampah di mata mereka, aku memilih pergi. Aku terjun ke dunia malam, bergaul dengan mereka yang juga merasa terbuang. Meski aku dikelilingi botol minuman dan asap rokok, aku masih punya satu prinsip: aku tidak akan membiarkan diriku hancur sepenuhnya. Aku tetap menjaga harga diriku di tengah liarnya jalanan.
Namun, kebebasan ternyata berasa hambar sampai malam itu tiba. Di sebuah kelab yang bising, aku bertemu dengan Revan, adik angkat Ibu yang sudah bertahun-tahun menghilang untuk mengejar karier dosennya. Saat orang tuaku bahkan tidak sudi mencariku,pria yang terpaut sepuluh tahun dariku inilah yang justru menarikku keluar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: GOSIP MURAHAN

Karin langsung menatap Valerie dengan tatapan ngeri. "Val! Jangan bilang kau mulai terpesona? Jangan, ya! Pria seperti dia itu tipe yang akan mengontrol setiap detik hidupmu. Kau butuh pria yang berjiwa bebas, seperti anak-anak jurusan Seni, bukan pengacara yang hidupnya diatur undang-undang. Dia itu tipe suami yang mungkin akan memberikan surat peringatan kalau istrinya lupa memasak nasi."

​Valerie tersenyum tipis, ada rasa hangat sekaligus sesak di dadanya. Seandainya kau tahu, Karin, pria itu bahkan tidak membiarkanku menyentuh peralatan dapur karena takut tanganku terluka, batinnya.

​Apartemen – Malam Hari

​Malam harinya, Valerie duduk di meja makan sambil memperhatikan Revan yang sedang fokus membaca berkas kasus di bawah lampu temaram. Bayangan kata-kata Karin tentang "pria yang mengontrol" terus terngiang, namun Valerie justru merasa sebaliknya. Ia merasa... dilindungi.

​"Mas..." panggil Valerie ragu.

​Revan menurunkan kacamatanya, menatap Valerie dengan tatapan yang kini jauh lebih lunak. "Ya, Erie?"

​"Temanku di kampus... dia bilang kau sangat menyeramkan. Dia bilang kau tipe pria yang akan memberikan surat peringatan kalau istrimu lupa memasak nasi."

​Satu alis Revan terangkat. Ia meletakkan pulpennya, lalu menyandarkan punggung ke kursi. Sebuah senyum tipis, hampir tak terlihat muncul di wajahnya. "Dan menurutmu, apa aku sudah memberikanmu surat peringatan hari ini?"

Valerie merona merah. "Tidak. Kau justru yang memasak makan malam tadi."

Revan bangkit, berjalan mendekati Valerie. Ia berhenti tepat di depan kursi gadis itu, membuat Valerie harus mendongak. Revan mengulurkan tangan, jemarinya mengusap lembut sisa cat yang mengering di pipi Valerie.

"Aku memang kaku, Erie. Aku menghabiskan separuh hidupku di ruang sidang dan perpustakaan hukum yang dingin. Aku tidak tahu cara bersikap manis seperti pria-pria sebayamu di kampus," suara Revan merendah, sarat dengan kejujuran yang menusuk hati. "Tapi satu hal yang harus kau tahu... aku tidak pernah ingin mengontrolmu. Aku hanya ingin menjadi satu-satunya tempatmu pulang ketika dunia di luar sana terlalu bising bagimu."

Revan terdiam sejenak, matanya menatap Valerie dengan keraguan yang sama besarnya. Ia merasa tidak percaya diri; ia merasa dirinya terlalu membosankan untuk gadis secerah Valerie.

"Apa kau... merasa terpenjara bersamaku?" tanya Revan lirih.

Valerie menggeleng cepat. Ia memberanikan diri meraih tangan Revan yang masih ada di pipinya, menggenggamnya erat. "Tidak, Mas. Justru di sini, bersamamu... aku merasa bebas untuk menjadi diriku sendiri."

Mereka terdiam dalam jarak yang sangat dekat. Hembusan napas Revan terasa di kening Valerie. Ada dorongan kuat untuk melangkah lebih jauh, namun rasa takut akan penolakan membuat keduanya kembali menarik diri secara perlahan.

Esok hari di kampus, gosip miring mulai berembus di kantin fakultas Seni. Beberapa mahasiswi dari jurusan lain mulai berbisik-bisik tentang bagaimana Valerie bisa tetap "aman" dan mendapatkan nilai bagus meskipun sering absen di awal semester. Mereka mencurigai ada "orang kuat" yang menyokong mahasiswi pendiam itu.

"Aku dengar dia punya simpanan pria tua kaya raya," bisik salah satu mahasiswi dengan nada sinis yang cukup keras untuk didengar.

Valerie yang sedang duduk di pojok kantin hanya bisa menunduk, meremas sendoknya. Ia terbiasa dihina oleh keluarganya, namun mendengar fitnah di tempat yang seharusnya menjadi pelariannya tetap saja terasa menyakitkan.

BRAK!

Karin menggebrak meja dengan kotak susunya, membuat satu kantin menoleh.

"Hei! Kalau punya mulut itu dipakai buat makan, bukan buat mengunyah sampah!" teriak Karin tanpa rasa takut. Ia berdiri dan berkacak pinggang, menatap tajam ke arah gerombolan penggosip itu. "Valerie itu berbakat. Kalian saja yang iri karena lukisannya sudah dipuji kurator, sementara lukisan kalian mirip ceker ayam!"

"Apa urusanmu, Karin? Kami cuma bicara fakta," sahut mahasiswi itu ketus.

"Fakta kepalamu botak! Kalau kalian tidak punya bukti, tutup mulut atau aku laporin ke bagian kemahasiswaan karena pencemaran nama baik!" ancam Karin.

Setelah gerombolan itu pergi dengan gerutu, Karin kembali duduk dan menghela napas panjang. Ia menatap Valerie yang masih terdiam.

"Val, jangan didengarkan. Mereka itu cuma iri karena kau cantik dan misterius," ucap Karin, suaranya kini melunak. Ia meraih tangan Valerie dan menepuknya pelan. "Lagipula, aku tahu kau bukan tipe seperti itu. Kau itu orang paling tulus yang pernah kukenal. Kalau ada masalah, cerita padaku, ya? Aku ini sahabatmu."

Valerie menatap Karin dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih, Karin. Kau selalu membelaku."

"Tentu saja! Kita ini tim," Karin nyengir, lalu ekspresinya berubah ngeri. "Tapi kalau soal pria simpanan... aduh, jangan sampai deh. Apalagi kalau prianya kaku seperti Pak Revan itu. Bisa-bisa kau mati bosan sebelum sempat pameran lukisan."

Valerie tertawa kecil di tengah sisa air matanya. Karin adalah sahabat yang luar biasa, namun ia merasa sangat bersalah karena harus menyembunyikan kenyataan bahwa "Iblis" yang ditakuti Karin adalah pria yang setiap malam menyiapkan segelas cokelat hangat untuknya.

Satu bulan berlalu, dan Revan mulai memberikan sedikit kelonggaran. Melihat Valerie yang tampak lebih ceria setiap kali pulang dari kampus karena bercerita tentang Karin, Revan mengizinkan Valerie untuk pergi keluar bersama sahabatnya itu setiap Sabtu siang, tentunya dengan pengawasan Bimo yang mengikuti dari jarak jauh.

​"Val! Cepat! Toko cat ini punya diskon 50% untuk oil paint impor!" teriak Karin sambil menarik tangan Valerie masuk ke sebuah toko peralatan seni yang berbau kayu dan linseed oil.

​Valerie tertawa, sebuah tawa lepas yang jarang terdengar. Di tempat ini, ia bukan istri rahasia seorang dosen hukum, bukan juga target buronan kakaknya. Ia hanya Valerie, gadis yang sangat mencintai warna.

​"Lihat biru ini, Karin. Bagus sekali," ucap Valerie, jarinya menyentuh tabung cat mahal. Ia teringat matanya Revan yang terkadang berubah menjadi biru gelap saat pria itu sedang fokus.

​"Duh, itu mahal sekali, Val! Tabungan kita sebulan tidak akan cukup," keluh Karin sambil memeriksa label harga. "Tapi kalau dipikir-pikir, penampilanmu sekarang berubah ya. Tasmu, sepatumu... semuanya tampak bermerek. Apa kau menang lotre?"

​Jantung Valerie berdegup kencang. Ia lupa bahwa Revan selalu membelikannya barang-barang kualitas terbaik demi kenyamanannya. "Ini... ini barang lama, Karin. Aku hanya baru sempat memakainya lagi."

​"Yah, syukurlah kalau begitu. Pokoknya jangan sampai kau menjual diri pada pria-pria tua kaku hanya demi cat minyak, ya!" Karin bercanda sambil menyenggol bahu Valerie. "Lebih baik kita makan ramen di lantai atas setelah ini. Aku yang traktir sebagai tanda terima kasih karena kau sudah membantuku menyelesaikan tugas anatomi kemarin!"

Sambil menyeruput ramen pedas, Karin tak henti-hentinya menjelek-jelekkan sistem penilaian di kampus.

"Kau tahu tidak? Tadi aku berpapasan dengan Pak Revan di parkiran sebelum kita pergi. Dia menatapku seolah-olah aku ini kriminal yang sedang menculik mahasiswinya," Karin bergidik. "Aku langsung lari! Kenapa sih pria itu auranya seperti kulkas dua belas pintu? Dingin sekali! Kasihan sekali istrinya nanti, pasti kalau mau minta uang belanja harus buat proposal dengan materai sepuluh ribu."

Valerie tersedak kuah ramen, wajahnya memerah menahan tawa sekaligus rasa bersalah. "Mungkin dia hanya... lelah karena banyak pekerjaan, Karin."

"Lelah atau tidak, tetap saja dia itu 'Iblis'. Eh, tapi bicara soal dia, lihat siapa yang baru saja masuk ke area food court?" Karin menunjuk dengan dagunya ke arah pintu masuk.

Valerie menoleh dan seketika membeku. Revan berdiri di sana, mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku, tampak sangat tampan namun juga sangat mengancam. Revan tidak sendirian; ia sedang bersama seorang pria paruh baya yang tampak seperti klien penting.

Mata Revan menyapu seluruh ruangan dan berhenti tepat di mata Valerie.

Dunia seolah berhenti bagi Valerie. Ia takut Revan akan menghampirinya dan membongkar identitas mereka di depan Karin. Namun, Revan hanya menatapnya selama tiga detik, tatapan tajam yang seolah berkata, 'Jangan sampai pulang terlambat' sebelum ia kembali fokus pada lawan bicaranya dan berjalan menuju restoran tertutup di sisi lain.

1
Nur Mei
semangat ngetiknya kak😁
EILI sasmaya: Terimakasih, 🥰
total 1 replies
sweet chil
tetap semangat Thor .. 🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!