NovelToon NovelToon
Our Hurt Story

Our Hurt Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Enemy to Lovers
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: zaniera99

Hanie, seorang gadis blasteran Indo-Melayu, yang menjadi koban ego para siswa di masa sekolahnya. Baginya, Devian Azka adalah sebuah mimpi ngeri.Orang yang memiliki mata cokelat indah, tetapi kepribadiannya menyebalkan, dan seorang pengecut yang rela menindas demi memuaskan egonya, telah menyakiti Hanie

Namun, itu hanya kisah silam dan takdir tidak pernah salah.

Tiga tahun kemudian, di tempat kuliah yang sama mereka bertemu lagi.Dengan sifat Hanie yang mulai dingin dan Devian Azka yang memohon maaf atas dosa-dosanya dulu.Devian Azka yang berdiri di depan Nur sekarang itu bukanlah lagi anak berandalan yang brengsek seperti dulu.Dia kini adalah pria dewasa yang bisa membesarkan salah dan benar. Baginya hanya Hanie jiwa nya.

Apakah bisa Hanie memaafkannya atau kebencian dan kekecewaan lebih besar di hatinya?

Nantikan kisah lanjutnya di "Our Hurt Story"

Selamat membaca dan mohon dimaafkan atas segala kekurangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zaniera99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5:Teduhan Kepalsuan

Lampu dorm asrama sudah mulai dimalapkan, hanya menyisakan cahaya samar-samar dari koridor yang menembus celah pintu. Aku duduk di tepi tempat tidur, merenungi tas sekolah yang bahkan belum sempat kukemas. Di asrama ini, aku tidak bisa lari dari bayang-bayang kegelapan yang menghantuiku di sekolah tadi. Setiap ejekan Arif seolah-olah melekat permanen pada dinding kamar ini, berbisik berulang kali di telingaku setiap kali sunyi datang menyerang. Rasanya, setiap sudut bangunan ini telah terkontaminasi oleh kata-kata kasarnya yang tajam.

"Hanie, kenapa melamun lagi?"

Sebuah suara lembut memecah kesunyian. Aku menoleh. Kak Qasrina, senior yang menghuni tempat tidur tepat di depanku di Kamar 7, sedang melipat mukenanya dengan rapi. Sebagai ketua kamar, dia memiliki otoritas yang disegani penghuni lain, tapi denganku, dia selalu terlihat lebih keibuan. Wajahnya yang tenang sering kali menjadi satu-satunya pelabuhan saat badai di sekolah terasa terlalu kuat untuk kuhadapi sendirian.

"Tidak ada apa-apa, Kak. Hanya sedikit lelah," balasku ringkas, mencoba sekuat tenaga menyembunyikan getar di suaraku yang mulai serak.

Kak Qasrina berjalan menghampiri dan duduk di pinggir tempat tidurku. Kehadirannya membawa aroma bedak bayi yang menenangkan, sebuah kontras yang nyata dengan bau keringat dan debu sekolah yang masih terasa di seragamku. Di dalam Kamar 7 ini, dia adalah satu-satunya manusia yang membuatku merasa... bahwa aku adalah manusia. Bukan sekadar objek sasaran buli, bukan pula bayangan yang tak terlihat.

"Hanie, Kakak tahu apa yang terjadi di kelas tadi. Anak-anak kamar sebelah ada yang bercerita. Arif itu memang sudah keterlaluan, kan?" Dia mengusap lembut bahuku, sebuah sentuhan yang terasa begitu tulus.

Saat tangannya menyentuh bahuku, benteng pertahanan yang kutahan mati-matian seharian akhirnya pecah. Air mataku luruh satu demi satu di depan Kak Qasrina. Di dalam kamar ini, aku tidak perlu lagi berakting kuat di depan Syasya yang sinis atau Hilya yang selalu menghakimi. Di depan Kak Qasrina, aku hanyalah seorang adik yang terluka, yang dunianya baru saja hancur berkeping-keping.

"Kakak ada di sini, Hanie. Kamar 7 ini tempat kita. Kalau di luar orang jahat padamu, pulanglah ke sini dan cari Kakak. Jangan disimpan sendiri. Kakak tidak suka melihat adik Kakak direndahkan," katanya dengan nada yang cukup tegas namun sangat melindungi.

Aku memandangnya dengan perasaan syukur yang amat sangat. Bagiku yang sedang terombang-ambing karena dikhianati oleh Amani—orang yang dulu kusebut sahabat—kehadiran Kak Qasrina di Kamar 7 ini ibarat daratan yang menyelamatkanku agar tidak terus tenggelam di lautan keputusasaan.

"Terima kasih, Kak. Nur tidak tahu harus berbuat apa kalau Kakak tidak ada," bisikku di tengah isak tangis yang mulai mereda.

Kak Qasrina hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat menenangkan. Dia bangkit dan menuju lokernya, meninggalkanku dengan rasa aman yang luar biasa. Malam itu, untuk pertama kalinya sejak masuk Kelas 10, aku tidur tanpa perlu menggenggam cermin kecil di bawah bantal sebagai bentuk kewaspadaan. Aku merasa telah menemukan pelindung sejati.

Namun, kenyamanan itu mulai membutakanku. Minggu-minggu berikutnya, aku menghabiskan banyak waktu luang di dalam kamar bersama Kak Qasrina. Aku mulai menceritakan segalanya. Aku menceritakan tentang bagaimana Amani diam-diam membocorkan rahasiaku kepada Arif hanya demi mendapatkan perhatian geng populer. Aku menceritakan tentang surat-surat dari ayah di kampung yang selalu membuatku merasa bersalah karena tidak bisa menjadi anak yang tangguh. Aku bahkan menceritakan tentang ketakutanku pada Syasya dan Hilya, teman satu kamarku sendiri, yang sering kali menatapku dengan tatapan merendahkan seolah-olah aku adalah sampah di lantai asrama.

"Ceritakan saja semuanya, Hanie. Anggap Kakak ini buku harianmu yang bernapas," bisik Kak Qasrina suatu sore sambil menyisir rambutku.

Aku terlalu percaya pada kedamaian semu di Kamar 7. Aku tidak tahu, bahwa dinding kamar ini juga punya telinga, dan setiap rahsia yang kuceritakan pada Kak Qasrina sedang dikumpulkan dengan teliti. Kak Qasrina sering kali terlihat mencatat sesuatu di buku kecilnya setelah kami berbicara, namun saat itu aku berpikir dia sedang mengerjakan tugas sekolahnya. Aku tidak menaruh curiga sedikit pun. Aku tidak sadar bahwa setiap kelemahan yang kubocorkan, setiap air mata yang kutumpahkan, adalah amunisi yang sedang disiapkan untuk satu saat yang takkan pernah kusangka.

Suatu malam, aku pulang dari perpustakaan lebih awal karena sakit kepala. Saat kakiku mendekati pintu Kamar 7, aku mendengar suara tawa dari dalam. Itu suara Kak Qasrina. Tapi nadanya berbeda. Tidak ada kelembutan di sana.

"Kalian tahu apa yang dia katakan soal kalian berdua?" Suara Kak Qasrina terdengar tajam. "Hanie bilang, Syasya itu sebenarnya iri padanya karena nilai matematikanya lebih tinggi, dan Hilya... dia bilang Hilya itu munafik karena sering mencuri makanan di loker orang lain tapi pura-pura alim di depan ustazah."

Aku terpaku di depan pintu. Mendengar itu jantungku langsung berdegup kencang hingga terasa menyakitkan di dada.

"Serius? Si culun itu berani bicara begitu tentang kita?" Itu suara Syasya, nadanya penuh amarah yang tertahan.

"Tentu saja. Dia menangis di bahuku setiap malam sambil menjelek-jelekkan kalian. Dia pikir aku benar-benar peduli padanya. Padahal, aku hanya butuh alasan untuk menyingkirkannya dari kamar ini sebelum pemeriksaan bulanan ketua asrama. Kita butuh orang baru yang lebih 'berguna', bukan beban seperti dia," lanjut Kak Qasrina, diikuti tawa renyah yang membuat bulu kudukku berdiri.

Duniaku runtuh seketika. Daratan yang kusangka tempatku berpijak ternyata adalah lubang isap yang siap menelanku hidup-hidup. Kak Qasrina, malaikat pelindungku, adalah dalang yang paling licik di antara semua penindasku.

Aku tidak sanggup membuka pintu itu. Aku mundur perlahan, membiarkan kegelapan koridor menelanku. Ternyata di asrama ini, tidak ada tempat yang benar-benar aman. Bahkan di Kamar 7, di bawah bau bedak bayi yang menenangkan itu, ada duri yang siap menusuk jantungku dari belakang. Ternyata, pengkhianatan yang paling menyakitkan bukanlah dari musuh yang nyata seperti Arif, melainkan dari pelindung yang kita beri kunci untuk memasuki lubuk hati yang paling dalam.

Aku dikhianati lagi.Dan aku benci itu...

Malam itu, cahaya koridor yang menembus celah pintu tak lagi terlihat seperti harapan. Ia terlihat seperti mata yang mengawasi, menunggu kehancuranku yang sudah di depan mata.

1
gempi
n
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!