Mungkin ini jalan takdir atau rencana terselubung ku, ternyata tak perlu jauh aku mencari mu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MAMI ADRIELLA20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan mereka 2
Hujan kian semakin deras, bahkan
makanan dan minuman semakin banyak tersaji. Menikmati sekali moment seperti ini bukan karena mie goreng hangat di tengah-tengah suasana hujan ya melainkan karena perkumpulan seperti ini. Mama Papa menyambut hangat mereka dengan banyak cerita berbalut nasehat, aku senang dengan kedekatan seperti ini.
Apa? Kalian tanya bang Dean? bang Dean mah anteng, bujur kalau kata ku mah. Dia bersikap layaknya seorang jaksa di pengadilan,berbaur namun tetap mempertahankan karismanya.
Ia tidak begitu banyak makan, tata keramaian tertutup aku suka dengan sikap lelaki seperti itu, tidak banyak drama dan tampil menjaga karismanya. Ku perhatikan sampai Mama menatap wajah ku, aku terkejut malu. Bahkan senyum ku tidak menghilangkan pandangan Mama.
Bang Dean menikmati obrolan singkat dengan Papa, Papa dari awal ketemu dengan bang Dean sudah sangat akrab. Aku senang cuman kalau kata Papa nantinya minta bang Dean jadi calon pendamping enggak dulu deh sikap acuh nya itu buat aku ilfeel, kalau di dekati juga macam aku yang terlalu cinta sama dia. Di sana Papa sempat cerita tentang bisnis dan ya barangkali bang Dean join member, eh ternyata bang Dean juga enggak kalah pamor dalam dunia saham dan aset. Cuman ya anaknya gak terlalu berani tampil.
dari tatapan mata Papa aku yakin ada ketertarikan dengan bang Dean, bahkan
Papa tidak pernah menatap Josua sedalam itu ketika bicara bersama-sama. Yakin sekali bila one day bang Dean punya niat melamar ku ia segera mendapat lampu hijau. Entah efek obat atau gimana, aku merebahkan badan di pangkuan Mama, beralas tikar aku terpejam nyenyak sekali, aku tidak ingin ini berakhir begitu cepat maka sebab itu janganlah berakhir ya.
Eh tau-tau nya ketika aku tidur, posisi ku sudah pindah ke kamar bersama dua teman ku. Tiga lagi dibawah beralas bed cover dan selimut, intinya mereka tidur dengan ku, sementara aku keluar menuju kamar mandi luar ehh mama, Papa, bang Dean dan dua lainnya bersusun ikan asing dengan tikar beralas bed cover. Habis sudah bed cover ku, besok harus cuci lagi ni. Mereka bisa tidur tanpa bantal, seriusan.
Sebenarnya aku cuman iseng aja keluar dari kamar menuju kamar mandi luar, karena sudah terbiasa ke belakang untuk cek keadaan kamar mandi didalam kamar
jadi terbengkalai, aku tersenyum menatap bang Dean dan ya sekembalinya aku dari kamar mandi ternyata bang Dean sudah duduk di dekat lemari kitchen, ia minum sejenak lalu kalian tau tatapan nya penuh makna aku mengingat tingkah ku sebelum ke kamar mandi, ya ampun apa dia masih bangun kala itu?
Aku kembali ke kamar dengan penuh rasa malu gimana ya kira-kira tanggapan bang Dean tentang tatapan tadi.
POV:Dean
Enggak terbayangkan bisa dekat dengan keluarga Miwa secepat ini, Papa Miwa ternyata cekatan dalam dunia ekonomi, mungkin orang akuntan kali, aku tau Papa Miwa sangat suka bicara tentang keuangan dan juga bisnis ya selagi aku juga sama-sama memiliki minat yang sama kenapa enggak.
Awalnya aku tertarik dengan Miwa,namun Ijon temannya itu bilang enggak usah lah dekat dengan Miwa, cintanya sudah habis di laki-laki bernama Josua, ya secara pekerjaan mungkin aku lelaki yang di idam setiap orang tua cuman dari foto-foto Miwa dan Josua itu aku lihat banner PT tempat Josua bekerja, waduhhh gak main-main tuh gajinya. Begitulah insecure nya laki-laki bukan di wajah melainkan pendapatan untuk membahagiakan wanita nya.
Kalau kalian tau kenapa aku tertarik dengan Miwa, karena Miwa ini musuh sikap ku. Pasti aku bisa di ubah oleh nya, tapi sayangnya dari segi apa pun aku enggak bisa di bandingkan dengan Josua. Aku tau semua tentang Miwa bahkan kasus Miwa aku turut campur dalam menangani nya, Papa Miwa tau itu. Namun aku tidak menjadikan itu sebagai cara mendapatkan Miwa, aku ingin Miwa datang sendiri kepada ku tanpa adanya paksaan.
Soal tadi sebenarnya aku belum tidur, masih baru masuk dari luar sehabis merokok. Aku tau dirumah ini pantang sekali bau asap rokok terlihat dari tadi kami tidak di beri
asbak untuk abu rokok terpaksa putar akal dengan satu gelas minum bisa menjadi
asbak dadakan. Masih baru merebahkan badan pintu kamar terbuka, aku berpikir itu mungkin kita atau entah siapalah ternyata Miwa.
Dia sepertinya sempat berhenti mungkin memandangi Mama Papa nya, aku tau dia lama di dapur ada rasa takut timbul dihati ku, takut terjadi apa-apa, apalagi luka terlihat mata masih jelas basah apalagi luka traumanya. Eh rasa penasaran ku tadi membawa ku mendekat ke arah dapur, ya mau gak mau seolah ingin ke toilet aku berdiri menunggu nya keluar.
POV: penulis
Ternyata ada kesalahpahaman tah diantara mereka, lah ku kira mereka satu frekuensi ternyata enggak sama sekali, aneh lah pokoknya.
Kembali dengan ku Miwa hosianna Saragih, aku terhanyut dengan pikiran kacau bercampur malu segan banget besok pagi harus bertemu dengan bang Dean lagi. Ehhh selang beberapa jam mereka bangun dan yapp berhubung ini hari Senin mereka harus cepat berangkat bekerja, mereka tidak membangun kan ku malah Mama dan Papa mengantarkan mereka sampai pada parkiran.
Mama aja bisa tidur lagi dan terakhir nya kami bangun kesiangan, dalam lelah aku bermimpi wajah pelaku itu. Aku masih di dalam semak-semak itu, aku tidak bisa bergerak tangan ku digenggam sesuatu, dia datang dan ya... Ketakutan aku teriak sekuat tenaga bahkan rasa pedih nya nyata ketika ia mencabik-cabik luka ku. Aku menangis tak seorang pun dapat menolong ku, sampai aku teriak "Ya Tuhan, tolong aku Tuhan Tuhan..." teriakan ku membangunkan ku, ternyata Mama Papa sedari tadi sudah mengguncang badan ku untuk bangun, bahkan Papa menyiram sedikit demi sedikit air wajah ku. Bukannya bangun aku malah semakin berteriak begitu lah kronologi cerita Papa.
Lemas lunglai aku tak berdaya rasanya, mau gimana pun ku, rasakan hidup ini tidak tepat bila bermasalah dengan seorang kembaran Dajjal. Kenapa lah aku bertemu dengan dia dalam waktu singkat ini. Aku masih terus mengantuk, Mama sudah yakin aku trauma akan kejadian ini, nampaknya aja aku kuat dan sok iya dalam menghadapi keramaian ternyata trauma itu benar-benar nyata.
"Kita ke psikolog yok Mi," kata Mama memanggil nama ku, aku gak mau, menurutku ini bukan sekedar penyakit ke jiwa-an tapi pembuktian ke waras-an bila sudah sampai ke psikolog. Namun ada intuisi ku mengatakan campur tangan nya keluarga pelaku pasti ada mengguna- guna aku.
Iya atau enggak nya aku belum kasih jawaban sampai akhirnya aku memilih untuk kembali tidur.
semangat, yah..
jan lupa mampir juga..
kita saling dukung, yah..
💪💪💪
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰