Di dunia yang dikendalikan elite global, Rafael Alkava tumbuh sebagai anak buangan yang seharusnya tidak pernah hidup. Tanpa mengetahui asal-usulnya, ia bangkit dari kemiskinan, menaklukkan dunia trading, dan berangkat ke Amerika demi mencari kebenaran tentang dirinya.
Namun langkahnya justru menyeret Rafael ke dalam konflik mafia internasional, konspirasi negara, dan organisasi bayangan yang menguasai dunia dari kegelapan. Perlahan, ia menyadari bahwa hidupnya adalah bagian dari perang lama yang belum pernah berakhir.
Ketika semua rahasia terbuka, satu pertarungan mematikan mengubah segalanya.
Rafael Alkava dinyatakan mati.
Tapi di balik kematian itu, sesuatu justru mulai terbangun—
dan dunia akan segera tahu bahwa kesalahan terbesar mereka adalah membiarkannya hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Chitholl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Warning 21+
Mansion Pinggiran Kota – Dini Hari.
Rafael tertidur dengan pulas di kamarnya—kamar besar dengan king-size bed, AC yang dingin sempurna, blackout curtain yang membuat ruangan gelap total.
Jam menunjukkan pukul 2:47 pagi.
Pintu kamar terbuka—sangat pelan, hampir tanpa suara. Sosok tipis masuk, menutup pintu dengan hati-hati, mengunci dari dalam dengan bunyi klik yang nyaris tidak terdengar.
Seraph Vale berdiri di dalam kegelapan—hanya memakai piyama satin tipis berwarna merah muda, tanpa bra, kain yang sangat minim sampai lekukan tubuhnya terlihat jelas bahkan dalam gelap.
Rambutnya terurai, mencapai bahu. Wajahnya yang biasanya makeup sempurna sekarang bare—tapi justru terlihat lebih sensual dengan natural beauty-nya.
Dia berjalan pelan mendekati ranjang—langkah-langkahnya seperti kucing yang berburu.
Mata hijau zamrudnya bersinar dalam kegelapan, menatap Rafael yang tertidur dengan nafas teratur.
Seraph berhenti di tepi ranjang. Dia menatap wajah Rafael—wajah yang peaceful, tanpa beban, tanpa mask yang biasa dia pakai saat terjaga.
Lalu tangannya bergerak—menyentuh ujung selimut, menariknya pelan ke bawah.
Rafael hanya memakai kaos hitam loose dan celana training.
Tubuhnya yang sudah kembali atletis terlihat jelas—otot-otot yang terdefinisi di balik kaos tipis.
Seraph menarik nafas dalam—mencoba mengontrol detak jantungnya yang semakin cepat.
Tangannya gemetar sedikit—bukan karena takut, tapi karena anticipation.
Dia menarik kaos Rafael ke atas—perlahan, sangat perlahan. Kulitnya terekspos inch by inch.
Perut Rafael terlihat—sixpack yang terbentuk sempurna, setiap abdominal muscle terukir jelas. Kulit yang masih sedikit pucat tapi sudah jauh lebih sehat.
Jari-jari Seraph menyentuh perut itu—sentuhan yang lembut, eksplorasi yang penuh rasa ingin tahu.
Kulitnya hangat.
Ototnya keras di bawah sentuhan.
Rafael tidak bangun.
Masih tertidur dalam.
Seraph tersenyum—senyum yang penuh dengan sesuatu yang gelap dan menggoda.
Dia naik ke ranjang—gerakan yang graceful meskipun dalam kegelapan.
Masuk ke dalam selimut yang sama dengan Rafael.
Kehangatan tubuh Rafael langsung terasa. Seraph merangkak—tubuhnya bergerak di atas tubuh Rafael, positioning dirinya dengan hati-hati.
Tangannya turun—menyentuh pinggang Rafael, turun lebih rendah, mencapai pinggang celana training-nya.
Jari-jarinya mulai menarik—
Tangan Rafael bergerak seperti lightning.
Menangkap pergelangan tangan Seraph dengan grip yang kuat, mengangkatnya ke atas dengan kecepatan yang membuat Seraph terkejut.
Rafael bangun total—mata kelamnya terbuka lebar, menatap langsung ke mata Seraph yang hanya beberapa inch dari wajahnya.
"Apa yang lo lakukan?" suaranya rendah, berbahaya.
Seraph terkejut—tapi tidak ada kepanikan di wajahnya.
Justru dia tersenyum—senyum yang menggoda, yang provocative.
Tangan bebasnya bergerak ke mulut Rafael—jari telunjuk menyentuh bibir Rafael dengan lembut.
"Shhh," bisiknya.
Suaranya seperti silk yang meluncur di kulit.
"Jangan berisik. Nanti yang lain bangun."
Bisikan itu—suara Seraph yang biasanya energik sekarang soft, seductive—terasa seperti aliran listrik yang mengalir di seluruh tubuh Rafael.
Bagian bawahnya bereaksi instant.
Menegang.
Hard.
Tidak bisa dikontrol.
Rafael mencoba mengelak—mencoba mendorong Seraph menjauh. Tapi Seraph bergerak lebih cepat.
Dia duduk di atas pangkuan Rafael—memeluknya dengan kaki di kedua sisi pinggang Rafael.
Berat tubuhnya yang ringan menekan tepat di bagian yang sudah menegang.
Rafael bisa merasakan—bahkan melalui dua lapis kain—betapa tipisnya piyama Seraph.
Bahkan mungkin dia tidak memakai apapun di bawahnya. Warmth dan softness-nya terasa sangat clear.
"Seraph—" Rafael mulai bicara, tapi Seraph sudah bergerak.
Wajahnya mendekat—jarak mereka hanya sentimeter.
Rafael bisa merasakan nafas Seraph di bibirnya—hangat, sedikit cepat, berbau mint.
Lalu Seraph mencium Rafael.
Pelan.
Sangat pelan.
Bibir Seraph menyentuh bibir Rafael dengan pressure yang minimal—seperti bulu yang menyentuh kulit.
Rafael membeku.
Otaknya berteriak untuk stop.
Tapi tubuhnya—tubuhnya tidak mendengarkan.
Ciuman itu menjadi lebih dalam. Seraph membuka bibirnya sedikit—lidahnya menyentuh bibir bawah Rafael dengan gerakan yang teasing.
Rafael merasakan sensasi yang electric—sesuatu yang membuat seluruh tubuhnya menyala.
Dia pernah merasakan ciuman dengan Salma—ciuman yang sweet, innocent, penuh dengan cinta yang pure.
Tapi ini berbeda.
Ini bukan cinta.
Ini hasrat yang tak terkontrol, unfiltered, consuming.
Bagian bawah Rafael semakin menegang—sampai terasa menyakitkan.
Seraph bisa merasakannya—dan dia move hips-nya sedikit, grinding dengan motion yang subtle tapi sangat effective.
Rafael mengerang tanpa sadar—suara yang keluar dari tenggorokannya tanpa permission.
Seraph tersenyum di dalam ciuman. Tangannya yang bebas—yang tidak ditangkap Rafael—bergerak turun.
Mengambil tangan kanan Rafael, membimbing tangan itu ke atas, meletakkannya di gunungnya.
Rafael merasakan sensasi yang membuat otaknya short-circuit.
Lembut.
Sangat lembut.
Kenyal tapi firm.
Dia bisa merasakan pucuk yang sudah hard menekan ke telapak tangannya melalui kain tipis piyama.
Tangannya bergerak tanpa conscious thought—meraba, merasakan, exploring dengan jari-jari yang gemetar.
Seraph mendesah pelan di dalam ciuman—suara yang membuat Rafael semakin kehilangan kontrol.
Sesuatu di dalam Rafael patah.
Dia melepaskan grip-nya di pergelangan tangan Seraph.
Kedua tangannya sekarang bebas—dan dia menggunakannya.
Satu tangan terus meremas gunung Seraph—merasakan beratnya, kelembutannya, sensasi yang sempurna.
Tangan lainnya melingkar di pinggang Seraph, menarik tubuhnya lebih dekat.
Dalam satu gerakan fluid, Rafael berbalik—membalik posisi mereka sampai Seraph berbaring di ranjang dan Rafael di atasnya.
Ciuman terputus. Mereka berdua nafas tersengal—staring at each other dalam kegelapan.
Mata Seraph bersinar dengan desire yang jelas.
Wajahnya flushed, bibir membengkak dari ciuman.
"Rafael..." bisiknya.
Suaranya berbeda—breathless, needy, manja dengan cara yang sangat not like her.
Rafael menatap wajah itu—wajah yang berbeda dari Seraph yang biasa dia kenal.
Ini bukan Seraph yang confident dan flirtatious.
Ini Seraph yang lemah, yang menyerah.
Tangannya bergerak ke leher Seraph—menyentuh kulit putih yang smooth.
Dia bisa merasakan kukit-nya yang mulus.
Bibirnya turun—mencium leher itu, tasting the skin yang sedikit asin dari keringat.
Seraph melengkungkan lehernya—memberikan akses lebih banyak.
Tangannya meraih rambut Rafael, jari-jari mencengkeram dengan desperate.
"Yes..." desahnya pelan.
"Rafael... please..."
Rafael terus mencium—turun dari leher ke clavicle, ke bagian atas dada.
Tangannya menarik piyama Seraph ke atas—exposing kulit lebih banyak.
Dan dia melihatnya.
Kedua gunung Seraph—bentuk yang sempurna, tidak terlalu besar tidak terlalu kecil, dengan pucuk yang pink dan hard dari arousal.
Cahaya bulan yang sedikit masuk melalui celah gorden membuat kulit Seraph terlihat seperti porselen.
Rafael kehilangan semua rational thought.
Mulutnya bergerak—menyambar salah satu pucuk dengan lapar yang dia tidak tahu dia punya.
Lidahnya melingkari pucuk itu, mengecapnya, teasing dengan gerakan yang membuat Seraph memanas di bawahnya.
"Ahh... Rafael..." desahan Seraph semakin keras, semakin putus asa.
Tangan Rafael meremas gunung yang satunya—meremas dengan rhythm yang matching dengan mulutnya.
Seraph mengangkat pinggulnya—mencari ke bagian bawah Rafael yang sangat hard sekarang, mencari gesekan.
Rafael mengalihkan mulutnya ke gunung satunya—memberikan attention yang sama. Lidahnya menari di pucuknya dengan speed yang menggoda. Gigi-giginya menggigit pelan—cukup untuk membuat Seraph terkesiap.
"God... Rafael... I need—"
***
Tiba-tiba Rafael berhenti.
Seperti ada yang menghantam otaknya—menariknya kembali dari tepi jurang.
Pikiran tentang Salma menyala di kepalanya.
Wajah Salma.
Senyum Salma.
Janji-janji yang dia buat.
Tiga tahun.
Tiga tahun dia berjanji akan kembali worthy untuk Salma.
Tiga tahun dia berjanji tidak akan menyentuh wanita lain.
Dan sekarang—di malam pertama dia kembali ke kehidupan normal—dia sudah hampir melanggar janji itu.
Rafael berdiri—gerakan yang tiba-tiba, yang membuat Seraph confused.
"Sorry," katanya.
Suaranya serak, nafasnya masih tersengal. Bagian bawahnya masih painfully hard.
"Gue nggak bisa."
***
Seraph duduk—piyamanya masih tersibak, gunungnya masih terekspos jelas. Wajahnya bercampur kebingungan, kekecewaan, dan frustration.
"Rafael—" dia mulai bicara.
Tapi Rafael sudah berbalik. Berjalan ke pintu dengan langkah yang tidak steady. Membuka pintu. Keluar tanpa menoleh lagi.
Seraph ditinggal sendirian di ranjang—tubuhnya masih memanas dengan menginginkan hal yang lebih.
Tangannya menarik piyama menutupi dadanya kembali.
"Fuck," bisiknya ke kegelapan.
"Padahal tinggal sedikit lagi..."
***
BERSAMBUNG...