NovelToon NovelToon
KELINCINYA ORION

KELINCINYA ORION

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Romantis / Cinta setelah menikah / Dark Romance / Romansa / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ceye Paradise

Seraphina, gadis panti asuhan polos, mendapati hidupnya hancur saat ia menjadi bidak dalam permainan kejam Orion Valentinus, pewaris gelap yang haus kekuasaan. Diperkosa dan dipaksa tinggal di mansion mewah, Seraphina terjerat dalam jebakan hasrat brutal Orion dan keanehan Giselle, ibu Orion yang obsesif. Antara penyiksaan fisik dan kemewahan yang membutakan, Seraphina harus berjuang mempertahankan jiwanya. Namun, saat ide pernikahan muncul, dan sang ayah, Oskar, ikut campur, apakah ini akan menjadi penyelamat atau justru mengunci Seraphina dalam neraka kejam yang abadi? Kisah gelap tentang obsesi, kepemilikan, dan perjuangan seorang gadis di tengah keluarga penuh rahasia. Beranikah kau menyelami kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB DUA PULUH: KEPEMILIKAN MUTLAK

Ruangan itu masih dipenuhi oleh uap panas dari hasrat yang baru saja meledak, namun Orion seolah tidak pernah merasa puas. Ia menatap tubuh Seraphina yang masih terbaring telungkup di atas meja mahoni dengan pandangan yang sangat lapar. Baginya, Seraphina bukan sekadar pelampiasan, melainkan sebuah wilayah jajahan yang harus ia kuasai sampai ke relung yang paling dalam. Seraphina mencoba untuk bangkit, tangannya yang gemetar mencari tumpuan pada tepi meja yang licin, namun Orion dengan cepat menekan punggungnya kembali.

"Kau pikir aku sudah selesai denganmu, kelinci kecil?" bisik Orion, suaranya terdengar seperti geraman harimau yang sedang mempermainkan mangsanya. Ia mencengkeram pinggul Seraphina kembali, menariknya ke posisi yang bahkan lebih rendah, membuat dada Seraphina tertekan keras ke permukaan meja yang dingin.

"T-Tuan... ahh... hiks... cu-cukup... aku... aku sudah tidak kuat lagi..." Seraphina merintih dengan suara yang nyaris habis. Napasnya tersengal-sengal, setiap tarikan udara terasa menyakitkan bagi dadanya yang sesak. Namun, permohonannya hanya dianggap sebagai undangan bagi Orion untuk menunjukkan kekuatannya yang lebih besar.

Tanpa memberikan kesempatan bagi Seraphina untuk bernapas, Orion kembali memulai serangannya. Kali ini dengan ritme yang lebih lambat namun jauh lebih dalam dan menekan. Dug... dug... dug... Suara meja kayu yang berat itu kembali beradu dengan lantai marmer di bawahnya, menciptakan dentuman yang berirama di dalam keheningan malam yang sunyi.

PLOK PLOK PLOK

BUK BUK

"Nngghhaaahhh! O-Orion... ahhh... s-sakit... hiks... ahhh!" Seraphina kembali mengeluarkan desahan yang dipenuhi penderitaan. Setiap gerakan Orion terasa seperti ombak besar yang menghantam karang, meremukkan setiap pertahanan yang tersisa di dalam batinnya. "Ahhh... ahhh... m-mohon... nngghhh... ja-jangan se-seterjal itu... ahhh!"

"Kau harus merasakannya sampai ke tulangmu, Seraphina!" Orion menggeram, ia membungkukkan tubuhnya hingga dadanya yang bidang bersentuhan langsung dengan punggung Seraphina yang basah oleh keringat. Ia menggigit bahu Seraphina, memberikan rasa perih yang seketika berubah menjadi getaran panas di seluruh saraf gadis itu. Plak! Suara kulit yang saling bertumbukan kembali bergema, semakin nyaring seiring dengan meningkatnya intensitas gerakan Orion.

PLOK PLOK PLOK BUK BUK BUK

"AAAAHHH! AHHH! NNGGHHH! TUAN! AH! AH! AH!" Seraphina menjerit, suaranya kini bercampur dengan desahan yang semakin liar dan tidak terkontrol. Tubuhnya bergerak mengikuti setiap hentakan brutal yang diberikan Orion. Ia merasa seolah-olah sedang terbakar dari dalam, sebuah api yang dipicu oleh kemarahan sekaligus kenikmatan yang terlarang. "S-sangat... ahhh... s-sangat dalam... nngghhh... Orion... ahhh... hiks... hancur... aku hancur... ahhh!"

Orion menyukai bagaimana suara Seraphina pecah di tengah ruangan itu. Ia merasa seperti seorang dirigen yang sedang memimpin sebuah simfoni kegelapan. Ia mempercepat gerakannya kembali, tidak memedulikan rasa sakit yang mungkin dirasakan Seraphina. Plak! Plak! Plak! Suara itu semakin cepat, semakin intens, seolah sedang mengejar sesuatu yang tak kasat mata.

"Katakan siapa pemilikmu!" Orion menuntut, suaranya kini terdengar sangat serak dan penuh dengan birahi yang mendidih. Ia mencengkeram rambut Seraphina, menarik kepalanya ke belakang sehingga mereka saling menatap dalam posisi yang sangat aneh namun intim.

"A-aku... ahhh... nngghhh... kau... kau pemilikku... ahhh... Orion!" Seraphina menjawab dengan napas yang hampir putus. Ia sudah tidak peduli lagi dengan harga dirinya; yang ia inginkan hanyalah agar badai ini segera berakhir, meski ia harus menyerahkan jiwanya sebagai bayaran.

"Sebutkan dengan lengkap!" Orion memberikan dorongan yang sangat keras hingga kepala Seraphina hampir membentur permukaan meja. Bruk!

"Ahhh! O-Orion... ahhh... Orion Valentinus... hiks... dia... dia adalah pemilikku... ahhh... ahhh! Nngghhh!" Jeritan Seraphina mencapai nada tertinggi saat ia merasakan gelombang panas yang luar biasa kembali menyerang sistem sarafnya. Seluruh tubuhnya menegang hebat, tangannya meremas tepi meja sampai kuku-kukunya memutih.

Narasi internal Orion terasa sangat puas, sebuah kemenangan mutlak yang ia rasakan di setiap inci tubuhnya. "Ya, akulah pemilikmu. Aku akan menanamkan identitas ini begitu dalam sehingga kau tidak akan pernah bisa melupakannya. Bahkan jika kau memejamkan mata di dalam tidurmu, kau akan tetap melihat bayanganku yang sedang menguasaimu seperti ini. Kau adalah propertiku, Seraphina Elara."

Orion tidak berhenti meski Seraphina sudah lemas tak berdaya. Ia terus menghantamkan tubuhnya dengan kecepatan yang gila. Dug! Dug! Dug! Suara gerakan mereka kini bercampur dengan suara napas yang memburu dan isakan yang berubah menjadi erangan kepuasan yang menyakitkan. Ruangan itu terasa semakin panas, seolah-olah dinding mahoni di sekeliling mereka pun ikut berkeringat menyaksikan adegan yang begitu intens tersebut.

"Nngghhaaahhh... ahhh... t-tidak... ahhh... Orion... mo-mohon... ahhh... aku... aku akan... ahhh... ahhh!" Seraphina merasakan kesadarannya benar-benar berada di ambang batas. Dunianya berputar, warna-warna di sekitarnya seolah menyatu menjadi satu kegelapan yang pekat. Dan di tengah kegelapan itu, hanya ada Orion—sentuhannya, suaranya, dan kekuatannya yang tak terbendung.

Orion pun merasakan hal yang sama. Ia mencapai titik di mana ia tidak bisa lagi menahan segala ledakan hasrat yang sudah ia simpan sepanjang hari. Dengan satu dorongan terakhir yang sangat brutal dan dalam, ia meraung keras, suaranya menggema memenuhi seluruh mansion yang sunyi itu. Ia membenamkan tubuhnya seerat mungkin pada Seraphina, menumpahkan segala dominasi dan kepemilikannya ke dalam diri gadis itu.

Keheningan yang luar biasa menyusul setelahnya. Seraphina jatuh terkulai di atas meja, benar-benar kehilangan tenaga bahkan untuk sekadar menangis. Tubuhnya masih sedikit bergetar, sisa-sisa dari guncangan hebat yang baru saja ia alami. Orion melepaskan cengkeramannya, ia berdiri tegak dengan napas yang masih belum stabil, menatap Seraphina dengan pandangan yang dingin namun penuh kemenangan.

1
lucky
tolol ini cewe. bukan polos
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!