Reyhan, pengusaha sukses dengan masa kecil yang pahit, terpaksa menikahi Alya wanita yang pernah ia tinggalkan saat hamil enam tahun lalu. Pernikahan kontrak yang dingin mulai berubah ketika kehadiran putra mereka, Arka, anak jenius dengan IQ 152, perlahan meruntuhkan tembok hati Reyhan.
Di tengah proses belajar menjadi ayah dan suami, luka masa lalu Reyhan mulai sembuh. Ditambah kelahiran putri kecil mereka, Kirana, keluarga yang dulu hancur ini perlahan menemukan keutuhannya.
Kisah tentang kesempatan kedua, penyembuhan luka, dan cinta tanpa syarat yang akhirnya ditemukan setelah sekian lama hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 Anak Itu Terlalu Pintar
Kamis pagi itu dimulai dengan suara tawa Arka suara kecil yang riang dan begitu jarang terdengar di rumah besar itu. Alya terbangun karena gelak tawa itu, matanya masih berat karena semalam ia sulit tidur. Tapi rasa penasaran lebih kuat. Ia bangkit pelan, bergegas turun ke lantai bawah dengan langkah hati-hati. Begitu tiba di anak tangga tengah, ia berhenti. Tubuhnya membeku melihat pemandangan di ruang keluarga.
Reyhan dan Arka duduk bersila di lantai marmer yang dingin, dikelilingi potongan-potongan robot rakitan yang masih berantakan di mana-mana. Reyhan memakai kaus tidur hitam polos, rambutnya acak-acakan, kacamata baca bertengger di ujung hidungnya. Sementara Arka dengan piyama astronot kesayangannya sedang menjelaskan sesuatu dengan penuh semangat. Jari kecilnya menunjuk-nunjuk manual instruksi yang terbuka lebar.
“Jadi ini bagian servo motor, Pa. Ini yang bikin lengan robotnya bisa gerak. Terus ini sensor ultrasonic buat deteksi jarak…”
“Tunggu, tunggu,” potong Reyhan sambil memegang kepala dengan kedua tangan. Ekspresinya campur antara bingung dan geli. “Aku baru bangun sejam lalu, Nak. Otak Papa belum siap nerima pelajaran secepat ini.”
Arka tertawa lagi, tawanya lepas dan jernih. Suara itu membuat mata Alya langsung berkaca-kaca. “Pa, ini gampang kok! Aku ajarin pelan-pelan ya.”
“Kamu bilang gampang karena kamu jenius, Nak. Papa ini sudah tua.”
“Pa belum tua! Pa baru… berapa sih umurnya?”
Reyhan berpikir sejenak, lalu tersenyum kecil. “Tiga puluh empat.”
“Masih muda dong! Otak Pa masih bisa belajar. Neuroplastisitas otak manusia bertahan sampai tua lho.” Arka mengangguk-angguk serius, seperti profesor kecil yang sedang mengajar mahasiswa.
Reyhan menatap anaknya dengan tatapan kagum bercampur geli. “Kamu… bener-bener nggak biasa ya?”
Arka mengangguk polos. “Iya. Mama juga bilang gitu. Tapi nggak apa-apa. Normal itu membosankan.”
Reyhan tertawa tulus, tawanya lepas dan hangat. Alya terpaku di tangga. Ia belum pernah mendengar Reyhan tertawa seperti itu seolah beban di pundak pria itu perlahan menguap begitu saja.
“Pagi,” sapa Alya akhirnya, turun dari tangga dengan senyum yang tak bisa disembunyikan.
Reyhan dan Arka menoleh bersamaan.
“Pagi, Mama!” seru Arka riang. “Aku lagi ajarin Pa rakit robot!”
“Aku lihat.” Alya berjalan mendekat, lalu duduk di sofa sambil menatap dua orang kesayangannya di lantai. “Pa… bangun jam berapa tadi?”
Reyhan menggaruk kepalanya yang tak gatal, wajahnya sedikit memerah. “Jam lima. Arka ketuk pintu kamar Papa jam setengah enam, bilang mau rakit robot bareng.”
Alya menatap Arka dengan tatapan prihatin. “Arka, kamu ganggu Pa…”
“Nggak ganggu,” potong Reyhan cepat, suaranya lembut. “Aku… senang dibangunin buat hal seperti ini.”
Mata mereka bertemu sebentar. Alya melihat ketulusan di sana, ketulusan yang membuat dadanya hangat tanpa bisa dicegah.
Pukul sembilan pagi, ponsel Reyhan berdering berkali-kali. Asistennya mengingatkan tentang meeting yang seharusnya sudah dimulai sepuluh menit lalu.
“Ya ampun,” gumam Reyhan sambil melirik jam dinding. “Aku terlambat.”
“Pa mau berangkat?” tanya Arka, nada kecewanya tak bisa disembunyikan.
Reyhan menatap robot yang baru setengah jadi, lalu melihat wajah Arka yang mulai redup semangatnya. Ia diam sejenak, berjuang antara tanggung jawab kantor dan keinginan untuk tetap di sini. Lalu ia mengambil keputusan yang bahkan dirinya sendiri tak pernah bayangkan sebelumnya.
Ia menelepon asistennya. “Reschedule meeting jam sembilan. Bilang aku ada urusan keluarga mendesak.”
Alya menatapnya terkejut. “Pa… yakin? Bukannya itu meeting penting?”
“Ada yang lebih penting.” Reyhan menatap Arka dengan senyum tipis. “Ngajarin anakku rakit robot.”
Arka menatap Reyhan dengan mata berbinar, seolah baru mendengar hal paling indah di dunia. “Beneran, Pa? Pa nggak jadi berangkat?”
“Beneran. Ayo kita selesaikan robot ini.”
Arka bersorak girang suara yang sangat jarang keluar dari mulutnya lalu langsung fokus kembali ke potongan-potongan robot.
Alya berdiri di dapur, tangan menutupi mulutnya. Air mata mengalir tanpa bisa ditahan. Reyhan… kamu benar-benar berubah.
Pukul sebelas siang, dua jam kemudian, robot itu akhirnya selesai. Robot humanoid kecil dengan lengan yang bisa bergerak dan sensor yang bisa mendeteksi halangan. Arka menekan tombol power. Robot itu mulai berjalan dengan langkah kaku tapi menggemaskan.
“BERHASIL!” teriak Arka sambil melompat-lompat kegirangan. “Pa, kita berhasil!”
Reyhan tersenyum lebar, senyum yang membuat wajahnya terlihat sepuluh tahun lebih muda. “Kita emang hebat!”
Mereka ber-high-five dengan antusias, gerakan spontan yang membuat Alya tertawa sambil menangis. Arka memeluk robot itu erat. “Ini robot terhebat yang pernah aku bikin! Terima kasih ya, Pa!”
“Sama-sama, Nak.” Reyhan mengacak rambut Arka dengan lembut gerakan yang masih agak canggung, tapi penuh kasih sayang.
Lalu Arka bertanya dengan polos, “Pa… boleh nggak aku panggil Pa… Papa?”
Dunia Reyhan seperti berhenti berputar sejenak.
Alya membeku di dapur, sendok di tangannya terasa berat.
Reyhan menatap Arka dengan mata membulat, campuran terkejut, terharu, dan sedikit takut. “Kenapa… kenapa kamu mau panggil aku Papa?” tanyanya pelan, suaranya bergetar.
Arka memiringkan kepala polos. “Karena Pa baik sama aku. Kayak ayah beneran. Temen-temen aku di taman main punya papa yang main sama mereka. Aku juga mau punya Papa.”
Reyhan merasakan dadanya sesak, terlalu sesak untuk bernapas. Ia melirik Alya, meminta bantuan lewat tatapan.
Alya berjalan mendekat perlahan, berlutut di samping Arka. “Sayang… kamu yakin mau panggil Pa Reyhan… Papa?”
Arka mengangguk mantap. “Yakin. Aku suka sama Pa. Dan aku… pengen punya Papa.”
Air mata Alya jatuh. Ia menatap Reyhan dengan tatapan penuh pertanyaan: Apa kamu siap?
Reyhan menarik napas dalam-dalam. Lalu ia berlutut juga, menyamakan tingginya dengan Arka. “Arka,” panggilnya dengan suara bergetar. “Kalau kamu panggil aku Papa… itu artinya aku harus jadi Papa yang baik. Aku harus selalu ada buat kamu. Aku harus sayang sama kamu. Aku… aku nggak tahu apakah aku bisa.”
Arka menatapnya dengan tatapan serius. “Pa bisa kok. Pa udah baik sama aku. Pa udah sayang sama aku. Aku bisa lihat dari matanya.”
Reyhan terdiam. Benar-benar terdiam.
Lalu perlahan, sangat perlahan, ia mengulurkan tangan dan memeluk Arka. Pelukan yang lebih erat dari sebelumnya, pelukan penuh janji tanpa kata.
“Oke,” bisiknya dengan suara parau. “Mulai sekarang… aku Papa kamu.”
Arka membalas pelukan itu dengan erat sangat erat untuk anak yang biasanya tak suka kontak fisik terlalu lama. “Terima kasih, Pa.”
Dan kata “Pa” itu membuat hati Reyhan hancur sekaligus utuh pada saat yang sama.
Alya duduk di lantai, menangis dalam diam. Menangis untuk semua rasa sakit masa lalu, untuk semua ketakutan, dan untuk harapan baru yang akhirnya datang.
Sore harinya, Reyhan dan Alya duduk di teras belakang rumah tempat yang jarang mereka gunakan. Ada taman kecil dengan rumput hijau dan bangku kayu sederhana. Mereka duduk bersebelahan, jarak mereka hanya sejengkal, tidak seperti biasanya yang selalu menjaga jarak aman.
“Aku… tidak menyangka hari ini akan terjadi,” gumam Reyhan, menatap langit sore yang mulai jingga.
“Aku juga,” jawab Alya pelan. “Arka… jarang sekali meminta sesuatu. Tapi kalau dia sudah minta… berarti dia serius.”
“Aku takut, Alya.” Reyhan menunduk, tangannya meremas lututnya sendiri. “Takut aku nggak bisa jadi Papa yang dia harapkan.”
Alya menatapnya dengan lembut. “Kamu nggak harus sempurna, Reyhan. Kamu cuma harus… ada. Dan aku lihat… kamu sudah ada.”
Reyhan mengangkat wajah, menatap Alya dengan tatapan penuh emosi. “Kamu… nggak marah aku baru sekarang jadi ayah yang benar?”
Alya menggeleng. “Lebih baik terlambat daripada nggak pernah.”
Hening sejenak, nyaman.
Lalu Reyhan bertanya dengan nada ragu, “Alya… aku boleh nggak… pegang tanganmu?”
Alya terkejut dengan pertanyaan itu. Ia menatap Reyhan pria yang biasanya dingin dan tak pernah meminta izin untuk apa pun sekarang terlihat begitu rentan.
Perlahan, ia mengulurkan tangannya.
Reyhan memegang tangan itu dengan lembut, hangat, erat, tapi tidak memaksa.
Mereka duduk seperti itu dalam keheningan yang nyaman, tangan bertaut, menatap matahari terbenam bersama.
Dan untuk pertama kalinya sejak enam tahun lalu, Alya merasa… aman.
Malam harinya, Reyhan duduk di tepi ranjangnya, menatap ponsel dengan chat dari Arka yang baru masuk. Alya mengajarkan Arka cara mengirim pesan sederhana untuk komunikasi darurat.
[Arka]: Selamat malam, Pa. Terima kasih sudah main sama aku hari ini. Aku senang.
Reyhan merasakan dadanya sesak membaca pesan itu.
Ia mengetik balasan dengan jemari yang sedikit gemetar:
[Reyhan]: Selamat malam, Nak. Papa juga senang. Besok kita main lagi ya. Tidur yang nyenyak.
Tiga titik muncul Arka sedang mengetik.
[Arka]: Oke, Pa. Aku sayang Papa.
Reyhan menatap layar ponselnya dengan mata berkaca-kaca.
Ini pertama kalinya ada yang mengucapkan “sayang” padanya dengan tulus, tanpa pamrih, tanpa agenda. Hanya… cinta murni seorang anak.
Ia mengetik balasan dengan tangan gemetar:
[Reyhan]: Papa juga sayang Arka. Sangat sayang.
Dan ketika ia menekan kirim, ia menyadari ia tidak berbohong.
Ia benar-benar sayang.
Ia benar-benar… mencintai anaknya.
Di kamar Alya dan Arka, Alya berbaring di samping Arka yang sudah tertidur pulas. Robot baru itu dipeluk erat di dada anaknya, menggantikan boneka lusuh yang biasanya ia peluk.
Ia mengusap rambut Arka dengan lembut, berbisik pelan, “Kamu akhirnya punya Papa, sayang. Papa yang baik. Papa yang… sayang sama kamu.”
Air matanya jatuh, tapi kali ini air mata bahagia.
Ia menatap langit-langit kamar, berbisik pada dirinya sendiri atau mungkin pada Tuhan, “Terima kasih. Terima kasih sudah memberi kami kesempatan kedua.”
Dan malam Itu, untuk pertama kalinya dalam enam tahun, Alya tidur dengan hati yang tenang.
Tanpa beban.
Tanpa ketakutan.
Hanya… harapan.