Damian adalah psikopat yang jatuh cinta, mencintai dengan cara menyiksa, menghancurkan, dan merusak.
Dia mengubah Alexa dari gadis polos menjadi Ratu Mafia paling kejam. Setiap malam dipenuhi darah, penyiksaan, pembunuhan.
Tapi yang paling mengerikan, Alexa mulai menikmatinya. Di dunia ini, cinta adalah peluru paling mematikan. Dan mereka berdua sudah ditembak tepat di bagian jantung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eksekusi Publik
Pagi datang terlalu cepat. Tiga jam setelah kami kembali dari pelabuhan dengan Lorenzo yang masih hidup dan terikat di bagasi mobil.
Damian tidak tidur. Aku juga tidak. Kami hanya duduk di ruang kerjanya, menatap Lorenzo yang sekarang diikat di kursi di tengah ruangan. Berdarah. Mengerang kesakitan. Tapi masih hidup.
"FBI akan datang jam tujuh pagi," kata Damian sambil menatap jam di dinding. Jam menunjukkan pukul lima pagi. "Kita punya dua jam."
"Dua jam untuk apa?" tanyaku.
Damian menatapku. Matanya gelap. Lelah. Tapi ada api yang masih menyala di sana.
"Untuk menunjukkan pada semua orang bahwa kita masih berkuasa," jawabnya. "Bahwa walau FBI datang, walau dunia mencoba menghancurkan kita, kita tetap Vincenzo. Kita tetap penguasa."
Dia berdiri. Berjalan ke telepon di meja. Menekan tombol intercom.
"Marco, oh tunggu," dia berhenti. Menatap telepon dengan tatapan kosong. "Marco sudah mati."
Dia menekan nomor lain.
"Kirim pesan ke semua keluarga Vincenzo," katanya pada siapa pun yang menjawab. "Semua Don. Semua Donna. Semua pewaris. Kumpul di ballroom dalam satu jam. Wajib hadir. Yang tidak datang akan dianggap pengkhianat."
Dia menutup telepon. Menatapku.
"Hari ini," katanya, "kau akan menunjukkan siapa kau sebenarnya. Bukan di depan musuh. Tapi di depan keluarga kita sendiri."
***
Satu jam kemudian, ballroom sudah penuh. Dua ratus orang lebih. Semua mengenakan pakaian formal walau dipanggil tengah malam. Semua menatap panggung di depan dengan wajah bingung dan takut.
Di panggung ada kursi. Kursi besi yang sama dari ruang penyiksaan di bawah tanah. Dan di kursi itu terikat Lorenzo. Dengan lampu sorot meneranginya.
Seperti pertunjukan.
Aku berdiri di samping panggung. Mengenakan gaun hitam panjang. Sederhana tapi elegan. Rambut ditata ketat ke belakang. Wajah tanpa ekspresi.
Damian naik ke panggung. Semua orang langsung diam.
"Selamat datang keluarga," katanya dengan suara yang menggelegar di ruangan besar itu. "Maaf memanggil kalian di waktu yang tidak biasa. Tapi ini penting."
Dia berjalan mengelilingi kursi di mana Lorenzo terikat.
"Kalian semua tahu Lorenzo," lanjutnya. "Saudaraku. Yang mencoba merebut tahta dengan cara mengkhianatiku. Yang membawa perang ke kota kita. Yang membuat banyak dari keluarga kita mati."
Murmur terdengar dari kerumunan. Setuju.
"Dan kemarin," Damian meninggikan suaranya, "kami menangkapnya. Kami menangkap pengkhianat ini. Dan pagi ini, sebelum FBI datang untuk mencoba menangkap kami, kami akan menunjukkan apa yang terjadi pada pengkhianat."
Dia menatap ke arah aku. Mengulurkan tangannya.
"Dan yang akan menunjukkan," katanya, "adalah Donna kalian. Alexa Vincenzo."
Semua mata tertuju padaku.
Aku naik ke panggung dengan langkah pasti. Tanpa ragu. Meraih tangan Damian.
Di samping panggung ada meja kecil. Di atasnya tersusun alat-alat. Pisau berbagai ukuran. Tang. Gunting. Alat setrum. Dan pistol.
Seperti buffet kematian.
"Donna Alexa," kata Damian dengan suara yang terdengar bangga, "akan menunjukkan kenapa keluarga Vincenzo tetap berkuasa. Kenapa kami tidak takut pada siapa pun. Bahkan FBI."
Dia mundur. Membiarkan aku sendirian di tengah panggung dengan Lorenzo.
Lorenzo menatapku dengan mata yang penuh kebencian dan ketakutan.
"Kau tidak akan berani," bisiknya. "Di depan semua orang ini, kau tidak akan..."
Tapi dia salah.
Aku mengambil tang dari meja. Berjalan ke arahnya dengan tenang.
"Jari mana dulu?" tanyaku dengan suara yang sangat tenang. Terlalu tenang.
Lorenzo tidak menjawab. Hanya menatapku dengan mata membelalak. Aku meraih tangan kanannya yang terikat. Memilih jari kelingking, dan memotongnya dengan tang.
KRAK!
Lorenzo menjerit, suara yang memenuhi ballroom. Bergema, beberapa orang di kerumunan menutup mata. Tidak ada yang pergi, ataupun yang berani pergi.
Aku meletakkan jari yang sudah terputus di meja, di samping alat-alat lain, seperti sebuah pajangan.
"Satu," kataku datar.
Lalu aku mengambil jari berikutnya. Memotongnya.
KRAK!
"Dua."
Dan satu persatu, sampai sepuluh jari. Tanpa henti, tanpa gemetar. Lorenzo terus berteriak dan terus meringis kesakitan.
Tapi aku tidak berhenti. Tidak merasakan apapun. Hanya kekosongan yang luas. Ketika sepuluh jari sudah terputus, ketika tangan Lorenzo hanya tersisa tunggul berdarah, aku mengambil alat setrum.
"Ini untuk membuat kau tetap sadar," kataku sambil menyalakan alat itu. "Supaya kau merasakan semuanya sampai akhir."
Aku meletakkan alat setrum di dadanya. Lorenzo berteriak lagi. Tubuhnya bergetar tidak terkendali.
Kerumunan menonton dalam diam yang mencekam. Tidak ada yang berani bicara. Tidak ada yang berani bergerak.
Hanya suara teriakan Lorenzo dan bunyi listrik yang mengalir. Aku melepaskan alat setrum. Lorenzo terkulai. Hampir pingsan.
"Tidak," kataku sambil menampar wajahnya. "Kau harus tetap sadar. Sampai akhir."
Aku mengambil pisau kecil. Memulai potongan-potongan kecil di lengannya. Di perutnya. Di kakinya.
Tidak untuk membunuh. Hanya untuk menyakiti. Untuk membuat dia merasakan setiap detik dari eksekusi ini.
Dan aku melakukannya semua dengan wajah tanpa ekspresi. Seperti sedang melakukan pekerjaan biasa. Seperti ini bukan manusia di depanku. Hanya objek.
Sampai akhirnya, setelah satu jam yang terasa seperti selamanya, aku mengambil pistol dari meja. Lorenzo sudah hampir tidak sadar, tubuhnya hancur, darah di mana-mana.
Tapi matanya masih terbuka. Masih menatapku dengan tatapan yang sudah kehilangan harapan.
"Terakhir," kataku sambil mengangkat pistol. Membidik kepalanya.
"Tunggu," bisik Lorenzo dengan suara yang hampir tidak terdengar. "Kumohon, cepat akhiri semua ini."
Dan untuk pertama kalinya sejak eksekusi dimulai, aku merasakan sesuatu. Bukan simpati. Bukan penyesalan.
Tapi rasa jijik. Pada diriku sendiri. Pada apa yang baru saja kulakukan. Pada monster yang sudah kujadi. Tapi sudah terlambat untuk berhenti sekarang.
Aku menarik pelatuk.
DUAR!
Lorenzo terhentak. Kepala terkulai. Tidak bergerak lagi.
Mati.
Ballroom senyap total. Hanya bunyi tetesan darah dari panggung ke lantai marmer.
Aku berbalik menghadap kerumunan. Masih memegang pistol berdarah. Menatap mereka semua satu per satu.
"Ini yang terjadi pada pengkhianat," kataku dengan suara yang menggelegar di ruangan senyap itu. "Ini yang terjadi pada siapa pun yang mencoba menghancurkan keluarga kita."
Aku berjalan ke tepi panggung.
"FBI akan datang dalam satu jam," lanjutku. "Mereka akan mencoba menangkap kami. Menghancurkan keluarga ini. Tapi kami tidak takut."
Aku menatap Damian yang berdiri di samping panggung dengan senyum bangga di wajahnya.
"Karena kami Vincenzo," kataku. "Dan Vincenzo tidak pernah menyerah."
Lalu satu per satu, mulai dari barisan depan, orang-orang mulai berlutut. Pertama Don Russo. Pria yang dulu meremehkanku. Sekarang berlutut dengan kepala menunduk.
Lalu Don Caruso. Lalu yang lain. Satu per satu. Sampai semua orang di ruangan itu berlutut. Dua ratus orang, berlutut pada aku.
"Donna," mereka berbisik serentak. "Donna Alexa."
Dan aku berdiri di sana. Di atas panggung berdarah. Dengan mayat di belakangku dan dua ratus orang berlutut di depanku.
Merasakan kekuasaan yang seharusnya memuaskan. Yang seharusnya membuat aku merasa kuat.
Tapi yang kurasakan hanya kekosongan. Kekosongan yang lebih luas dari sebelumnya. Karena ini bukan kemenangan. Ini hanya kehancuran yang lebih dalam.
***
Setelah semua orang pergi, setelah jasad Lorenzo dibawa keluar, aku berdiri sendirian di ballroom yang sekarang kosong.
Damian masuk. Berjalan mendekatiku. Memelukku dari belakang.
"Kau sempurna," bisiknya. "Benar-benar sempurna. Mereka semua takut padamu sekarang. Mereka semua hormat."
Tapi aku tidak merasakan apapun dari kata-katanya.
"Apa kau merasakan sesuatu?" tanyaku pelan. "Ketika kau membunuh? Ketika kau menyiksa? Apa kau merasakan sesuatu?"
Damian diam lama.
"Dulu," jawabnya akhirnya, "aku merasakan kepuasan. Merasakan kekuasaan. Tapi sekarang, aku hanya merasakan kekosongan yang sama denganmu."
Dia memutar tubuhku. Menatapku.
"Tapi setidaknya," bisiknya, "kita kosong bersama-sama."
Dan mungkin itu yang terburuk dari semuanya. Bukan bahwa aku jadi monster. Tapi bahwa aku jadi monster yang bahkan tidak menikmati kejahatannya lagi.
Hanya melakukannya karena sudah tidak tahu cara lain untuk hidup. Air mata mengalir di pipiku. Tapi wajah tidak berubah ekspresi. Damian mengusap air mata itu. Menciumku dengan lembut.
"Satu jam lagi FBI datang," bisiknya. "Kita harus pergi sekarang. Kau siap?"
Aku menatap ballroom kosong di sekitar kami. Tempat di mana aku baru saja menunjukkan kegelapan paling dalam diriku pada dua ratus orang.
Tempat di mana aku kehilangan sisa terakhir dari kemanusiaanku.
"Ya," jawabku. "Aku siap."
Karena tidak ada lagi yang tersisa untuk ditinggalkan. Tidak ada lagi yang bisa hilang.
Aku sudah kosong sepenuhnya.
Tapi apa yang tidak kami ketahui adalah, di antara dua ratus orang yang berlutut tadi, ada dua agen FBI yang menyamar. Merekam semuanya dengan kamera tersembunyi. Merekam eksekusi brutal Lorenzo, dan merekam pengakuan tentang FBI yang akan datang.
Dan mereka sudah mengirim sinya, pasukan sudah bergerak mengepung mansion dari semua arah. Dan dalam sepuluh menit, mereka akan menyerbu, dengan lebih dari seratus agen bersenjata. Dan kali ini, tidak ada jalan keluar.