NovelToon NovelToon
Ternyata Aku Istri Kedua

Ternyata Aku Istri Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Cerai / Selingkuh
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Tya

Aku menikah dengannya karena cinta.
Kupikir itu cukup.
Nyatanya, setelah akad terucap, aku baru tahu—
cinta itu bukan hanya milikku.
Saat hati dipaksa berbagi dan kebenaran menyakitkan terungkap, aku harus memilih:
mempertahankan pernikahan yang dibangun atas cinta,
atau pergi demi harga diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Mas Bram tersenyum lalu berkata,

“apa aku boleh menggendongnya, Ran?” serunya pelan.

“Tentu,” jawabku lirih.

Mas Bram perlahan mengangkat Alea dari gendonganku. Tangannya terlihat sedikit gemetar, namun wajahnya penuh kebahagiaan saat menatap bayi kecil itu.

“Mas Bram!! Apa-apaan kamu!!” seru Monika kesal.

“Diam kau, Monika. Ini yang aku inginkan dari dulu,” jawab Mas Bram tegas tanpa melepas pandangannya dari Alea.

Monika mengepalkan tangannya kuat-kuat, wajahnya memerah menahan amarah.

“Bram! Kamu lupa siapa aku? Aku istrimu!” bentaknya.

Mas Bram akhirnya menoleh sekilas ke arah Monika, tatapannya dingin.

“Aku tidak lupa. Tapi kamu juga jangan lupa… sebelum semua ini terjadi, Rania adalah orang yang paling aku perjuangkan.”

Arumi tertawa mengejek Monika.

“Kasihan… gigit jari ya,” ucapnya sambil menyilangkan tangan.

“Diam kau!!” bentak Monika kesal. Dengan wajah merah menahan malu, ia segera berbalik dan keluar dari rumah.

Pintu tertutup cukup keras.

Namun Mas Bram sama sekali tidak peduli dengan sikap Monika. Ia justru menciumi pipi Alea dengan gemas, seolah dunia hanya ada dia dan bayi kecil itu.

“Aduh… cantiknya. Persis…” gumamnya pelan.

Aku hanya diam memperhatikan.

Lalu Mas Bram menatapku serius.

“Rania, apa kamu mau ikut pulang bersamaku?”

Aku langsung menatapnya tak percaya.

“Dengan semuanya yang terjadi, Mas? Kamu dengan entengnya bilang seperti itu?”

Mas Bram menarik napas dalam-dalam.

“Mau bagaimana pun… aku masih suami sah kamu.”

Arumi yang tadi santai langsung menatap Mas Bram dengan sinis.

“Suami sah katanya? Lucu juga ya. Waktu dia diusir, waktu dia difitnah, waktu dia hamil sendirian… mana suami sahnya?” sindir Arumi tajam.

“Maaf, Mas… tapi aku tidak bisa,” seruku tegas.

Mas Bram langsung menatapku dalam-dalam.

“Kenapa?”

Aku menarik napas panjang, mencoba menguatkan hati.

“Aku tetap mau bercerai denganmu.”

Wajah Mas Bram berubah tegang.

“Aku tidak mau, Ran.”

“Kenapa, Mas?” suaraku mulai bergetar. “Aku tidak mau hidup seatap dengan Monika. Lagian… rasa cintaku sudah tidak ada, Mas!”

Ucapan itu membuat ruangan terasa sunyi.

Mas Bram terdiam beberapa saat, seolah kata-kataku benar-benar menusuk hatinya. Ia lalu menatap Alea yang masih berada di pelukannya.

“Perasaan itu bisa kembali, Ran,” ucapnya pelan.

Aku menggeleng.

“Tidak semua luka bisa sembuh, Mas.”

“Aku tidak akan menceraikanmu,” katanya tegas.

Dadaku terasa sesak.

“Mas… jangan egois.”

“Aku bukan egois,” balasnya. “Aku hanya tidak mau kehilangan kamu lagi.”

Arumi langsung mendengus kesal.

“Lucu sekali. Dulu dia yang dibuang, sekarang bilang tidak mau kehilangan,” gumamnya.

Mas Bram tidak menanggapi Arumi. Tatapannya tetap tertuju padaku.

“Ran… aku akan menunggu kamu berubah pikiran.”

Aku menatapnya dingin.

“Kalau sampai kapan pun aku tidak berubah pikiran, Mas?”

Mas Bram terdiam.

Lalu ia berkata pelan namun penuh arti,

“Kalau begitu… aku akan membuktikan kalau aku masih pantas jadi suamimu.”

“Cukup!” suara lantang Monika tiba-tiba terdengar dari depan pintu.

Mas Bram, aku, dan Arumi langsung menoleh ke arahnya. Monika berdiri dengan napas memburu, wajahnya penuh amarah.

“Mas… memangnya kamu sangat yakin itu anak kamu?!” katanya tajam sambil menunjuk ke arah Alea di gendonganku.

Dadaku langsung terasa panas mendengar ucapan itu.

“Maaf… ini sudah malam. Aku dan anakku mau istirahat,” seruku dingin.

Arumi langsung maju selangkah ke depan, melindungiku.

“Sana pulang!! Atau aku panggil Pak RT!” seru Arumi dengan galak.

Monika terlihat semakin kesal, tapi Mas Bram justru menatapku penuh harap.

“Rania! Aku mohon… pikirkan lagi,” seru Mas Bram.

Aku menatapnya beberapa detik. Lalu aku menggeleng pelan.

“Sudah terlambat, Mas.”

Mas Bram terlihat terpukul. Ia menundukkan kepalanya sejenak, seolah mencoba menahan sesuatu di dadanya.

Monika segera menarik lengan Mas Bram dengan kesal.

“Ayo pulang, Mas! Percuma kamu memohon pada perempuan keras kepala seperti dia!”

Mas Bram melepaskan tangan Monika dengan kasar.

“Diam kamu, Monika!”

Monika terkejut.

Mas Bram kembali menatapku untuk terakhir kalinya malam itu.

“Ran… aku tidak akan menyerah.”

Setelah mengatakan itu, akhirnya ia berbalik dan berjalan keluar rumah.

Monika ikut pergi dengan wajah penuh kebencian.

Pintu rumah kembali tertutup.

Rumah menjadi sunyi.

Aku menghela napas panjang sambil menggendong Alea yang mulai terbangun. Arumi menepuk bahuku pelan.

“Tenang… kamu sudah kuat melewati semuanya, Ran,” ucapnya lembut.

Keesokan paginya Leon datang sangat pagi sekali sambil membawakan sarapan untuk kami.

Arumi yang sedari tadi ke pasar tidak kunjung pulang. Sepertinya dia langsung pergi ke kedai ayam geprek.

“Kita sarapan bersama,” seru Leon sambil meletakkan beberapa bungkus makanan di atas meja.

“Terima kasih, Leon. Oh iya… kamu tidak ada jadwal piket pagi ini?” tanyaku sambil menggendong Alea.

Leon tersenyum santai.

“Dokter sepertiku masuknya nanti siang, Ran.”

Aku langsung tertawa kecil.

“Gayamu, Leon,” seruku sambil memukul pelan lengan Leon.

Leon pura-pura meringis kesakitan.

“Aduh… dokter dipukul pasien,” candanya.

Aku menggeleng sambil tersenyum. Suasana terasa hangat dan tenang, sangat berbeda dengan kejadian semalam.

Leon lalu menatap Alea yang ada di pelukanku.

“Boleh aku gendong?”

“Tentu.”

Leon dengan hati-hati mengambil Alea. Wajahnya langsung berubah lembut saat melihat bayi kecil itu.

“Halo, Alea… pagi-pagi sudah cantik saja,” gumamnya.

Alea justru tersenyum kecil seperti mengenali suara Leon.

“Lihat itu… dia suka sekali sama kamu,” kataku.

Leon tersenyum bangga.

“Tentu saja. Aku kan dokter favoritnya.”

“Dokter apa… dia baru lahir,” ejekku.

Kami tertawa bersama.

Tiba-tiba pintu rumah diketuk cukup keras.

Tok… tok… tok…

Aku dan Leon saling berpandangan.

“Pagi-pagi siapa ya?” gumamku.

Leon berdiri.

“Aku lihat dulu.”

Namun saat pintu dibuka…

Leon langsung terdiam.

Mas Bram berdiri di depan pintu. Kali ini dia datang sendirian.

Wajahnya langsung berubah sinis saat melihat Leon.

“Dokter menyebalkan lagi,” serunya dingin. “Tidak malu mendatangi perempuan yang masih jadi istri orang?”

Leon terlihat menahan diri.

“Maaf, Anda salah paham. Saya hanya—”

“Banyak ngomong kamu!” bentak Mas Bram.

Tanpa peringatan, Mas Bram langsung memukul Leon dengan sangat tiba-tiba.

Bugh!

Pukulan itu mengenai pipi Leon hingga tubuhnya sedikit terhuyung.

“Mas! Apa yang kamu lakukan?!” teriakku kaget sambil berdiri.

Leon memegang sudut bibirnya yang mulai memerah, tapi ia tidak membalas.

“Silakan pukul saya kalau itu membuat Anda puas,” ucap Leon tenang, “tapi jangan membuat keributan di rumah Rania.”

Mas Bram semakin emosi.

“Kamu pikir aku takut sama kamu, hah?!”

Ia hendak maju lagi, tapi aku langsung berdiri di antara mereka.

“Cukup, Mas!” seruku keras.

Mas Bram terdiam, menatapku dengan napas memburu.

“Ran, kamu lihat sendiri! Dia datang pagi-pagi ke rumah kamu! Seolah-olah dia yang punya hak di sini!”

Aku menatapnya tajam.

“Dia datang membawakan sarapan. Bukan membuat keributan seperti kamu.”

Ucapan itu membuat Mas Bram semakin terpukul.

“Aku ini suamimu, Ran.”

“Suami yang memukul orang di depan rumahku?” balasku dingin.

Leon kemudian berkata pelan di belakangku.

“Ran, tidak apa-apa. Saya baik-baik saja.”

Mas Bram mengepalkan tangannya lagi, namun kali ini ia menahannya.

“Rania,” katanya dengan suara berat, “selama kamu masih istriku… aku tidak akan membiarkan pria lain mendekatimu.”

Aku mengangkat dagu menatapnya.

“Mas… kamu sudah kehilangan hak itu sejak kamu memilih Monika.”

Suasana kembali tegang.

Alea yang berada di dalam dekapanku mulai menangis keras, seolah ikut merasakan ketegangan di rumah itu.

***

1
Kirana Sakira
semakin seru ceritanya....mantaaaappppp...👍👍👍👍👍
icha aghbath
udah bisa ngambil keputusan itu rania jgn banyak nga enakan lagi.. kan malah jadi emosi liat rania lelet bgt mikir kedepannya
Nur Janah
tuuhhh kaannn🤭🤭
Nur Janah
Bagus Rania rezeki mu udah di atur oleh author 😄😄
Tya: wkwkwk 🤭
total 1 replies
Nur Janah
bukannya kaca depan mobil Rania udah pecah karena preman ya Thor kok suaminya masih nggak percaya
Mamah Kaila
dasar lu nya aja yg lemah tololnya mendarah daging, udah tau dr awal dibohongi bukan nya pergi malah bertahan ya nikmati aja penderitaan lu, udahlah males baca cerita kayak gini
Agung Santosa
y iya,,lu aja yng tol**l,,mau aja dngrin omngn tmn lu,,udh tau posisi lu g mnguntungkn,,klo dasrnya lemah ya lemah aja,,g ush² pura² kuat,,
Mamah Kaila
perempuan bodoh
Nur Janah
semoga Leon datang tepat waktu
Nur Janah
aku juga baca satu milyar 30 hari
Tya: wih 😍, pokoke love sakkenon deh
total 1 replies
Nur Janah
pergi Rania yg jauh,yg ada nanti keluarga Bram menyalahkan kamu lebih tragisnya nanti anakmu di ambil dan kamu di ceraikan
Nur Janah
kan kamu di bohongi LG ran,pergi lh yg jauh.jangan biarkan suatu saat anakmu di ambil mereka
Nur Janah
kadang hidup setelah terluka hanya melanjutkan hidup saja tanpa makna,jadi curhat Thor🤭🤭
Tya: gak papa kak 🤭
total 1 replies
Nur Janah
siapa yg akhirnya di plih oleh bram
Nur Janah
Rania hamil ya thor
Nur Janah
pergi aja deh ran,sebelum kamu d cap pelakor
Nur Janah
baru baca Thor,semoga ceritanya seru aku kasih bunga biar semangat up nya
Tya: trimakasih kak 😍 semoga betah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!