Ketika Adrian Richard memutuskan untuk melamar di atap gedung yang romantis, ia mengira semuanya sudah terencana sempurna.
Namun saat ia berlutut, wanita yang berbalik bukanlah kekasihnya, melainkan orang asing bernama Briana Edmond.
Apa yang dimulai sebagai tawa bersama atas kesalahan konyol berubah menjadi bencana saat kekasih Adrian datang dan menyaksikan apa yang tampak seperti pengkhianatan.
Kini, saat satu hubungan hancur, ikatan tak terduga mulai muncul di antara dua orang asing yang tidak seharusnya bertemu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Setelah hiruk-pikuk New York yang melelahkan dan bayang-bayang Dante yang mengancam, Adrian dan Briana mendarat di Bandara Ngurah Rai.
Udara tropis yang hangat dan aroma dupa yang khas menyambut mereka, seolah memberikan pelukan selamat datang yang menenangkan.
Mereka menginap di sebuah vila pribadi di kawasan Uluwatu, yang bertengger di atas tebing tinggi menghadap langsung ke Samudra Hindia. Jauh dari jangkauan media dan gangguan masa lalu.
Matahari pagi Bali masuk melalui celah kelambu putih di kamar mereka. Adrian terbangun lebih dulu, memperhatikan wajah Briana yang tampak begitu tenang saat tertidur tanpa beban. Hijabnya dilepaskan, menampilkan rambut hitam legam yang selama ini tersembunyi.
Saat Briana mengerjapkan mata dan melihat suaminya menatapnya, ia tersenyum tipis. "Kenapa melihatku seperti itu?"
"Hanya memastikan kalau ini bukan mimpi," bisik Adrian sambil mengusap pipi Briana. "Di sini, tidak ada Dante, tidak ada kamera media. Hanya ada aku dan kamu."
Sore harinya, mereka bersantai di tepi kolam renang pribadi yang menghadap ke laut lepas. Briana mengenakan gaun pantai longgar yang elegan dengan pashmina ringan. Ia menyesap jus kelapa muda, sementara Adrian sibuk mengagumi pemandangan di depannya, dan tentu saja, istrinya.
"Ayah selalu bilang Bali punya kekuatan menyembuhkan," ujar Briana pelan. "Anehnya, sejak mendarat di sini, ingatan-ingatan yang menyesakkan itu terasa lebih jauh. Aku merasa seperti... lahir kembali."
Adrian mendekat, duduk di samping Briana dan merangkul bahunya. "Mungkin karena di sini hatimu merasa aman. Ayahmu memberikan tempat yang indah untuk kita."
Melihat suasana yang mulai romantis, sifat jahil Adrian kembali muncul. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah telinga Briana.
"Sayang, tahu tidak kenapa air laut di Bali berwarna biru?" tanya Adrian sok tahu.
Briana menoleh sambil tertawa kecil. "Kenapa?"
"Karena kalau warnanya merah muda, itu bukan laut, tapi pantulan pipimu setiap kali aku goda semalam," bisik Adrian dengan kedipan mata.
Briana tertawa lepas, tawa paling jujur yang pernah Adrian dengar. "Adrian, tolong! Kamu tertular rayuan gombal pria Bali ya?"
"Mungkin," Adrian terkekeh, lalu wajahnya berubah lembut. "Tapi serius, Riana. Di tempat seindah ini, aku ingin kita memulai kembali apa yang sempat tertunda. Tanpa rasa takut, tanpa rasa sakit. Hanya kita."
Briana menatap mata Adrian, menemukan keberanian di sana. Ia mengangguk pelan, menyandarkan kepalanya di bahu suaminya saat matahari mulai tenggelam, menciptakan warna keemasan di ufuk barat. Di Bali, luka masa lalu mulai menutup, digantikan oleh harapan baru yang tumbuh di setiap deburan ombak.
Malam di Uluwatu itu terasa jauh lebih tenang. Suara deburan ombak yang menghantam tebing di bawah vila mereka menjadi musik alami yang mengiringi keheningan malam yang sakral.
Tidak ada lagi ketakutan akan bayang-bayang Dante, tidak ada lagi kecemasan akan hari esok. Hanya ada Adrian dan Briana dalam ruang yang penuh dengan aroma bunga kamboja yang harum.
Kali ini, Adrian bergerak dengan penuh kesabaran yang luar biasa. Ia membimbing Briana dengan sentuhan yang selembut sutra, memastikan istrinya merasa aman dan dicintai sepenuhnya.
Kecanggungan semalam berubah menjadi keintiman yang mendalam. Di bawah temaram cahaya lampu kamar, mereka akhirnya benar-benar bersatu dalam ikatan yang paling hakiki.
Saat segalanya berakhir dalam pelukan hangat yang panjang, Briana menyandarkan kepalanya di dada Adrian, mengatur napasnya yang masih sedikit memburu. Ada rasa lega yang luar biasa yang menjalar di sekujur tubuhnya.
Saat mereka beranjak untuk membersihkan diri, Adrian tertegun sejenak. Di atas sprei putih bersih yang menghampar di ranjang mereka, terdapat bercak merah yang menjadi bukti bisu. Darah itu mengalir dari bagian inti Briana, sebuah tanda alami yang meruntuhkan semua fitnah keji yang diucapkan Dante di New York.
Briana, yang melihat tatapan Adrian, menunduk dengan wajah yang memerah hebat. Rasa malunya memuncak, namun di sisi lain, hatinya terasa sangat ringan. Beban fitnah bahwa ia pernah tidur dengan pria lain seolah luruh bersama bercak itu.
Adrian segera memeluk Briana dari belakang, mengecup pundaknya dengan penuh rasa syukur. Ia membalikkan tubuh istrinya agar mereka bisa saling bertatap muka.
"Lihat ini, sayang," bisik Adrian dengan suara rendah yang penuh kelegaan. "Kalau si berandal itu ada di sini sekarang, aku akan menyeret wajahnya ke atas ranjang ini agar dia lihat betapa besarnya kebohongannya."
Briana hanya bisa tersenyum malu sambil menyembunyikan wajahnya di dada Adrian. "Aku sudah bilang padamu... aku tidak ingat pernah melakukannya dengan siapa pun."
Adrian terkekeh, mencoba mencairkan suasana yang sangat emosional itu dengan sifat jahilnya. "Ehem... sepertinya teman-temanku kali ini benar lagi, sayang. Rasa sakit semalam itu memang karena kamu masih baru. Dan darah ini? Ini adalah sertifikat keaslian kalau istriku ini memang murni milikku seutuhnya."
"Adrian! Kamu menyebutnya sertifikat?!" Briana mencubit pelan dada Adrian, meskipun kali ini ia tertawa di sela sisa air mata bahagianya.
"Iya, dong! Sertifikat paling berharga yang tidak bisa dibeli dengan uang di Manhattan sekalipun," goda Adrian lagi sambil menggendong Briana menuju kamar mandi. "Sekarang, tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi keraguan. Kamu milikku, dan aku milikmu. Titik."
Malam itu di Bali, bukti fisik itu memang memberikan ketenangan, namun bagi Adrian, kepercayaan yang ia berikan pada Briana jauh sebelum melihat bukti itu adalah kemenangan yang sesungguhnya. Mereka menutup malam dengan perasaan menang melawan masa lalu.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
tetep sehat
selalu semangat
karyamu jadi relaksasi tersendiri utk ku