Nabila Zahra Kusuma gadis cantik yang hidup dengan keluarga yang sangat berantakan. Saat ibunya Siti Nurhaliza pergi meninggalkan dia dan ayahnya untuk memilih hidup dengan pria lain yang memiliki banyak harta. Sedangkan Hariyanto Kusuma ayahnya suka dengan dunia malam, minuman dan perjudian.
Nabila yang masih bersekolah kini harus berjuang untuk hidupnya sendiri, apalagi dia tidak ingin putus sekolah.
Setiap pulang sekolah, Nabila selalu menyempatkan diri kerja paruh waktu untuk mengumpulkan uang buat membiayai hidupnya.
Hidupnya sangat sulit. Terkadang dia harus menahan air mata agar tidak dianggap lemah oleh orang lain. Nabila juga sering mendapatkan perundungan dari teman sekelas yang menganggap dia rendah.
Semua itu dia hadapi dengan menjadi perempuan yang sangat kuat. Sifat lembut dalam dirinya dia sembunyikan hanya untuk mempertahankan diri.
Setiap hari Nabila harus menyaksikan ayahnya bersama perempuan lain dengan tubuh terbuka di ruang tamu rumah mereka. Pakaian mere
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mar Dani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Kini keadaan sangat ricuh – tidak ada seorang pun yang berani menolong Nabila.
Sofia sampai tertegun melihat Reynaldo yang begitu berbeda ketika menghadapi Nabila. Bagaimana tidak, bahkan Reynaldo tidak pernah menggendong wanita selain ibunya Dewi, bahkan mantan kekasihnya pun tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu.
"Vanoo.." teriak Sofia, namun Reynaldo tidak mendengarkan teriakan itu.
"Heeiii kadal Airrr Sofia memanggilmuu!! Dan kau Lepaskan aku!!" ucap Nabila berteriak.
"Kalian semua mengapa diam!! Pria ini psikopat berjenis kadal air mengapa kalian tidak menolongkuu!!" teriak Nabila kepada orang-orang di sekitar.
"Mereka tidak akan berani menolongmu!! Kau berteriak di mall milikku Monyet kecil.. !!" ucap Reynaldo dengan nada datar.
"Wahhh kau ternyata sangat kaya yahh aku semakin mencintai uangmu hahahah!!" ucap Nabila seperti orang yang sedang tidak waras.
"Dasar monyet anehh!!" umpat Reynaldo yang terus berjalan menuju basement mall.
"Heiii matamu butaaa yahh aku secantik ini kau bilang monyet! Dasar kadal air!! Lepaskan aku atau ku pukul bokongmu bajingan!" teriak Nabila.
"Monyet aneh!"
"Kadal air!!"
Tuinggggg...
Tuingggg...
Tuinggggg..
"Hei apa yang kau lakukan!!" umpat Reynaldo kaget.
"Bokongmu seperti squishy hahahah... Kau sangat montokkk rupanya Kadal air heheheh" ujar Nabila yang terus memainkan bokong Reynaldo – terkadang mencubit, terkadang memukulnya seperti memukul drum kecil.
Para pengawal yang melihat hanya mampu menahan tawa – ingin sekali tertawa namun mereka menyadari posisi mereka dan pekerjaan yang mereka emban.
"Lepaskan aku atauuuuu aku semakiinn melakukannyaa..." ucap Nabila yang masih melakukan kelakuan itu.
"Hentikan Nabila semua orang memperhatikanmu..!" ucap Reynaldo sedikit malu.
"Yahh jika kau malu turunkan aku..! Aku bisa jalan sendiri!"
"Kau memang monyet aneh dan sangat gilaaa!!" ucap Reynaldo menatap tajam ke arah Nabila.
"Sedangkan kau kadal air, muka datar, jelekkk pemaksa dan satu lagi Playboy Cap kadal!! Buaya saja kalah karena kau kadall! Dan satu lagi aku tidak ingin berbicara denganmu" gerutu Nabila lalu berjalan cepat ke arah basement tempat mobil mereka diparkir.
"Kalian buka pintunya aku ingin masuk!!" teriak Nabila ketika sudah sampai di mobil Limousine.
"Tapi Nyonya.." ucap pengawal menatap ke arah Reynaldo.
"Ahhhh baiklah kalian tidak akan membukanya – aku akan pulang sendiri!"
Reynaldo yang melihat itu langsung memberi tanda kepada pengawal untuk membuka pintu mobil. Dengan cepat pengawal membukanya dan membiarkan Nabila masuk.
"Terimakasih..!" ucap Nabila meskipun dalam keadaan kesal, dia tidak pernah lupa mengatakan terima kasih.
Saat duduk, Nabila terkejut karena Reynaldo kini berada di sebelahnya. Namun dia berusaha menganggapnya tidak ada sama sekali.
Reynaldo menatap gemas ke arah Nabila yang terus menggerutu. Ingin rasanya mencubit pipi gadis itu.
"Nabila.." panggil Reynaldo, namun Nabila tetap diam. Bahkan dia mengambil teleponnya dan memainkan game bertema perang, seolah meluapkan kekesalannya pada karakter di dalam game.
"Dasarrr Kadal air jelekk!! Muka datar! Sok dingin!! Ahhhh sialaannn!!" teriak Nabila sambil menekan layar telepon dengan keras.
Reynaldo merasa geram melihat amukan Nabila – bahkan para pengawal tidak berani melihatnya langsung.
Keadaan di dalam mobil menjadi hening ketika Nabila tertidur pulas di kursinya. Sudah menjadi kebiasaan dia tertidur di dalam mobil, dan kini kepalanya secara tidak sengaja bersandar di pundak Reynaldo. Aroma buah anggur dari rambutnya yang berasal dari sampo yang dia gunakan membuat Reynaldo ingin terus mencium bagian atas kepalanya. Selain itu, Nabila menggunakan parfum dengan aroma bayi yang membuatnya terasa lembut.
"Dia sangat cantik saat tertidur.." gumam Reynaldo melihat wajah teduh Nabila yang sedang terlelap.
Kini mobil telah sampai di Istana Wijaya di Kota Perak.
Saat hendak menggendongnya, Nabila tersadar dan melihat Reynaldo berada di sebelahnya. Dengan kasar dia menggeser tubuhnya, keluar dari mobil sebelum pengawal sempat membuka pintu, kemudian membanting pintu mobil dengan keras sehingga membuat seluruh pengawal terkejut. Ekspresi wajahnya jelas menunjukkan bahwa dia sedang dalam suasana hati yang sangat buruk.
"Nabila berhenti!!!" teriak Reynaldo namun Nabila tetap tidak menghiraukannya.
Aksi mereka jelas terlihat oleh Alisha dan Raden Wijaya.
Saat hendak melewati Alisha, wanita itu menarik tangan Nabila sehingga membuatnya berhenti.
"Dasar wanita tidak tau diri!!! Apa kau tuli – putraku sedang memanggilmuu!!" bentak Alisha kepada Nabila.
"Udah cuma itu saja yang ingin kau bilang??" ucap Nabila menatapnya dengan pandangan malas.
"Apa kau tuliii!! DASAR JALANGG!!" umpat Alisha kasar.
"Diamlah atau ku robek mulutmu!! Ohhh bukan atau kau keluar dari istana ini – aku muak melihat wajah jelekmu bangsat!!" ucap Nabila dengan nada sinis.
"Kau!!! jaga mulutmu!!" teriak Raden Wijaya kepada Nabila.
"Seharusnya kau mengatakan kepada istri jelekmu itu Ayah mertua!!" ucap Nabila lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Dasar gadis tidak tau diri!!" teriak Alisha dari belakang.
"Reynaldo!! Kau lihat istrimu – dia tidak menghargai ibumu!!" ucap Raden Wijaya kepada Reynaldo yang baru saja memasuki ruangan.
"Dia melakukan hal yang benar. Lagipula siapa ibuku?? Diaaa!! Sampai matipun aku tidak akan menganggapnya sebagai orang tuaku!!" ucap Reynaldo dengan nada datar.
"Kau sudah gila Vano! Kau menikahi jalang! Lihat saja kau tidak dihormati!! Bahkan tidak ada orang yang seberani dirinya!!" ucap Raden Wijaya tegas.
"Tutup mulut anda tuan Raden Wijaya!! Istri saya bukan seorang jalang! Bahkan dia datang dalam hidup saya dengan cara yang benar, tidak seperti seseorang yang datang dengan cara busuk sebagai penggoda!! Lagipula bukankah wajar jika suami istri bertengkar!! Dan yah apakah kalian sangat miskin sehingga terus tinggal di istana milikku!"
"Semakin hari kau semakin tidak menghormati orang tuamu Vano!"
"Diamlah atau aku akan mengusir kalian keluar sini! Dan mulai hari ini – keluar dari istana ini!! Kalian pikir aku tidak tahu apa saja yang kalian lakukan kepada istriku ketika aku pergi!! Pengawal!!! Usir benalu-benalu ini dari rumahku!!" teriak Reynaldo dengan suara keras.
"Vano kau mengusir kami!?" ucap Alisha panik – bagaimanapun dia sedang menikmati kehidupan mewah di istana itu.
"Apa kau tuli! Kurasa yang tuli bukan istriku!!" bentak Reynaldo kepada Alisha.
"Lihat saja Reynaldo – akan kubunuh wanitamu seperti ibumu!!" gumam Alisha dalam hati dengan pandangan kejam.
Reynaldo meninggalkan mereka dan lebih memperdulikan Nabila. Dia melangkah menuju kamar besar mereka – ternyata Nabila ada di kamar mandi, terdengar suara air yang mengalir.
Hampir 30 menit Reynaldo menunggunya. Akhirnya Nabila keluar dari kamar mandi sambil menyeka rambutnya dengan handuk.
"Nabila..! Sedari tadi aku memanggilmu! Mengapa kau menghindariku!!" ucap Reynaldo menatapnya.
Namun Nabila sibuk mengoleskan skincare pada wajahnya dan memakai handbody – seolah sedang memberikan pelajaran kepada Reynaldo tentang bagaimana mengabaikan orang yang sedang bicara.
"Rasakan kadal airr! Anda pikir saya tidak bisa membalas dendam padamu!!" gerutu Nabila dalam hati. Kemudian dia naik ke atas ranjang, menghidupkan TV besar di kamar, meletakkan remotnya, dan mulai menonton dengan tenang.
"Wanita ini benar-benar membuatku gilaa!!" umpat Reynaldo dalam hati.
"Nabila! Aku sedang berbicara denganmu! Ingatt aku suamimu – kau harus menghormatiku!" ucap Reynaldo mencoba tetap sabar, kemudian mengambil remot TV dan menekan tombol matikan.
Nabila langsung menatap tajam ke arah Reynaldo, kemudian memalingkan wajahnya dan berbaring menghadap dinding kamar.
Reynaldo yang merasa geram mendekat ke arahnya, menarik pinggang Nabila sehingga dia terlentang, dan kini Reynaldo berada tepat di atas tubuhnya.
(Reader coba bayangin posisinya ya, hemmm jangan mikir yang tidak-tidak ya 😉)
Nabila terkejut dengan gerakan cepat Reynaldo. Kini wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter saja.
"Deg ... Degg.. degg.."
"Sialan kenapa jantungku berdebar seperti ini!!" batin Nabila.
Kini mereka saling menatap. Nabila melihat jelas wajah tampan suami kontraknya itu.
"Sialann! Bagaimana bisa wajah kadal air semulus ini! Bajingan ini memakai skincare apa!!" ucap Nabila dalam hati.
"Mengapa kau menghiraukan aku Nabila Safitri Wijaya!" ucap Reynaldo dengan suara yang sedikit dalam.
"Heii apa yang kau lakukan!! Awass!!" ucap Nabila mencoba mendorongnya, namun dorongannya tidak berpengaruh sedikit pun pada pria yang dikenal sebagai sosok berpengaruh di Kota Perak.
"Katakan mengapa kau menghiraukanku!! Kau tahu aku benci ketika orang mengabaikanku saat aku sedang berbicara!"
"Ohh kau benci! Yasudah apa peduliku!!" ucap Nabila mencoba membalikkan tubuhnya lagi, namun Reynaldo cepat menghadapkan wajahnya agar tetap saling berhadapan – bahkan kini mereka semakin dekat.
"Reynaldo apa yang kau lakukan haaahh!!! Dasar mesumm..!! Pergi kau bedebahhh sialan!! Kadal air mesum!!" ucap Nabila berteriak.
"Hahah aku mesum, bukankah kau yang mesum monyet kecill!! Bagaimana bisa kau bermain dengan bokongku tadi!" ucap Reynaldo menarik alisnya sambil menggoda.
"Hahh?? Kapan?? Kau semakin gila!! Ohhh jangan-jangan kau saja yang mesum.." ucap Nabila berpura-pura tidak mengingat kelakuannya tadi.
"Ooooo jadi Monyet kecil ini mulai belajar membohongiku.. atauu kau memang ingin menggodaku!" ucap Reynaldo memegang dagunya sehingga wajah mereka semakin dekat.
Deggg!! Lagi-lagi jantung Nabila berdebar kencang bahkan sulit untuk menelan air liurnya.
"Bagaimana Nabila, bukankah kau yang memulai semua.. kau membuka outermu agar aku melihat kulit mulusmu.. Nabila aku pria normal – bagaimana tidak jika aku tidak bisa mengendalikan diriku.." ucap Reynaldo terus menggoda, bahkan dia membenarkan anak rambutnya yang menghalangi mata cantik Nabila.
Nabila terdiam terpaku dengan perlakuan itu.
"Ohhh begituuu yahh tuan Reynaldo Wijaya Mahkota, apa kau sekarang menganggap aku menggodamu.." ucap Nabila kini merentangkan tangannya dan memeluk leher Reynaldo.
"Shittttt!!!" Kali ini Reynaldo terkejut melihat reaksi Nabila. Dia berharap gadis itu akan takut, namun sekarang malah Nabila yang menunjukkan sikap agresif.
"Hemmm ternyataaa semudahh itu meruntuhkan tembok pertahanan kadal air.." ucap Nabila dengan nada menggoda bahkan mulai memainkan rambut Reynaldo.
Posisi sekarang menjadi seimbang – wajah Reynaldo jelas menunjukkan bahwa dia terkejut dengan kelakuan absurd gadis kecil ini yang mampu membuatnya diam seketika.
"Tuan Reynaldo Wijaya Mahkota... Apakah seperti ini caranya menggoda? Atau seperti ini.." ucap Nabila menyentuh bibir merah Reynaldo dengan lembut.
"Bagaimana tuan Reynaldo mengapa sekarang anda terdiam..? Ohhh atau seperti ini caranya menggoda..! Hahhh???!!" ucap Nabila kini menarik telinganya dengan lembut.
"Ahhh.. ahhhkkk telingaku..! Aduhhh Nabilaa.. apa kau gila hahh..?"
"Bugggghhkkkk!!" Dengan cepat Nabila mendorong tubuh Reynaldo ke samping hingga dia terjatuh di ranjang.
"Berani beraninya kau!! Kau kiraaa aku apaaan haahhh!! Menggoda-goda!! Ini otak jangan mesumm ingatt aku masih tidak ingin berbicara denganmu..!" teriak Nabila kepada Reynaldo.
"Tapi kau sekarang sedang berbicara denganku monyet kecil!!"
"Aku hanya memberi tahumu bangsat!!"
"Itu kau berbicara lagi!!"
"Ya Tuhan Yesuss!! Bagaimana jika ku bunuh Suamiku!! Terus ku cincang tuh sosisnya biar dia tidak bertemu mantan yang hampir jadi tunangannya!!"
"Glekkk! Sosis?!"
"Iya sosiiss!! Kau tauuu itu!!" ucap Nabila menatap dengan pandangan yang jelas menunjukkan apa yang dia maksudkan.
Reynaldo yang menyadari itu langsung melirik ke arah bagian tubuhnya dan menutupinya dengan tangan.
"Tunggguuu!!? Apa kau cemburu??" teriak Reynaldo dengan suara tinggi.
"Whatttt!! Cemburu...!!" teriak Nabila dengan wajah terkejut.
"Tunggu-tunggu dulu lah – iya kenapa aku marah sih.." gumam Nabila dalam hati mulai berpikir.
"Katakan apa kau cemburu Sayangg..!!" ucap Reynaldo kini menggoda kembali.
"Tidakk aku tidak cemburu!!"
"Terussa mengapa kau marah?? Jika aku berdekatan dengan Sofia!!"
"Sofia.. Sofia lagii!! Yaudahh pergi sana ke rumah keluarga Lim!! Terus nikahin tuh Sofia..!" teriak Nabila kepada Reynaldo.
"Ulululuuuuhhh Monyet Kecil cemburu sepertinya.." ucap Reynaldo tertawa menyendiri.
"Tidakk aku tidak cemburu!! Dan satu lagi nihhh cincinnya!! Aku tidak akan memakainya sampai kau memakai cincin mu!!" ucap Nabila melepas cincin dari jari manisnya dan memberikannya di depan Reynaldo.
"DEGGGG!!" Kali ini senyuman Reynaldo menghilang seketika. Cincin itu adalah peninggalan ibunya yang sangat dia sayangi.
"Ada apa ini – mengapa aku tidak bisa menerima dia melepas cincin ini..!" gumam Reynaldo dalam hati.
"Nabila Apa yang kau lakukan dengan cincin ini!!" ucap Reynaldo dengan suara tegas.
"Tidakk!! Bahkan kau sendiri tidak memakainya!! Kau pikir hanya kau yang terbebani dengan pernikahan ini!! Heii sadar kau yang memaksaku untuk menikah denganmu!"
"Nabilaa!! Pakailah ini sekarang!!" bentak Reynaldo menatap tajam ke arahnya.
"Kauuu!! Ini kalinya kedua kau membentakku bajingan!!" teriak Nabila kembali kemudian keluar dari kamar dan membanting pintunya dengan keras.
"Kau mau kemana!! " teriak Reynaldo ingin mengikutiinya.
"Aku tidak akan tidur di kamar itu!! Sampai kau menyadari kesalahanmu!!" teriak Nabila kini menuju ruang makan.
Reynaldo kembali masuk kamar dengan keadaan emosi yang sangat tinggi. Dia mendekat ke arah cermin meja rias tempat Nabila biasanya merawat wajahnya, kemudian memukul cermin itu dengan tangannya.
"Trankkkkkk!!!"
Pengawal yang berjaga mendengar suara pecahnya kaca dan bergegas masuk ke kamar.
"Tuann apa yang anda lakukan...." ucap pengawal panik melihat tangan Reynaldo yang berdarah.
"Pergi!! Atau aku akan menghabisimu!!" teriak Reynaldo dengan wajah merah karena marah.
"Lagi-lagi aku membentaknya!!! Shiiittt Reynaldo kau sangat bodoh!!" teriak Reynaldo menjatuhkan semua barang yang ada di atas meja rias hingga berserakan di lantai.
Para pengawal memutuskan untuk pergi sesuai perintahnya daripada kehilangan nyawa mereka.
"Panggil Nyonya Nabila.." ucap salah satu pengawal kepada rekannya.
Pengawal itu langsung pergi ke bawah mencari Nabila. Gadis itu yang juga sedang dalam suasana hati buruk sedang meneguk air dingin dari lemari pendingin ruang makan – seluruh pelayan tahu betul jika dia sedang tidak bisa diganggu.
"Nyonyaa.. tuu"Nyonyaa.. tuu-tuaan Reynaldo..!"teriak pengawal itu kepada Nabila yang baru saja selesai meneguk airnya.Ada apa dengannya!"ucap Nabila datar.
"Tangann tuan terlukaa!! Tuan Reynaldo memukul cermin dengan tangannya..! Saat kami bertanya tuan mengancam kami dia akan membunuh kami jika kami melarangnya..!"ucap pengawal itu tergesa-gesa.
"Hah?? Berdarah!! Gila kali tuhh orang yahh!" Ucap Nabila kini semakin kesal.
yang baru saja lewat mendengar perkataan pengawal itu, dengan cepat dia menemui suaminya yang masih berada di kamar. memutuskan akan pergi dari rumah itu,tidak terima dengan hinaan dari sang putra.
Dengan cepat Nabila melangkah ke kamar mereka.
Terdengar suara ricuh dari kamar itu.
"Reynaldoo"