"Kau pikir kau mencuri masa depanku malam itu, Nick? Tidak. Kau hanya memberi saya alasan untuk menikmati Rasa sakit di masa depan." — Nedine.
Di balik gemerlap statusnya sebagai putri dari seorang ibu tunggal yang sukses, Nadine Saville menyimpan rahasia yang menghancurkan dirinya secara perlahan. Sejak bangku SMA hingga memasuki dunia kampus yang liar di Amerika, ia terikat dalam hubungan gelap dengan Nickholes Teldford.
Bagi dunia, mereka adalah orang asing. Namun di balik pintu tertutup, Nadine adalah pelampiasan nafsu Nickholes yang tak pernah puas. Terjebak dalam kenaifan dan cinta yang buta, Nadine rela dijadikan alat pemuas demi mempertahankan pria yang ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Keesokan Harinya,pintu kediaman Saville di Swiss terbuka lebar, menyambut kedatangan Victoria Saville. Nadine sempat panik, ia menarik syal sutranya tinggi-tinggi untuk menutupi jejak-jejak kemerahan yang ditinggalkan Nick lagi semalam. Ia mengira ibunya akan meledak melihat Nickholes masih berada di sana, apalagi di dalam kamarnya.
Namun, yang terjadi justru di luar dugaan. Victoria masuk dengan wajah tenang, matanya sempat melirik ke arah leher Nadine yang tertutup syal dengan canggung, lalu beralih ke Nick yang berdiri kaku dengan wajah tegang.
"Sepertinya udara Swiss benar-benar menyembuhkan mu dengan cepat, Nickholes," ucap Victoria dengan nada sarkasme yang halus, namun tanpa kemarahan. "Dan Nadine... lepaskan syal itu. Ibu bukan orang suci yang tidak tahu apa yang dilakukan dua orang dewasa di malam hari. Setidaknya, Nick tampak jauh lebih berguna sekarang daripada saat di New York."
Nadine tersipu malu, sementara Nick hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Maafkan saya, Madam Saville. Saya hanya ingin memastikan Nadine..."
"Cukup," potong Victoria. "Aku tidak kemari untuk mendengar penjelasanmu. Aku ingin kalian bersiap. Kita akan ke pusat kota. Persediaan makanan organik Nadine mulai menipis, dan aku rasa ini waktu yang tepat untuk kalian mulai mencari perlengkapan bayi yang layak. Aku bosan melihat kalian hanya bersembunyi di dalam rumah."
Mereka berangkat menggunakan SUV hitam yang nyaman. Nick duduk di kursi pengemudi, bertindak sebagai supir sekaligus pelindung.
Di swalayan, Nick bertingkah seperti asisten pribadi yang sangat bersemangat. Ia mendorong troli dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tidak pernah lepas dari pinggang Nadine.
"Nick, ini hanya wortel organik, kau tidak perlu memeriksanya dengan mikroskop," keluh Nadine saat melihat Nick meneliti setiap sayuran seolah-olah sedang memeriksa bom.
"Ini untuk nutrisi Jagoan kita, Nadine. Tidak boleh ada cacat sedikit pun," jawab Nick serius, yang membuat Victoria diam-diam tersenyum tipis melihat perubahan drastis pria itu.
Setelah selesai dengan urusan dapur, mereka berpindah ke sebuah butik perlengkapan bayi eksklusif di jantung kota. Toko itu sangat mewah, dengan interior berwarna pastel dan aroma bayi yang menenangkan. Di sinilah, suasana yang tadinya damai mulai terusik.
Saat Nadine dan Victoria sedang asyik melihat-lihat stroller di bagian dalam, Nick berdiri di dekat rak pakaian bayi mungil, sedang mengagumi sebuah sepatu bola ukuran bayi. Di saat itulah, seorang wanita muda, seorang pengunjung butik yang tampak glamor namun agresif, mendekati Nick.
Wanita itu tampaknya tidak menyadari bahwa Nick sedang bersama istri dan mertuanya. Ia hanya melihat seorang pria tampan, bertubuh atletis dengan kaos polo yang melekat sempurna di ototnya, dan wajah yang sangat karismatik.
"Hai... sepertinya kau sedang bingung memilih hadiah?" tanya wanita itu dengan suara yang sengaja dibuat manja, tangannya dengan berani menyentuh lengan Nick. "Pria sepertimu pasti punya selera yang bagus. Aku juga sedang mencari hadiah untuk keponakanku. Mungkin kau bisa membantuku memilih?"
Nick tersentak, ia mundur selangkah dengan sopan. "Maaf, Nona. Saya sedang berbelanja untuk baby saya sendiri."
Namun, wanita itu tidak menyerah. Ia justru semakin mendekat, melirik Nick dari atas ke bawah dengan tatapan menggoda. "Oh, seorang calon ayah? Beruntung sekali wanita itu. Tapi kurasa, sesekali keluar untuk minum kopi denganku tidak akan menyakiti siapa pun, kan? Kau tampak terlalu tampan untuk hanya menghabiskan waktu di toko bayi."
Wanita itu tertawa kecil dan jemarinya mulai bermain di kancing kerah baju Nick.
Nadine, yang sejak tadi mengawasi dari kejauhan, merasakan panas menjalar di dadanya. Ia ingin melangkah maju, namun Nick ternyata bergerak lebih cepat.
Nick tidak hanya menjauhkan tangan wanita itu, tapi ia melakukannya dengan gestur yang sangat tegas hingga wanita itu terkejut. Nick kemudian membalikkan badannya, sengaja berjalan menghampiri Nadine di depan mata wanita itu.
Tanpa berkata apa-apa, Nick langsung merangkul pundak Nadine, menariknya mendekat, dan mencium kening Nadine dengan sangat lama di depan wanita tersebut.
"Nona," ucap Nick dengan suara yang keras dan dalam, cukup untuk didengar oleh semua orang di butik itu. "Kau lihat wanita ini? Dia adalah hidupku. Dan bayi yang ada di perutnya adalah duniaku. Aku baru saja menghabiskan waktu berbulan-bulan memohon ampun agar bisa berada di sampingnya lagi."
Nick menatap wanita itu dengan pandangan dingin yang mematikan, tatapan kapten tim football yang sedang mengintimidasi lawan.
"Jadi, jangan berani-berani menawarkan kopi atau godaan murahmu padaku. Karena jangankan kopi, seluruh dunia ini pun tidak akan bisa mengalihkan pandanganku dari istriku. Kau merendahkan dirimu sendiri dengan menggoda pria yang sedang menjaga harta karunnya."
Wanita itu terperangah, wajahnya merah padam karena malu. Beberapa pengunjung lain mulai berbisik-bisik. Dengan terburu-buru, wanita itu meninggalkan butik tanpa menoleh lagi.
Nadine tertegun. Ia menatap Nick yang kini kembali melembutkan tatapannya padanya. "Nick... kau tidak perlu berteriak seperti itu."
"Aku perlu melakukannya, Nadine," jawab Nick sambil mengelus perut Nadine. "Aku sudah cukup bodoh di masa lalu dengan membiarkan orang lain mendekat. Sekarang, aku ingin seluruh dunia tahu bahwa aku adalah milikmu. Aku tidak mau ada satu pun celah yang membuatmu meragukanku lagi."
Victoria Saville berjalan mendekat sambil membawa sepasang baju bayi. Ia menepuk bahu Nick. "Tindakan yang bagus, Teldford. Setidaknya kau sudah tahu di mana tempatmu berdiri sekarang."
Nick tersenyum lebar. Ia kembali menjadi pria konyol yang menggoda Nadine. "Tadi kau lihat tidak, Nadine? Dia bilang aku tampan. Tapi aku bilang padanya, ketampananku ini sudah dipatenkan oleh Nadine Saville. Jadi kalau dia mau yang tampan, dia harus cari di planet lain."
Nadine tertawa, rasa kesalnya menguap begitu saja. Ia merasa sangat dilindungi dan dihargai. Nick benar-benar membuktikan bahwa dia tidak akan membiarkan siapa pun masuk ke dalam hubungan mereka lagi.
Setelah kejadian itu, Nick menjadi semakin berlebihan dalam berbelanja. Ia ingin membeli hampir seluruh isi toko.
"Nick, kita tidak butuh lima jenis stroller yang berbeda!" protes Nadine saat melihat Nick sedang berdiskusi dengan pelayan toko tentang suspensi roda kereta bayi.
"Tapi ini penting, Nadine! Yang ini untuk jalanan aspal, yang ini untuk di taman, yang ini kalau kita sedang terburu-buru," sahut Nick dengan wajah sangat serius. "Anak kita adalah atlet masa depan, dia harus punya kendaraan yang mumpuni sejak dini."
Nick kemudian mengambil sebuah sepatu bayi mungil dan menunjukkannya pada perut Nadine. "Jagoan, lihat ini. Ayah belikan sepatu lari tercepat. Nanti kalau kau sudah lahir, kita akan lari dari kejaran penggemar-penggemar centil seperti tadi, oke? Kita hanya akan setia pada Ibu."
Nadine tidak bisa menahan tawanya lagi. Ia memeluk lengan Nick, menyandarkan kepalanya di sana. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa benar-benar bahagia. Berbelanja bersama ibu dan pria yang dicintainya, di bawah langit Swiss yang cerah, ia tahu bahwa ia telah mengambil keputusan yang tepat untuk memberikan Nick kesempatan kedua.
Hari itu berakhir dengan bagasi mobil yang penuh dengan kotak-kotak perlengkapan bayi. Nick mengemudi pulang dengan senyuman yang tak pernah lepas, sesekali mencium tangan Nadine yang digenggamnya erat. Di kursi belakang, Victoria Saville menatap mereka berdua, menyadari bahwa terkadang, cinta memang butuh hancur sehancur-hancur nya sebelum bisa dibangun kembali menjadi sesuatu yang jauh lebih kuat.
🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰