NovelToon NovelToon
Keluarga Meninggalkanku, CEO Itu Memilihku

Keluarga Meninggalkanku, CEO Itu Memilihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Menantu Pria/matrilokal / Selingkuh / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / CEO
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: richa dhian p.

Keputusan itu telah final. Keluarga besar Hartono menemukan anak kandung mereka yang tertukar selama 21 tahun. Tanpa ragu, Mama Linda nyonya Hartono menjemput Rhea dan membawanya pulang ke rumah megah Hartono. Kepulangan Rhea disambut hangat, bahkan Reno kakak tertua, memeluknya penuh kasih. Namun tanpa disadari, mereka melupakan Aresha anak yang telah dibesarkan sejak bayi. Sejak saat itu, Rhea memperlakukan Aresha dengan kejam, menyiksa bahkan menyiksa demi memvalidasi statusnya. Hingga sebuah perjamuan investor berakhir tragedi, Rhea mendorong Stefani adik dari Samba CEO terkaya di negara M hingga koma dan menuduh Aresha. Nyonya Linda mengetahui kebenaran, menghapus semua bukti tetap memilih mengorbankan Aresha demi melindungi anak kandungnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon richa dhian p., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam yang Tidak Lagi Ramah

“Sayang dengarkan mama.” Mama berusaha meraih tangan Aresha, mecoba melerai semua perkelahian tapi Aresha melepas tangan mama dengan kasar.

Sentuhan itu terasa seperti belenggu. Aresha tidak ingin disentuh, tidak ingin dikasihani, apalagi dileraikan seolah-olah semua ini hanyalah kesalahpahaman kecil.

“Nyonya linda jika, anda memiliki sesuatu untuk dikatakan, bicaralah saja.” Jawab Aresha dengan wajah dingin.

Nada suaranya datar, tanpa emosi, namun justru di situlah letak ketajamannya. Mama terdiam sejenak, seolah mengumpulkan keberanian sebelum akhirnya menatap Aresha dengan sorot mata tegas mata seorang ibu, namun juga kepala keluarga Hartono.

“Hah, kamu sudah penuh perhatian sejak kecil, Delon sudah menjadi tunangan Rhea, kamu tidak akan mencuri tunangan adik perempuanmukan? pada saat Delon memilih untuk membela keluarga Hartono, dia sudah meninggalkanmu, sudah menerima posisinya sebagai tunangan Rhea.” Hela nafas, serta suara tegas mama.

Kata-kata itu menghantam Aresha tanpa ampun. Bibirnya melengkung membentuk senyum pahit, langkahnya mundur satu tapak, seakan jarak sekecil itu cukup untuk melindungi dirinya dari rasa sakit yang kembali menyeruak.

“Hah apakah ini yang dimaksud dengan keluarga, selalu  tahu bagaimana cara menyodok rasa sakitku.” Ucap Aresha.

Suasana mendadak sunyi. Beberapa tamu menahan napas, sebagian lain berpura-pura tidak mendengar. Aresha mengangkat wajahnya kembali, ekspresinya berubah dingin, kosong, seperti danau beku yang tak lagi bisa retak.

“Pernahkah anda berfikir, aku tidak perlu memalui hal seperti ini, aku dulu telah menerima surat penerimaan dari universitas ternama dua universitas sekaligus, jika tidak dijebak dan dipenjara, aku seharusnya juga lulus tahun ini.' Tambah Aresha meluapkan kekesalan dihatinya.

Setiap kata adalah pengakuan, setiap kalimat adalah penyesalan yang dipendam terlalu lama. Rhea yang berdiri di samping mama hanya melirik sekilas, lalu membuang muka, seolah cerita itu tidak pernah melibatkan dirinya.

“Tapi sekarang, kalian memang orang - orang yang luar biasa, akulah satu - satunya yang menjadi tahanan dan dibenci, dan noda ini akan tercatat seumur hidupku.” Nada Aresha bergetar, namun ia tetap berdiri tegak, dia menolak terlihat rapuh di hadapan mereka.

“Bukankah Keluarga Hartono sudah mengetahui kebenaran tragedi berdarah itu?” tanya Aresha dengan nada mengancam.

Wajah mama seketika pucat. Tubuhnya goyah, seakan kata-kata itu mencabut kekuatan dari kakinya.

“Hah, ka.. kamu.” Mama hampir terjatuh, namun Reno dengan sigap menopangnya. Tatapannya pada Aresha berubah keras, penuh kemarahan dan kekecewaan yang bercampur jadi satu.

“Mama telah membesarkanmu begitu lama.” Ucap Reno dengan nada keras.

Nada suaranya menggema di aula, memaksa semua orang kembali memperhatikan mereka.

“Bahkan jika kamu merasa kesal dan terluka, kamu seharusnya tidak mengucapkan kata - kata yang menyakitkan seperti ini.” Tambah Reno dengan nada keras.

Reno melangkah lebih dekat, seolah ingin menekan Aresha dengan kehadirannya.

“Aku tahu kamu tidak ingin kami tenang.”

Aresha hanya terdiam. Muak. Dadanya terasa sesak, bukan karena ia tak mampu membalas, melainkan karena dia sadar tak ada satu pun dari mereka yang benar-benar ingin mendengar kebenaran.

Di samping mama, Rhea perlahan membuka ikatan kebayanya. Gerakannya tampak gugup namun terukur. Dia melangkah mendekati Aresha, wajahnya dipenuhi ekspresi iba yang sempurna.

“Kakak, kak Reno dan mama sama - sama merasa kasihan padamu, jika ingin menyalahkan sesorang , salahkan aku saja.” Rhea meraih tangan Aresha dengan wajah memelas.

Aresha menatap tajam Rhea. Setiap insting dalam dirinya berteriak waspada. Sentuhan itu terasa dingin, tidak tulus.

“Selama kamu bisa berbenti membenci keluarga Hartono, Biarkan aku melakukan apa saja.” Ucap Rhea sembari maju mendekati Aresha

Langkah mereka semakin dekat. Jarak yang terlalu dekat untuk sebuah perdamaian yang tidak jujur.

“Aresha pakah kamu percaya? tidak perduli apa yang kamu lakukan, Kak Reno dan Delon akan melindungiku.” Rhea membisikan di telingga Aresa sembari memegang erat tangan Aresha.

Napas Aresha tercekat. Bisikan itu seperti racun pelan, namun mematikan.

“Kakak, aku tahu kamu masih menyukai Kak Delon, aku bersedia mengalah dan memberikanya keapamu.” Ucap Rhea dengan suara keras agar semuanya dengar.

Ucapan itu membuat aula kembali gaduh. Beberapa tamu menahan napas, sementara dari sisi lain Delon langsung menoleh, wajahnya tegang melihat keduanya berdiri terlalu dekat.

Aresha menegang. Refleks, dia menarik tangannya dari genggaman Rhea dengan keras.

“Ahhhhkk” Namun sebelum siapa pun sempat memahami apa yang terjadi, tubuh Rhea sudah terhempas ke lantai. kebayanya terlipat berantakan, air mata mengalir deras di pipinya.

Padahal dia sendiri yang menjatuhkan diri.

Waktu seolah berhenti,dan Aresha tahu, malam ini… luka lama belum selesai. Malam ini, dia baru saja masuk ke dalam perang yang jauh lebih kejam.

“Rhea!” teriak mama khawatir.

Delon dengan cekatan menangkap Rhea yang tersungkur ke belakang, lengannya langsung melingkari tubuh gadis itu dengan panik. Reno yang sudah kehilangan kendali berlari ke arah Aresha dan mendorongnya dengan sangat keras. Tubuh Aresha terhempas ke depan, keseimbangannya hilang.

"Brak." Lutut Aresha menghantam lantai marmer dengan keras.

Rasa nyeri menjalar seketika, membuat napasnya tertahan. Telapak tangannya refleks menopang tubuh, namun getar di lengannya tak bisa disembunyikan. Beberapa tamu tersentak kaget,

Aresha menunduk, menahan sakit bukan hanya di lututnya, tapi juga di hatinya.

Perlahan dia mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah Reno. Tatapannya bukan lagi tatapan seorang adik kepada kakaknya. Tidak ada lagi sisa kehangatan keluarga di sana. Yang tersisa hanyalah bara dendam yang selama ini dipendam, kini tak lagi mampu dibendung. Tatapan itu tajam, penuh luka, dan Reno bisa melihat dengan jelas bahwa sesuatu telah benar-benar patah.

Melihat Aresha tersungkur, Delon melangkah maju dengan ragu, seolah nalurinya ingin menolong. Namun langkahnya terhenti di tengah jalan, bimbang di antara rasa bersalah dan tanggung jawab yang telah dia pilih,sebagai tunangan Rhea.

"Rhea.. Rhea, kamu tidak apa - apa, pakailah." Reno dengan cepat melepaskan jas yang dikenakannya dan menutupi tubuh Rhea yang masih berada dalam pelukan Delon. Gerakannya protektif, penuh kepanikan yang berlebihan.

Rhea berpura - pura menangis dan ketakutan, bahunya bergetar, wajahnya pucat seakan baru saja mengalami trauma besar. Ia bersandar lemah di dada Delon, seolah dunia hampir runtuh karenanya.

Delon hanya menatap Aresha dari kejauhan. Ada keraguan di matanya, ada sesuatu yang ingin dia katakan namun ketakutan membuatnya membeku. Dia takut membuat langkah yang salah. Takut kehilangan yang sudah dia genggam, atau mungkin takut menghadapi kebenaran yang selama ini dia hindari.

Di sisi lain kota, di dalam mobil mewah yang melaju membelah udara, suasana tak kalah tegang. Pohon - pohon jalan memantul di kaca jendela, menciptakan bayangan panjang di wajah pria yang duduk di kursi belakang.

Samba menatap jalan dengan tatapan dingin, rahangnya mengeras.

"Lapor tuan keluarga Hartono menindas nona Aresha di pesta kelulusan anak kandungnya." Ucap aspri Samba yang sedang menyetir jalan.

Kalimat itu menggantung di udara mobil yang sunyi. Di kursi belakang, Samba dan Stefani saling menatap. Tidak ada kata-kata, hanya kesadaran bahwa sejarah seakan berulang.

"Ini benar - benar sama seperti empat tahun yang lalu." Ucap Samba dengan tatapan kosong.

Tangannya perlahan menggenggam tangan Stefani. Bukan amarah yang terpancar dari sentuhan itu, melainkan penyesalan. Penyesalan karena dulu mereka terlambat. Penyesalan karena membiarkan semuanya terjadi.

"Jangan Khawatir Stefani, kita akan berkendara lebih cepat." Ucap Samba menoleh sembari memegang erat kedua tangan Stefani.

Stefani hanya mengangguk pelan, jemarinya membalas genggaman itu dengan erat, seolah takut kehilangan sesuatu lagi.

"Minta tolonglah polisi lalu lintas,untuk membukakan jalan untuku, untuk sampai kediaman Hartono dengan cepat." Perintah Samba.

Nada suaranya tenang, namun tegas. Tidak ada ruang untuk kesalahan kali ini. Mobil itu pun melaju semakin cepat, membelah arus kendaraan , seakan sedang mengejar takdir yang tak boleh terulang untuk kedua kalinya.

1
Nina Erwina
saya suka.... tqpi gmn.kelanjutannya
sunflower
😭semangat kk thor
Trj Bader
baguss banget
Trj Bader
sukaa, pengen banget gampar muka Reno rasanyaa. sumpah kesel banget.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!