Alena Alexandria, sang hacker jenius yang ditakuti dunia bawah tanah, tewas mengenaskan dalam pengejaran maut.
Bukannya menuju keabadian, jiwanya justru terlempar ke dalam tubuh mungil seorang bocah terlantar berusia lima tahun.
Sialnya, yang menemukan Alena adalah Luca, remaja 17 tahun berhati es, putra dari seorang mafia dari klan Frederick.
"Jangan bergerak atau aku akan menembakmu," desis Luca dingin sambil menodongkan senjata ke arah bocah itu.
"Ampun, Om. Maafkan Queen," ucapnya, mendongak dengan mata berkaca-kaca.
"Om?"
Dapatkah Alena bertahan hidup sebagai bocah kesayangan di sarang mafia, ataukah Luca akan menyadari bahwa bocah di pelukannya adalah ancaman terbesar yang pernah masuk ke kediaman Frederick?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2
"Berhenti di depan sana, Bob," ucap Luca menujuk minimarket.
Bobby menginjak rem mendadak sampai ban mobil berdecit. Ia menatap Luca dengan mata membelalak.
"Apa kau sudah gila? Kita baru saja lolos dari kejaran maut, tubuhmu penuh noda darah, dan kau menyuruhku berhenti di depan minimarket yang lampunya seterang masa depan ini?"
Luca tidak menjawab. Ia hanya menatap dingin ke arah bangunan waralaba 24 jam itu.
"Turun sekarang. Beli semua keperluan bocah ini."
"Hah?" Bobby melongo, lalu menunjuk Queen yang masih duduk di jok belakang dengan wajah tanpa dosa.
"Maksudmu, kau menyuruhku membeli perlengkapan anak kecil? Luca Frederick yang pernah bilang kalau anak kecil adalah hama dunia, sekarang mau jadi bapak asuh?"
"Jangan banyak bicara atau aku tembak kepalamu," desis Luca tajam. "Dia bau pesing! Aku tidak mau mansionku berubah jadi kandang kuda karena kau tidak becus mengurusnya."
Queen hanya bisa menyenderkan kepalanya di kaca jendela sambil memperhatikan perdebatan itu dengan tatapan datar.
"Wah, hebat. Mafia kelas kakap berdebat soal bau pesing di depan minimarket.
Benar-benar pemandangan yang langka," batinnya sinis.
"Tapi Luc, lihat bajumu! Orang-orang akan mengira kau baru saja membantai penjual daging!" seru Bobby dengan nada frustrasi.
Luca melirik jaketnya yang memang terciprat darah musuh, lalu dengan santai ia melepas jaket itu dan menyisakan kaus hitam polos.
"Cepat turun. Beli baju ganti, susu dan apa itu namanya? Sesuatu yang dipakai agar tidak kencing sembarangan."
"Popok?" tanya Bobby sangsi.
"Ya, itu. Beli yang paling mahal."
Bobby mendesah pasrah, ia keluar dari mobil sambil menggerutu. Sementara itu, Luca tetap di dalam mobil, duduk kaku di depan Queen.
Suasana tiba-tiba menjadi sangat canggung.
Queen menatap punggung Luca. Sebagai mantan hacker jenius, ia terbiasa membaca gerak-gerik orang.
Pemuda ini aneh. Dia terlihat jijik, tapi dia peduli? Atau hanya sekadar gila kebersihan?
"Om Galak," panggil Queen.
Luca yang sedang melamun tersentak, bahunya menegang. Ia melirik lewat spion tengah.
"Apa? Jangan bicara padaku."
"Kenapa Om beli popok? Queen kan sudah besar, bukan bayi lagi," protesnya. Harga dirinya sebagai wanita dewasa yang terjebak di tubuh bocah merasa tersinggung.
"Kau baru saja mengencingi jok kulitku yang harganya seribu kali lipat dari harga dirimu, Bocah," sahut Luca tanpa menoleh. "Jadi diam, atau aku akan menyumpal mulutmu dengan popok itu nanti."
Queen mendengus pelan. "Cih, kasar sekali. Tunggu saja sampai aku dapat akses Wi-Fi." pikirnya
Tak lama kemudian, Bobby kembali dengan dua kantong plastik besar. Wajahnya tampak merah padam. Begitu masuk ke mobil, ia langsung melempar plastik itu ke jok depan.
"Kau tahu tidak betapa malunya aku?" semprot Bobby. "Kasirnya bertanya padaku anaknya umur berapa, Sir? Kok belinya popok ukuran XXL? Aku bilang saja aku punya adik yang hobi kencing saat tidur!"
Luca mengabaikan curhatan asistennya. Ia merogoh plastik itu dan mengeluarkan sebuah gaun berwarna merah muda dengan gambar kelinci di tengahnya. Matanya menyipit jijik.
"Kenapa warnanya pink? Kau mau membuat mataku sakit?"
"Ya memangnya mau warna apa? Hitam pekat seperti jiwamu? Ini bagian pakaian anak-anak, Luc! Semuanya warna-warni!" balas Bobby tak kalah sengit.
Luca menghela nafas, lalu melempar baju itu ke belakang, tepat mengenai wajah Queen.
"Pakai itu nanti. Dan jangan berani-berani muntah atau melakukan hal jorok lainnya di rumahku."
Queen menarik baju pink itu dari wajahnya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Gambar kelinci? Yang benar saja. Aku ini peretas yang paling dicari Interpol, dan sekarang aku harus memakai daster kelinci merah muda?
"Om Bobby," panggil Alena lagi.
"Iya, Queen Sayang?" jawab Bobby jauh lebih lembut dibanding Luca.
"Boleh minta tolong beli satu lagi?"
"Apa itu, Sayang? Cokelat? Mainan?"
"Laptop," jawab Alena singkat.
Seketika mobil itu mendadak hening.
Bobby tertawa terbahak-bahak, sementara Luca mengernyitkan alisnya begitu dalam hingga hampir menyatu.
"Laptop? Untuk apa bocah ingusan sepertimu butuh laptop? Mau main solitaire?" sindir Luca tajam.
"Queen mau belajar... mengetik," alibi Queen secepat kilat. "Kata guru, kalau pintar mengetik, nanti bisa jadi orang kaya seperti Om."
"Anak ini benar-benar aneh," gumam Luca. Ia kembali menatap jalanan dengan tatapan dinginnya yang khas. "Jalan, Bob. Mansion sudah dekat. Dan pastikan kau memandikannya dengan deterjen kalau perlu, baunya benar-benar merusak suasana."
"Siap, Tuan Muda yang Paling Wangi!" sindir Bobby sambil menginjak gas.
Queen kembali terdiam, memeluk baju kelinci pink-nya sambil menatap keluar jendela. Ia memperhatikan setiap sudut jalan yang mereka lalui, memetakan rute pelarian di otaknya.
"Nikmatilah masa-masa kau memerintahku. Begitu aku menyentuh keyboard, mansion mewahmu itu akan menjadi taman bermainku," pikir Queen sambil menyeringai kecil.
Bobby melirik dari kaca spion dan berbisik pada Luca, "Luc, kau lihat tidak? Bocah itu barusan menyeringai. Seram sekali."
"Dia hanya seorang bocah yang tidak tahu apa-apa. Jangan berlebihan," jawab Luca datar, meski dalam hati ia pun merasakan ada yang tidak beres dengan tamu kecil mereka malam ini.
lelaki remaja dgn anak balita 😁😁😁
ternyata Sean juga manusia biasa😌