Ketika gadis SMA memilih kerja sampingan sebagai seorang sugar baby.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cari kerja
Keesokan harinya...
Seragam SMA Cakrawala sudah melekat ditubuh indah milik Yuna. Meski tubuhnya tergolong mungil karena hanya memiliki tinggi badan 157 cm. Namun, Yuna memiliki bokong yang sekal dan melon kembar yang cukup besar.
Di sekolah, Yuna termasuk ke dalam salah satu siswi yang banyak diincar. Tapi hatinya sudah terlanjut tertaut pada Edo, hingga ia tidak pernah menanggapi pria lain yang mencoba untuk berkenalan dengannya.
Tapi sekarang semuanya sudah berbeda. Dan Yuna, siap untuk memulai hidup yang baru.
"Oke Yuna, mulai hidup baru dan tunjukkan pesonamu!" gumamnya dengan nada centil.
Yuna meraih tas ransel miliknya dan siap untuk berangkat ke sekolah. Tak lupa ia mengunci kamar kosnya, meskipun di dalam sana tidak ada barang berharga apapun.
Dengan senyum cerah yang menghiasi wajah imutnya. Yuna mulai melangkah menyusuri trotoar menuju ke sekolah.
"Yuna!" Mega dan Lily berteriak dari pagar sekolah sambil melambaikan tangan.
Yuna balas lambaian tangan mereka, sambil mempercepat langkahnya.
"Yang kamu bilang di grup tadi malam beneran?" tanya Lily kepo. Gadis bertubuh tinggi itu sudah penasaran setengah mati, saat Yuna menceritakan apa yang menimpanya semalam.
"Menurut Lo! masa aku bohong soal beginian!" sahut Yuna.
Ketiganya berjalan menuju ke kelas. Sambil membahas kembali, persoalan yang sebenarnya sudah mereka bahas tadi malam.
"Gila gak nyangka aku, Edo bisa kayak gitu!" ujar Mega.
"Iya bener. Padahal mukanya kayak anak rumahan baik-baik loh! Ternyata kelakuannya parah banget!" timpal Lily, yang sama geramnya dengan mereka.
"Tapi apa bedanya dengan kita Li. Kitakan juga jadi simpanan!" timpal Mega sadar diri.
Yuna tertawa, melihat wajah Lily yang langsung ditekuk.
"Iya kita memang simpanan. Tapi setidaknya kita gak jadi simpanan dari orangtua pacar kita sendiri!" kata Lily di angguki oleh Mega yang setuju.
Baru saja bibir mereka bungkam. Pria yang sejak tadi malam jadi bahan obrolan mereka muncul dari parkiran. Ya, pagi ini Edo datang mengendarai mobil baru, yang tentu saja pemberian dari Mala, ibu Yuna.
"Sayang!" panggil Edo, melangkah cepat menghampiri Yuna yang terlihat tidak senang.
"Cabut yuk! Males aku ketemu dia. Bikin mual!" ajak Yuna, menarik tangan kedua sahabat pergi dari tempat itu.
"Yuna sayang, tunggu dulu!" Edo mencekal tangan Yuna yang langsung menghempasnya dengan kasar.
"Jangan sentuh aku pakai tangan kotormu itu sialan!" maki Yuna ketus. Aura kebencian terlihat jelas dari matanya.
Edo menunduk, menatap sendu wajah wanita yang ia cintai dengan rasa bersalah. "Aku minta maaf Yuna? Tolong jangan putusin aku? Aku sangat mencintaimu?" kata Edo tulus. Memang dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia hanya mencintai Yuna.
"Cinta?" Yuna tertawa sinis. "simpan aja kata-kata busuk mu untuk wanita tua itu!" tidak ada lagi rasa hormat, dalam diri Yuna untuk ibu kandungnya sendiri.
"Yuna, jangan bicara seperti itu! Dia ibu kandung kamu sendiri loh!" Edo terang-terangan membela Mala
Sekarang, Mega dan Lily ikut tertawa. "Dasar sinting! Kamu itu cowok paling b4jingan yang pernah kami kenal tau gak! Baru kali ini, ada cowok yang dengan sadar jadi simpanan ibu dari pacarnya. Tapi malah minta pacarnya untuk menerima hubungan gila kalian!"
Edo mendekat, ia ingin meraih tangan Yuna yang tentu saja menghindar dengan jijik. Apalagi Mega dan Lily juga menjadi tameng yang berdiri di hadapan Yuna, agar pria itu tidak bisa mendekati sahabat mereka.
"Tapi aku sama tante Mala hanya sebatas simbiosis mutualisme saja, Yuna. Ibu kamu butuh kepuasan dan aku butuh uang!" jelas Edo, masih memaksa Yuna untuk mengerti dengan maksudnya. "Lagipula cinta aku cuma untuk kamu, Yuna. Aku lakukan ini supaya aku bisa manjain kamu, bisa beliin apapun yang kamu mau!"
Yuna menekan antara bibir atas dengan hidung.Karena ia ingin pingsan mendengar penjelasan yang sangat tidak masuk ke dalam logikanya.
"Terserah deh mau bilang apa! susah bicara sama orang yang egois!"
Yuna melangkah pergi! lagi-lagi Edo ingin mencegah. Tapi untungnya Mega dan Lily siap menghalangi.
"Deketin sahabat kita lagi! Kita bakal aduin skandal mu sama Ibunya Yuna!" ancam Mega dengan jari telunjuk yang mengacung.
Edo langsung diam. Ia masih sangat sadar untuk tidak lanjut mengejar Yuna pagi ini. Karena ia tidak mau perjuangannya mempertahankan bea siswa ini harus gagal. Dan buruknya ia bisa dikeluarkan dari sekolah.
---
Bel istirahat susah berbunyi sejak tadi. Tapi Yuna masih belum berniat untuk beranjak kursinya.
"Kamu gak kantin Yun?" tanya Hasya, Mega dan Lily susah ikut mengelilinginya.
Yuna menggeleng. "Gak ah lagi irit!" jawabnya.
Ketiga sahabatnya menatap Yuna dengan sendu. "Ayo ke kantin aja, aku traktir!" kata Hasya, meraih tangan Yuna.
"Beneran?" wajah Yuna berubah ceria.
Hasya mengangguk.
"Tenang aja, masih ada aku sama Lily yang bisa traktir kamu!" timpal Mega.
Yuna bertepuk tangan. "Wah enaknya! Pagi ditraktir Lily, siang ditraktir Hasya, dan malam di traktir Mega! Ugh! enaknya hidup!" kata Yuna, sukses mendapatkan pelototan dari ketiga sahabatnya.
"Huuu maunya!" kompak mereka. Tapi jika Yuna menginginkannya pun. ketiganya sama sekali tidak masalah, jika hanya sekedar traktir makanan.
Mereka berempat gegas menuju kantin. Meja sudut menjadi tempat favorit mereka sejak kelas 10.
"Yuna, ini buat kamu!" Dengan senyum manisnya, Edo memberikan makanan untuk Yuna.
"Gak perlu. Aku masih punya sahabat yang bisa traktir aku!" tolak Yuna. Jangankan menerima, menatap Edo pun ia sudah enggan.
Edo menatap sendu makanan yang sama sekali tidak di terima oleh Yuna. Ada rasa sedih melihat wanita yang dicintainya sudah menjauh darinya. Tapi ada juga ego, dimana ia merasa keputusan yang ia ambil ini sudah benar. Karena ia lelah terus dikucilkan dan di ejek miskin eleh teman-temannya. Hanya karena ia anak beasiswa yang berasal dari desa.
"Jangan lupa dimakan ya?" Edo tetap meninggalkan makanan itu di meja Yuna. Ia berbalik keluar dari kantin sambil berharap Yuna akan memanggil namanya dan kembali manja padanya seperti dulu.
Setelah Edo pergi, Yuna mengambil makanan pemberian pria itu.
"Mau kamu makan?" tanya Hasya.
Yuna menggeleng. "Ogah banget! Makan makanan hasil keringatnya sama wanita tua itu!"
Yuna keluar dari area kantin. Ia memberikan makanan itu pada siswa lain, lalu kembali ke mejanya.
"Eh ngomong-ngomong. Kalian bantuin aku cari kerja part time dong abis pulang sekolah!" pinta Yuna.
Uhuk! Uhuk!
Ketiga sahabatnya kompak terbatuk.
"Kamu mau kerja? serius!" tanya Mega tak percaya.
"Aku serius!" jawab Yuna dengan mulut yang terisi penuh dengan makanan. "Kalau aku gak kerja mau bayar uang sekolah darimana? trus bayar kosan, biaya makan?"
Hasya, Mega, dan Lily kasihan melihat nasib Yuna sekarang. Mereka ingin membantu, tapi mereka sendiri pun bukan berasal dari keluarga berada.
"Sorry ya Yun, kita gak bisa bantu apa-apa?" ucap mereka menyesal.
"Gak apa-apa. Kalian tetap ada untuk aku aja udah senang!" sahut Yuna.
Di kantin, mereka bukan hanya makan saja, tapi juga sambil mencari pekerjaan part time untuk sahabat mereka.
duh2 gimana ya kalo Bastian mau Nina ninu kan yuna lagi di rumah mama nya