Seyra Avalen, gadis bar-bar yang hobi balapan liar tak pernah menyangka jika kejadian konyol di hidupnya justru membuat dia meninggal dan terjebak di tubuh orang lain.
Seyra menjadi salah satu karakter tidak penting di dalam novel yang di beli sahabatnya, sialnya dia yang ingin hidup tenang justru terseret ke dalam konflik para pemeran utamanya.
Bagaimana Seyra menghadapi kehidupan barunya yang begitu menguras emosi, mampukah Seyra menemukan happy ending dalam situasinya kali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Di lorong sekolah yang ramai, Seyra melangkah dengan percaya diri. Senyumnya yang manis dan tatapan matanya yang menggoda membuat setiap langkahnya penuh pesona.
Para siswa yang melintas tak bisa menahan diri untuk mencuri pandang, seolah terhipnotis oleh karisma yang dimilikinya.
"Hey, lo! kenapa sih wajah lo kelihatan loyo?" tanya Seyra kepada seorang siswa yang sedang berjalan sendirian.
"Nggak kenapa-kenapa, Kak."
"Apa lo nggak tahu? Wajah lo manis banget kayak tai ayam." Ujarnya sambil melirik nakal.
Siswa itu tampak tercengang sekaligus kesal, mendengar gombalan kakak kelasnya yang di luar prediksi.
Melanjutkan langkahnya, Seyra melihat sekelompok siswa yang sedang berdiskusi. "Wow, lo semua serius banget! jangan lupa kedip, karena kecantikan gue bisa tembus paru-paru kalian."
Mereka terkekeh geli, tingkat kepedean yang di miliki Seyra sangat tinggi. Meski tidak di pungkiri gadis itu memang cantik, rambutnya yang hitam legam membuat parasnya kian mempesona. Namun, di balik kecantikannya dia merupakan jomblo akut dan tukang ghosting.
Meski banyak cowok yang mencoba mendekatinya, namun bagi Seyra tidak ada yang menarik. Dia lebih suka menggombal pada setiap orang, dan malas menjalin hubungan sebab bagi cewek itu memiliki kekasih hanya membuat beban otaknya makin banyak.
Hingga dia mendapat julukan "Ratu Modus" di kalangan siswa. Seyra tahu betul bagaimana menarik perhatian dan membuat orang merasa istimewa, meskipun hanya dalam sekejap saja dia bisa menghancurkan mental orang tersebut.
Dengan keahliannya, dia menjadikan lorong sekolah sebagai panggung untuk menggoda, menyebarkan keceriaan dan tawa di setiap sudutnya.
"Seyra!" suara melengking bak toa masjid menggaung di lorong.
Seyra menoleh, dia melihat sahabatnya Kana sedang melambaikan tangan padanya. Seyra berhenti, dia menunggu Kana yang sedang berlari ke arahnya.
"Mau ke kantin?" tanya Kana begitu tiba di sisi sahabatnya.
"Nggak, gue mau ke matahari."
Kana terkekeh, dia memukul pelan pundak Seyra. "Ngapain? Mau bikin gosong tubuh lo?"
"Nggak, gue mau nyari sugar daddy biar bisa morotin duitnya."
"Lo bisa aja haha, eh ngomong-ngomong lo udah beres review novel dari gue belum?"
"Udah, gue sebel banget sama pemeran utamanya. Dia bego anjir, masa udah punya tunangan ganteng, tajir melintir, anak tunggal. Masih aja baperin cowok lain." Cemooh Seyra, dia baru saja di mintai tolong oleh Kana untuk memberi kritik pada novel buatannya.
Namun, Kana tidak menyangka kalau sahabatnya akan memberi kritik begitu pedas padanya bahkan memaki tokoh utama novel itu yang sudah mati-matian dia buat sempurna.
"Kok gitu, justru dia lagi seleksi tahu. Enak aja lo ngata-ngatain tokoh gue." Protes Kana tidak suka.
Seyra mengangkat kedua bahunya acuh, "Salah sendiri lo minta kritik sama gue, udah tahu gue paling nggak suka sama perselingkuhan."
Kana mengerutkan dahi, tampak kesal namun juga geli dengan reaksi sahabatnya. "Tapi, Sey, itu kan fiksi. Maksud gue, dalam dunia cerita, kadang ada karakter yang memang harus bikin drama. Itu yang bikin cerita jadi menarik, kalo alurnya monoton yang ada pembaca kabur."
Seyra menggelengkan kepala, "Tapi dramanya terlalu berlebihan. Gue bisa paham kalau ada konflik, tapi ini udah di luar batas. Nggak ada manusia yang segoblok itu."
"Eh, jangan bilang lo nggak pernah baper sama orang yang salah, deh!" Kana menantang, matanya berbinar penuh semangat.
Seyra tersenyum canggung. "Tapi itu beda, Ka. Gue nggak bakal sampai mengabaikan tunangan yang sesempurna itu. Lagi pula, lo yang buat karakter itu, harusnya bisa lebih realistis."
Kana menghela napas, berusaha mengendalikan emosi. "Oke, oke. Mungkin lo ada benarnya. Tapi gue lagi coba menggambarkan sisi manusiawi dari karakter itu. Kadang kita bisa jatuh cinta pada orang yang salah, kan?"
"Ya, tapi jangan sampai jatuh ke jurang juga. Lo harus kasih dia jalan keluar yang masuk akal. Misalnya, karakter lain yang bikin dia sadar bahwa tunangannya sebenarnya adalah orang yang tepat."
Kana mengangguk perlahan. "Iya, mungkin itu bisa jadi solusi. Tapi, lo udah kasih saran yang pedas, sekarang giliran gue! lo harus nulis review yang lebih positif untuk membantu gue! bentar lagi novel gue terbit, gue belum siap di hujat netizen bentukan kayak lo."
Seyra tertawa, "Kalo nggak siap, nggak usah buat novel. Cemen banget mental lo, Ka. Justru adanya netizen bisa bikin alur lo makin berkembang."
"Iya kalo nyerangnya tokoh yang gue buat, lah kalo nyerangnya mental gue yang ada gue jadi stres."
"Benar juga sih," Seyra mengangguk. "Kadang-kadang emang ada pembaca yang nyerang fisik, padahal mereka nggak tahu gimana pusingnya bikin alur."
"Betul, contohnya pembaca kayak lo."
Seyra mendelik sinis. "Sialan lo, Ka."
Mereka berdua tertawa bersama sembari berjalan ke kantin, saling melempar lelucon dan ide-ide cerita. Dalam perjalanan, Seyra merasa senang bisa berbagi pendapat dan melihat semangat Kana untuk berkarya. Meskipun kritiknya tajam, itu semua demi kebaikan sahabatnya.
Setibanya di kantin, mata Seyra tertuju pada buah anggur yang berada di etalase kaca. Dia maniak buah anggur, jadi setiap ada anggur di kantin itu selalu habis di borong olehnya.
"Na, traktir gue dong. Gue laper nih." Rengek Seyra.
Kana menggeleng pelan. "Malak mulu, lo juga punya duit, Sey."
"Pelit lo, duit gue mau buat beli anggur semua."
Kana tertawa mendengar alasan Seyra. "Ya udah, lo beli buahnya, gue traktir makanan anggap aja sebagai bayaran atas review lo tadi."
"Setuju! tapi jangan yang aneh-aneh ya. Yang biasa aja," balas Seyra, matanya masih terpaku pada anggur yang menggoda.
Mereka berdua beranjak ke etalase, dan Seyra langsung mengambil beberapa potong buah itu yang sudah disiapkan.
"Akhirnya! ini yang gue tunggu-tunggu," ucapnya sambil menggigit sepotong buah anggur yang manis.
Kana memilih seporsi nasi goreng dengan telur mata sapi di atasnya. "Gue nggak ngerti sama lo, Sey. Kenapa sih lo bisa suka banget sama anggur?"
"Karena rasanya enak, teksturnya unik, dan manis banget kayak gue! lo harusnya coba lebih sering. Anggur itu buah yang luar biasa," jawab Seyra sambil mengunyah dengan penuh kebahagiaan.
Setelah mendapatkan makanan, mereka mencari tempat duduk di sudut kantin yang agak sepi. Sambil menikmati makanan, mereka kembali membahas novel Kana.
"Jadi, gimana kalau lo tambahkan karakter pendukung yang bisa jadi suara hati si tokoh utama? itu bisa bikin konfliknya lebih kuat." Kata Seyra di sela-sela acara mengunyahnya.