NovelToon NovelToon
Sandi Hati Sang Alpha

Sandi Hati Sang Alpha

Status: tamat
Genre:Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Satu kontrak, dua keluarga, dan ribuan rahasia. Bagi Bhanu Vandana, Selena Arunika adalah aset yang ia beli. Bagi Selena, Bhanu adalah tirani yang harus ia taklukkan. Di aula yang beraroma cendana, mereka tidak memulai sebuah pernikahan, melainkan sebuah peperangan. Saat fajar bertemu dengan matahari yang beku, siapa yang akan bertahan ketika topeng-topeng kekuasaan mulai retak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertempuran di puncak dunia : Pertahanan terakhir

​Matahari belum juga menampakkan wajahnya di ufuk timur, namun langit di atas langit—puncak tertinggi Himalaya—telah berpendar oleh cahaya biru elektrik yang menyakitkan mata. Helikopter-helikopter tempur The Nephilim datang seperti sekawanan belalang baja yang lapar, baling-baling mereka mencabik kabut tipis menjadi serpihan keputusasaan. Dr. Eleanor tidak lagi mengenal protokol kemanusiaan; baginya, moralitas hanyalah baris kode usang yang perlu dihapus. Ia mengirimkan "The Reapers"—pasukan hibrida manusia-mesin yang jiwanya telah digantikan oleh algoritma pembunuh. Mereka turun dari langit menggunakan tali baja, meluncur menuju gerbang biara seperti malaikat maut mekanis yang dijatuhkan dari rahim badai.

​Di depan gerbang batu yang telah berlumut selama berabad-abad, Bhanu dan Raka berdiri tegak, menjadi garis tipis antara peradaban lama dan kiamat digital. Raka, dengan luka bakar yang masih basah dan perban yang mulai memerah oleh rembesan darah, menggenggam senapan serbunya. Tangannya gemetar akibat trauma saraf, namun matanya tetap stabil, sedingin es abadi yang mereka injak. Di samping mereka, para biarawan Khun-Lhai yang selama ini dikenal sebagai penyembah keheningan, menunjukkan jati diri asli mereka sebagai penjaga rahasia purba. Mereka mengeluarkan tombak-tombak kuno yang telah dimodifikasi dengan pengacau frekuensi—sebuah perkawinan aneh antara besi tua dan teknologi perlawanan.

​"Ini adalah tempat terakhir bagi mereka, Bhanu," ucap Raka dengan senyum getir yang dipaksakan. "Jika kita gagal di sini, tidak ada lagi tempat untuk sembunyi di bumi ini. Langit sudah menjadi mata Eleanor, dan tanah ini akan menjadi kuburan kita jika kita membiarkan mereka lewat."

​"Kita tidak akan gagal," jawab Bhanu, suaranya datar namun tajam, sekeras tebing granit di belakang mereka. "Aku sudah berjanji pada Selena. Dan janji seorang pria di puncak dunia adalah hukum alam yang tak bisa diganggu gugat."

​Pertempuran pecah dengan kebrutalan yang melampaui imajinasi. Udara dingin yang tadinya murni kini berjelaga, bau mesiu bercampur dengan aroma dupa yang terbakar dari dalam biara. Senjata api beradu dengan gelombang sonik yang memekakkan telinga. Raka bertarung seperti monster yang baru lepas dari pasungan; ia menyerbu ke tengah formasi The Reapers, meledakkan granat-granat EMP yang menciptakan kilatan elektromagnetik. Setiap ledakan membuat sirkuit di tubuh para prajurit musuh meledak dalam percikan api hijau, membuat mereka tumbang seperti pohon-pohon yang tersambar petir di tengah hutan besi. Bhanu bergerak dengan presisi yang mematikan, setiap tarikan pelatuknya adalah sebuah titik mati bagi pilot-pilot helikopter yang mencoba mendekat ke atap biara.

​Namun, di dalam dinding batu yang dingin, situasi mencapai titik didih yang kritis. Setiap kali Selena mengejan, pilar-pilar batu kuno biara bergetar hebat, seolah-olah gunung itu sendiri sedang mengalami kontraksi. Retakan-retakan mulai menjalar di langit-langit, menjatuhkan debu sejarah ke atas lantai yang kini dialiri kabel-kabel tembaga. Pendaran ungu di ujung jari Selena—sisa-sisa energi data yang tersumbat—perlahan berubah menjadi cahaya putih yang menyilaukan. Cahaya itu begitu kuat hingga melahap bayangan di setiap sudut ruangan, memadamkan puluhan lilin mentega dengan tekanan udara yang mendesak keluar dari rahimnya.

​"Kepalanya sudah terlihat!" teriak Dahayu, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin yang masuk dari celah dinding. Tangannya yang dipenuhi peluh gemetar hebat saat ia memutar katup pengalih arus saraf manual. "Bhanu! Aku butuh lebih banyak energi untuk menahan lonjakan ini! Sirkuitnya mulai panas, dia akan meledak!"

​Di tengah kepanikan itu, pintu ruang inti yang terbuat dari kayu jati berlapis besi meledak hancur. Seorang komandan The Nephilim dengan armor berat dan mata merah menyala—hasil dari sensor termal yang ditanam langsung di rongga matanya—merangsek masuk. Tanpa ragu, ia mengarahkan moncong senapan plasma ke arah Selena yang sedang berjuang di ambang maut. Dahayu, yang selama ini dibayang-bayangi oleh rasa bersalah atas pengkhianatannya, melakukan sesuatu yang tak terduga. Tanpa berpikir panjang, ia melemparkan tubuhnya ke depan laras senjata tersebut, menjadikan dirinya perisai daging bagi harapan terakhir manusia.

​Duar!

​Tembakan plasma itu menghantam bahu Dahayu, menghanguskan daging dan logam yang tersembunyi di balik kulitnya, melemparkannya ke sudut ruangan seperti boneka kain yang rusak. Namun, pengalihan itu memberi ruang bagi Bhanu yang baru saja masuk. Dengan raungan kemarahan yang membelah keheningan, Bhanu menerjang sang komandan dan menghujamkan pisau biometrik tepat ke celah pelindung leher, memutus kabel saraf utama yang menghubungkan otak manusia dengan modul mesinnya.

​"Dahayu!" teriak Bhanu, suaranya pecah melihat kawan yang ia curigai kini sekarat demi mereka.

​"Jangan... urusi aku..." rintih Dahayu, sambil memegang lukanya yang mengucurkan darah biru kehijauan yang janggal—sebuah rahasia pahit bahwa Eleanor telah mulai mengubah putranya sendiri menjadi mesin tanpa ia sadari. "Selesaikan... prosesnya... Sekarang! Biarkan dia lahir!"

​Selena memberikan dorongan terakhir dengan teriakan yang merobek langit-langit biara, sebuah suara yang bukan hanya berasal dari tenggorokan manusia, tapi dari inti jiwa yang sedang melepaskan fajar baru. Cahaya putih yang memancar dari tubuhnya meledak ke segala arah, meluap melewati jendela-jendela biara, membutakan siapa pun yang ada di sana, seolah-olah sebuah bintang baru saja lahir di dalam rahim bumi yang paling sunyi.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Yulianti
bagus bgt kita diajak untuk berimajinasi,ttp aja ketulusan hati mengalahkan segalanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!