NovelToon NovelToon
Jawara Pasar : Cicit Dua Milliarder

Jawara Pasar : Cicit Dua Milliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ottoy Lembayung

SMA Harapan Bangsa—tempat di mana kemewahan dan status sosial menjadi ukuran utama. Di tengah keramaian siswa-siswi yang terlihat megah, Romi Arya Wisesa selalu jadi pusat perhatian yang tidak diinginkan: berpakaian lusuh, tas dan sepatu robek, tubuh kurus karena kurang makan. Semua menyebutnya "Bauk Kwetek" dan mengira dia anak keluarga miskin yang hanya diurus oleh orang tua sambung. Tak seorangpun tahu bahkan Romi pun tidak mengetahui bahwa di balik penampilan itu, Romi adalah cicit dari dua konglomerat paling berpengaruh di negeri ini—Pak Wisesa raja pertambangan, dan Pak Dirgantara yang menguasai sektor jasa mulai dari rumah sakit, sekolah, mall hingga dealer kendaraan.
Perjalanan hidup Romi sudah ditempa dari Kecil hingga Remaja pelajar SMA.
Dari mulai membantu Emaaknya berjualan Sayuran, Ikan, udan dan Cumi, sampai menjadi kuli panggul sayur dan berjualan Bakso Cuanki.
Ditambah lagi dengan konflik perseteruannya dengan teman perempuan di sekolahnya yang bernama Yuliana Dewi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ottoy Lembayung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13. Para PRT Komplek BSD

Suara kentongan khasnya kembali terdengar di dalam komplek: "TEK... TEK... TEK... CUANGKIIIIIY... CUANGKIIIY!!!" Suaranya disesuaikan tidak terlalu keras agar tidak mengganggu ketenangan kawasan yang tenang, sebagai awal dari petualangan berjualannya di kawasan yang jauh lebih mewah dari tempat-tempat yang biasanya dia datangi. Dia berjalan perlahan, mengamati setiap sudut untuk mencari tempat yang tepat untuk berhenti, tidak terlalu dekat dengan rumah-rumah besar namun mudah dilihat oleh penghuni atau pembantu yang mungkin sedang beraktivitas di luar rumah.

Dan benar saja, ketika sampai di dekat area taman kecil yang ada di tengah perumahan, beberapa PRT alias pembantu rumah tangga menghampiri Romi dengan langkah cepat. Mereka sudah melihatnya dari kejauhan ketika sedang bersantai di bawah pohon setelah menyelesaikan tugas siang hari, dan langsung bergerak mendekat karena aroma bakso yang mulai menyebar membuat mereka merasa lapar.

"Heei Bang...Abang beliiii!!!" Ucap salah satu pembantu rumah tangga yang mengenakan baju kerja warna biru muda, wajahnya ceria sambil mengangkat mangkuk plastik bekas yang sudah dibersihkan rapi.

"Wiiih abangnya cakep amat SIIIH, masih muda juga gantuaang," ucap salah satu PRT itu sambil merayu-rayu, rambutnya yang diikat dengan jepitan warna merah sedikit dirapikan agar terlihat lebih rapi. Dia bahkan sedikit mendekatkan diri ke Romi, menginginkan perhatian khusus dari sang pedagang muda.

"Heei Inem loe jangan sok kecakepan, cakep ama bedak tebel doang loe mah," ucap salah satu temannya yang lebih gemuk dengan suara kuat namun penuh candaan, membuat yang lain langsung tertawa terbahak-bahak.

"Sialan loe Tati tompel...tompel aja loe digedein," sahut Inem dengan wajah sedikit memerah namun tetap tersenyum, tidak ingin benar-benar marah di depan orang baru.

"Waduh para babu komplek berantem, jadi rame banget nih," ucap mpok Yatmi yang lebih tua dari yang lain, mengenakan baju kerja warna coklat tua dengan ikat pinggang kain batik. Dia berjalan mendekat dengan langkah pelan, mencoba menenangkan suasana yang mulai sedikit ramai.

"Jangan di pisahin klo ada yang berantem, biarin aja mereka saling berebut abang ganteng ini," ucap Nani pembantu rumah tangga yang paling cantik dan seksi juga wangi – rambutnya dirapikan dengan rapi, dan ada aroma parfum yang khas menyengat dari tubuhnya. Biasa parfumnya nyuri-nyuri dari majikan, karena tidak mampu membeli yang asli jadi sering mengambil yang oplosan dari toko kosmetik dekat pasar, namun tetap membuatnya merasa percaya diri.

"Jadi pada beli gak ibu-ibunya niiih? Klo gak jadi aku akan pergi lagi kesebelah sana," ucap Romi dengan suara ceria, sambil sudah mulai menyiapkan kompor gas dan ember berisi bakso yang sudah siap dimasak. Tangannya yang terbiasa bekerja cepat mengatur perlengkapan dengan rapi.

"Jangan...jangan pergi dong baby, dan jangan panggil kita Ibu – itu membuat kita semua sedih serasa tua kami-kami ini," ucap Nani sang biduan BABU KOMPLEK dengan suara yang sedikit melengking, bahkan mulai menyanyikan sebagian lagu dangdut yang sedang hits saat itu.

"Ya Abang ini jangan panggil kita Ibu-ibu, kita disini jadi merasa tua banget, padahal kami masih muda loh," ucap Tati tompel dengan suara sedikit bernada manja, lalu menunjukkan tangannya yang masih cukup halus meskipun sering melakukan pekerjaan rumah tangga. "Lihat aja tanganku, belum keriput kan?"

"Muda dari Hongkong, muka loe keliatan kayak nenek-nenek peyot," ujar Inem kepada Tati tompel dengan tatapan yang penuh candaan, membuat semua orang tertawa kembali.

"Eeiits dah Bujug buneng, kita dikata tua sama si Inem, sewot!" Tati tompel menggerutu, namun sudah mulai mengambil mangkuk dari saku bajunya yang sudah disiapkan.

"Sudah-sudah malu sama abang ganteng ini, baiknya kita beli saja bakso Cuangki nya, kasihan loh abangnya sudah lama menunggu kita beli," ucap Yatmi salah satu pembantu yang agak bijak dalam berbicara, lalu langsung memesan dua mangkok – satu untuk dirinya dan satu lagi untuk teman yang masih bekerja di dalam rumah majikannya.

Akhirnya semua Babu-babu komplek itu membeli Bakso Cuangki Romi – sekitar 10 orang PRT membeli Bakso Cuangki dengan pesanan yang berbeda-beda. Sebagian meminta yang super pedas dengan tambahan cabai rawit, sebagian lagi memilih yang tidak pedas karena tidak tahan rasa pedas atau ingin menyisakan sedikit untuk teman lain. Romi bekerja dengan cepat dan teliti, memastikan setiap mangkok berisi bakso, tahu, dan bihun yang cukup banyak dengan kuah yang gurih dan harum.

TEEEK...TEEEK...TEEEK CUANGKIIIY...CUANGKIIIY

Teriak Romi kembali berteriak-teriak sambil memikul pikulan bakso cuangkii nya yang sudah jauh lebih ringan setelah banyak terjual. Terlihat di belakang Romi, para PRT alias BABU KOMPLEK sedang melambai-lambai tangan mereka dengan wajah ceria, beberapa di antaranya masih sedang menikmati bakso yang masih hangat.

"Besok jangan lupa mampir lagi kesini ya," ucap Inem sambil mengangkat mangkuk yang sudah hampir kosong.

"Aku tunggu Abang ganteng di sini," ucap Tati tompel dengan senyum lebar, sudah tidak lagi marah seperti tadi.

"Ingat...ingat..ingat besok kembali ke dalam pelukanku ya," ucap Nani sang biduan para Babu-babu komplek dengan suara yang sedikit menggoda, membuat teman-temannya langsung mencibir.

Nani merupakan PRT alias pembantu rumah tangga termuda, tercantik, terseksi dan terdidik – ijasahnya paling tinggi yaitu tamat SMA, kalau yang lainnya tidak lulus SD. Kadang dia membantu teman-temannya yang kesulitan membaca atau menulis surat untuk keluarga di kampung, sehingga selalu mendapat rasa hormat khusus dari teman-teman sebaya.

Romi hanya tersenyum ramah saja kepada mereka semuanya, tangan kanannya sedikit mengangkat sebagai bentuk salam perpisahan. Lalu terus berjalan ke Blok lain yang terlihat lebih besar rumahnya dan masih di sekitar perumahan BSD. Jalan yang semakin luas dengan taman yang lebih indah menunjukkan bahwa penghuni di blok ini memiliki taraf hidup yang lebih tinggi lagi, membuatnya penasaran namun tetap menjaga sikap rendah hati.

Adzan ashar berkumandang dari masjid dekat komplek saat Romi berhenti tepat didepan rumah yang terbesar di komplek itu. Rumah bertingkat tiga dengan taman yang luas dan kolam renang kecil di sisi depan membuatnya terpana tak bisa bergerak sejenak. "Masya Allah Tabarakallah, Allahu Akbar," takjub Romi. Dirinya tidak bisa berkata kata lagi. Seperti Istana rumah ini, tentu orang yang menempati rumah ini adalah orang yang super kaya alias tajir melintir, ucap Romi dalam hatinya, matanya masih terpaku pada rerumahan yang megah itu.

"Abang..bang beli donk," ucap seorang wanita yang keluar dari pintu samping rumah istana itu sambil membawa dua buah mangkok keramik yang bersih dan cantik. Wanitanya mengenakan baju kerja warna putih dengan rok hitam, rambut panjangnya diikat rapi dengan ikatan warna biru tua.

Pasti itu pembantu rumah tangga yang di rumah besar itu, ucap Romi dalam hatinya, segera menyusun ekspresinya menjadi lebih sopan dan siap melayani.

"Kok diam sih bang, langsung dibikinin aja bang dua mangkok dan ini mangkoknya," ucap wanita itu dengan langkah cepat mendekat, mangkoknya sudah disiapkan di tangannya.

"Baik Bu, saya akan segera buatkan, terima kasih," jawab Romi dengan suara sopan, sudah mulai membuka kompor gas untuk memasak.

"Waduuh Abang ini gimana sih, aku bukan ibu-ibu tahu? aku gadis usia baru 22 tahun," ucapnya dengan sedikit nada kesal, sedikit menoleh karena merasa tidak nyaman dengan panggilan "Bu" yang membuatnya merasa tua.

"Ooh maaf deh, saya kira ibu-ibu PRT," terlihat Romi tersenyum-senyum dengan rasa minta maaf, tangannya yang sedang mengambil bakso dari ember sedikit berhenti sejenak sebelum melanjutkan pekerjaannya.

"Ya ini dua mangkuk buat aku sama buat majikan aku, tolong dibuat cepet ya," ucap pembantu muda itu dengan suara cepat, seolah ada sesuatu yang harus segera diselesaikan.

Dan tiba-tiba keluar lagi seorang PRT namun lebih tua dari yang barusan. Wanitanya berusia sekitar 40 tahunan, mengenakan baju kerja warna biru tua dengan kerah yang rapi, wajahnya menunjukkan sikap yang lebih tenang dan hati-hati. "Bang tolong dibuat dua mangkok lagi," ucap perempuan itu kepada Romi dengan suara lembut namun jelas.

"Baik Bu, terima kasih dan segera aku akan buatkan untuk ibu," jawab Romi dengan senyum ramah, sudah mulai memasak bakso untuk pesanan kedua ini sambil tetap mengawasi pemanasan kuah untuk pesanan pertama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!