Kayana Ardhanareswari adalah mahasiswi paling populer di kampus—cantik, cerdas, dan kaya raya—namun menyimpan luka karena keluarganya yang broken home. Hidupnya berubah saat ia tertarik pada Bima Wijaya, mahasiswa pendiam penerima beasiswa KIP-Kuliah yang tak pernah memandangnya seperti pria lain.
Di balik sikap cuek Bima, Kay menemukan ketulusan, kerja keras, dan perasaan yang diam-diam tumbuh sejak lama. Namun hubungan mereka diuji oleh perbedaan status sosial, tekanan keluarga, kehadiran pihak ketiga, serta ancaman hilangnya beasiswa Bima.
Di tengah badai gosip dan intrik, Kay dan Bima harus memilih: menyerah pada keadaan, atau memperjuangkan cinta yang tak sempurna, namun tulus apa adanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia yang Berbeda
Hari Sabtu itu, Kay berdiri di depan lemari bajunya yang besar—ukuran satu ruangan kos sederhana—dengan perasaan campur aduk antara gugup dan senang.
Hari ini adalah hari ulang tahun Kenzie, adik tirinya yang ke-12. Dan untuk pertama kalinya, ia akan membawa Bima ke acara keluarga.
"Ini bakal jadi ujian pertama," gumamnya sambil memilih gaun.
Ponselnya bergetar. Mika mengirim pesan: "Udah siap? Jangan lupa: lo harus stay cool. Kalo ada yang ngejek Bima, lo hadapi dengan kepala tegak. Tapi jangan bikin keributan, inget itu acara keluarga."
Kay membalas: "Gue takut, Mik."
Mika: "Lo takut? Kayana Ardhanareswari? Yang biasa ngelawan dosen killer? Yang biasa nolak Rendra di depan umum?"
Kay: "Ini beda. Ini keluarga gue."
Mika: "Bima lebih kuat dari yang lo kira. Percaya deh."
Kay menghela napas, lalu memilih gaun berwarna dusty pink yang sederhana tapi elegan. Ia tidak ingin Bima merasa terlalu tertekan dengan kemewahan yang berlebihan.
---
Sementara itu, di kos Demak, Bima sedang menatap satu-satunya kemeja yang ia miliki—kemeja batik lengan panjang pemberian ibunya untuk wisuda nanti.
Kainnya sudah mulai kusam di beberapa bagian, tapi masih layak pakai. Ia memasangkannya dengan celana bahan hitam yang juga sudah usang, dan sepatu pantofel yang ia semir malam sebelumnya.
"Cukup," gumamnya pada cermin kecil di kamar.
Ponselnya bergetar. Kay: "Gue jemput ya. Udah di depan."
Bima melirik jam—pukul 4 sore. Acara dimulai jam 5. Ia mengambil napas dalam, lalu keluar.
Kay menunggu di dalam mobil—mobil mewah berwarna putih yang kontras dengan lingkungan kos. Bima masuk, duduk di kursi penumpang.
"Lo keren," kata Kay, tersenyum.
Bima hanya mengangguk. Matanya mengamati interior mobil—kulit halus, AC dingin, wangi pengharum mahal. Sangat berbeda dengan motor ojeknya yang biasa.
"Bim, lo nggak usah tegang. Santai aja," ujar Kay sambil melajukan mobil.
"Iya."
Mereka melaju meninggalkan area kos, melewati jalanan Jogja yang mulai ramai sore.
Bima diam, menatap ke luar jendela. Kay bisa merasakan ketegangan di tubuh Bima—bahunya kaku, tangannya menggenggam tas kecil berisi kado untuk Kenzie.
"Lo bawa kado?" tanya Kay.
"Iya. Gue beli kemarin."
"Apa itu?"
Bima menunjukkan tas kecil itu—isi buku gambar dan satu set pensil warna kualitas bagus. "Dia suka gambar kan? Lo cerita."
Kay terharu. Bima yang hidup pas-pasan masih menyisihkan uang untuk membeli kado adik tirinya. "Makasih, Bim. Lo nggak usah—"
"Gue mau."
Kay tersenyum, meraih tangan Bima sebentar. "Gue sayang lo."
Bima menoleh, sudut bibirnya naik sedikit. Itu sudah cukup.
---
Rumah Kay terletak di kawasan perumahan elit Jogja. Saat mobil memasuki gerbang besar dengan pos keamanan, Bima merasa dunianya mulai bergeser. Rumah-rumah besar dengan arsitektur mewah, taman luas, dan mobil-mobil mahal berjejer di sepanjang jalan.
Mereka berhenti di sebuah rumah bergaya minimalis tropis dengan dua lantai, halaman depan luas, dan air mancur di tengah taman. Puluhan mobil sudah terparkir rapi—Mercedes, BMW, Lexus.
"Disini acara nya?" tanya Bima pelan.
"Iya. Ayo."
Bima turun, merasakan tanah yang tidak rata karena bebatuan hias di halaman. Ia menatap rumah itu—besar, bersih, sempurna. Kontras dengan kosnya yang sempit dan lembab.
Mereka masuk melalui pintu utama. Sambutan pertama adalah seorang wanita paruh baya berseragam—Bi Inem, yang langsung tersenyum lebar melihat Kay.
"Nak Kay, sudah datang! Ini pasti Mas Bima, ya?" Bi Inem menyambut hangat. "Wah, ganteng."
Bima tersenyum canggung. "Makasih, Bu."
"Bi, Mama di mana?" tanya Kay.
"Di dalam, sama tamu-tamu. Acara baru mau dimulai jam 5, tapi sudah banyak yang datang."
Kay menggenggam tangan Bima, membawanya masuk ke ruang tamu besar. Di sana, puluhan orang berdiri dalam kelompok-kelompok kecil, berbincang dengan gelas champagne di tangan. Pakaian mereka mewah—pria dengan jas, wanita dengan gaun mahal dan perhiasan berkilau.
Bima merasa semakin tidak nyaman. Ia menarik napas dalam, mencoba tenang.
"Kay!"
Seorang wanita anggun dengan gaun hitam panjang berjalan mendekat. Ibu Kay—Lydia Ardhanareswari—tersenyum manis, tapi matanya langsung tertuju pada Bima dengan pandangan menyelidik.
"Nak, ini pasti teman kamu?" tanyanya.
"Ini Bima, Ma. Pacar aku."
Lydia tersenyum—senyum sopan yang tidak sampai ke mata. "Bima, ya? Salam kenal. Terima kasih sudah mau datang."
Bima mengulurkan tangan. "Salam kenal, Ibu."
Lydia menjabat sebentar, lalu beralih ke Kay. "Nak, bantu Mama terima tamu. Bima, silakan duduk dulu, santai saja."
Bima mengangguk. Kay meliriknya khawatir. "Bim, lo oke?"
"Iya. Lo bantu mama lo aja."
Kay ragu, tapi akhirnya pergi bersama ibunya. Bima ditinggal sendirian di tengah ruangan penuh orang asing.
---
Ia memilih duduk di sofa pojok dekat jendela, mengambil buku dari tasnya—kebiasaan lama untuk merasa aman. Tapi matanya tidak benar-benar membaca. Ia mengamati sekeliling.
Mereka berbicara tentang investasi, properti, liburan ke luar negeri, sekolah anak di internasional school. Dunia yang asing baginya. Dunia yang tidak pernah ia masuki.
"Kamu Bima ya, yang dikantin tempo hari?"
Bima menoleh. Seorang laki-laki seusianya berdiri di hadapannya, berpakaian rapi dengan jas abu-abu. Wajahnya familiar—Rendra Pratama, ketua BEM yang sering mendekati Kay.
"Iya."
Rendra duduk di sampingnya tanpa diundang, tersenyum ramah. Tapi matanya—ada sesuatu di sana yang tidak ramah. "Gue Rendra. Temen Kay. Lo pasti cowok yang lagi deket sama Kay, ya?"
"Iya."
"Gue denger lo anak ILKOM? Beasiswa?"
Bima mengangguk. "Iya."
Rendra tersenyum. "Keren. Anak beasiswa pasti pinter. Tapi..." Ia melirik sekeliling. "Suasana gini pasti agak asing buat lo, ya?"
Bima tidak menjawab. Ia hanya menatap Rendra dengan ekspresi datar.
"Gue cuma kasih saran, Bima. Keluarga Kay tuh... levelnya beda. Lo lihat sendiri kan? Mama Kay tuh orangnya selektif. Gue aja harus berusaha keras buat diterima. Lo yang baru beberapa bulan kenal Kay..." Rendra menghela napas dramatis. "Semoga lo kuat."
Sebelum Bima sempat menjawab, Kay datang. Ia melihat Rendra, lalu alisnya mengerut curiga.
"Ren, lo ngapain di sini?"
Rendra berdiri, tersenyum manis. "Gue cuma kenalan sama temen lo. Santai aja."
"Minggir," kata Kay dingin.
Rendra tertawa kecil, lalu pergi bergabung dengan kelompok lain. Kay duduk di samping Bima.
"Dia ngomong apa?"
"Enggak ada. Santai."
Kay menatap Bima ragu. Tapi sebelum ia bisa bertanya lebih lanjut, suara ibunya memanggil dari tengah ruangan.
"Kay, sini bantu potong kue!"
Kay menghela napas. "Bim, lo tunggu ya. Bentar aja."
"Iya."
---
Acara berlangsung meriah. Kenzie, adik tiri Kay, seorang anak laki-laki gemuk dengan rambut klimis, menerima kado demi kado dengan mata berbinar.
Saat Bima memberikan kadonya—buku gambar dan pensil warna—Kenzie hanya bilang "makasih" datar, lalu melemparkannya ke tumpukan kado lain.
Mata Bima menangkap itu. Tapi ia tidak berkata apa-apa.
Makan malam berlangsung di meja panjang yang bisa memuat dua puluh orang. Bima duduk di antara Kay dan seorang pria paruh baya—paman Kay—yang terus berbicara tentang bisnis properti.
"Lo kerja di mana, Bima?" tanya paman itu tiba-tiba.
Bima mengunyah pelan, lalu menjawab, "Masih kuliah. Sambil jadi ojek online."
Suasana meja hening beberapa detik. Beberapa orang saling berpandangan. Ibu Kay tersenyum canggung.
"Oh... ojek online," ulang paman itu. "Wah, kerja sampingan yang mulia. Bantu masyarakat."
Bima mengangguk. Ia bisa merasakan tatapan sinis dari beberapa sudut meja. Seorang tante berbisik pada yang lain, tapi cukup keras untuk didengar: "Kayana pacaran sama tukang ojek? Zaman sekarang."
Kay mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia ingin membela, tapi Bima menyentuh lututnya pelan—isyarat untuk tidak usah.
Setelah makan, Bima duduk sendiri di teras belakang, menatap taman luas dengan kolam renang. Udara malam terasa sejuk, kontras dengan panas di dalam.
"Bim."
Kay datang, duduk di sampingnya. "Lo kenapa? Kok di sini?"
"Udara di dalem panas."
Kay menghela napas. "Gue tahu mereka nyebelin. Tapi—"
"Enggak apa-apa." Bima memotong. "Mereka benar."
"Apa maksud lo?"
Bima menatapnya. Di bawah sinar lampu taman, matanya terlihat lebih gelap dari biasanya.
"Lo lihat sendiri, Kay. Gue nggak cocok di sini. Gue nggak ngerti omongan mereka. Cara gue makan, cara gue duduk, cara gue ngomong—semuanya beda. Mereka liat gue kayak... sampah."
"Bukan sampah! Jangan ngomong gitu!"
"Tapi itu yang gue rasa." Bima menunduk. "Lo bilang gue cukup. Tapi di sini, gue ngerasa kurang. Kurang di segala hal."
Kay meraih tangannya. "Bim, gue nggak peduli mereka. Yang penting gue—"
"Tapi gue peduli, Kay." Bima menarik tangannya perlahan. "Gue peduli karena ini lo. Keluarga lo. Dunia lo. Gue bisa nahan ejekan buat diri gue sendiri. Tapi kalo mereka ngejek lo karena milih gue? Gue nggak tega."
Kay matanya berkaca-kaca. "Bim..."
Mereka terdiam. Angin malam berhembus, membawa aroma bunga melati dari taman.
"Hei!"
Suara ceria memecah keheningan. Mika muncul dari pintu belakang, melambai-lambai. "Gue baru dateng! Maaf telat, macet."
Mika duduk di samping Kay, lalu menatap Bima dengan senyum ramah. "Halo, Bima. Lo keren. Serius."
Bima menatap Mika sedikit terkejut. "Makasih."
"Gue dengar dari Kay cerita tentang lo. Dan gue liat lukisan lo. Lo berbakat banget. Jangan minder sama orang-orang sini. Mereka tuh cuma punya uang, belum tentu punya bakat kayak lo."
Bima tidak tahu harus menjawab apa. Tapi kata-kata Mika sedikit meredakan ketegangan di dadanya.
Mika menatap Kay. "Lo, ngapain bawa Bima ke sarang singa? Nggak kasian?"
Kay tersenyum getir. "Gue pikir mungkin dia perlu... gue nggak tahu."
"Lo perlu ngomong berdua, tapi jangan di sini." Mika berdiri. "Gue alihin perhatian mereka di dalem. Lo bawa Bima pulang. Nggak usah pamit."
Kay menatap Mika dengan syukur. "Makasih, Mik."
"Udah, cepet."
---
Dalam perjalanan pulang, mobil melaju lambat di jalanan malam Jogja. Kay sesekali melirik Bima yang diam menatap jendela.
"Bim," panggil Kay pelan.
"Hm?"
"Gue minta maaf."
"Buat apa?"
"Buat lo ngerasa nggak nyaman. Seharusnya gue nggak usah maksa lo dateng."
Bima menghela napas. "Bukan salah lo. Lo cuma mau gue kenal keluarga lo."
"Tapi—"
"Tapi ternyata dunia kita beda." Bima menatap Kay. "Dan gue mulai nanya: apa kita emang pantas?"
Kay menepi di pinggir jalan. Ia mematikan mesin, lalu menghadap Bima dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan bilang gitu, Bim."
"Gue serius, Kay. Lo lihat sendiri. Ibu lo, keluarga lo, temen-temen lo—mereka semua punya standar. Dan gue nggak masuk standar itu."
"Standar mereka bukan standar gue!"
"Tapi mereka keluarga lo. Cepat atau lambat, lo harus milih."
Kay menggeleng keras. "Gue nggak akan milih. Gue nggak akan ninggalin lo."
Bima menatapnya lama. Matanya rumit—antara ingin percaya dan takut kecewa.
"Lo yakin?" bisiknya.
Kay meraih wajah Bima dengan kedua tangannya, memaksanya menatap matanya.
"Dengerin gue, Bima Wijaya. Gue—Kayana Ardhanareswari—sayang lo. Bukan karena lo miskin atau kaya. Bukan karena lo beasiswa atau bukan. Tapi karena lo. Lo yang gambar gue di perpus. Lo yang jalan di hujan. Lo yang peluk gue waktu gue nangis. Lo, Bima. Cuma lo."
Air mata jatuh di pipi Kay. Bima mengangkat tangan, mengusap air mata itu dengan ibu jarinya.
"Lo nangis," katanya pelan.
"Iya karena lo bikin gue takut."
"Takut apa?"
"Takut lo pergi lagi."
Bima diam. Lalu perlahan, ia menarik Kay ke dalam pelukan. "Gue di sini."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berpelukan di dalam mobil, di pinggir jalan yang sepi. Lampu-lampu kota berkelip di kejauhan, menyaksikan dua insan dari dunia berbeda yang berusaha saling memahami.
---
Malam itu, di kosnya yang sempit, Bima membuka buku sketsa. Ia mulai menggambar—bukan pemandangan, bukan potret, tapi perasaan. Ia menggambar dua tangan dari warna berbeda yang saling menggenggam erat. Di bawahnya, ia menulis:
"Dua dunia bertemu dalam satu genggaman. Semoga cukup kuat."
Ia memotret gambar itu, mengirimnya ke Kay dengan pesan: "Buat lo."
Beberapa menit kemudian, Kay membalas: "Buat kita."
Bima tersenyum. Mungkin dunia mereka memang berbeda. Tapi di antara perbedaan itu, ada satu hal yang sama: rasa yang tak ingin mereka lepaskan.