NovelToon NovelToon
SHADOW OF DEATH

SHADOW OF DEATH

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Bad Boy
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mr.Mounyenk

Kenzo Huang, pria keturunan Jepang&Cina yang terjebak dalam kasus palsu perdagangan barang ilegal, memasuki penjara dengan hati hampa dan sering diintimidasi oleh geng dalam tahanan. Sampai suatu hari, dia diselamatkan oleh Lin Dong – seorang tahanan yang ditangkap karena membela adik perempuannya, Lin Xian Mei. Meski berbeda latar belakang, mereka menjalin persahabatan yang seperti saudara kandung, berbagi cerita tentang keluarga dan harapan masa depan.
Demi membalas kebaikan Lin Dong, Kenzo Huang berjanji untuk mencari jejak dan menjaga adik serta ibu nya.
Dalam perjalanan mencari jejak sang adik Lin Dong, Kenzo Terlibat organisasi dunia bawah Shehua dan menjadikannya pembunuh bayaran yg di kenal dengan sebutan Shadow Of Death

(update setiap hari)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.15 — PERTEMUAN DENGAN-NYA

Seperti biasa, malam itu Kenzo pergi ke Club Midnight Memories untuk melihat Lin Xian Mei bernyanyi. Tempat yang sama. Ritual yang sama. Tapi malam ini berbeda. Malam ini semuanya akan berubah.

"T-tuan, apa Anda ingin memesan sesuatu?"

Tanya seorang bartender kepadanya dengan gemetar. Matanya melirik ke arah Kenzo, lalu cepat-cepat menunduk. Dia tahu. Semua staf tahu. Pria ini bukan pelanggan biasa.

"Buatkan aku wiski."

"B-baik, tuan."

Lin Xian Mei telah naik ke panggung. Dan semua pengunjung mulai bertepuk tangan. Di saat Lin Xian Mei mulai bernyanyi, para pengunjung terdiam. Dan mulai menikmati alunan musik dan merdunya nyanyian Lin Xian Mei. Suara itu. Suara yang sama dengan yang diingat Kenzo. Tapi kali ini dia melihat pemiliknya. Bukan hanya foto. Bukan hanya bayangan.

Di saat Lin Xian Mei selesai bernyanyi, dia pun menuruni panggung. Dan berjalan menuju ke kamar rias miliknya. Melewati kumpul seorang preman yang sedang mabuk berat. Empat orang. Rantai di leher. Tato di lengan. Bau arak dan bahaya.

"Hei... mau kemana, cantik..."ucap salah satu preman tersebut.

"L-lepaskan!!",teriak Lin Xian Mei.

Pria itu menggenggam lengan Lin Xian Mei. Dan Lin Xian Mei pun memberontak. Lalu dia mengambil sebuah gelas berisi arak dan menyiram wajah preman tersebut. Arak basah, mati merah, keberanian yang bodoh.

"Wanita jalang, kubunuh kau!!"

Plak!!!

Pria itu menampar wajah Lin Xian Mei. Membuat dia terkulai jatuh ke lantai. Tubuh kecilnya terhantam meja. Gelas-gelas berjatuhan.

Kenzo yang melihat kejadian tersebut mulai bergejolak. Tangannya yang menggenggam sebuah gelas, tanpa disadarinya, pecah oleh genggamannya. Pecahan kaca menancap ke telapak. Darah menetes. Tapi dia tak merasakannya.

Prang!!!

Semua mata tertuju kepada Kenzo. Tak terkecuali Lin Xian Mei pun memandang ke arah Kenzo. Untuk pertama kalinya. Mata bertemu mata.

"D-dia?!!!"

Lin Xian Mei terkejut saat melihat kalung yang dikenakan oleh Kenzo. Kalung Yin. Kalung yang seharusnya ada di leher kakaknya. Kalung yang sekarang menggantung di leher orang asing.

Melihat situasi tersebut, Kenzo meraih jasnya. Dan mulai memutarkan jasnya sebelum dikenakannya. Gerakan yang terlihat seperti tarian. Seperti ritual. Tapi sebenarnya persiapan.

Di saat Kenzo memainkan jasnya, dia terlebih dahulu membawa tusuk gigi. Lalu saat tangannya masuk ke dalam jasnya, dia melemparkan tusuk gigi tersebut. Melalui cela lubang lengan jasnya. Mengarah ke leher pria yang mengganggu Lin Xian Mei. Dan menembus ke dalam kerongkongannya. Presisi yang sempurna. Hasil latihan bertahun-tahun.

Membuat pria itu terdiam beberapa saat. Matanya melotot. Tangannya meraih leher. Tapi tak ada suara yang keluar. Kenzo pun pergi. Meninggalkan Midnight Memories dengan telapak tangan yang terluka. Darah mengalir di jari-jarinya. Tapi dia tak peduli.

Setelah Kenzo meninggalkan bar tersebut, pria itu terjatuh ke lantai. Tak bernyawa. Tubuhnya mengerung, lalu terdiam. Kepanikan mulai melanda Midnight Memories. Orang-orang berlarian. Teriakan dan tumpahan minuman.

Lin Xian Mei tak ingin kehilangan Kenzo. Berlari mengejarnya. Sandalnya terlepas, tapi dia tak peduli. Rambutnya berantakan, tapi dia tak peduli.

"T-tunggu...!!"

Kenzo menghentikan langkahnya. Di tengah parkiran. Di bawah lampu jalanan yang redup. Lin Xian Mei mendekati Kenzo. Napasnya tersengal. Matanya berkaca-kaca.

"A-ada apa, nona?"

"Bisa kita berbicara sebentar?"

Lin Xian Mei melihat darah menetes dari jari-jarinya. Merah segar, kontras dengan kulit pucat Kenzo.

"Kau terluka!!"

"Aku akan mengobati lukamu."

"T-tidak-tidak. A-aku baik-baik saja."

"Bagaimana bisa kau berkata seperti itu dengan darah yang mengalir dari tanganmu."

"Apakah kau membawa kendaraan?"

"Mobilku ada di sana."

Sambil menunjuk ke arah mobil McLaren F1 merah. Kilatan merah di bawah lampu neon. Ikon kekayaan yang tidak cocok dengan pria berjas hitam dan berdarah.

"I-itu mobilmu?"

Kenzo mengangguk.

"(Apakah dia orang kaya?)"

"(Jangan-jangan dia yang selama ini memberikan hadiah.)"

Semua pertanyaan mengelilingi pikiran Lin Xian Mei. Tapi jawabannya ada di depan mata. Kalung Yin. Mobil mahal. Tusuk gigi yang mematikan.

Setelah memasuki mobil, mereka pun meninggalkan Midnight Memories. Dan menuju ke apartemen milik Lin Xian Mei. Jalanan malam sepi. Radio menyala pelan. Tapi tak ada yang bicara. Hanya napas. Hanya detak jantung.

"Duduklah, aku akan mengambil kotak obat."

Lin Xian Mei pun masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Kenzo pun dengan perlahan duduk di sofa ruang tengah. Sofa lusuh, tapi bersih. Apartemen sederhana, tapi rapi. Bau parfum murah dan bunga kering.

Tak berselang lama, Lin Xian Mei muncul dengan membawa kotak obat. Dia pun duduk di sebelah Kenzo. Jarak beberapa inci. Bau samponnya menyengat. Bau ketakutan dan keberanian.

"Ulurkan tanganmu."

Kenzo terdiam. Matanya menatap luka di telapak tangannya. Luka yang diderita demi menyelamatkan orang asing. Orang yang ternyata mungkin bukan asing.

"Sini... ulurkan tanganmu..."

Lin Xian Mei menarik tangan Kenzo. Lalu dia pun mulai mengolesi luka Kenzo. Antiseptik menyengat. Kapas putih berubah merah. Jari-jarinya kecil, tapi stabil.

Wajah Kenzo pun mulai berkeringat. Bukan karena sakit. Karena jarak. Karena bau. Karena sesuatu yang sudah lama mati.

"Apa sakit?"

"T-tidak."

"Kenapa wajahmu berkeringat?"

Kenzo terdiam. Bibirnya terkunci. Dia tidak tahu harus menjawab apa.

"Baiklah, selesai."

"Kau ingin minum apa?"

Ucap Lin Xian Mei sambit berlalu ke sebuah mini bar di rumahnya. Botol-botol berjajar. Wine murah, tapi cukup.

"T-tidak usah. A-aku tidak haus."

"Kenapa kau begitu tegang? Apa aku menakuti mu?"

"B-bukan seperti itu."

Lin Xian Mei kembali ke dekat Kenzo. Sambil meletakkan dua gelas wine di meja. Cairan merah, berkilau di bawah lampu. Seperti darah. Seperti maut.

"A-apa yang ingin kau bicarakan denganku?"

Tanya Kenzo gugup. Tangan kanannya menggenggam gelas, tapi tidak minum. Hanya untuk menstabilkan.

"Sebenarnya aku ingin bertanya kepadamu."Lin Xian Mei memainkan jari-jarinya."Dari mana kau mendapatkan kalung itu?"

"Kalung ini sebenarnya milik kawanku."ucap Kenzo memandangi gelas yang berada di genggaman tangannya."Aku menemukan kalung ini dipakai seseorang, lalu aku merebutnya."

"Kawanmu?!"

Kenzo mengangguk. Berusaha untuk menutupinya. Tapi suaranya pecah. Tangan kirinya bergetar.

Lin Xian Mei mulai berpikir sesuatu. Mata menyipit. Jantung berdebar. Sesuatu yang terlalu besar untuk dipercaya. Tapi terlalu nyata untuk diabaikan.

"Siapa nama kawannu?"

"Dimana dia sekarang?"

"Dia menghilang saat di penjara. Dan dia bernama Lin Dong."ujar Kenzo.

Lin Xian Mei terkejut. Dan mulai berkaca-kaca. Air mata menetes, tapi dia tahan. Belum. Belum waktunya.

"A-apakah kawannu masih hidup sekarang?"

"Aku tidak tahu."

"Apa kalian bertemu di penjara?"

"Benar."

"S-siapa namamu?"

"Kenzo Huang."

"Kak Huang, sebenarnya Kak Lin Dong telah meninggal?"

"A-apa?!!"

Kenzo pura-pura terkejut. Matanya melebar. Tangan kanannya menutup mulut. Akting yang dia latih sejak tadi. Akting yang dia benci.

"Kau pasti bohong."

"Dia seperti kakak bagiku."

Tubuh Kenzo mulai melemas. Dan terhempas ke sofa. Sandarannya hilang. Topengnya retak.

"Kau siapa? Kenapa bisa mengetahui hal itu?"

"Aku Lin Xian Mei. Dan Lin Dong adalah kakakku."

"K-kau Lin Xian Mei?!"

"Benar."

Tiba-tiba suasana di ruangan tersebut sunyi. Mereka terdiam. Tak terucap sepatah kata pun. Hanya suara jam dinding. Hanya detak jantung yang berdebar sama. Kakak. Adik. Sahabat. Semua terhubung. Semua terlambat.

"Nona Lin, bagaimana keadaan ibu kalian?"

Lin Xian Mei terdiam. Tak menjawabnya. Matanya melihat ke lantai. Ke sudut ruangan. Ke mana pun kecuali ke arah Kenzo.

"(Mengapa dia diam? Apakah terjadi sesuatu?)"

Kenzo berpikir. Melihat reaksi Lin Xian Mei. Jantungnya turun. Perutnya mual. Dia tahu. Dia tahu jawabannya sebelum diajukan.

"Kak Huang, apa kau sudah makan?"

Lin Xian Mei mencoba untuk menghindari pertanyaan tersebut. Dengan mengalihkan pembicaraan. Taktik yang transparan. Tapi Kenzo biarkan.

"Aku akan makan setelah pulang nanti."Ucapnya datar

"Bagaimana jika kita makan sekarang?"

"Aku akan mentraktir mu."ucapan Lin Xian Mei bergetar menahan sesak di dadanya.

"Oh iya, aku ingin mengembalikan sesuatu."Kenzo mencoba mencairkan suasana.

Kenzo mengeluarkan dompetnya. Lalu mengambil foto Lin Xian Mei. Dan menyerahkannya. Foto yang sudah kusut. Foto yang dia bawa dari penjara. Dari dunia lama. Dari janji yang harus ditepati.

"Kak Huang, simpanlah."

Lin Xian Mei menggenggam tangan Kenzo. Tangan yang besar, kasar, berdarah. Tangan yang membunuh untuknya. Tangan yang menyelamatkannya.

"Nona Lin?"

"Kak Huang, boleh aku mengatakan sesuatu?"

"Hah? Katakan saja."

Tiba-tiba mata Lin Xian Mei berkaca-kaca. Karena tak kuasa menahannya, Lin Xian Mei memeluk Kenzo. Lalu menangis tersedu-sedu. Tubuhnya bergetar. Air mata basah di dada Kenzo. Bau sampon dan sedih.

"Kak Huang..."

"Nona Lin kenapa?!!"

"Ijinkan aku bersandar kepadamu sebentar."

Melihat kondisi Lin Xian Mei, Kenzo pun menyerah. Dia membiarkan Lin Xian Mei menangis dalam pelukannya. Tangan kanannya terangkat, ragu, lalu menurun. Menepuk punggung gadis itu. Pelukan pertama dalam bertahun-tahun. Pelukan yang bukan untuk membunuh. Tapi untuk menenangkan.

Setelah menangis untuk waktu yang cukup lama, akhirnya Lin Xian Mei pun melepaskan pelukannya. Wajahnya merah, mata bengkak, tapi sedikit lebih ringan. Sedikit lebih bebas.

"Apa terjadi sesuatu?"

Lin Xian Mei terdiam. Lagi. Tapi kali ini lebih pendek. Lebih siap.

"Kak... selama ini aku berjuang sendiri. Hinaan selama ini telah membuatku tertekan."

"Setelah kematian Kak Lin Dong, ibu terkena serangan jantung."

"Karena butuh uang, aku meminjam ke para preman tersebut."

"Tetapi..."

"Nona Lin, kenapa? Tetapi apa?"

Kenzo mulai tak sabar. Dan penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Tangan kirinya mengepal. Ngeri yang diajarkan oleh pengalaman.

"Ibu meninggal. Dan mereka mengejar-ngejar ku."

Lin Xian Mei kembali menangis. Tapi kali ini lebih pelan. Lebih habis.

"Mereka menginginkan tubuhku sebagai ganti bunga pinjaman."

"Mereka ingin menjual ku."

Mata kiri Kenzo pun memerah mendengar cerita Lin Xian Mei. Merah darah. Merah amarah. Namun kesadaran Kenzo berusaha menolak perubahan tersebut. Bukan sekarang. Bukan di sini. Bukan di depannya.

Setelah kemarahan Kenzo mereda, dia pun menghela nafasnya. Panjang. Dalam. Berat.

"Nona Lin, sebenarnya aku telah berjanji kepada Kak Lin Dong untuk mencari kalian dan menjaga kalian."

"Ternyata aku terlambat!!!"

Kenzo mengepalkan tangannya. Dan memukul pahanya sendiri. Bunyi debum yang keras. Rasa sakit yang pantas. Rasa sakit yang tidak cukup.

"Kak Huang..."

"Kau tenang saja. Mulai sekarang aku akan menjagamu."

"Itu janjiku kepada kalian."

Lin Xian Mei pun memeluk Kenzo. Lagi. Tapi kali ini berbeda. Bukan karena sedih. Karena harapan. Karena akhirnya, setelah sekian lama, dia tidak sendiri lagi.

"Terima kasih, Kak Huang."

...BERSAMBUNG...

...****************...

1
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
nah loh sapa tuh Kenz, kira-kira mau dibeli baik-baik Xiu nya atau diambil cara paksa?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
Kenzo partner Kamu diculik tuh
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
bergabung dengan visi dan misi masing masing, yg pasti gak ada ketulusan. tapi semoga aja Kenzo gak dapat cewek lagi.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
owalah saya kira Buu komandan berbeda ternyata sama kaya sapa itu namanya yg bos nya Kenzo? Liu klu gak salah.
ᴠͥɪͣᴘͫ ⛩️ ⃝𝕸𝖗.𝕸ཧཱོ࿐☯️: sengaja biar nanti pada nebak sendiri di akhir bakal dengan siapa Kenzo 🤭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
Udah ada berapa perempuan diantara Kenzo nih? Empat ya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
kasihan Lin, miris... gak rela Lin sama Kenzo.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
sama Liu kan cuma kebutuhan, bukan cinta.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
ini berbaju gak ceweknya?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
Jangan sampe gadis yg diselamatkan Kenzo naksir juga.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
cuma sama Lin Xian Mei Kenzo bisa grogi
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
kenapa cuma mata kiri? kenapa gak dua-duanya. apa ada kelebihan Dimata Kenzo lepas dari penjara.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
jadi sebenernya Kenzo ini jahat atau GK ya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
Liat saja nanti kalau YueYan sedikit lebih dewasa, Kenzo pasti tergoda juga.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
berapa banyak target yg harus dihabisi Kenzo.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
Wow Kenzo sama Liu ternyata
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
Jarak cuma sepuluh tahun, tunggu saja dewasanya Yueyan
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
bukan permainan Liu kan sabotase panti ini?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
wuih Nenek minum bir? aman? gak apa" gitu?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
oh Kenzo tinggal di panti dgn Yue ya saya kira cuma nginap. awas Yue nanti jatuh hati dgn Kenzo
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
akankah Kenzo dipertemukan kembali dgn Yue
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!