NovelToon NovelToon
Cinta Maraton

Cinta Maraton

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:164
Nilai: 5
Nama Author: Eli Elita Septiyani

menceritakan tentang perjalanan seorang wanita yang mencari cinta sejatinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Elita Septiyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

sing for to you

Malam itu saya tertidur, dan menemukan secarcik surat dari teman SD yang bernama dion , lalu dion bilang semenjak dari kecil memperhatikan saya sampai Kelas 6 SD dy berlari mengejar dan umam duduk melihat saya dari jauh, si dion berlari mengejar seperti orang yg menerkam, lari 🏃 seperti orang ketakutan, untung tidak jatuh 

Kemudian setelah lulus sekolah dan kuliah, saya bekerja di rumah, lalu 2 bulan kemudian saya bekerja kembali selama 2 tahun dirumah sakit, hal yang pling mengesankan berdiri di Jabal Rahmah dan berswafoto bersama dokter, istri dan anak-anaknya serta 1 selir abdul hadi salman apa sepertinya saat itu saya berdo'a untuk bertemu jodoh 

Pulang selama 1,5 tahun saya tidak kemana -kemana hanya bekerja, panggilan alam menyuruh saya ke Madinah, untuk bekerja bersama dr. Muhammad yang selalu ribut wkwkkwkwk

Krena saya cengeng dan lembut, hal apa saja ribut langsung nngis, konyol emang, trus saya pulang dan membuat kekacauan mungkin krena saya disuruh bekerja disana kembali ke sana, bagaimana mungkin Laila yang bercadar menemani saya dan selalu ingin saya kesana dengannya? 

Percakapan hri ini : 

Laila:" Kamu hari ini kemana? Saya di kos lama, suami udah di Arab, anak laila diindonesia “ Kamu gak kesini? ”

Li:" Gak ada kendaraan, dan bensin mba "

Laila :" Yaudah saya duluan kesana mba" 

Li :" Kenapa setiap kamu berangkat cepet banget " 

Laila :" Iya mager banget suami udahh di Arab, ya saya chat cwok lain lah yg deket disitu, banyak cwok ada 2 , 4 " 

Li :" Beneran? "

Li :" Udah ah dirumah aja, coba cari cara ngelamar kerja online, offline " 

Laila : “ Ya mba”

Hari berlanjut tiba-tiba fantasi ✨🤤💭saya merindukan lelaki belahan jiwa, dari SMP atau SMA ya saya selalu ingin bersama nya 

Trus selama itu saya li mengajaknya diatas awan, berkelanjutan malam pertama beratus-ratus kali, Tiba-tiba dada saya sakit dan tidak bisa bernafas 

Ada apa gerangan? 

Apakah ini romansa yang hit atau hot 🥵

Mungkin makanan yang saya makan bnyak gorengan 🤣 terlalu banyak minyak jadi takut kolestrol, untung dijaga pola makannya seperti 3 pcs gorengan seminggu 1x

Cerita li bertemu mawar dan mawar di kesempatan yang tidak biasa, Bryan membawa li ke mawar dan menunjukan sekolah international mereka 

Membawa ke dalam pendidikan tinggi supaya tidak gaptek dan mendapatkan uang yang bnyak, kami berempat pergi ke luar negeri main salju menyelesaikan pendidikan di Oxford University seperti maudy ayunda dan kekasihnya 

Pagi 🌞yang cerah 

Mawar :" Li, maudy, Laila mari kita lari pagi " 

Li :" Hyuk kita berlari mengejar mimpi " 

Maudy :" Guys ibu senior mau, kalian sehat " 

Kami pun lari pagi dan selamat beraktivitas untuk para suamik 

Ketika girls time, kita makan bersama dan bermain salju, Tiba-tiba selena dan temannya menghubungi kita untuk berenang bersama 

Dan melakukan dinner 

Selena :" How are you guys “ Ma with Benny my husband going to know all you ”

Maudy :"  I Ma good " 

“How's our birthday🎂 to eating cake for celebration our study ”

Saya tidak ikut, saya takut jdi pancake 

🤣🥲🤗😅

Mawar: “Who is the one protect you? ”

Li ,kiki& Laila :"our husband  AEm his husband different with me, all our husband different right" 

Maudy :" Yes cause we are not cheating and always make our life happy " 

Semester 1 berlanjut, semester 2 juga berlanjut, lalu 4 tahun sampai dengan 6 tahun kami belajar 

Lalu 

Tiba-tiba ada Lee jong sook dan iu mengajak kami bermain film dinegara masing-masing serta bernyanyi 

Kirimkan sebanyak-banyaknya kegiatan yang kita lalui : 

°makan siang 

°main bersama ice skatting 

°n dinner 

°Berenang ditempat pemandian hangat 😄😊

Mawar :" Sayang 💕 sayang kapan kita ke Jawa setelah lulus? “ Untuk bermain film Bryan para perasuk” 

Bryan :" Iya nonton ya guys "

Setelah mengadakan walimah Benny dan selena pamit kembali ke negaranya 

Li :" Selena tell me to take care " 

Laila :"" Jangan berenang tanpa baju walaupun perempuan semua " 

Li :" Iya sayang" 

Mereka setiap ramadhan melakukan puasa dan sholat 5 waktu serta bekerja sebagai tenaga corporation dimasing -masing perusahaan 

Mereka juga belajar mengaji 

Bersama guru yang luar biasa sabar mengajarkan kami baca kitabb muslim 

Maudy :“Dud you know about suyatni? She is going to another cauntry to see all people and man ”

Mawar :“Where she go? ”

Li : “She going to kwait ”

“Ini kisah dinegeri awan kan? Kenapa kalian bertatto? Ditangan asal jangan disiku ” Ajeng kepo karena ada artis Korea 

Selena: “ She is so like Korean drama netflix ” 

Kiki :" Sudah lama kita kuliah waktunya bekerja mengumpulkan dolar 💵"  

Dwi pun dan ferry ⛴ melakukan penugasan ke Palestina dan Israel karena dwi seorang tentara dan ferry adalah kapal untuk memuat muatan tentara, kami menyelamatkan anak -anak, menghibur dan tidak tau urusan tentara dwi dan kapal ferry yang berlayar seperti Titanic 

Beberapa menit setelah selesai make up dwi haqumuvita merias pengantin, aku terkejut saat ibu tiba-tiba datang dan melemparkan sebuah obat padaku. Aku pikir, itu obat biasa agar aku tidak kelelahan. Ternyata ....

"Minum itu sekarang juga! Jangan biarkan perutmu mengandung anak darinya!"(4)

"Jangan pernah menolak suami, dosa!"

*

Keesokan harinya, aku bangun kesiangan karena kelelahan. Mas Dirga memperlakukanku dengan sangat kasar. Tidak lemah lembut, seperti sikapnya dulu ketika pertama kali kita bertemu.

Apa benar yang dikatakan Ibu? Apa ini karma karena aku tidak mau mendengarkannya? Bahkan menentang keras yang ada! Ah, mungkin Mas Dirga marah karena aku sempat menolak ajakannya.

"Bangun, sudah pagi!"

Mas Dirga menyingkap tirai jendela. Setelah itu, ia berjalan menghampiriku.

Aku menatapnya dari atas sampai bawah. Rupanya ia sudah siap dengan setelah kemeja, rapih.

"Mas, aku 'kan belum ini, kenapa tirainya dibuka?" ucapku kesal seraya menarik selimut yang menutup tubuhku.

"Kacanya gelap kok, dari luar gak keliatan!" sahut Mas Dirga enteng. "Mending sana mandi, habis itu siapin makan! Mama sudah bangun dari tadi, tapi gak sempet masak karena repot sama anak-anak."

Aku tersentak.

Baru sehari di rumah mertua saja, aku sudah kesiangan. Rusak sudah harga diri jadi menantu idaman. Tidak mau Mas Dirga marah lagi, gegas aku beranjak ke kamar mandi dengan tergopoh-gopoh karena menggunakan selimut sebagai penutup badan. Meskipun kita sudah menikah, tetap saja aku malu, bukan?

Selesai mandi, lagi-lagi aku bingung harus mengenakan apa lagi. Aku tidak punya baju sama sekali, pun kalau minta sama Mas Dirga, pasti dikasih bajunya yang sudah tidak terpakai seperti kemarin-kemarin.

Tiba-tiba, terdengar pintu diketuk dengan sangat keras.

"Kamu lama banget di kamar mandi. Ngapain aja, sih?!" teriak Mas Dirga dari luar sana.

"Mas, aku 'kan nggak punya baju. Udah gitu nggak bawa handuk juga!" sahutku sedikit berteriak.

"Yasudah, bentar!"

Setelah mengatakan itu, aku mendengar derap langkah kaki berjalan menjauh. Lagi, rasa harap kembali menyergap, melupakan kejadian-kejadian yang terjadi semalam.

"Nindi!"

Suara itu kembali terdengar, padahal belum lama ia pergi.

"Iya Mas," sahutku pelan.

"Nih, bajunya, buka dulu pintunya!" ucap Mas Dirga kemudian.

Aku menghela napas sejenak, perlahan, aku menyembulkan kepala ke luar. Begitu mataku menangkap baju yang berada di tangan Mas Dirga, seketika mataku membulat sempurna. Bukan itu baju baru sesuai pintaku. Bukan juga baju kaos bekas Mas Dirga seperti sebelumnya, melainkan sebuah daster lusuh, dengan beberapa bagian yang sudah robek, lalu dijahit ulang.

"Ini baju asisten rumah tanggaku yang dulu, kebetulan bajunya masih ada sebagian. Kamu pakai baku ini aja. Masih pada bagus kok." ucap Mas Dirga menjelaskan tanpa merasa bersalah. "Oh ya, yang lainnya aku simpen di lemari kecil, itu, ya?"

Mas Dirga menunjuk lemari kecil yang ada di pojok kamar.

Aku hanya diam tidak mampu menjawab semua perkataan yang terlontar dari mulut lelaki yang kucintai itu. Bahkan sangat. Sampai-sampai aku tidak mau mendengarkan Ibu sendiri. Namun, apa ini? Kenapa dia berperilaku seolah-olah aku orang asing, bukan istrinya. Terbukti dari pelitnya ia memberi baju yang bahkan aku tidak meminta lebih, hanya layak untuk dipakai.

"Kenapa?" tanya Mas Dirga membuyarkan kesadaranku. "Nggak mau? Kalau nggak mau ya udah!"

"Enggak, Mas!" Aku menarik tangan Mas Dirga yang hendak menjauhkan daster itu dari hadapanku.

Tidak banyak protes, aku langsung mengambil baju daster itu, lalu masuk kembali ke dalam kamar mandi.

"Ya sudah, sana cepetan! Aku udah lapar, jadi, telat kerja juga, kan."

Samar, aku mendengar protesan Mas Dirga setelah pintu ditutup rapat.

Selepas mengenakan daster, aku bingung harus mengenakan apa lagi. Mau pake make up nggak ada, jangankan make up, bedak pun tidak ada sama sekali. Aku menyepol rambutku dengan asal, lalu gegas pergi ke dapur untuk membuat sarapan.

Ternyata, rumah ini jauh lebih besar dari yang kukira. Aku sampai bingung letak dapurnya di mana. Rumahnya begitu banyak ruang yang aku sendiri sama sekali tidak tahu apa kegunaan semua ruang ini.

"Tante mau ke mana?"

Tiba-tiba, seorang anak lelaki menghampiriku.

Aku menatapnya, tersenyum.

Aku sangat ingat betul siapa anak ini. Dia anak yang semalam melemparkan bola tepat mengenai wajahku.

"Tante lagi cari dapur. Dapurnya di mana, ya, Fadil?" tanyaku berharap mendapatkan bantuan. "Tante cari-cari, kok, nggak ketemu."

"Oh, mau masak, ya, Tan?" tanya Fadil.

Aku mengangguk perlahan untuk mengiyakan.

"Biar aku anter aja, yuk!"

Seketika Fadil menarik pergelangan tanganku.

Aku tidak menolak, gegas mengikuti ke mana langkahnya membawaku pergi.

Setelah beberapa kali melangkah, tibalah kami di dapur dengan nuansa yang sangat indah. Dapur ini berwarna putih dipadukan dengan hitam. Tidak lupa, beberapa pernak-pernik yang mengkilap, mampu membuat mataku terpesona.

"Tante mau masak apa?" tanya Fadil membuyarkan lamunanku yang sedang terkesima akan dapur mewah ini.

"Nggak tahu Dil, kita lihat dulu bahan-bahannya ada apa," ucapku seraya berjalan mendekati kulkas yang berada di pojok dapur.

Begitu kulkas itu dibuka, lagi-lagi aku terkesima melihat pemandangan kulkas yang penuh dengan aneka makanan. Pasti Mas Dirga atau Ibunya rajin belanja, terbukti dari semua sayur, daging, dan aneka bumbu, yang super lengkap ini.

"Wah, banyak banget ini Fadil!" ucapku antusias. "Enaknya masak apa, ya?"

"Apa aja, Tan, yang penting enak!. Aku pasti lahap makan!" sahut Fadil seraya terkekeh ringan.

Aku tersenyum tipis, lantas kemudian mengambil beberapa sayur dan juga daging. Aku rasa, masak sop sama gulai, boleh, kali ya?

Fadil membantuku memilih-milih sayuran dan juga bumbu. Pun sesekali kusuruh untuk mencuci sayuran yang sudah kupotong-potong.

"Oh, ya, makasih, ya, Dil. Kamu baik banget udah mau nganterin tante, eh, sekarang bantuin masak lagi!" ucapku kemudian memecahkan keheningan.

"Nggak apa-apa, Tan, aku juga pernah nyasar kok!" sahut Fadil seraya tersenyum lebar.

"Nyasar?" tanyaku memicingkan mata.

"Iya."

"Waktu awal-awal main ke sini, ya?" tanyaku lagi.

"Bukan, Tan," ucap Fadil mengoreksi.

"Lah, terus?" tanyaku penasaran.

"Iya, kan Fadil emang tinggal di sini, cuman dulu nggak boleh ke luar kamar aja sama Om Dirga. Jadi, pas ke luar, ya, nyasar, deh!" sahut Fadil menjelaskan.

"Tunggu, tinggal di sini? Terus Mama kamu tinggal di sini juga?" ucapku seraya menatap Fadil tak percaya.

Aku tidak melihat orang lain selain Mas Dirga dan Mamanya. Paling, ya, anak-anak itu. Apa orang tua Fadil yang disebut Ibu waktu itu? Terus orang tua yang lainnya, yang mana?

“Nggak. Mamaku ....”

 

-tamat-

 

 

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!