Hujan turun tanpa jeda malam itu, di kamar kos sempit berbau lembab, Dian terbaring sendirian, tidak ada keluarga yang menemani Dia hidup sebatang karang, hanya terdengar suara tetesan air dari atap bocor, nafasnya semakin berat. Perutnya kosong sejak kemarin Dian belum makan apapun, Dian sudah terbiasa menahan lapar, sejak kecil Dia hidup tanpa orang tua bekerja serabutan berpindah-pindah tempat tinggal. Menahan hinaan, rasa dingin sendirian, seakan dunia tidak pernah memberinya pilihan.
Namun malam ini terasa berbeda, tubuhnya terlalu lemah untuk bangkit, pandangannya mulai kabur, Dia menatap langit-langit atap yang bocor dan tersenyum tipis, "Apa memang hidupku cuma sampai disini..?"
Malam itu hujan turun semakin deras, angin menyusup dari celah jendela membawa hawa dingin yang menusuk tulang.
Nantikan kelanjutan cerita yaa🌹🌹
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Twis G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 14
Harimau kecil itu baru saja ingin melompat keluar ketika Yin Yin dengan cepat menekan kepalanya kembali ke dalam keranjang.
"Diam!" bisik Yin Yin pelan.
Harimau kecil itu berkedip dengan mata emasnya, lalu menggeram kecil tidak puas, tetapi akhirnya kembali meringkuk. Sementara itu, beberapa kultivator berjubah berjalan melewati pasar dengan langkah santai, pedang panjang tergantung di pinggang mereka, pakaian bersih dan elegan, jelas berbeda dengan para petani desa.
Salah satu dari mereka berhenti sebentar, matanya menyapu kerumunan, "Aneh..." gumamnya pelan.
Temannya menoleh, "Apa?"
"Aku tadi merasakan aura energi spiritual."
Kultivator lain menggeleng santai, "Kamu terlalu sensitif, ini hanya pasar desa biasa."
Sementara mereka berbicara, Yin Yin menatap mereka sejenak, di dalam pikirannya Dia memanggil sistem dengan cepat.
"Sistem, apa mereka bisa merasakan kehadiran harimau itu?"
DING!
[Tidak Tuan Rumah, cincin penekan aura spiritual telah aktif]
[Selama target berada dalam radius lima meter dari pengguna, aura spiritualnya akan ditekan sepenuhnya]
Yin Yin langsung menghela napas lega. "Syukurlah..."
Dia diam-diam menepuk keranjang kecil tempat harimau itu bersembunyi, "Jangan bergerak, kita bisa ketahuan oleh mereka."
Harimau kecil itu hanya mengibaskan ekor malas.
Para kultivator akhirnya berjalan melewati mereka tanpa berhenti, salah satu bahkan sempat membeli buah dari pedagang lain, lalu mereka keluar dari pasar desa seolah tidak terjadi apa-apa.
Yin Yin akhirnya benar-benar lega, "Sistem, hampir saja kau membuatku kena serangan jantung."
DING!
[Sistem tidak bertanggung jawab atas kondisi jantung Tuan Rumah]
Yin Yin memutar matanya malas, sistem ini tak bisa di ajak bercanda. Tak lama kemudian, roti terakhir mereka terjual, seorang pria tua membeli dua roti terakhir sambil tersenyum.
"Anak kecil, besok jual lagi ya."
Yin Yin langsung mengangguk semangat, "Tentu! Kek, aku akan jual lebih banyak besok."
"Baik nak, Kakek tunggu."
Ketika pasar mulai sepi, Yin Guo Shan menatap keranjang kosong mereka dengan wajah masih tidak percaya, "Kita benar-benar bisa menjual semuanya."
"Iya Ayah,"
Yin Yin mengeluarkan kantong kecil berisi koin tembaga, "Dan kita menghasilkan banyak uang hari ini."
Ketika koin-koin itu dituangkan ke telapak tangan ayahnya, suara *cling cling* langsung terdengar.
Mata Yin Guo Shan melebar, "Banyak sekali..."
Yin Yin tersenyum puas, "Iyaa, hari ini kita bisa membeli banyak barang."
Ayahnya tertawa kecil lalu mengacak rambutnya.
"Baiklah, mari kita belanja sebelum pulang."
Mereka pun berjalan menyelusuri pasar, pertama mereka membeli beras dari pedagang biji-bijian, Yin Yin berdiri di samping karung beras sambil menatapnya dengan mata berbinar.
"Akhirnya aku bisa makan nasi!"
Pedagang itu tertawa kecil melihat ekspresi anak kecil itu.
"Apa kamu tidak pernah makan nasi?"
Yin Yin menggeleng serius, "Hampir tidak pernah."
Yin Guo Shan melihat itu tersenyum pahit, dia sebagai kepala keluarga belum bisa berikan yang terbaik untuk anak-anaknya.
"Maafkan Ayah ya nak."
"Ayah, aku tidak apa-apa, gandum juga enak. Aku senang karena aku punya resep baru yang cocok makan dengan nasi." ucap Yin Yin sambil tersenyum, Dia tidak ingin ayahnya sedih.
"Baiklah, ayah percaya padamu,"
Setelah membeli satu karung kecil beras, mereka berjalan ke penjual bumbu dapur.
Mereka membeli garam, bawang kering, dan beberapa rempah sederhana. Di zaman ini belum ada cabe, hanya lada atau merica, Dia ingin minta bantu sistem untuk membeli bibit cabe di toko sistem.
"Nanti saja, aku tanya sistem saat di rumah."
Yin Yin juga membeli sedikit gula batu "Untuk membuat roti lagi, butuh gula juga." katanya serius.
Kemudian mereka berhenti di kios kecil yang menjual permen, Yin Yin memilih beberapa permen warna warni, "Ini untuk Yin Chen, Meli dan Xiao Lan mereka pasti suka aku bawakan permen ini."
Mendengar ucapan Yin Yin pedagang itu tersenyum, "Kamu kakak yang baik, masih memikirkan adik-adikmu."
Yin Yin hanya tersenyum tipis.
"Ah, aku lupa belikan untuk si kecil."
Untung mereka belum keluar dari toko. "Pak satu lagi ya permennya".
"Baik, ini permennya." kata pedagang itu sambil menyerahkan permennya.
"Makasih pak,"
"Sama-sama nak."
Ketika mereka hampir selesai berbelanja, Yin Guo Shan tiba-tiba berhenti di depan kios kecil yang menjual aksesoris sederhana, disana ada jepit rambut kayu, gelang bambu, dan beberapa tusuk konde sederhana.
Ayahnya mengambil satu tusuk konde dari kayu yang dipoles halus, tidak mewah tapi terlihat cantik.
"Ini cukup bagus."
Yin Yin menatap ayahnya penasaran, "Ayah membeli itu untuk siapa?"
Yin Guo Shan tersenyum lembut, "Untuk ibumu, siapa lagi, kamu dan Meli kan masih kecil, nanti kalau sudah dewasa ayah akan belikan juga."
"Wah, benarkah, janji ya, ayah nanti belikan juga punyaku."
"Iya-iya, ayah belikan nanti."
Yin Guo Shan membayar dengan beberapa koin tembaga lalu menyimpan tusuk konde itu dengan hati-hati.
Yin Yin tersenyum kecil melihatnya, "Aku baru tau, Ayah romantis juga."
"Apa?"
"Ah tidak apa-apa, hehehe."
Tak lama kemudian mereka berjalan keluar dari pasar dengan membawa banyak barang, karung beras di punggung Yin Guo Shan, sementara Yin Yin membawa kantong kecil berisi bumbu dan permen, di dalam keranjang, harimau kecil itu mengintip keluar sedikit, matanya berkilau melihat kantong permen.
"Krr?"
Yin Yin yang melihat harimau kecil itu, Dia mengambil satu permen dan memberikannya.
"Nah, punyamu, teman kecil."
Harimau kecil itu menggeram kecil dengan mata yang berbinar, dia menjilat tangan Yin Yin seolah mengucapkan terima kasih.
Perjalanan pulang terasa jauh lebih ringan dibanding saat mereka datang, angin pagi berhembus pelan melewati jalan desa, Yin Yin berjalan sambil menghitung rencana dalam kepalanya.
"Hari ini roti habis terjual, besok kita bisa membuat lebih banyak, lalu mungkin_"
Dia tiba-tiba berhenti berjalan, matanya menyipit seolah merasakan ada yang mengintai mereka.
"Sistem."
DING!
[Iya, Tuan Rumah]
Yin Yin menatap jalan desa yang menuju rumah mereka, "Aku merasa, ada seseorang yang mengikuti kita."
Angin tiba-tiba berhenti berembus, dari kejauhan, tepatnya di atas pohon tua di pinggir jalan sepasang mata dingin sedang mengawasi mereka diam-diam.
Bersambung....