Nara menjalin hubungan asmara dengan Dewa sejak duduk di bangku SMA. Lima tahun kemudian Nara dilamar sang kekasih. Tetapi, di hari pernikahan, Nara menikah dengan orang lain yaitu Rama.
Rama adalah tunangan sepupunya yang bernama Gita.
Hidup memang sebercanda itu. Dewa dan Gita diam-diam menjalin hubungan di belakang Nara. Hubungan itu hingga membuahkan kehidupan di rahim Gita.
Demi ayahnya, Nara menerima Rama. Menjadi istri dari lelaki yang tidak punya pekerjaan tetap.
Simak cerita selengkapnya 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_va, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cincin Berlian
Rama mengecup bahu istrinya yang tidur memunggungi. Ia mulai menyukai aroma sang istri, yang tersimpan di otak. Rama menarik selimut yang hanya menutup sampai pinggang.
Selimut itu menyembunyikan tubuh polos istrinya. Rama berjanji dalam hati, besok tidak akan minta dilayani. Memberikan jeda sehari atau dua hari. Tubuh Nara penuh dengan tanda cinta. Rama merasa kalau ia suami yang melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Namun rasanya tidak sanggup jika dua hari atau lebih. Rama akan berusaha semaksimal mungkin.
Rama berjalan ke kamar mandi tanpa sehelai benangpun. Mengguyur badannya dari kepala. Shampo sampai berbusa-busa, lanjut menyabuni badan. Setelah membilas badannya, Rama meraih handuk biru tua, yang dililitkan di pinggang seraya keluar kamar mandi.
Nara masih pulas, nanti saja dibangunkan. Baju-baju yang berserak dilantai diambil satu per satu, kemudian ditaruh di keranjang pakaian kotor.
Rama yang sudah memakai kaus dan celana, membuka pintu belakang rumah. Menikmati sebatang rokok. Sejak keluar dari rumah orang tuanya, ia jadi perokok aktif. Walaupun begitu, ia masih mampu membatasi jumlah rokok dalam sehari, yakni kisaran tiga sampai empat batang.
"Aku kira ke mana ...."
Kepala Rama menoleh ke belakang, melihat Nara yang memegang selimut yang menutupi tubuh. Rambut berantakan sekali.
"Ngelamunin kamu," kata Rama.
Nara mengerutkan hidungnya.
"Aku terharu mendengarnya."
"Jadi makan di restoran tadi?" tanya Rama.
"Nggak, Mas. Capek. Lain kali aja," tolak Nara, berjalan pelan ke kamar mandi. Miliknya terasa sedikit panas.
"Atau aku pesankan?"
"Pizza-nya aja, Mas," jawab Nara.
"Aku pingin nasi goreng malam ini."
"Pizza apa?"
"Kalau ada keju mozzarella." Nara pun menutup pintu kamar mandi.
Rama memesan satu pizza ukuran sedang. Rokok yang masih separuh digilas di asbak. Sesuai permintaan istrinya, ia meracik bumbu nasi goreng.
"Telurnya dicampur, ceplok, atau dadar?!" tanya Rama. Suaranya melengking tinggi.
"Ceplok, agak gosong!" sahut Nara.
Nara keluar kamar mandi sepuluh menit kemudian. Sekarang dia berani keluar hanya memakai handuk. Sebelumnya, selalu berpakaian lengkap di kamar mandi.
"Pedesnya sedengan, Mas," pinta Nara.
"Siap." Rama mengangguk.
Nara memakai setelan piyama kuning muda. Rambutnya yang setengah basah dijepit asal. Membantu suaminya memasak.
"Aku akan jujur pada bapak ibu. Aku nggak mau membohongi mereka," kata Rama.
"Aku khawatir, bapak ibu meragukan kamu, Mas." Nara mengesah. Bagaimana kalau kedua orang tuanya menuduh Rama lari dari kesalahan fatal? Bagaimana kalau tidak percaya? Bagaimana kalau disuruh pisah, padahal sudah jatuh cinta? Masak iya patah hati lagi.
Rama memindah nasi goreng ke piring.
"Tapi jujur lebih baik, Sayang. Bapak dan ibu orang yang bijaksana."
Nara menarik napas panjang.
"Kalau bapak ibu nggak percaya, aku tetap percaya sama Mas Rama."
"Terima kasih, sayang." kata Rama.
"Aku nggak akan menyia-nyiakan kepercayaanmu. Menjadi suami yang baik bertanggung jawab, baik, dan penurut."
Nara yang membereskan serta mencuci talenan, pisau, dan wajan. Rama ke depan, menerima pesanan pizza.
Ponsel Rama di meja makan bergetar. Nara melihat sebentar, dari Frans.
"Mas, barusan ada yang nelpon. Frans," kata Nara.
Rama menaruh sekotak pizza di meja, tangan kanannya beralih mengambil ponsel. Frans mengirim pesan, memberitahu kalau Radit sudah sadar.
"Ada apa, Mas?" Nara mengelap tangannya.
"Kakakku sudah sadar," sahut Rama.
"Syukurlah," tukas Nara. Ada guratan kesedihan di wajah sang suami. Nara pun memeluk lengan suaminya.
"Kenapa peluk peluk? Pingin lagi?" goda Rama.
"Nggak. Capek banget. Kakiku tadi gemeteran, mana lapar." Nara melepas lengan Rama.
Mereka memilih makan di ruang depan karena Rama ingin nonton sepakbola.
...****************...
Yuda sedang mengepel lantai teras. Mata pemuda itu melihat Yuni yang keluar rumah, berjalan ke depan memutari pagar. Sebelum ada pagar tidak perlu ke depan dulu, langsung berjalan ke arah samping.
"Eh, Yud. Ini undangan pernikahan Gita," kata Yuni, menaruh undangan di lantai yang basah.
"Iya, nanti kasih ke bapak," sahut Yuda.
"Kemarin kapan, Mbak Nara bulan madu ke mana?" tanya Yuni.
"Nggak tahu." Yuda menggerakkan alat pel seraya berjalan mundur.
"Tanya aja ibuk saja."
Yuni mencebik, karena Yuda cuek bebek. Kemudian berbalik ke rumahnya.
"Mau apa si Yuni?" Risna yang baru selesai mandi keluar rumah.
Yuda berhenti, dagunya menunjuk undangan yang tergeletak di ujung teras.
"Bakar aja, Yud," suruh Risna. Merasa diejek. Baginya keluarga Gita adalah musuh utama. Tidak akan pernah dimaafkan.
Yuda hanya mengangguk, kembali mengepel sambil bersiul. Belum mengambil undangan berwarna merah dan emas itu. Dia tidak membakarnya, tetapi digunting kecil-kecil yang berakhir di tempat sampah.
"Sudah kamu bakar atau dibuang?" tanya Risna.
"Sudah," jawab Yuda.
"Apa yang dibuang atau dibakar?" Rahmat yang baru saja pulang bekerja.
"Si Yuni ngasih undangan pernikahan Gita," terang Risna.
"Maksudnya apa coba?"
"Pengen bikin ibuk marah-marah dan panas." Yuda menyahut.
"Betul itu," timpal Rahmat.
"Biarkan saja si Yuni."
Risna menarik napas dalam-dalam. Anggota keluarga lain diberi kain seragam. Dia tidak peduli karena memang bukan hal penting.
Yuda merangkul bahu ibunya. "Dibawa santai, Ibuk...."
"Mana bisa, Yud."
"Bisalah. Tahu nggak tadi, Bude Yuni penasaran di hotel mana mbak Nara dan mas Rama nginep. Itu pertanda mereka panas dan nggak tenang lihat mbak Nara bahagia," cerocos Yuda.
Risna manggut-manggut. Yuni pamer ke tetangga bahwa pernikahan Gita cukup mewah. Baju pengantin tidak menyewa, Gita memesan khusus di butik.
"Kamu benar, Yud. Kamu belum boleh pacaran," kata Risna.
"Kok jadi itu sih, Buk." Yuda melepas bahu ibunya. "Besok nggak mau bantu ngepel ah...."
"Belajar lebih penting!" seru Risna.
Yuda tidak merespons, terus berjalan ke belakang.
...****************...
Restu menimang bayi yang baru berusia dua puluh dua jam. Lelaki itu sangat senang mempunyai cucu yang cantik.
"Mirip Radit, kan?" Restu memandang Sekar yang duduk di sofa.
"Iya," sahut Sekar singkat. Hanya untuk menyenangkan Restu. Baginya, si bayi lebih mirip Bianca.
Sekar berusaha bersikap penuh empati dan kasih sayang pada Bianca, karena ibu melahirkan butuh ketenangan. Sekar bersabar sampai waktu yang tepat.
"Namanya siapa, Bia?" tanya Sekar, perlahan berdiri. Sekar meminta Restu membaringkan bayi di boks.
"Nindy." Bianca menyahut pelan.
"Nama yang bagus. Halo, Nindy." Sekar menyentuh tangan kecil itu. Entah mengapa tidak ada keterikatan batin dengan cucu pertamanya. Terasa asing.
Sekar kemudian mendekati Bianca, mengucapkan selamat karena telah menjadi seorang Ibu. Sekar juga memberikan hadiah gelang emas.
"Terima kasih, Ma," ucap Bianca.
"Kami pamit dulu ke kamar Radit," kata Restu.
"Iya, Pa...." sahut Bianca.
Karina yang berada di ruangan dari tadi hanya berdiam diri memperhatikan besannya.
Setelah kedua besannya pergi, Karina mendekati Bianca. Meraih kotak perhiasan yang tadi diberikan Sekar.
"Kasih hadiah gelang??" katanya sinis.
"Memang mau hadiah apa?" Bianca tersenyum miring.
"Sebentar lagi aku yang akan memberikan hadiah untuk ibu mertuaku yang sombong."
"Kamu benar sekali." Karina tertawa kecil.
Di koridor rumah sakit, Sekar dan Restu berjalan bersisian menuju kamar Radit. Radit sudah melihat putrinya walaupun hanya tiga detik.
Tubuh bagian pinggul ke bawah Radit terasa lemah, hanya bisa bergerak lambat. Radit juga mengalami ingatan jangka pendek yang kacau. Kadang lupa apa yang sudah dilakukan atau yang dibicarakan. Sehingga disuruh mencatat kegiatannya setiap lima belas menit.
Sekar berdiri di pinggir ranjang. Tersenyum, tapi wajahnya menyembunyikan duka.
"Kamu akan pulih seperti semula. Bisa berjalan, bahkan memanjat tebing lagi."
Radit yang pucat dan kurusan tersenyum tipis.
"Apa kamu ingin bertemu Bianca?" tanya Sekar.
Radit tidak ingat. Memberikan catatan untuk Sekar. Sekar membaca catatan yang baru dimulai enam jam yang lalu. Radit menulis: Bia di kursi roda masuk ke kamar. Kami bergenggaman tangan.
Buku catatan itu diletakkan di meja. Sekar mengusap lembut lengan Radit. Ingin sekali bertanya kenapa bisa terjatuh. Karena selama ini baik-baik saja, kadang hanya mengalami cedera ringan. Akan tetapi, kondisi Radit tidak memungkinkan. Sekar akan menunggu sampai Radit pulih.
Sekar duduk di sofa, dia menerima pesan singkat dari Abra. [Nyonya, saya di sekolah TK Bianca. Tetapi nama Bianca tidak ada.]
Kepala Sekar mendongak. Memandangi Radit, semoga segera ada cahaya di dalam goa yang gelap.
"Kenapa ibumu tidak datang menjenguk Radit?" tanya Restu.
"Mama sudah menjenguk, kamu yang nggak tahu," sahut Sekar.
"Sekarang beliau sedang jalan-jalan."
"Ke mana?"
"Entah." Sekar mengedikkan bahu.
...****************...
Nara mengirim pesan, kalau besok siang akan ke rumah kedua orang tuanya bersama Rama. Karena ingin mengatakan yang sebenarnya tentang jati diri sang suami.
Ponsel dimasukkan dalam saku celana. Nara di rumah tetangga, sejak tidak bekerja dia mulai akrab dengan beberapa tetangga. Saat kerja, energinya habis karena bekerja sembilan jam. Begitu pulang hanya ingin tidur.
Sore yang cerah, sembari menunggu kepulangan sang suami. Nara duduk di teras rumah Tika, ibu muda yang mempunyai putri berusia dua tahun bernama Wulan.
"Nggak kerja lagi, Mbak Nara?" tanya Tika.
"Disuruh suami di rumah saja, Mbak," jawab Nara.
Mendadak Rena muncul, membawa kantong plastik berisi buah mangga gedong gincu, yang diberikan ke Tika.
"Mangga mahal itu. Oleh-oleh dari pacarku," ucap Rena.
"Wah, udah punya pacar. Semoga bukan suami orang ya," sindir Nara.
Rena tampak gelagapan. Perempuan yang memakai daster itu lantas menyahut sewot,
"Nggaklah. Pacarku manager di hotel."
"Sebentar lagi pindah kontrakan ya mbak Rena? Terima kasih mangganya," ucap Tika.
"Woiya jelas, setelah menikah aku pindah ke perumahan bagus. Bukan rumah kontrakan deret." Rena mengatakan dengan semangat dan berapi-api.
"Ada tamu tuh!"
Nara melihat mobil berhenti di depan rumah kontrakannya. Halaman rumah kontrakan cukup luas, sehingga mobil bisa masuk dengan leluasa.
Gita yang turun dari mobil itu. Nara terpaksa berdiri, berjalan lambat ke arah mobil. Tidak perlu ditanya tahu dari mana alamat rumah Rama, karena dulu Gita pernah datang.
"Hei, sepupuku tercinta...."
"Mau apa kamu??"
Gita menepuk-nepuk kap mobil depan.
"Hadiah dari ibu mertua."
"Kamu sudah mengatakan itu dua kali." Nara bersedekap.
"Kamu nggak punya ibu mertua yang menyayangimu, Nara," ejek Gita, tangan kanannya memberikan undangan pernikahan.
"Ajak Rama datang ke resepsi kami. Lumayan bisa makan, hemat pengeluaran sehari."
Nara mengembuskan napas. "Oh, makasih." Diambilnya undangan itu.
"Andai dulu aku menikah dengan Rama, aku akan terjebak di rumah petak itu," kata Gita.
"Mau masuk ke rumah petak kami?" Tantang Nara.
"Tidak. Aku harus fitting terakhir," tolak Gita yang melihat mobil sedan hitam eropa memasuki halaman. Mobil itu berhenti di sebelah mobil Gita. Nara pikir tamu tetangganya.
Seorang lelaki turun dari mobil membukakan pintu bagian penumpang. Perempuan tua berambut abu-abu gelap turun dengan anggunnya. Walaupun bertopang di tongkat untuk menyeimbangkan tubuhnya.
Gita melihat jari manis si nenek tersemat cincin berlian yang berkilau terkena sinar matahari sore.'
"Kamu Nara?" Si Nenek menatap Nara yang terbengong-bengong.
Org yg berpacaran kalau sudah menikah n tinggal brng akan ketahuan sifat nya
Nindy juga bukan anak radit kah 🤨🤨
Siapa dibelakang Bianca, yg pasti org penting yg bisa melindungi nya 👀
Selalu menilai diri perfect, pdhal etikamu 0 NOL, , , , pamer sana sini ciihh, , , ,
Org macam spt mu harus di panasi sama kemesraan Nara & Rama
nanggung kelanjutan nya 😬😬