NovelToon NovelToon
Agen Paling Dingin

Agen Paling Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Gangster / Action / Komedi
Popularitas:510
Nilai: 5
Nama Author: Di Persingkat Saja DPS

Mengisahkan seorang agen kocak tapi cool

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Di Persingkat Saja DPS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ke-bejadan Mukidi

Wawan tampak sedang mondar-mandir di salah satu ruangan yang tampak ada tidak istimewa nya.

Ruangan itu terasa agak kosong dan hanya ada beberapa furniture saja.

Namun, tempat ini terasa janggal untuk Wawan.

Pada awalnya Wawan cuma iseng berkeliling ruangan ini supaya terlihat sibuk oleh orang lain, tapi...

Siapa yang menyangka kalau Wawan akan menemukan sebuah pintu rahasia ketika Wawan tidak sengaja membengkokkan sebuah vas di atas rak buku.

Rak itu bergerak secara perlahan dan membuka jalan yang tidak di sangka-sangka oleh Wawan.

Sejenak Wawan terdiam sambil melihat ke arah lorong yang menuju ke arah bawah yang gelap itu.

Awalnya Wawan ingin pergi untuk memberitahu yang lain karena takut masuk ke dalam sana seorang diri, tapi...

Samar-samar Wawan mendengar ada suara isakan tangis seseorang dari dalam ruangan itu.

Alis mata Wawan seketika berkerut dan Wawan pun segera masuk ke dalam sama untuk memeriksa.

Wawan berjalan masuk dengan posisi siap siaga kalau-kalau ada serangan tiba-tiba yang datang.

Beberapa saat Wawan berjalan menuruni tangga yang remang-remang.

Tibalah Wawan di ujung tangga dan di ujung tangga itu ada jalan pendek menuju sebuah pintu kayu.

Dengan hati-hati Wawan melangkah mendekat.

Setiap kali Wawan melangkah mendekat, suara isakan itu makin jelas terdengar dan membuat jantung Wawan agak dag-dig-dug.

Setelah tiba di depan pintu Wawan langsung mendobrak masuk dan kemudian mengarahkan senjatanya pada siapapun yang bisa Wawan lihat.

"Jangan bergerak!!..." Tidak ada satupun orang yang bergerak atau balik mengarahkan senjata pada Wawan.

Tempat ini aman dan sunyi.

Tidak ada Antek-anteknya Mukidi di tempat ini, yang ada cuma...

Beberapa anak kecil dan perempuan cantik di ruangan ini yang terlihat ketakutan hingga saling berpelukan.

Dari cara mereka memandang Wawan saja sudah jelas menghambat seberapa takut mereka semua pada Wawan.

Sadar kalau tidak ada ancaman Wawan segera menurunkan senjatanya.

Sejenak Wawan diam menatap orang-orang yang ketakutan itu.

'Apa mereka ini korban penculikan?...'

'Tapi kan. Si Mukidi ini adalah orang yang bertugas menyelundupkan senjata ilegal dan barang ilegal lainnya, jadi kenapa dia juga punya manusia yang ia simpan di sini?...'

'Terserah lah. Lagian Mukidi itu kriminal, bukan berarti dia tidak akan menculik orang hanya karena spesialisasinya adalah menyelundupkan senjata ilegal.'

Wawan menyimpan kembali senjatanya agar mereka yang ada di hadapannya tidak merasa terancam.

Sambil tersenyum Wawan berkata. "Jangan takut. Saya anggota pasukan khusus yang datang ke sini untuk menangkap si bos kriminal!"

"Sekarang orang itu sudah di bawa ke markas kami jadi kalian semua sudah selamat!" Sejenak mereka semua kebingungan.

Dalam kebingungan itu membuat hanya bisa saling menatap.

Setelah beberapa saat, akhirnya mereka sadar kalau Wawan tidak bohong.

Kegembiraan luar biasa di rasakan para korban hingga mereka menangis tersedu-sedu karena bahagia.

Setelah terkurung di ruangan yang gelap ini mereka akhirnya bisa bebas.

Wawan membawa semua orang yang ada di ruangan rahasia itu keluar.

Mereka tampak makin bahagia karena akhirnya mereka bisa merasakan lagi sinar matahari setelah terjebak di ruangan yang gelap untuk waktu yang lama.

Bertepatan dengan itu seorang agen tiba-tiba muncul.

"Hm?... Pak, mereka ini siapa!?" Itu adalah salah satu agen amatir yang ikut dalam baku tembak tadi.

"Kemungkinan mereka korban si Mukidi. Tapi aku tidak takut mereka ini akan di apakan oleh kriminal itu!"

"Entah akan di jual atau di jadikan pelampiasan nafsu bejatnya, aku tidak tahu!" Si agen hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya.

Entah apa maksud dari anggukan kepala itu.

Beberapa waktu kemudian, pasukan yang akan membersihkan sisa-sisa kekacauan serta mengamankan para korban datang.

Semua korban yang di bawa oleh Wawan tadi di serahkan pada mereka agar bisa di kembalikan pada keluarga mereka jika masih punya.

Sedangkan rumah ini langsung di segel dan menjadi area yang di larang untuk di masukin siapapun.

Untuk Wawan dan kelompoknya...

Mereka semua kembali ke markas dan bergembira atas keberhasilan misi kali ini tanpa ada satupun korban di pihak mereka.

Semuanya berkumpul bersama kemudian makan-makan.

Tapi... Di ruangan tempat mereka makan, tidak terlihat adanya Wawan.

Wawan tidak ikut makan di sana.

Ia malah menghilang tanpa ada satupun orang yang tahu keberadaannya.

"Wawan mana!?" Tanya agen Kepala Botak pada semua orang.

Seketika orang-orang berhenti makan dan melihat-lihat ke sekitar, tapi tidak dapat menemukan Wawan dimanapun.

Sementara itu....

Wawan tampak sedang duduk seorang diri di sebuah area pembangunan yang di tinggalkan yang mana lokasinya tak terlalu jauh dari markas.

Ketika itu hari sudah sore.

Langit yang tadinya biru cerah tanpa ada satupun awan kini berubah oranye karena datangan senja.

Awalnya Wawan hanya duduk sendirian di atas pipa besi yang sudah berkarat dan di selimuti tanaman merambat.

Tapi tak lama seseorang mendatanginya.

"Semua orang sedang makan bersama, kenapa kamu malah duduk di sini!?" Itu adalah komandan yang datang sambil membawa dua es sirup.

Salah satu es sirup itu di berikan pada Wawan sebelum akhirnya komandan duduk di samping Wawan.

Mereka awalnya hanya diam sambil minum es sirup ketika angin sore berhembus menerpa mereka berdua.

"... Ngomong-ngomong... Sepertinya ini kali pertama kamu ikut dalam misi yang mengharuskan kamu menembak seseorang!"

"Apa kamu merasa bersalah pada mereka yang telah kamu tembak!?" Kata komandan.

Wawan tak langsung menjawab.

Sejenak Wawan diam sambil menatap ke arah langit sore.

"... Aku tahu mereka semua kriminal yang telah merugikan banyak orang, dan segelintir orang yang mereka rugikan telah aku temukan!"

"Tapi tetap saja... Ini terasa berat untukku!"

"Aku tidak bisa mengabaikan fakta kalau aku telah menembak seseorang hanya karena orang itu kriminal kelas berat!" Kata Wawan dengan suara yang dalam.

Kali ini komandan yang diam untuk sesaat.

"... Saya tahu apa yang kamu rasakan, Wawan!"

"Sebelum menjadi komandan saya pernah menjadi seperti kamu!"

"Dulu... Saya pernah berpikir kalau para penjahat itu mungkin akan berubah kalau di beri kesempatan!"

"Beberapa memang ada yang berubah, tapi... Beberapa masih tetap jahat!"

"Dan... Kejahatan yang mereka lakukan bahkan lebih parah dari sebelumnya!"

"Saya pernah kehilangan seluruh anggota pasukan saya karena memberi kesempatan penjahat untuk perubah!"

"Kejadian itu masih membekas di otak saya tanpa pernah pudar!"

"Rasa bersalah dan keraguan mulai muncul dalam diri saya kalau penjahat itu bisa berubah!"

"Tapi ketika saya ragu kalau penjahat itu bisa berubah, orang yang pada waktu itu sekarat memberitahu saya untuk tetap percaya kalau semua orang bisa berubah!"

"Selama bertahun-tahun saya bertugas saya tetap teguh pada pendirian itu dan telah melihat banyak kriminal yang telah berubah menjadi baik!"

"Beberapa bahkan sekarang menjadi tokoh penting yang memberikan banyak manfaat pada banyak orang!"

Komandan menepuk pundak Wawan "Wawan... Kamu sama seperti saya ketika masih muda!"

"Jika suatu hari kamu kehilangan orang-orang kamu, atau bahkan saya sendiri yang jadi korban karena kamu memberi kriminal kesempatan...!"

"Saya tidak akan menyalahkan kamu!" Setelah mengatakan itu komandan kemudian bangun dan pergi.

Di tempat itu Wawan duduk sendirian sambil merenung.

1
Ai_Li
Saya mampir kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!