"Aku adalah saksi dari setiap cintamu yang patah, tanpa pernah bisa memberitahumu bahwa akulah satu-satunya cinta yang tak pernah beranjak."
Pricillia Carolyna Hutapea sudah hafal setiap detail hidup Danesha Vallois Telford
Mulai dari cara laki-laki itu tertawa hingga daftar wanita yang pernah singgah di hatinya.
Sebagai sahabat sejak kecil, tidak ada rahasia di antara mereka. Mereka berbagi ruang, mimpi, hingga meja kuliah yang sama. Namun, ada satu rahasia yang terkunci rapat di balik senyum tenang Pricillia, dia telah lama jatuh cinta pada sahabatnya sendiri.
Dunia Pricillia diuji ketika Danesha menemukan ambisi baru pada sosok Evangeline Geraldine Mantiri, primadona kampus yang sempurna. Pricillia kini harus berdiri di baris terdepan untuk membantu Danesha memenangkan hati wanita lain.
Di tengah tumpukan buku hukum dan rutinitas tidur bersama yang terasa semakin menyakitkan, Pricillia harus memilih, terus menjadi rumah tempat Danesha pulang dan bercerita tentang wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Sembilan bulan berlalu seperti mimpi yang posesif. Danesha benar-benar menjelma menjadi pengawal pribadi bagi istrinya. Di hari persalinan, suasana Rumah Sakit menjadi sangat tegang bukan karena prosedur medisnya, melainkan karena tingkah laku calon ayah yang satu ini.
Saat Pricillia mulai merasakan kontraksi hebat, Danesha sudah siap siaga di samping tempat tidur. Namun, masalah muncul ketika seorang dokter residen pria masuk untuk melakukan pemeriksaan pembukaan.
"Permisi, Bu Pricillia, saya periksa dulu ya—"
"Tunggu dulu!" Danesha langsung berdiri tegak, menghalangi langkah dokter itu. Matanya menyipit tajam.
"Nggak ada dokter cowok. Cari dokter cewek. Sekarang."
"Tapi Pak, ini prosedur darurat..."
"Gue nggak peduli!" suara Danesha meninggi, membuat perawat di sana saling pandang. "Nggak ada laki-laki lain yang boleh liat atau nyentuh istri gue selain gue. Panggil Dokter Sarah atau gue pindahin istri gue ke rumah sakit lain detik ini juga!"
Pricillia, di tengah rasa sakitnya, hanya bisa meringis sambil memegang tangan Danesha erat. Ia tahu, sisi protektif Danesha sudah mencapai level di mana logika tidak lagi berlaku.
Akhirnya, pihak rumah sakit mengalah dan memanggil dokter kandungan wanita senior untuk menangani.
Di dalam ruang persalinan, Danesha yang biasanya terlihat tangguh dan gagah, perlahan-lahan mulai pucat. Melihat Pricillia berjuang dengan peluh dan air mata membuatnya merasa hancur.
"Pris... maafin gue... ini semua gara-gara bibit gue yang terlalu kuat ya? Maafin gue bikin lo sakit kayak begini," racau Danesha sambil menciumi punggung tangan Pricillia berkali-kali. Suaranya gemetar hebat, ia hampir menangis melihat wanita yang dipujanya menahan sakit luar biasa.
"Dan... diem... berisik!" rintih Pricillia, mencengkeram lengan Danesha hingga kuku-kukunya membekas di kulit suaminya.
"Iya, iya, gue diem. Tapi lo jangan kenapa-kenapa ya, My? Kalau lo kenapa-kenapa, gue nggak bakal maafin diri gue sendiri!" Danesha nyaris pingsan saat melihat darah, kepalanya pening, namun ia memaksakan diri untuk tetap tegak karena ia tahu ia adalah satu-satunya pegangan Pricillia.
Tepat saat matahari terbit, suara tangisan bayi yang kencang memecah ketegangan di ruangan itu. Seorang bayi laki-laki tampan lahir ke dunia. Dokter meletakkan bayi itu di dada Pricillia untuk inisiasi menyusui dini.
Danesha mematung. Air matanya jatuh tanpa bisa dibendung. Ia melihat sosok kecil yang wajahnya adalah perpaduan sempurna antara dirinya dan Pricillia.
Hidungnya yang mancung persis Danesha, namun bibirnya mungil persis Pricillia.
"Dan... liat... anak kita," bisik Pricillia lemah namun penuh kebahagiaan.
Danesha berlutut di samping tempat tidur, mencium kening Pricillia dengan sangat lama dan khidmat. "Makasih, My. Makasih banget. Dia cakep banget... mirip banget sama aku. Tapi aku janji, dia nggak bakal boleh jadi playboy kayak aku dulu. Dia harus langsung nemuin satu cewek dan jagain dia kayak aku jagain kamu."
Beberapa jam kemudian, saat suasana sudah tenang di kamar perawatan, Danesha duduk di tepi ranjang sambil menggendong putranya yang tertidur lelap. Ia menatap Pricillia yang tampak sangat cantik meski tanpa riasan.
"Pris," panggil Danesha lirih.
"Ya, Ay?"
"Sekarang udah ada dia," Danesha menunjuk bayinya. "Ini beneran skakmat buat gue, kan? Gue nggak akan pernah bisa pergi. Bahkan kalau gue mau pergi pun, kaki gue bakal berat karena ada kalian berdua."
Pricillia tersenyum kemenangan, menarik selimutnya sedikit lebih tinggi. "Emangnya kamu mau pergi ke mana, Dan? Kan kamu sendiri yang bilang, kamu itu candu sama aku."
Danesha terkekeh, lalu mendekat dan memberikan kecupan lembut di bibir Pricillia—kecupan yang penuh janji dan pengabdian. "Iya, gue candu. Dan gue rasa gue butuh dosis tambahan malam ini setelah lo pulih nanti."
Pricillia tertawa kecil. Rencananya yang dimulai sejak SMA, melewati drama Clarissa dan Evangeline, serta obsesi gairah di apartemen, kini telah mencapai hasil yang sempurna. Ia telah mengunci Danesha, jiwanya, raganya, dan kini masa depannya melalui darah daging yang ada di dekapan pria itu.
"Selamat datang di penjara cinta aku selamanya, Danesha," bisik Pricillia dalam hati, sambil menutup matanya dengan perasaan puas yang tiada tara.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰🥰🥰🥰😍
masih nyimak 🤣