" Tinggalkan saja pacarmu itu. Tampangnya saja seperti tukang galon"
"OHH tidak boleh menghina manusia begitu pak. Biar seperti tukang galon, tapi cinta saya melebihi samudra"
"Halah paling juga nanti kamu nyesal"
Haruna Kojima gadis keturunan Jepang yang biasa di panggil Nana. Setiap hari harus mendengarkan mulut judes bos nya. Siap lagi kalo bukan Abian Pangestu, pria bermulut pedas tidak pandang bulu laki-laki maupun perempuan dimatanya sama. Tapi untungnya Nana punya kesabaran setebal skripsi anak teknik. Jadi ucapan judes sang bos hanya seliweran angin lewat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di suapin Pak Bos
"Wah, ternyata asistennya si Abian ini selain cantik, pinter ngurus bayi juga ya?" Naufal mulai menggoda Nana.
"Gimana, Na? Bunga semalam udah ditaruh di vas? Atau mau saya bawain yang lebih gede"
"Boleh banget, Mas Naufal! Bunganya cantik kok, ditaruh di meja depan biar ruangan ini ada seger-segernya dikit" jawab Nana sambil mengedipkan sebelah matanya jahil.
Wajah Abian seketika berubah gelap. Rahangnya mengeras melihat interaksi akrab di depannya. Ia melangkah maju dan menyambar kantong pampers dari tangan Naufal dengan kasar.
"Sudah cukup reuninya," ucap Abian kesal. Ia kemudian menunjuk pintu keluar dengan telunjuknya.
"Sekarang, lo pergi dari sini, Fal. Ganggu konsentrasi kerja gue aja."
"Santai, bro. Galak amat sih sama temen sendiri. Gue kan udah jadi pahlawan kesiangan buat keponakan lo," ucap Naufal santai.
Naufal kemudian mengulurkan telapak tangannya ke depan dada Abian. "Eits, tapi nggak gratis ya. Minta uang ganti beli pampers, sama uang jalan dong. Macet banget nih"
Abian mendengus sinis sambil merogoh dompetnya, tapi bukannya mengeluarkan uang, ia malah menatap Naufal dengan tatapan menghina.
"Lo nggak semiskin itu kali, Fal," jawab Abian dingin.
"Lagian, lo masih ada utang sama gue yang waktu kita nongkrong belum lo bayar. Anggap aja ini cicilan bunga utang lo."
Naufal langsung melongo, lalu menepuk jidatnya sendiri. "Sialan, diingetin lagi! Pelit banget lo, Bi. Ya udah deh, Na... saya pamit dulu ya. Jangan kangen"
Naufal melambaikan tangan ke arah Nana yang masih tertawa, lalu melesat pergi sebelum Abian sempat melemparinya dengan vas bunga. Begitu Naufal pergi, Abian langsung menoleh ke arah Nana dengan tatapan yang sangat tajam.
"Haruna, kerjakan tugas kamu sekarang. Dan berhenti tersenyum seperti itu pada Naufal," ucap Abian.
Nana menoleh sambil mengangkat bahunya santai. "Loh, Pak... senyum itu ibadah kan? Masa saya harus pasang muka tembok terus kayak Bapak? Bisa-bisa saya cepat tua," balas Nana dengan berani.
Abian baru saja membuka mulutnya, hendak mengeluarkan argumen. Namun, sebelum Abian sempat menjawab, buru-buru Nana langsung memalingkan wajah dan berbicara pada Karel yang sudah mulai tenang setelah dibersihkan.
"Mau mam ya sayang?" tanya Nana dengan suara yang sangat lembut, berbanding terbalik dengan suaranya saat bicara pada Abian tadi.
"Cup... cup... pinter ya sayang. Habis ini kita makan terus bobo lagi, oke?"
Abian yang kata-katanya tertahan di tenggorokan hanya bisa mendengus kencang. Ia merasa diabaikan total demi seorang balita yang bahkan belum bisa membalas perkataannya.
"Haruna," panggil Abian lagi setelah beberapa saat hening.
"Iya, Pak?" jawab Nana tanpa menoleh, sibuk menyiapkan biskuit bayi untuk Karel.
"Siapkan makan siang saya juga. Tapi jangan di kantin. Pesan antar saja, saya tidak mau meninggalkan ruangan ini selama ada si krucil ini," perintah Abian.
Nana tersenyum tipis. "Siap, Pak Bos. Mau pesan yang pedas biar kepalanya makin panas?"
Abian hanya memutar bola matanya malas.
Nana mencoba meletakkan Karel kembali ke sofa agar ia bisa menyiapkan makan siang dan membersihkan sisa biskuit.
Begitu pantatnya menyentuh permukaan sofa, Karel langsung melengkungkan badannya ke belakang. Wajahnya memerah, dan tangisannya pecah seketika.
"Heh... eh, sayang, kenapa? Cuma sebentar kok," bujuk Nana panik.
Karel tidak peduli. Tangan kecilnya meraih-raih baju Nana dengan kuat. Karel sama sekali tidak mau diletakkan dan hanya mau digendong oleh Nana saja. Setiap kali Nana mencoba menjauhkan badannya, tangisan Karel naik satu oktaf hingga memenuhi seluruh ruangan.
"Duh, Pak... Kayaknya anak ini nempel banget sama saya. Saya nggak bisa ngapa-ngapaian kalau digayutin begini," keluh Nana yang terpaksa menggendong Karel dengan satu tangan, sementara tangan satunya mencoba merapikan meja.
Abian yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala. "Manja sekali dia. Biasanya sama Davina tidak sepert itu."
"Ya mungkin karena saya lebih cantik dari Bapak, makanya dia betah," celetuk Nana asal.
Satu jam kemudian, pesanan makan siang yang diminta Abian datang. Nana dengan susah payah menerima bungkusan itu sambil tetap menggendong Karel yang sudah mulai mengantuk tapi tetap tidak mau lepas. Namun, begitu bungkusan dibuka, wajah Nana langsung berubah masam.
"Pak... sepertinya kita apes," ucap Nana lesu.
Abian mengernyit. "Kenapa lagi?"
"Restorannya salah kirim. Bapak tadi pesan steak kan? Ini isinya malah salad sayur semua tanpa protein, dan porsinya cuma satu. Kayaknya punya pelanggan lain yang tertukar," jelas Nana sambil menunjukkan kotak berisi tumpukan daun-daunan hijau.
Abian mendengus frustrasi. Perutnya sudah lapar, kepalanya pening karena ulah Naufal dan Karel, dan sekarang makanannya pun bermasalah. "Kembalikan. Suruh mereka kirim ulang."
"Lama, Pak! Bisa satu jam lagi. Keburu Bapak pingsan," Nana kemudian melirik tas bekalnya di sudut meja.
"Ya udah deh, daripada Bapak kelaparan, mending Bapak berbagi bekal punya saya saja. Saya bawa nasi goreng buatan sendiri tadi pagi. Mau?"
Abian menatap Nana, lalu menatap Karel yang masih tertidur di pundak Nana, dan terakhir menatap kotak bekal sederhana milik asistennya. Harga dirinya sedikit terusik, tapi aroma nasi goreng yang gurih itu memang sangat menggoda.
"Cuma untuk hari ini saja," ucap Abian kaku sambil menarik kursi untuk mendekat ke meja Nana.
Nana mencoba menyuap nasi gorengnya dengan susah payah. Karel, yang tadinya mengantuk, tiba-tiba menjadi sangat aktif. Tangan kecilnya terus bergerak berusaha meraih sendok Nana, sementara badannya berputar-putar di gendongan hingga membuat Nana nyaris menjatuhkan kotak bekalnya berkali-kali.
"Aduh, Karel... diem dulu sayang, dikit lagi tumpah nih," keluh Nana yang mulai kewalahan. Rambut pirangnya sampai berantakan karena ditarik-tarik oleh Karel yang sedang dalam mode sangat manja.
Abian yang duduk di sampingnya memperhatikan pemandangan itu dengan dahi berkerut. Ia melihat bagaimana Nana tetap bersabar meski sebenarnya sudah sangat lapar dan kesulitan.
Tanpa berkata apa-apa, Abian mengambil alih sendok dari tangan Nana.
"Eh, Pak? Mau ke mana bawa sendok saya?" tanya Nana bingung.
Abian tidak menjawab. Ia mengambil sesuap nasi goreng dari kotak bekal tersebut, lalu mengarahkannya tepat di depan bibir Nana.
"Biar saya saja yang suapi kamu," ucap Abian dengan nada datar namun tegas.
Mata Nana membelalak sempurna. Ia tertegun menatap sendok di depan wajahnya, lalu beralih menatap wajah Abian yang tampak sangat serius tanpa ada maksud bercanda sedikit pun.
"Pak... ini serius?" bisik Nana sangsi.
"Kamu mau makan atau mau kelaparan sambil digebukin Karel?" tanya Abian balik, mulai tidak sabar.
"Cepat buka mulut kamu, Haruna. Tangan saya pegal."
Nana, yang biasanya punya seribu kata untuk membalas, kali ini benar-benar bungkam. Dengan canggung. Ia akhirnya membuka mulut dan menerima suapan pertama dari Abian.
"Pintar," gumam Abian pelan, hampir tak terdengar.
Suasana di ruangan itu mendadak jadi sangat aneh. Hanya ada suara kunyahan pelan Nana dan celoteh riang Karel yang merasa berhasil mengganggu mereka. Abian dengan telaten menyuapi Nana sesendok demi sesendok, lalu sesekali ia menyuap untuk dirinya sendiri menggunakan sendok yang sama.
Nana ga ada teman laki Thor kayanya asik deh kalau satu tempat kerja ketemu teman lama