SEKUEL DARI CINTA LAMA BELUM KELAR
Dalam kisah ini didominasi perjalanan cinta antara Sasa dan Sakti, restu orang tua dari Sakti yang belum juga turun, meski pernikahan mereka sudah berjalan kurang lebih 5 tahun, bahkan kedua anak Iswa sudah sekolah, namun hubungan mertua dan menantu ini tak kunjung membaik.
Kedekatan Sakti dan kedua anak mendiang adiknya, Kaisar, Queena dan Athar membuat Sasa overthinking dan menuduh Sakti ada fair dengan Iswa. Setiap hari mereka selalu bertengkar, dan tuduhan selingkuh membuat Sakti capek.
Keduanya memutuskan untuk konsultasi pernikahan pada seorang psikolog yakni teman SMA Sakti, Mutiara,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERASAAN PEREMPUAN
Iswa kaget, setelah mengantar Queena ke kamar mandi, ia mendapati Sakti masuk ke ruangan sembari membawa bubur ayam. Terlalu pagi untuk datang, bahkan belum pukul 6 pagi loh.
"Popo!" sapa Queena yang bahagia karena kehadiran Sakti, memang dua anak Iswa sangat dekat dengan poponya. Kehilangan seorang papa di usia balita bahkan Athar tak pernah tahu sosok ayah, mendapatkan perhatian ya dari Sakti. Membuat dunia mereka bahagia karena kehadiran pria ganteng ini.
Sedangkan Iswa hanya menghela nafas berat, mau diusir mau diomelin sepanjang apapun Sakti tak menghiraukan Iswa. Dia terlalu santai menanggapi Sasa yang Iswa tahu pasti akan cemburu. "Gak sama Mbak Sasa?" tanya Iswa sembari membuka korden kamar, dan Sakti yang membuka bubur ayam tersebut hanya menggeleng.
"Kalian bertengkar?" tanya Iswa lagi, kemudian Sakti hanya mengangguk, dengan makan bubur ayam.
"Tante Sasa memang gak mau bertemu Akak ya, Ma. Padahal kan Akak sakit, Popo enak ya bubur ayamnya? Aku boleh makan itu gak Ma?" tanya Queena yang tergiur dengan bau wangi bubur ayam.
"Enggak, Kak. Kamu harus makan dari rumah sakit, perut kamu belum oke!" Iswa baru tahu kalau si sulung gak tahan dengan yogurt, ya dia kebanyakan juga sih makannya, alhasil perutnya berontak dengan muntah pagi kemarin.
"Bang Sakti gak mau ajak Mbak Sasa ke sini?" tanya Iswa lagi. Namun Sakti menjelaskan kalau Sasa kemari malah ada pertengkaran nanti, belum lagi kalau bertemu dengan mama. Lebih baik gak usah datang.
"Dia kenapa ya, Wa. Sekeras itu gak mau dekat dengan keluarga kita?" Sakti mulai curhat. Iswa hanya mengedikkan bahu.
"Yang salah abang, ya cari solusi sendiri." Beginilah Iswa yang tak mau ikut mencampuri urusan rumah tangga Sakti.
Beruntung mama datang dan kaget karena Sakti sudah di sini. "Jam berapa kamu ke sini?" tanya mama sembari meletakkan berbagai makanan untuk stok Iswa agar tak perlu keluar mencari makan.
"Nginep!" jawab Sakti cuek sembari menyuapi Queena dengan menu rumah sakit. Mama dan Iswa saling tatap. Bahkan Iswa sampai mengerutkan dahi.
"Nginep di mana?" tanya Iswa. Tadi malam di kamar ini hanya dirinya dan Queena saja. Sakti hanya menunjuk dengan dagu ke arah pintu.
"Demi apa sih, Bang kamu menginap di luar itu? Kamu pulang terus balik ke sini lagi?" tanya mama dan Sakti mengangguk.
"Mbak Sasa bisa sangat salah paham sama aku, Bang. Jangan bikin istri kamu makin gak suka dengan keluarga ini dong," Iswa kesal juga. Mau bagaimana pun dia seorang perempuan yang pernah menjadi istri juga. Tak ada perempuan yang baik-baik saja bila tahu suaminya lebih perhatian dengan keluarga adik iparnya.
"Sudah terlanjur gak suka, ya sudah biarkan saja! Lagian aku mana bisa tidur kalau di rumah, sedangkan kondisi princess lemah begitu," ujar Sakti sembari mencubit pipi Queena. Ponakan yang berusia hampir 7 tahun itu tertawa bahagia sembari memeluk leher poponya.
"Tante Sasa seharusnya ikut saja ke sini, biar Akak makin bahagia dan cepat sembuh," ujar Queena.
"Bahkan ponakan sekecil itu saja bisa kasih ide, masak kamu gak bisa inisiatif sih, Sakti!" omel mama yang tahu kalau Iswa tak nyaman bila Sakti lebih lama di rumah sakit daripada dengan Sasa. Namun kembali lagi, mama sadar pernikahan mereka tak sehat sejak awal. Mama tahu Sakti juga sudah capek, hanya saja untuk mengakhiri juga gak semudah itu.
Sasa sendiri sepertinya mau diperhatikan terus, sedangkan Sakti tipe pria yang sekali tak bisa dinasehati akan ia abaikan saja. Serba salah bila dalam rumah tangga saling memegang prinsip masing-masing, tanpa mendahulukan kepentingan rumah tangga itu sendiri.
Sasa berangkat kerja dengan wajah muram, sekali lagi Sakti tak datang ke kantor. Bahkan sekertarisnya bilang kalau meeting dengan Sakti via zoom, Sasa ingin tahu sekali apakah dia meeting di kamar inap Queena dan hanya ada Iswa. Ah rasanya membayangkan saja Sasa sakit hati sekali.
Dia perempuan dewasa, mau sebaik apapun Iswa kalau Sakti terus menempel juga lama-lama akan luluh. Apalagi kalau malam berudaan di ruang VVIP dan Queena tidur, apa mereka gak berbincang? Atau bahkan saling curhat, ingat mereka sama-sama dewasa yang butuh kenyamanan masing-masing.
Siang ini, Sasa memutuskan untuk chat Iswa. Hatinya sudah tak tenang. Pikiran buruk selalu menghantuinya, bahkan ia akan menanyakan kedekatan keduanya versi Iswa, sehingga Sasa segera bisa ambil keputusan.
Wa. Mas Sakti masih menemani kamu? Pesan itu dikirim Sasa saat dia makan siang. Sedangkan Iswa membaca pesan itu sangat kaget, seolah Sasa menuduhnya butuh bantuan Sakti.
Dia di kamar Queena, Mbak. Sama mama aku pulang jenguk Athar. Iswa pun memotret dirinya dan Athar posisi di rumah, agar Sasa tak menaruh curiga padanya.
Tolong, Wa. Kasih tahu Mas Sakti sebenarnya mau rumah tangga kayak gimana. Kok aku rasanya diduakan daripada keluarga kamu.
Iswa menghela nafas berat, sudah bisa ia tebak akan berakhir seperti ini. Iswa jelas tak suka, dirinya sudah berulang kali menasehati Sakti tapi tetap saja dituduh juga. Dia sangat menjaga statusnya sebagai janda terhormat, tak butuh laki-laki untuk mendampingi dia dan kedua anaknya.
Maaf, Mbak. Aku sudah berulang kali bilang ke Bang Sakti untuk melibatkan Mbak saat dekat dengan kedua anakku. Aku tidak ada maksud atau permintaan Bang Sakti harus perhatian pada kedua ponakannya. Aku sendiri mampu Mbak menjadi ibu dan ayah bagi Queena dan Athar.
Aku tahu, Wa. Tapi Mas Sakti gak pernah mau dengarkan aku. Padahal aku juga tidak melarang dia dekat dengan Queena dan Athar, hanya ingin dia sadar porsi dia sebagai suamiku bagaimana.
Nanti akan aku sampaikan keberatan Mbak pada Bang Sakti, yang jelas aku sendiri tidak pernah meminta Bang Sakti bersikap seperti ini sampai mengabaikan perasaan Mbak Sasa.
Sasa tak membalas pesan Iswa. Dirinya tahu Iswa akan membentengi dirinya, menjaga batasan dengan Sakti. Percuma Sasa mendorong Iswa kalau ternyata yang bermasalah adalah suaminya.
Mas malam ini aku harap kamu pulang. Ada yang mau aku bicarakan.
Oke.
Kamu sama siapa di kamar Queena?
Mama.
Iswa?
Pulang sejak tadi pagi, jenguk Athar.
Sasa lega melihat balasan sang suami, setidaknya apa yang diucapkan Sakti sejalan dengan Iswa.
"Gue salah gak sih menuduh mereka ada hubungan? Tapi aku gak bisa kalau gak curiga meski Iswa terlihat sekali masih cinta dengan Kaisar. Sungguh aku tak rela kalau mereka dekat, apalagi dengan berkedok demi ponakan. Sial!" Sasa gelagapan mengatur pikirannya yang penuh kecurigaan dengan Iswa dan Sakti. Ia sulit mengendalikan dan dia pun mencari solusi untuk memperbaiki semua sebelum pikiran buruk makin memenuhi alam bawah sadar.
eh kok g enak y manggil nya