Hero dan Awan adalah dua sisi mata uang yang berbeda. Hero begitu hangat dan penuh kasih, sementara Awan sedingin es dan tak tersentuh. Namun, maut merenggut Hero terlalu cepat, meninggalkan Jasmine yang sedang hamil muda dalam kehancuran.
Sebelum napas terakhirnya, Hero menitipkan "warisan" yang paling berharga kepada Awan: istri dan calon anaknya.
Kini, Jasmine harus terjebak satu atap dengan pria yang paling ia hindari. Awan yang ketus, kaku, dan sudah memiliki kekasih matre bernama Celine. Bagi Awan, menjaga Jasmine adalah beban wasiat yang menyebalkan. Bagi Jasmine, melihat wajah Awan adalah luka yang terus terbuka.
Di tengah duka dan tuntutan harta, mampukah Awan menjalankan wasiat kembarannya? Ataukah kebencian di antara mereka justru berubah menjadi benih cinta yang tak seharusnya ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Rumah sakit jiwa yang dingin dan terpencil kini menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi kewarasan Celine. Setelah insiden penyerangan yang mengerikan itu, tim medis menyatakan bahwa Celine mengalami gangguan jiwa berat akibat obsesi dan tekanan mental yang sudah menumpuk bertahun-tahun. Ia tak lagi berteriak dendam; ia kini hanya duduk menatap tembok, menggumamkan nama Awan dalam kehampaan.
Sementara itu, di sebuah kamar perawatan VVIP yang hangat dan beraroma bayi, kehidupan baru saja dimulai.
Sudah tiga hari sejak si kecil lahir ke dunia. Bayi laki-laki yang diberi nama Arshaka Hero Pramoedya itu akhirnya diperbolehkan keluar dari inkubator dan berada di samping Jasmine. Tubuhnya masih sangat kecil, kulitnya merah muda halus, dan ia memiliki garis rahang yang sangat tegas—warisan genetik dari keluarga Pramoedya.
Malam itu, jam menunjukkan pukul tiga dini hari. Suasana rumah sakit sangat sunyi, hanya terdengar suara mesin pendingin ruangan yang berdesir halus. Jasmine duduk bersandar di ranjang pasien, wajahnya masih tampak pucat namun terpancar aura keibuan yang sangat cantik. Di tangannya, Shaka kecil mulai merengek, mencari asupan ASI yang pertama kali.
Awan, yang sejak hari pertama persalinan menolak untuk pulang ke rumah, terbangun dari sofa sempit di sudut ruangan. Ia masih mengenakan kemeja yang kusut, matanya merah karena kurang tidur, namun ia langsung sigap berdiri begitu mendengar suara tangisan bayi.
"Kenapa? Dia laper?" tanya Awan dengan suara serak. Ia mendekat ke sisi ranjang, tangannya yang besar dengan canggung mencoba membenarkan letak bantal di punggung Jasmine.
"Iya, Kak. Kayaknya Shaka mau nyusu, tapi... aku masih agak bingung cara pegangnya. Pinggang aku juga masih nyeri bekas operasi," sahut Jasmine lirih. Tangannya gemetar mencoba menopang kepala bayinya yang sangat mungil.
Awan melihat perjuangan Jasmine. Tanpa diminta, ia duduk di tepi ranjang. Ia mengulurkan tangannya yang kokoh untuk menyangga punggung Shaka, membantu Jasmine mengarahkan posisi bayi itu agar lebih nyaman.
"Gini... kata suster tadi kepalanya harus lebih tinggi," ucap Awan kaku. Meskipun suaranya tetap terdengar judes, gerakannya sangat lembut. Ia memastikan kulit sensitif Shaka tidak tertekan terlalu keras.
Jasmine merasa sedikit canggung saat tangan Awan bersentuhan dengan lengannya. Jarak mereka begitu dekat hingga ia bisa mencium aroma kopi dan sisa parfum maskulin Awan.
"Kak... aku bisa sendiri. Mending Kakak tidur deh. Kakak besok kan ada meeting pagi," ucap Jasmine pelan, mencoba memberi ruang agar Awan tidak terlalu lelah.
Awan mendongak, menatap mata Jasmine dengan tatapan tajam yang sulit dibantah. "Jangan sok kuat, Jasmine. Tangan lo aja masih gemeteran gitu. Kalau Shaka jatuh gimana? Lo mau tanggung jawab?"
Jasmine terdiam, ia tahu berdebat dengan Awan di jam tiga pagi adalah kesia-siaan. Ia akhirnya membiarkan Awan membantunya.
Proses menyusui pertama kali ternyata tidak semudah yang ada di buku-buku. Shaka terus bergerak gelisah, dan Jasmine mulai merasa perih serta frustrasi karena bayinya belum berhasil latching atau mengisap dengan benar.
"Sakit, Kak..." bisik Jasmine, matanya mulai berkaca-kaca karena rasa nyeri dan lelah yang luar biasa.
Awan mengernyitkan dahi. Ia tidak tega melihat Jasmine kesakitan. Ia mengambil handuk kecil yang sudah direndam air hangat, lalu dengan gerakan kaku namun telaten, ia mengompres pundak Jasmine yang tegang.
"Rileks. Jangan tegang. Kalau lo tegang, bayinya juga ngerasa stres," ucap Awan, mencoba menenangkan dengan caranya sendiri. "Coba lagi. Pelan-pelan. Gue pegangin punggung Shaka."
Awan terus memberikan dukungan fisik. Ia menopang lengan Jasmine, menjaga posisi kepala Shaka, dan sesekali mengusap rambut Jasmine yang berantakan untuk menyingkirkannya dari wajah.
Setelah beberapa menit yang penuh perjuangan, akhirnya terdengar suara isapan yang teratur. Shaka mulai menyusu dengan tenang.
Jasmine mengembuskan napas lega yang panjang. Ia menunduk menatap wajah bayinya, air matanya jatuh menetes. "Dia... dia berhasil, Kak."
Awan hanya diam, namun sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyum tipis yang sangat langka. Ia memperhatikan bayi laki-laki itu. Ada rasa bangga yang meledak di dadanya. Pria yang biasanya hanya bangga pada angka-angka di bursa saham, kini merasa sangat berharga hanya karena seorang bayi berhasil menyusu.
Setelah Shaka kenyang dan tertidur lelap dalam dekapan Jasmine, Awan mengambil bayi itu dengan sangat hati-hati untuk diletakkan kembali ke dalam boks bayi di samping ranjang. Gerakannya kini sudah jauh lebih luwes daripada saat ia belajar dengan boneka beruang tempo hari.
Awan kembali ke sisi Jasmine, menyelimuti perempuan itu hingga ke dada.
"Lo juga tidur. Jangan mikir macem-macem lagi," perintah Awan sambil merapikan bantal Jasmine.
"Kak Awan... kenapa Kakak lakuin ini semua?" tanya Jasmine tiba-tiba. "Kakak bahkan nggak pulang buat mandi yang bener. Kakak bisa aja sewa sepuluh perawat buat jagain aku di sini."
Awan terdiam sejenak. Ia berjalan menuju jendela, menatap lampu-lampu kota yang mulai redup tertutup kabut pagi. Ia memasukkan tangannya ke saku celana.
"Perawat nggak punya janji sama Hero. Gue punya," jawab Awan tanpa menoleh. "Dan lagi... melihat lo sama Shaka aman itu bikin gue ngerasa hidup gue punya tujuan lagi selain nyari duit."
Awan berbalik, menatap Jasmine yang mulai memejamkan mata. "Gue mungkin bukan orang yang lembut kayak Hero. Gue kaku, gue judes, dan gue sering bikin lo kesel. Tapi mulai malam ini, Jasmine... lo dan Shaka adalah prioritas hidup gue. Siapa pun yang berani nyakitin kalian, mereka harus lewat mayat gue dulu."
Jasmine tersenyum dalam kantuknya. "Makasih, Kak Awan... Ayah Shaka."
Awan tersentak mendengar sebutan itu. Meskipun ia selalu membantah sebagai ayahnya, mendengar Jasmine menyebutnya demikian membuat hatinya berdesir aneh. Ada rasa hangat yang menjalar, sebuah rasa yang ia tahu akan ia jaga selamanya.
"Diem lo. Tidur! Besok lo harus pulang ke rumah, gue udah siapin kamar baru buat Shaka di sebelah kamar gue," ketus Awan untuk menutupi rasa harunya.
Awan kembali duduk di sofa, menjaga tidur Jasmine dan Shaka. Ia tahu perjalanan ke depan tidak akan mudah, apalagi dengan bayang-bayang masa lalu Hero. Namun, menatap Shaka yang tertidur tenang, Awan tahu ia siap menghadapi badai apa pun demi "warisan" terbaik yang pernah ditinggalkan kembarannya untuknya.