NovelToon NovelToon
Immortal Emperor: Dao Abadi

Immortal Emperor: Dao Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Epik Petualangan / Perperangan / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:17.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di Benua Timur, di mana pegunungan menusuk awan dan kabut spiritual menyelimuti hutan purba, nyawa manusia biasa seringkali tidak lebih berharga daripada rumput di tepi jalan.

Desa Sungai Jernih adalah tempat yang damai, tersembunyi di lembah kecil di kaki Pegunungan Kabut Hijau. Penduduknya hidup sederhana bertani, berburu, dan menyembah "Para Abadi" yang terkadang terlihat terbang melintasi langit dengan pedang cahaya. Bagi mereka, para kultivator itu adalah dewa pelindung.

Namun bagi Li Wei, hari ini, dewa-dewa itu membawa neraka.

Li Wei, pemuda berusia lima belas tahun dengan tubuh kurus namun sorot mata tajam, sedang menuruni bukit dengan keranjang anyaman di punggungnya. Ia baru saja selesai mencari tanaman obat liar. Ibunya sakit batuk sejak musim dingin lalu, dan tabib desa berkata akar Ginseng Roh tingkat rendah mungkin bisa membantu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5: Kota Awan Putih

Tujuh hari perjalanan melalui Rawa Kabut Hitam adalah neraka tersendiri.

Tanah berlumpur yang bisa menelan manusia hidup-hidup, serangga beracun seukuran kepalan tangan, dan kabut yang membingungkan arah mata angin. Tanpa peta dan pengetahuan herbal Xiao Lan, Li Wei mungkin sudah menjadi tulang belulang di dasar rawa.

Namun, kesulitan adalah guru terbaik.

Wusss!

Di antara pepohonan bakau yang bengkok, sesosok bayangan bergerak dengan kecepatan tak wajar.

Li Wei melompat. Saat kakinya menyentuh permukaan air keruh, ia tidak tenggelam. Sebaliknya, telapak kakinya mengeluarkan letupan kecil energi merah samar.

Bum!

Letupan itu memberinya dorongan momentum. Ia meluncur di atas air sejauh tiga meter, lalu mendarat di akar pohon lain. Gerakannya tersendat-sendat, tidak anggun, dan terlihat menyakitkan, tapi ia cepat.

"Hah... hah..."

Li Wei berhenti di dahan pohon, kakinya berasap. Sandal jeraminya hangus terbakar.

"Kau berhasil!" seru Xiao Lan yang menunggu di dahan seberang sambil mengunyah buah penawar racun. "Tiga langkah di atas air. Itu peningkatan besar."

Li Wei meringis sambil mengusap telapak kakinya yang melepuh.

Buku teknik [Langkah Api Hantu] yang ia ambil dari bandit ternyata adalah teknik elemen api tingkat dasar yang berfokus pada ledakan tenaga instan di kaki. Li Wei belum menguasainya sepenuhnya, tapi ia sudah mencapai tahap Pemula.

"Masih terlalu kasar," gumam Li Wei kritis. "Setiap langkah memakan terlalu banyak Qi. Aku hanya bisa menggunakannya lima kali berturut-turut sebelum kehabisan tenaga."

"Itu sudah cukup untuk menyelamatkan nyawa," kata Xiao Lan tersenyum. "Lihat ke depan, Li Wei. Kita sampai."

Li Wei mendongak. Kabut rawa mulai menipis.

Di kejauhan, di ujung cakrawala di mana hutan berakhir dan dataran luas dimulai, sebuah pemandangan megah terhampar.

Sebuah kota raksasa.

Dindingnya terbuat dari batu granit putih setinggi lima puluh meter, berkilauan di bawah matahari sore seolah-olah dilapisi perak. Di atas dinding, bendera-bendera biru bergambar awan berkibar gagah—lambang Sekte Langit Biru.

Ini adalah Kota Awan Putih. Kota penyangga tempat ribuan kultivator dan pedagang berkumpul di kaki gunung sekte.

Bagi Li Wei dan Xiao Lan yang seumur hidup tinggal di desa kecil, ini seperti melihat istana dewa.

"Besar sekali..." mata Xiao Lan berbinar.

"Ayo," Li Wei melompat turun. "Ujian dimulai dua hari lagi. Kita harus mendaftar."

Gerbang Kota Awan Putih dipadati lautan manusia.

Ada kereta kuda mewah yang ditarik oleh Kuda Bersisik (binatang spiritual jinak), pedagang yang memikul barang dagangan magis, dan ratusan pemuda-pemudi dari berbagai penjuru yang datang dengan satu tujuan: Menjadi murid sekte.

Antrean masuk sangat panjang. Penjaga gerbang mengenakan baju zirah biru mengkilap, memancarkan aura Qi Condensation Lapis 5. Tatapan mereka tajam, memeriksa setiap orang yang masuk.

"Biaya masuk: Satu keping perak per orang!" teriak penjaga.

Banyak pemuda miskin yang mundur dengan wajah putus asa. Satu keping perak adalah biaya hidup sebulan bagi keluarga petani.

Li Wei dan Xiao Lan berdiri di antrean. Berkat rampasan dari bandit, mereka punya cukup uang. Penampilan mereka yang kumuh—pakaian penuh lumpur rawa dan bau amis—membuat orang-orang di sekitar mereka menjauh dengan jijik.

"Minggir, pengemis!"

Sebuah bentakan keras terdengar dari belakang.

Kerumunan terbelah. Sebuah kereta kuda mewah berwarna merah marun menerobos antrean. Kereta itu dikawal oleh empat pengawal berotot.

Di jendela kereta, seorang pemuda seusia Li Wei menjulurkan kepala. Wajahnya tampan tapi sombong, mengenakan jubah sutra bersulam benang emas. Di jarinya, ada cincin batu giok yang mahal.

"Kalian menghalangi jalan Tuan Muda Wang Jian dari Keluarga Wang!" teriak kusir kereta sambil mengayunkan cambuknya ke udara. Ctar!

Orang-orang buru-buru menyingkir. Keluarga Wang adalah klan kultivator kaya di kota ini. Tidak ada yang berani mencari masalah.

Li Wei dan Xiao Lan berdiri tepat di jalur kereta. Xiao Lan sedikit lambat bereaksi karena kakinya terkilir saat di rawa tadi.

"Tuli ya?!" Kusir itu tidak menahan diri. Cambuknya melayang turun, mengincar wajah Xiao Lan.

Mata Li Wei menyipit dingin.

Sebelum cambuk itu mengenai Xiao Lan, tangan Li Wei bergerak. Bukan untuk menangkis, tapi menarik kerah baju Xiao Lan dan memutar tubuhnya ke samping.

Whuuush.

Cambuk itu menghantam udara kosong, hanya beberapa sentimeter dari hidung Li Wei.

"Ho?" Pemuda di dalam kereta, Wang Jian, mengangkat alisnya. "Seorang pengemis yang punya sedikit refleks?"

Wang Jian turun dari kereta. Dia tidak berjalan, melainkan melayang turun dengan teknik Levitasi Ringan. Auranya menekan keluar tanpa ditahan.

Qi Condensation Lapis 5.

Tekanan itu membuat napas Xiao Lan sesak.

Wang Jian menatap Li Wei dari atas ke bawah, lalu tertawa mengejek. "Lapis 2? Dan kau bawa sampah apa itu? Pisau karat?" Dia menunjuk pisau di pinggang Li Wei. "Kau pikir Sekte Langit Biru menerima tukang sampah?"

Para pengawal Wang Jian tertawa terbahak-bahak.

Tangan Li Wei perlahan bergerak ke gagang pisaunya. Hatinya panas. Dia baru saja membunuh bandit Lapis 3. Dia tahu cara membunuh orang yang lebih kuat: Serang saat mereka sombong. Jika dia menggunakan Langkah Api Hantu sekarang dan menusuk leher Wang Jian...

Sebuah tangan lembut menyentuh lengan Li Wei.

Xiao Lan menggelengkan kepalanya pelan. Matanya memohon. Jangan. Kita di sini untuk masuk sekte, bukan untuk mati dikeroyok penjaga kota.

Li Wei menarik napas dalam. Xiao Lan benar. Ini bukan hutan rimba di mana dia bisa membunuh dan menyembunyikan mayat. Ini kota dengan hukum.

Li Wei melepaskan gagang pisaunya. Dia menatap mata Wang Jian lurus-lurus, tanpa rasa takut sedikitpun.

"Anjing yang kuat tidak perlu menggonggong untuk menunjukkan taringnya," kata Li Wei datar.

Suara tawa di gerbang terhenti seketika. Hening.

Wajah Wang Jian memerah padam. "Kau... berani menghinaku?"

Qi api mulai berkumpul di telapak tangan Wang Jian. Dia siap menyerang.

"Cukup!"

Suara berat menggelegar dari atas gerbang. Seorang kapten penjaga melompat turun, mendarat dengan dentuman keras di antara mereka.

"Dilarang bertarung di gerbang kota! Jika ingin berkelahi, lakukan di Arena Ujian lusa nanti. Sekarang, bayar atau pergi!"

Wang Jian mendengus kasar. Dia memelototi Li Wei. "Kau beruntung, tikus. Ingat wajahku. Di ujian nanti, aku akan mematahkan semua tulangmu dan membuatmu merangkak keluar dari arena."

Wang Jian melempar sekantong koin emas ke penjaga, lalu kembali ke keretanya. Kereta itu melaju masuk, meninggalkan debu yang menerpa wajah Li Wei.

"Kau baik-baik saja?" tanya Xiao Lan cemas.

Li Wei menepuk debu dari bajunya. Wajahnya kembali tenang, tapi tatapannya setajam es.

"Aku baik-baik saja. Ayo masuk."

Li Wei membayar dua keping perak. Saat mereka melangkah melewati gerbang raksasa Kota Awan Putih, Li Wei melihat punggung kereta Wang Jian yang menjauh.

Di dalam hatinya, sebuah nama telah ditambahkan ke dalam daftar targetnya.

Wang Jian. Lapis 5. Keluarga Kaya.

Li Wei meraba dadanya, merasakan kehangatan samar dari Giok Dao Abadi.

"Nikmati kesombonganmu selagi bisa," batin Li Wei. "Di hutan, statusmu tidak akan menyelamatkanmu."

Kota Awan Putih menyambut mereka dengan hiruk-pikuknya. Gedung-gedung tinggi, aroma makanan, dan ribuan kultivator. Tapi bagi Li Wei, ini hanyalah medan perang baru dengan aturan main yang berbeda.

1
MyOne
Ⓜ️🔜🆙🔜Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️💪🏻💪🏻💪🏻Ⓜ️
Tatmani Oniaka
👍👍👍👍
Tatmani Oniaka
👍👍👍
Tatmani Oniaka
👍👍👍👍👍
Tatmani Oniaka
👍👍👍
MyOne
Ⓜ️👀👀👀Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😯😯😯Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️💥💥💥Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️👣👣👣Ⓜ️
Sahrul Akbar
keren
MyOne
Ⓜ️🔜⏩🔜Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😵‍💫😵‍💫😵‍💫Ⓜ️
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very very very nice Thor
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!