"Aku menceraikanmu, Hana. Hari ini, detik ini, saat ini juga."
Hana Anindita terpaku, tangannya yang gemetar mengusap perutnya yang sudah memasuki bulan ketujuh.
Di hadapannya, Bima Erlangga - pria yang berjanji akan menjaganya sehidup semati - menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian.
Demi mengejar cinta masa lalunya yang kembali, Bima tega membuang belahan jiwanya sendiri. Bima mengira Hana akan bersimpuh di kakinya, memohon agar tidak ditinggalkan demi janin di rahimnya.
Namun, dugaannya salah besar. Hana hanya tersenyum tipis, mengemasi barang-barangnya, dan pergi tanpa menoleh lagi.
Saat Bima mulai menyadari bahwa Clarissa tidak sesempurna bayangannya, dan saat Hana mulai bersinar di tangan pria lain, sanggupkah Bima menjilat kembali ludah yang telah ia buang?
Atau selamanya ia hanya akan menjadi orang asing bagi anak yang dulu ia tolak kehadirannya?
Kita simak cerita selanjutnya yuk di karya Novel => Karma Suami Durhaka.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
"Selamat datang kembali di pusaran takdir Hana dan Bima. Saat Hana sedang membangun dunianya dari butiran tepung dan kasih sayang untuk Aditya Saka, di sisi lain kota, Bima sedang tercekik oleh jeratan yang ia pasang sendiri. Mari kita saksikan bagaimana 'Sang Ratu' masa lalu mulai menunjukkan taringnya, dan bagaimana Bima mulai menyadari bahwa kebebasan yang ia beli ternyata memiliki tagihan yang sangat mahal."
.
.
Mentari pagi di Jakarta tidak sehangat cahaya yang dirasakan Hana di desa. Di dalam ruang kerja pribadinya yang elegan, Bima Erlangga duduk dengan dahi berkerut.
Di hadapannya, bukan lagi dokumen proyek pembangunan apartemen yang biasanya ia banggakan, melainkan laporan arus kas perusahaan yang menunjukkan garis merah di beberapa sektor.
Beberapa investor mulai menarik diri setelah mendengar isu keretakan rumah tangganya yang berujung perceraian sepihak. Bagi dunia bisnis, stabilitas personal adalah cerminan stabilitas profesional, dan Bima baru saja menghancurkan citra itu.
Tok ... tok ... tok ...
Pintu terbuka tanpa menunggu izin. Clarissa melangkah masuk dengan gaun sutra berwarna sampanye, membawa aroma parfum mahal yang seketika memenuhi ruangan. Di jemarinya, ia memegang sebuah majalah pernikahan kelas atas.
"Bim, aku sudah melihat-lihat lokasi. Aku ingin kita mengadakan wedding di Bali, di resor yang menghadap tebing itu. Aku sudah menelepon pihak pengelola, dan mereka bilang biaya booking tempatnya saja lima ratus juta," ucap Clarissa tanpa basa-basi, langsung duduk di depan meja kerja Bima.
Bima memijat pangkal hidungnya. "Clar, bisa kita bicara soal ini nanti? Aku sedang melihat laporan keuangan. Bisnis sedang agak melambat bulan ini."
Clarissa seketika merubah raut wajahnya. Senyum manisnya menghilang, digantikan oleh tatapan dingin yang tajam.
"Melambat? Atau kamu sengaja menjadikannya alasan untuk menunda pernikahan kita? Ingat ya, Bim, aku melepaskan karirku di luar negeri hanya untuk kembali padamu. Aku sudah menunggumu menceraikan wanita itu selama dua tahun!"
"Aku tahu, Clar. Aku sudah melakukannya, bukan? Aku sudah bebas," sahut Bima, suaranya terdengar lelah.
"Kalau bebas, buktikan! Aku ingin pernikahan yang paling megah. Aku ingin semua teman-teman sosialitaku tahu bahwa aku kembali sebagai pemenang. Aku ingin pesta yang nilainya tidak kurang dari sepuluh miliar. Itu harga yang pantas untuk kesabaranku," Clarissa menekankan setiap kata, suaranya meninggi.
Bima tersentak. Sepuluh miliar? Di saat ia harus menutupi lubang investasi dan membayar gaji karyawan yang tertunda karena beberapa vendor menahan pembayaran?
"Sepuluh miliar itu terlalu berlebihan untuk kondisi sekarang, Clar. Lagipula, aku baru saja resmi bercerai. Secara hukum dan etika bisnis, tidak bagus jika aku langsung mengadakan pesta mewah saat masa iddah Hana bahkan belum selesai," Bima mencoba memberi pengertian dengan nada tenang.
Mendengar nama Hana disebut, Clarissa menggebrak meja. "Hana lagi! Hana lagi! Kenapa kamu masih peduli pada etika untuk wanita itu? Dia sudah pergi, Bim! Dia sudah jadi sampah yang entah di mana sekarang. Apa kamu malu menikahiku karena bisnismu goyah? Atau kamu menyesal telah membuangnya?"
"Bukan begitu ..."
"Kalau begitu tunjukkan! Besok aku mau kita pergi ke butik perhiasan untuk memesan cincin berlian lima karat. Jika tidak, aku akan menganggap kamu tidak serius dan aku akan kembali ke Paris!" Clarissa berdiri, memutar tubuhnya dengan kasar, dan keluar dari ruangan sambil membanting pintu.
Bima bersandar pada kursinya, menatap langit-langit ruangan. Ia merasa seperti sedang berada di dalam ring tinju, dipukul dari segala arah.
Ia mengejar Clarissa karena menganggap wanita itu adalah pelabuhan indahnya, namun kini ia merasa pelabuhan itu berubah menjadi badai yang menuntut tumbal harta.
Berbanding terbalik dengan kekacauan di Jakarta, di Desa Sukamaju, kehidupan terasa sangat nyata dan penuh perjuangan yang jujur.
Hana sedang duduk di depan sebuah meja kayu rendah. Di pangkuannya, Aditya Saka - yang kini sudah berusia dua minggu - sedang menyusu dengan tenang.
Tangan kecil Saka mencengkeram jari telunjuk Hana, sebuah ikatan yang membuat Hana merasa menjadi wanita paling kaya di dunia.
"Saka, hari ini Ibu dapat pesanan lima puluh kotak kue talam untuk acara syukuran Pak Kades," bisik Hana sambil mencium puncak kepala bayinya. "Uangnya nanti bisa untuk beli kelambu baru supaya kamu tidak digigit nyamuk lagi, ya."
Meski tubuhnya masih sering merasa nyeri dan matanya bengkak karena kurang tidur, Hana tidak mengeluh. Setiap kali ia melihat wajah Saka yang tenang, energinya seolah terisi kembali. Nama 'Saka' benar-benar menjadi tiang bagi hidupnya.
Hana mulai belajar mengatur waktunya. Ia memasak saat Saka tidur pulas di pagi buta. Saat fajar tiba, ia membungkus kue-kuenya dengan bantuan Bu Siti, bidan desa yang kini sudah dianggapnya seperti kakak sendiri.
"Mbak Hana, ini ada sedikit uang tambahan dari hasil penjualan kue titipan di klinik kemarin," ucap Bu Siti sambil menyerahkan beberapa lembar uang sepuluh ribuan yang lusuh.
Hana menerimanya dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih, Bu Siti. Ini sangat berarti."
"Saka ganteng sekali ya, Mbak. Mirip sekali dengan..." Bu Siti menggantung kalimatnya, takut menyinggung perasaan Hana.
Hana tersenyum tenang. "Dia mirip saya, Bu. Dia hanya punya saya."
Malam harinya di Jakarta, Bima mencoba mencari ketenangan di bar apartemennya. Namun, bayangan Clarissa yang marah dan tuntutan finansial yang menghimpit membuatnya tidak bisa tenang.
Ia meraih ponselnya, entah kenapa, tangannya bergerak membuka galeri foto yang tersembunyi. Di sana masih tersisa satu foto Hana yang sedang memasak di dapur apartemen mereka setahun lalu.
Hana hanya memakai daster sederhana, rambutnya dicepol asal, tapi wajahnya menunjukkan kedamaian yang luar biasa.
Bima teringat bagaimana Hana tidak pernah menuntut tas mewah. Bagaimana Hana selalu mencatat pengeluaran dapur dengan teliti agar Bima bisa menabung lebih banyak untuk ekspansi bisnisnya.
"Apa yang telah aku lakukan?" gumam Bima lirih.
Namun, egonya segera memukul balik. Tidak. Hana itu membosankan. Clarissa adalah tantangan. Clarissa adalah kelas sosial yang aku butuhkan, pikirnya mencoba membenarkan diri.
Ia menenggak wiskinya hingga tandas. Rasa pahit itu seolah menggambarkan hidupnya sekarang. Ia memiliki Clarissa - Sang Ratu yang ia impikan - tapi ia kehilangan kedamaian.
Ia membuang 'beban' yang ia anggap tak berguna, tapi kini ia justru merasa terbebani oleh kemewahan yang ia ciptakan sendiri untuk menyenangkan Clarissa.
Tiba-tiba, sebuah pesan masuk dari ibunya yang tinggal di luar kota bersama suaminya, namun bukan Ayah kandung Bima.
"Bima, Mama dengar kamu cerai? Kenapa tidak bilang? Mana Hana? Dia sedang hamil besar, Bima! Kamu jangan jadi suami durhaka!"
Bima membanting ponselnya ke atas sofa. Semua orang menyalahkannya. Semua orang memuja Hana. Ia merasa dunia sedang berkonspirasi untuk membuatnya merasa bersalah.
"Aku akan buktikan kalau aku bahagia!" teriak Bima pada ruangan yang kosong. "Aku akan mengadakan pesta paling mewah di Jakarta! Aku akan tunjukkan pada mereka semua kalau Clarissa adalah pilihan yang benar!"
Tanpa Bima sadari, keputusannya untuk memaksakan pesta mewah di tengah kondisi bisnis yang goyah adalah awal dari keruntuhan finansial yang sesungguhnya.
Ia sedang membangun istana di atas pasir hisap, sementara di sebuah desa terpencil, Hana sedang menanam benih kesuksesan di atas tanah yang kokoh dengan keringat dan cinta untuk Aditya Saka.
Dua dunia yang kini terpisah jauh, mulai bergerak ke arah yang berbeda. Satu menuju puncak kehancuran yang gemerlap, satu lagi menuju kebangkitan yang sunyi namun pasti.
Akankah Bima benar-benar nekat menghabiskan sisa asetnya demi pesta pernikahan dengan Clarissa? Dan bagaimana reaksi Hana saat ia menyadari bahwa keberadaannya mulai terendus oleh orang-orang dari masa lalunya?
Jangan sampai lewatkan di Episode selanjutnya yaa ....
...----------------...
**To Be Continue**....