Arisa dikhianati calon suaminya sendiri di hari pernikahan. Namun karena tak mau malu, Arisa memutuskan menikahi pemuda desa bernama Ogi, yang diketahui juga sebagai murid favorit ayahnya Arisa dulu.
Ogi yang sepenuhnya punya usaha kerupuk di desa, membawa Arisa untuk ikut tinggal dengannya ke desa. Saat itulah kehidupan Arisa berubah drastis.
"Suara apa itu, Kang? Aku nggak bisa tidur," bisik Arisa sambil menghimpitkan badannya ke dekat Ogi.
"Itu cuman suara burung hantu atuh, Neng..." sahut Ogi berusaha tenang.
"Kompor gasnya mana, Kang?"
"Di sini masaknya masih pakai kayu atuh, Neng..."
"Ini kenapa sinyalnya nggak ada, Kang? Aku butuh wifi!"
"Di sini wifi belum ada atuh, Neng. Kalau mau sinyal pun harus naik ke tebing dulu."
Banyak pengalaman baru yang harus dilalui Arisa. Bagaimana kisah romantis dan kekocakkan mereka tinggal di desa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31 - Kedatangan Dadang
Ogi masih berdiri di dekat sumur sambil tersenyum sendiri. Tiba-tiba terdengar suara motor berhenti di depan rumah. Tak lama kemudian muncul Dadang berjalan ke arah belakang rumah.
Dadang berhenti beberapa langkah dari sumur sambil memperhatikan Ogi yang masih tersenyum sendiri.
Dadang menyeringai. "Heh Ogi… maneh keur seuri sorangan kitu, siga jalma meunang togel wae. (Hei Ogi… kamu senyum-senyum sendiri begitu, kayak orang menang togel saja.)"
Ogi langsung kaget. "Heh Dadang! Iraha datang? (Eh Dadang! Sejak kapan datang?)"
Dadang mendekat sambil melipat tangan. "Ti tadi. Ningali maneh cengengesan di gigir sumur. Kumaha atuh… keur mikiran pamajikan? (Dari tadi. Lihat kamu cengar-cengir di dekat sumur. Gimana… lagi mikirin istri ya?)"
Wajah Ogi langsung memerah. "Ih teu kitu atuh. (Ah nggak begitu.)"
Dadang tertawa pendek. "Teu kitu kumaha? Maneh mah ayeuna beda pisan. Baheula mah rarayna siga nu kurang sangu. (Nggak begitu gimana? Kamu sekarang beda banget. Dulu wajahmu kayak orang kurang makan.)"
Ogi meringis. "Kau aya-aya wae! Berlebihan ah!"
Dadang melirik ember di dekat sumur. "Eh tadi keur naon di sumur?"
Ogi langsung gelagapan. "Oh… nyokot cai. (Ambil air.)"
Dadang mengangguk-angguk curiga. "Pikeun pamajikan nya? (Buat istri ya?)" tebaknya.
"Iya atuh."
Dadang tertawa kecil.
"Wah… geus jadi salaki soleh ayeuna mah. (Wah… sudah jadi suami saleh sekarang.)"
Ogi menghela napas. "Kau mah sok ngagoda wae! (Kau ini, asyik godain aja!)"
Dadang lalu berubah agak serius. "Eh Gi… tadi Mega datang ka salon."
Ekspresi Ogi langsung berubah. "Mega?"
Dadang mengangguk. "Iya. Manehna nanya-nanya ngeunaan pamajikan maneh! (Iya. Dia tanya-tanya tentang istrimu!)"
Alis Ogi berkerut. "Nanya naon?"
"Nanya asalna ti mana… kunaon nikah jeung maneh… loba lah. (Tanya asalnya dari mana… kenapa nikah sama kamu… macam-macam.)"
Ogi terdiam.
Dadang lalu menyeringai. "Kuring mah geus ngomong wé… pamajikan maneh nikah sabab bogoh ka maneh. (Aku bilang saja… istrimu nikah karena cinta sama kamu.)"
Ogi langsung menatapnya. "Ih… naha ngomong kitu? (Kenapa bilang begitu?)"
Dadang mengangkat bahu. "Biar wae. Biar maneh katingali mahal saeutik. (Biar saja. Biar kamu kelihatan mahal sedikit.)"
Ogi geleng-geleng kepala.
Dadang lalu berkata lagi. "Tapi maneh kudu ati-ati. (Tapi kamu harus hati-hati.)"
Ogi menatapnya. "Ati-ati naon?" tanyanya
Dadang mendengus. "Eta awewe mah gatel! (Perempuan itu gatal.)"
Ogi langsung memicingkan mata. "Kau mah kasar pisan."
Dadang malah tertawa. "Nyatana kitu atuh. Baheula ninggalkeun maneh… ayeuna hayang balik deui. (Kenyataannya begitu. Dulu ninggalin kamu… sekarang mau balik lagi.)"
Ogi menghela napas panjang. "Kuring mah teu mikiran manehna deui. (Aku sudah nggak mikirin dia lagi.)"
Dadang menyeringai lebar. "Enya… sabab geus mikiran Arisa. (Iya… karena sudah mikirin Arisa.)"
Wajah Ogi langsung merah lagi. "Ih teu kitu atuh."
Dadang mendekat sambil menepuk pundaknya. "Ulah bohong ka kuring! (Jangan bohong sama aku!)
Ogi menunduk sedikit.
Dadang lalu berkata dengan nada menggoda. "Maneh mah geus bogoh ka pamajikan kontrak maneh nya? (Kamu sudah cinta sama istri kontrakmu kan?)"
Ogi langsung gelagapan. "Hush! Diam atuh. Nanti ada yang dengar."
Dadang tertawa keras. "Hahaha! Mun teu bogoh, teu bakal seuri sorangan di sumur kitu. (Kalau nggak cinta, nggak bakal senyum sendiri di sumur begitu.)
Ogi garuk-garuk kepala. Tapi Dadang menyeringai.
"Tapi Arisa alus atuh," (Tapi Arisa baik,)" ujar Dadang.
Ogi pelan mengangguk. "Alus pisan. (Sangat baik.)"
"Udah makin cinta ya sama dia?" goda Dadang.
Ogi langsung melemaskan pundaknya. "Parah, Dang... Perasaanku kayaknya malah semakin dalam," ungkapnya.
"Kalau gitu, kejar cintamu. Buat dia jatuh cinta padamu," bisik Dadang.