Vanya, sang ratu live streaming, tewas mengenaskan di depan ribuan penonton saat kalah dalam tantangan PK Maut. Namun, kematiannya justru menjadi awal dari teror digital yang tak masuk akal.
Kini, akun Vanya kembali menghantui. Di jam-jam keramat, ia muncul di live orang lain dan mengirimkan undangan duel. Pilihannya hanya dua: Terima dan menang, atau menolak dan mati.
Di dunia di mana nyawa dihargai lewat jumlah tap layar dan gift penonton, Maya harus mengungkap rahasia di balik algoritma berdarah ini sebelum namanya muncul di layar sebagai korban berikutnya.
Jangan matikan ponselmu. Giliranmu sebentar lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Siaran Langsung di Atas Pusara
Hujan lebat tumpah seketika, seolah langit ingin mencuci bersih dosa yang baru saja terjadi di TPU Jeruk Purut. Tanah makam yang baru saja diurug itu berubah menjadi lumpur merah yang licin. Orang-orang berlarian, menjerit, dan saling sikut untuk mencapai gerbang keluar. Mereka tidak peduli lagi pada martabat, ketakutan akan tangan pucat yang mencuat dari dalam tanah tadi telah menghancurkan logika mereka.
Namun, Maya tidak bisa lari. Kakinya terasa seperti tertanam di dalam beton. Di layar ponselnya, angka countdown PK terus berjalan.
09:45 MENIT TERSISA.
SKOR: @Vanya_Eternal: 150.000 pts | @Maya_Pratama: 0 pts.
"Maya! Lari, Maya!" teriak Rian, sang ahli IT yang juga hadir di sana, sambil mencoba menarik lengan Maya. Namun, saat kulit Rian bersentuhan dengan kain baju Maya, sebuah percikan listrik statis yang biru dan tajam menyambar tangan Rian hingga pria itu terjerembap ke lumpur.
"Jangan sentuh aku, Rian! Ponsel ini... ponsel ini tidak bisa lepas!" jerit Maya histeris. Ponsel itu seolah telah menyatu dengan telapak tangannya. Layarnya memancarkan panas yang menyengat, membakar pori-porinya.
Tiba-tiba, kamera depan ponsel Maya menyala secara otomatis. Wajahnya yang pucat, rambutnya yang basah kuyup, dan latar belakang nisan-nisan yang miring muncul di layar Live. Di sisi lain layar, wajah mayat Vanya dari dalam peti mati menatapnya dengan seringai yang tak alami. Bibir Vanya yang biru tidak bergerak, namun suaranya menggema langsung di dalam kepala Maya.
"Mainkan perannya, Maya... atau jantungmu akan berhenti di detik kesepuluh."
Seketika itu juga, Maya merasakan sebuah remasan kuat di dadanya. Jantungnya berhenti berdetak. Satu detik... dua detik... oksigen seolah menghilang dari dunia. Dunia Maya mulai menggelap. Di layar, muncul peringatan merah: [WARNING]: HEART RATE DROPPING. INCREASE POINTS TO RESTART HEART.
"To... tolong..." Maya tersungkur di atas gundukan tanah makam Vanya. Dengan sisa tenaga, ia menatap kamera ponselnya. "Guys... tolong aku... ketuk layarnya... tolong..."
Penonton yang tadinya melarikan diri dari lokasi, kini justru masuk kembali ke dalam Live tersebut lewat ponsel mereka masing-masing. Angka penonton menembus 100.000. Komentar bergulir seperti air bah.
"Gila, ini promosi film horor ya?"
"Totalitas banget aktingnya sampai pucat gitu!"
"Vanya bangkit dari kubur? Settingan macam apa ini?!"
"Ini bukan settingan!" Maya berteriak ke arah kamera, air mata bercampur air hujan mengalir di pipinya. "Vanya benar-benar ada di sini! Dia... dia ingin aku mati! Tolong kirim gift apa saja... aku mohon..."
Di tengah keputusasaan itu, akun @Anatomi_Maut masuk ke dalam siaran.
@Anatomi_Maut: "Tantangan Tambahan: Jika Maya ingin jantungnya berdetak lagi, dia harus mencium tanah makam Vanya sekarang juga. 50.000 poin untuk setiap detik."
Maya terbelalak. Itu gila. Itu penghinaan terhadap martabatnya dan juga terhadap jenazah sahabatnya. Namun, rasa sakit di dadanya semakin menjadi. Pandangannya mulai memudar, berubah menjadi bintik-bintik putih. Ia bisa merasakan kematian sedang mengulurkan tangan untuk menjemputnya.
Dengan gemetar, Maya menundukkan kepalanya. Di depannya, tanah merah yang basah itu bergerak-gerak. Ia bisa merasakan jari-jari kaku Vanya masih berada di bawah sana, hanya terhalang beberapa inci tanah. Maya memejamkan mata, membuang segala rasa jijik, dan menempelkan bibirnya ke lumpur dingin yang berbau tanah dan kematian itu.
Satu detik... dua detik...
Angka poin di sisi Maya melonjak drastis. 50k... 100k... 200k!
Tiba-tiba, DUM-DUM! Jantung Maya berdetak kembali dengan sentakan yang begitu keras hingga ia terbatuk-batuk, memuntahkan air lumpur dari mulutnya. Oksigen kembali masuk ke paru-parunya dengan rasa perih yang luar biasa.
Di layar, penonton justru menggila. Bukannya merasa ngeri, mereka malah mengirimkan stiker tertawa dan gift kecil-kecilan. Bagi mereka, ini adalah hiburan tingkat tinggi. Sebuah pertunjukan realty show paling ekstrem yang pernah ada.
Namun, kegembiraan itu singkat. Di sisi layar Vanya, arwah itu mulai bergerak lebih liar. Tangan Vanya yang berada di dalam tanah tadi tiba-tiba mencuat lagi, kali ini menjambak rambut Maya dengan kekuatan yang tidak masuk akal, menarik wajah Maya kembali ke lumpur.
"AAAKKKHHHH!" Maya menjerit kesakitan.
Di layar ponsel, angka skor Vanya tiba-tiba melesat menjadi 500.000 tanpa ada yang mengirim gift. Algoritma itu curang. Algoritma itu menginginkan kematian Maya.
Maya menatap ke arah Rian yang masih tergeletak tak jauh darinya. "Rian... cari tahu siapa @Anatomi_Maut... cepat!"
Rian, dengan tangan bergetar, membuka laptop tahan airnya di bawah payung yang rusak. "Maya, aku mencoba melacak IP-nya, tapi... tapi sinyal ini tidak berasal dari internet, Maya! Sinyal ini berasal dari bawah tanah tempatmu berdiri!"
Tepat saat itu, durasi PK menunjukkan 05:00 MENIT TERSISA.
Dari kegelapan di belakang Maya, muncul sebuah sosok tinggi besar dengan jubah hitam, berdiri di antara nisan-nisan. Sosok itu memegang sebuah tablet yang menyala terang, memantulkan logo aplikasi TikTok yang berwarna merah dan biru. Maya menyadari satu hal, permainan ini dikendalikan oleh seseorang yang hadir secara fisik di pemakaman ini.
"Siapa kamu?!" teriak Maya di tengah deru badai.
Sosok itu tidak menjawab. Ia hanya menunjuk ke arah layar ponsel Maya. Di sana, muncul sebuah misi baru yang jauh lebih mengerikan dari sebelumnya.
[MISSION]: UNCOVER THE COFFIN. (Bongkar Peti Matinya). TIME LIMIT: 4 MINUTES. REWARD: 1.000.000 POINTS.
Maya menatap cangkul yang tergeletak di dekat kaki mayat Vanya yang mencuat. Ia harus memilih: Menjadi penista kubur demi bertahan hidup, atau mati terkubur bersama sahabatnya malam ini.
ok next