Rose Moore, seorang desainer perhiasan elit di Boston yang sukses dan cantik, mendapati dunianya hancur tepat di malam perayaan ulang tahun pernikahannya yang ke-2. Suaminya, Asher Hudson, seorang Direktur Pemasaran terpandang, ternyata telah menikah siri selama tiga bulan dengan wanita bernama Mia Ruller atas paksaan orang tuanya. Alasan keji di baliknya: Rose dianggap "tidak suci" karena masa lalunya yang yatim piatu dan tidak perawan, sementara keluarga Hudson menuntut ahli waris dari darah yang mereka anggap "murni".
Alih-alih menangis dan meminta cerai, Rose yang terluka memilih jalan yang lebih dingin, ia menerima pernikahan tersebut hanya demi mempertahankan status hukumnya. Ia bertekad menyiksa Asher secara mental, menguasai hartanya, dan menghancurkan reputasi keluarga Hudson yang sombong dari dalam.
Namun, rencana balas dendam Rose tergoncang saat ia secara tak sengaja bertemu kembali dengan Nikolai Volkov, kekasih masa SMA-nya dari Texas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#12
Angin musim semi di Boston berhembus cukup kencang, membawa aroma laut yang asin ke sebuah kafe terbuka dengan kanopi garis-garis biru di dekat distrik desain. Rose Moore duduk di sudut yang paling tersembunyi, di balik kacamata hitam besar yang menyembunyikan matanya yang sembab dan lelah. Di depannya, secangkir latte yang sudah mendingin tidak tersentuh sama sekali.
Seorang pria dengan perawakan tegap dan langkah yang mengintimidasi mendekat. Nikolai Volkov tidak perlu mencari lama untuk menemukan Rosemary-nya. Meski wanita itu mencoba melebur dengan keramaian Boston, aura Rose selalu menarik Nik seperti kutub magnet.
Nik menarik kursi di depan Rose, suaranya rendah dan penuh perhatian. "Kau terlihat seperti baru saja melewati badai, Rosemary."
Rose mendongak, perlahan melepas kacamata hitamnya. Di bawah sinar matahari yang cerah, Nik bisa melihat kemurungan yang begitu dalam di mata hijau itu. Ada luka yang baru saja disiram cuka, dan Nik bisa merasakannya seolah itu adalah lukanya sendiri.
"Mia hamil, Nik," bisik Rose, suaranya bergetar. "Asher mengatakannya pagi ini dengan wajah penuh kemenangan. Dan di meja makan tadi... wanita itu menghinaku. Dia bilang aku mandul. Dia bilang aku tidak layak memberikan ahli waris karena rahimku kosong."
Rose tertawa getir, menatap ke arah jalanan yang sibuk. "Asher bahkan tidak membelaku. Dia justru membanggakan betapa seringnya dia menyentuh Mia dibandingkan aku. Dia membuatku merasa seperti barang rongsokan yang tidak berguna selama dua tahun ini."
Nikolai terdiam, rahangnya mengeras hingga otot-pipi menonjol. Kemarahan yang dingin menjalar di nadinya. Ia benci melihat Rose yang percaya diri kini tampak begitu rapuh hanya karena kata-kata dari pria pengecut seperti Asher Hudson.
"Kau tidak mandul, Rosemary," ucap Nik dengan nada yang sangat yakin.
Rose menoleh, menatap Nik dengan bingung. "Bagaimana kau bisa seyakin itu? Kami sudah dua tahun menikah, Nik. Dan setiap bulan... aku selalu berharap, meski Asher jarang menyentuhku. Tapi kenyataannya tetap nihil."
Nikolai memajukan tubuhnya, meraih tangan Rose di atas meja dan meremasnya dengan kehangatan yang protektif. Ia menatap mata Rose dalam-dalam, mencoba menarik kembali ingatan yang selama ini terkubur di masa lalu mereka di Texas.
"Sayang, ingatkah kau tentang tahun terakhir kita di SMA?" tanya Nik pelan. "Ingatkah kau saat kita menghabiskan setiap akhir pekan di apartemen kecilku, dan kau begitu takut jika orang tuaku tahu kita melampaui batas?"
Rose mengernyit, mencoba mengingat. "Tentu saja aku ingat. Itu adalah masa-masa paling indah sekaligus paling menakutkan."
"Kau mengonsumsi pil pencegah kehamilan, Rosemary. Hampir setahun penuh," Nik mengingatkan dengan suara yang sangat lembut. "Kau membelinya dalam dosis jangka panjang karena kau tidak ingin ada risiko apa pun yang bisa memisahkan kita saat itu. Kau mengonsumsinya secara rutin setiap hari, tanpa absen, karena kau ingin kita bebas tanpa rasa takut."
Rose terpaku. Ingatan itu muncul kembali seperti potongan film lama. Ia teringat botol-botol kecil yang ia sembunyikan di balik tas sekolahnya. Ia teringat betapa ia sangat protektif terhadap rahimnya saat itu karena ia ingin mengejar beasiswa dan masa depan bersama Nikolai.
"Mungkin efek dari penggunaan jangka panjang itu masih membekas, atau mungkin tubuhmu hanya perlu waktu untuk kembali normal," lanjut Nik, jemarinya mengusap punggung tangan Rose. "Tapi yang paling penting, kau belum hamil bukan karena kau mandul, Rosemary. Kau belum hamil karena pria yang menyentuhmu selama dua tahun ini bukanlah pria yang diinginkan oleh hatimu."
Nikolai memberikan senyum tipis yang penuh arti. "Atau mungkin... alam semesta sedang menjagamu. Alam semesta tidak ingin kau terikat selamanya dengan pecundang seperti Asher lewat seorang anak. Kau dijaga untuk sesuatu yang lebih besar. Untuk seseorang yang benar-benar memujamu."
Rose merasakan dadanya sesak, namun kali ini bukan karena sedih, melainkan karena rasa haru. Nikolai tidak hanya mengingat setiap detail masa lalu mereka, tapi ia juga memberikan penjelasan logis yang mengembalikan harga diri Rose yang sempat hancur di meja makan tadi pagi.
"Nik..." Rose berbisik, air mata mulai menggenang.
"Jangan biarkan kata-kata wanita itu menghancurkan mu," Nik berkata tegas. "Dia hanya punya rahim yang terisi, tapi kau punya dunia di tanganmu. Kau adalah desainer terbaik di Boston. Kau adalah wanita yang membuat Nikolai Volkov tidak bisa berpaling selama lima tahun. Mandul? Itu adalah lelucon paling bodoh yang pernah kudengar."
Nikolai melepaskan tangan Rose sejenak untuk menyesap kopinya, namun matanya tetap terkunci pada Rose. "Biarkan Mia bangga dengan kehamilannya. Biarkan Asher merasa dia adalah pria hebat karena bisa menghamili wanita yang dia paksa cintai. Kita akan menggunakan waktu ini untuk membalikkan keadaan. Jika mereka ingin bermain sebagai keluarga bahagia, kita akan menjadi sutradara dari tragedi mereka."
Rose menghembuskan napas panjang, beban di pundaknya terasa sedikit lebih ringan. Penjelasan Nik tentang pil KB masa lalu itu seolah menjadi jawaban atas keraguan diri yang menghantuinya selama ini. Ia teringat betapa suburnya ia dulu dalam pikirannya sendiri, dan bagaimana Nik selalu memujanya setiap malam.
"Kau benar, Nik. Aku tidak boleh jatuh hanya karena hinaan mereka," Rose menghapus air mata di sudut matanya dengan anggun. "Asher ingin aku menjadi istri yang ikhlas? Baiklah. Aku akan menjadi istri yang sangat ikhlas sampai dia tidak sadar bahwa aku sedang menggali kuburannya sendiri."
"Itu baru Rosemary-ku," ucap Nik dengan bangga. "Sekarang, berhentilah murung. Kita punya rencana besar. Aku sudah meminta Jude untuk melacak semua aset tersembunyi keluarga Hudson. Kita tidak hanya akan menceraikannya, Rose. Kita akan membuatnya kehilangan segalanya harta, martabat, dan wanita darah murni-nya itu."
Rose tersenyum, kali ini sebuah senyuman yang benar-benar mencapai matanya. Di kafe terbuka itu, di tengah hiruk pikuk Boston, Rose menyadari bahwa ia tidak pernah benar-benar kehilangan kekuatannya. Ia hanya butuh seseorang dari masa lalunya untuk mengingatkan siapa dirinya sebenarnya.
Pertemuan itu berakhir dengan Rose yang kembali berdiri tegak. Ia tidak lagi melihat dirinya sebagai wanita mandul yang terkhianati, melainkan sebagai seorang pejuang yang sedang mempersiapkan serangan balik. Dan saat ia berjalan kembali menuju studionya, ia tahu bahwa Nikolai Volkov ada di belakangnya, siap membakar dunia demi memastikan Rose Moore tetap menjadi ratu yang tak tergoyahkan.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰