Gu Yanqing hidup miskin, tanpa latar belakang, tanpa peluang.
Hingga suatu hari, Sistem Peningkatan Kekayaan aktif—memberinya kesempatan untuk naik kelas, selama semua yang ia peroleh masuk akal dan sah.
Dari nol ke kaya, dari diremehkan ke dikelilingi orang-orang yang terlihat tulus.
Tapi di dunia uang dan status, kepercayaan punya harga.
Dan saat harga itu terlalu mahal, tidak semua orang sanggup membayarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 : Berita yang Menyimpang (2)
Siang hari di kawasan pelabuhan terasa berbeda.
Bukan karena cuaca. Bukan karena jadwal bongkar muat berubah. Ritme kerja tetap sama—kontainer diturunkan, dokumen diperiksa, truk keluar masuk gerbang utama dengan suara mesin berat yang konstan.
Yang berubah adalah tatapan.
Gu Yanqing berjalan melewati jalur inspeksi seperti biasa. Jasnya rapi, langkahnya terukur. Ia tidak mempercepat, tidak memperlambat. Namun percakapan yang sebelumnya mengalir di antara para pekerja berhenti sepersekian detik saat ia melintas.
Lalu kembali terdengar—lebih pelan.
Tidak ada yang menegurnya secara terbuka. Tidak ada yang menunjuk atau berbisik terlalu jelas. Tetapi atmosfer sosial memiliki cara sendiri untuk menunjukkan pergeseran.
Artikel dari Linhai Daily telah sampai ke sini.
Di ruang istirahat pekerja, layar televisi kecil tergantung di sudut ruangan. Berita lokal diputar ulang. Cuplikan headline tentang gugatan terhadap Dongkou Port Group muncul sekilas di bagian bawah layar sebagai running text.
“Pengusaha muda tuntut kompensasi besar.”
Kalimat itu sederhana. Namun ia cukup untuk menggerakkan imajinasi.
Seorang pekerja menatap layar, lalu berbisik pada rekannya, “Nilainya besar sekali katanya.”
Rekannya mengangkat bahu. “Kalau cuma cari uang, ya wajar perusahaan marah.”
Tidak ada yang menyebut nama Gu secara langsung. Tetapi semua tahu siapa yang dimaksud.
Gu Yanqing berhenti sejenak di dekat area administrasi. Ia memeriksa jadwal pengiriman, memastikan semuanya berjalan sesuai kontrak. Tindakannya tetap profesional, suaranya tetap datar ketika memberi instruksi.
Namun di balik ketenangan itu, ia mencatat.
Opini publik tidak datang dalam bentuk teriakan. Ia datang dalam bentuk asumsi kecil yang diulang.
Di ujung lorong, Wang Jicheng berdiri bersama dua mandor. Pria itu tidak tersenyum, tetapi sorot matanya tajam. Ia berbicara dengan nada cukup keras untuk terdengar tanpa terlihat sengaja diperdengarkan.
“Kita semua bekerja untuk stabilitas,” kata Wang Jicheng. “Kalau ada yang mencoba mengguncang perusahaan dengan tuntutan tidak masuk akal, dampaknya bukan hanya pada manajemen.”
Salah satu mandor mengangguk cepat. “Benar. Kalau perusahaan goyah, siapa yang rugi duluan? Pekerja.”
Gu Yanqing tidak berhenti. Ia tetap berjalan, seolah percakapan itu tidak berkaitan dengannya.
Namun pesan sudah disampaikan.
Narasi artikel diperkuat di tingkat internal. Tidak perlu instruksi tertulis. Cukup pengulangan gagasan bahwa gugatan sama dengan ancaman terhadap stabilitas.
Stabilitas adalah kata yang kuat di lingkungan industri.
Ia berarti gaji tepat waktu.
Berarti kontrak diperpanjang.
Berarti keluarga tetap makan.
Jika gugatan dikaitkan dengan ancaman terhadap stabilitas, maka penggugat otomatis ditempatkan di sisi yang berlawanan dengan kepentingan kolektif.
Gu Yanqing masuk ke ruang kerjanya. Ia menutup pintu dengan pelan, bukan membanting. Meja kerjanya rapi, berkas tersusun sesuai urutan prioritas.
Ia duduk, membuka catatan kecilnya.
Poin pertama: Reaksi sosial mulai terlihat.
Poin kedua: Narasi “stabilitas vs tuntutan” diperkuat internal.
Poin ketiga: Tidak ada serangan langsung—hanya pembingkaian.
Ponselnya bergetar.
Pesan singkat dari Liu Haifeng.
“Pak Gu, saya lihat berita hari ini… apakah ini akan berdampak besar?”
Tidak ada kata “ragu” dalam pesan itu. Tetapi ada jeda. Ada kehati-hatian.
Gu Yanqing membaca ulang kalimat tersebut.
Inilah tujuan sebenarnya.
Jika saksi mulai mempertanyakan arah perkara, maka fondasi gugatan melemah dari dalam.
Ia membalas singkat.
“Proses berjalan sesuai hukum. Tidak ada yang berubah.”
Tidak ada kalimat tambahan. Tidak ada pembelaan emosional.
Beberapa menit kemudian, balasan datang.
“Baik, Pak.”
Singkat. Netral. Namun Gu Yanqing tahu stabilitas komitmen tidak bisa diukur hanya dari panjang pesan.
Di luar ruangannya, suara langkah terdengar. Dua staf administrasi berbicara pelan.
“Katanya nilainya hampir tidak masuk akal.”
“Kalau benar, itu bisa jadi preseden buruk.”
Preseden.
Kata itu muncul lagi, seperti dalam artikel.
Gu Yanqing menutup matanya sejenak.
Kekuatan media bukan pada volume, tetapi pada replikasi bahasa. Ketika kata yang sama diulang di berbagai ruang, ia berubah menjadi persepsi umum.
Ia membuka mata kembali.
Di hadapannya bukan sekadar perkara hukum. Ia sedang menghadapi perang narasi.
Namun ia tidak akan memasuki perang itu dengan emosi.
Ia berdiri, keluar dari ruangan, berjalan menuju area operasional utama. Beberapa pekerja mengangguk formal saat berpapasan, tetapi tidak lagi sehangat sebelumnya.
Perubahan itu tipis. Namun nyata.
Wang Jicheng melangkah mendekat, senyum tipis di bibirnya.
“Pak Gu,” sapanya dengan nada sopan. “Berita hari ini cukup ramai.”
Gu Yanqing menatapnya tanpa perubahan ekspresi. “Media bekerja sesuai kepentingannya.”
“Semoga perkara ini tidak mengganggu operasional.”
“Operasional tergantung pada kepatuhan kontrak,” jawab Gu datar.
Wang Jicheng tersenyum lebih lebar, tetapi tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya mengangguk dan pergi.
Percakapan singkat itu tidak memicu konflik terbuka. Namun garis pemisah semakin jelas.
Sore hari, Gu Yanqing berdiri di tepi dermaga. Angin laut membawa aroma asin yang kuat. Kontainer berderet seperti dinding logam raksasa.
Ia memahami satu hal dengan jernih.
Individu melawan institusi besar tidak hanya diuji di ruang sidang. Ia diuji di ruang sosial. Di tempat di mana reputasi menentukan siapa yang dipercaya, bahkan sebelum hakim berbicara.
Panel sistem muncul kembali, singkat.
Litigasi aktif.
Sentimen publik: Negatif 64%.
Angka itu naik dua persen.
Perubahan kecil, tetapi konsisten.
Tidak ada alarm. Tidak ada peringatan dramatis.
Hanya data.
Gu Yanqing tidak merasakan panik. Ia hanya menyesuaikan kalkulasi.
Jika opini publik terus bergerak negatif, tekanan terhadap saksi akan meningkat. Jika tekanan meningkat, stabilitas internal goyah. Jika goyah, perusahaan tidak perlu menyerang langsung—ia cukup menunggu.
Strategi melemahkan dari luar.
Ia menarik napas dalam.
Fokusnya tetap sama: jalur hukum.
Bukti. Dokumen. Prosedur.
Opini publik adalah variabel, bukan inti.
Namun ia tidak boleh mengabaikannya sepenuhnya.
Saat matahari mulai turun, suara percakapan di antara para pekerja kembali terdengar lebih jelas. Kali ini, seorang mandor berbicara lebih lantang.
“Katanya tuntutannya bisa bikin perusahaan rugi besar.”
“Kalau begitu, siapa yang menjamin bonus akhir tahun?”
Tawa kecil terdengar.
Gu Yanqing berdiri beberapa meter dari mereka. Ia tidak menegur. Tidak membantah.
Ia hanya mengamati.
Narasi negatif telah berkembang melampaui artikel awal. Kini ia bercampur dengan ketakutan pribadi.
Dan ketakutan pribadi lebih sulit dilawan daripada opini abstrak.
Ponselnya kembali bergetar.
Zhao Haoran.
“Ada dua akun media lokal lain mengutip artikel itu,” kata Zhao tanpa basa-basi. “Judulnya lebih tajam.”
Gu Yanqing menatap laut yang mulai gelap. “Berapa lama sebelum mereka menyebut saya secara lebih langsung?”
“Mungkin segera.”
Ia mengangguk pelan, meski Zhao tidak bisa melihatnya.
Perang telah berpindah dari dokumen ke persepsi.
Dan di lingkungan pelabuhan, bisikan mulai bergerak lebih cepat daripada fakta.
Di ujung dermaga, seorang mandor lain sedang berbicara pada sekelompok pekerja baru.
“Kita harus hati-hati,” katanya. “Jangan sampai ikut terseret urusan orang yang mencari keuntungan pribadi.”
Kalimat itu sederhana.
Namun kali ini, beberapa kepala menoleh ke arah Gu Yanqing tanpa menyembunyikan pandangan mereka.
Tekanan sosial tidak lagi samar.
Ia telah menjadi arus.
Gu Yanqing tetap berdiri tegak. Wajahnya tenang, langkahnya stabil ketika ia berbalik meninggalkan dermaga.
Ini belum kekalahan.
Belum juga kemenangan.
Ini adalah fase pertama dari perang panjang.
Dan ketika malam turun di atas pelabuhan Linhai, gosip mulai bergerak lebih cepat daripada berita resmi—menyebar dari ruang istirahat ke area bongkar muat, dari mandor ke pekerja kontrak.
Narasi negatif tumbuh di luar kendali awalnya.
Tekanan sosial meningkat.
Dan Gu Yanqing tahu, besok pagi, arus itu akan lebih deras daripada hari ini.