Leana putri tunggal seorang pengusaha yang tidak pernah terekspos, sehingga dia di kenal sebagai anak orang miskin yang masuk ke tempat elit demi menaikkan derajat. Menjadi pacar seorang anak miliyader membuatnya menjadi pusat perhatian, Reno putra ke tiga dari keluarga ternama di kotanya, Ketika berkunjung kerumah sang pacar dia mendapati teman baiknya sedang berduaan. Meminta pertanggung jawaban namun tak di hiraukan Reno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhe vi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
3000 undangan yang Ray sebarkan, aku tidak habis fikir kenapa dia mengundang orang segitu banyak belum lagi nanti tamu dari mama dan ayah belum teman-teman tante Mia dan suaminya.
“Kenapa love? Ibu hamil nggak baik loh banyak melamun”. Tegur Ray padaku
“Kenapa undangannya begitu banyak beb, nanti kamu habis banyak gimana?”.
“Leanaku sayang, uang bisa di cari tapi pernikahan kita seumur hidup hanya sekali”.
Ya ampun calon suamiku ini ternyata gombal sekali. Mama dan ayah ku dalam perjalanan ke sini, tapi tante Mia sudah lama berada di kota yang sama denganku karena dia membantu Ray masalah pernikahan kami ini.
Aku melihat kembali cincin berlian di jari manis ku bermatakan blue safir batu perhiasan yang kaling aku sukai.
Ray juga cerita tentang mamanya yang sedang membangun kamar untukku dan Ray, rencananya selama aku hamil akan
Pulang kerumah Ray hingga anak kami lahir dan kami kembali kerumah.
Akhirnya hari pernikahan kami, gaunku yang berwarna biru muda di padukan dengan perhiasan yang Ray berikan untukku cantik banget apa benar ini adalah aku bahkan penata riasku juga bukan seorang penata rias biasa, sempurna ini benar-benar sempurna.
Ray masuk ke ruang gantiku Karena dia sudah selesai berpakaian.
“Istriku cantik sekali”. Ciumnya pada pipiku dan mengelus perutku yang masih belum terlihat.
“Ray aku sudah pake makeup”.
“Terus? Tiap hari aku cium kamu apa itu nggak pakai makeup”.
“Ish itukan cuma tipis-tipis aja”.
“Iya deh iya. Sudah siap?”.
Akupun mengangguk.
Kami bersamaan pergi ke ballroom untuk mengikuti sesi paling sakral dan yang menyatakan bahwa Kamis dalam suami Isti yang sah secara agama maupun negara.
“Selamat datang di keluarga Wilder sayang mama”. Sambut mama Ray setelah prosesi akad pernikahan.
“Terima kasih ma”. Aku membalas pelukan ibu mertuaku itu.
Setelahnya aku kembali duduk di tempat duduk pengantin bersama Ray. Dia masih menggenggam erat tanganku aku kan malu dilihatin tamu sebanyak ini.
“Kenapa Love?”.
“Lepasin beb, malu di lihatkan banyak tamu”.
“Biarkan saja, namanya juga orang lagi bahagia kan”.
“Ih kamu ah beb”
Ray hanya tertawa, tapi siapa sangka di balik kebahagiaan kami ada seseorang yang merasa sakit hati dan marah dengan apa yang dia lihat di depan matanya saat ini.
Melisa juga merasa gelisah pasalnya dia menikah dengan Reno tidak semewah dan sebanyak ini orang yang datang.
“Ren kenapa tamu kita tidak sebanyak ini?”. Tanyanya pada suaminya
“Kamu kira aku mampu mengundang orang sebanyak ini, lagian ini gedung sangat mahal”
“Loh ayanh kamu kan kaya? Kaka kamu juga punya banyak uang”
“Ya yang pentingkan kita susah menikah, lagian pernikahan itu sederhana saja cukup karena kita hidup bersama itu juga banyak pengeluaran apa lagi kita punya anak”. Keluh Reno pada Melinda
“Apa salahnya sih mengadakan pesta pernikahan mewah kamu kan anak orang kaya”.
“Terus orang tua kamu kemarin ada kontribusi apa di pernikahan kita, alasan kamu Karena mereka sibuk nggak bisa datang, sekarang anak kita sudah 10 bulan mereka juga tidak ada menjenguk”
Melisa terdiam alasan apalagi dia kali ini pada Reno, bagaimana mungkin dia bilang bahwa bibi dirumah keluarga Wilder itu adalah ibunya dan ayah kandungannya hanya seorang pengangguran di desa asal ibunya dan dirinya.
Beruntung Melinda memiliki wajah cantik dari ayahnya, hanya bertampang modal ayahnya nekat untuk menikahi ibunya yang saat itu menjadi seorang bunga desanya.
Keluarga Wilder nampak sangat bahagia dengan pernikahan Ray dan Leana, berbanding terbalik dari pernikahan Reno dan Melinda yang di adakan secara sederhana di taman rumah keluarga Wilder.
Selesai acara pernikahan para penata rias membantuku membersihkan makeup ku, selesai membersihkan makeup aku langsung mandi air hangat untuk melepas penat setelah seharian menjadi boneka pengantin.
“Cape Love”. Tanyanya Ray
“Lumayan”.
Dia memijat kakiku dengan lembut.
“Kamu istirahat aja dulu, kasian kamu sama baby seharian ini”.
“Iya terimakasih beb”.
“Terimakasih untuk apa love?”. Tanyanya padaku
“Untuk semuanya dan ku harap ini yang terakhir ya”.
Ray mememlukku dan mencium keningku setelahnya dia membaringkan ku di sampingnya, begini ya rasanya menjadi pengantin baru rasanya dunia hanya milik kami berdua, ah aku lupa sekarang kami sudah bertiga, sehat-sehat ya baby mama dan papa, aku mengelus perutku.
Saat ini aku tinggal dirumah keluarga Wilder dan kamar baru yang aku tempati sangat luas, nyaman dan sejuk sekali apa tidak boros ya kalau ac dirumah ini dinyalakan selama 24jam?
morning sickness ini sungguh sangat menyebalkan, di kamar pribadi kami imi ada sebuah kotak khusu untuk obat-obatan dan siapa sangka di sana ada pengaman pencegah kehamilan, ini masih baru, tapi kenapa ada beginian lagian usah punya istri dan anak masa masih pakai pengaman juga.
“Beb”. Panggilku pada Ray tapi dia masih tertidur pulas,
Lagian Ray juga mengambil cuti menikah nya.
Aku keluar dari kamar kulihat bibi sedang sibuk menjaga anak Melinda dan dia sendiri sedang santai di ruang keluarga, namanya Adriann anak kandung Reno. Tapi karena Reno bukan anak kandung keluarga Wilder itu berarti Adrian bukanlah cucu dari keluarga ini, tapi kenapa tuan Wilder masih mempertahankan Reno di dalam rumah ini.
“Bi yang benar dong mengurus Adrian jangan sampai tubuhnya ada memar lagi ya”. Tegur Melinda pada bibi
“Iya non”.
Memar? Apa yang terjadi pada Adrian, aku yang akan menjadi calon ibu tentunya penuh tanda tanya juga kenapa Adrian anak sekecil itu bisa mengalami memar di tubuhnya.
“Eh mantu mama sudah bangun”. Sapa mama Ray
“Ayo nak sarapan dulu”. Ajak mama Ray ke meja makan
Kulihat di sana sudah ada berbagai macam masakan yang beliau buat sendiri, baunya juga enak semoga aja kali ini nggak mual-mual lagi. Siapa sangka setelah aku makan masakan mama Ray aku tidak merasakan mual ya mungkin ini karena obat yang aku konsumsi.
“Gimana sayang sesuai dengan selera kamu?”. Tanya mama Ray
“Iya ma, terimakasih. Tapi ma kenapa Melinda nggak makan sama kita?”
“Dia bisa makan sendiri”. Ucap mama Ray sambil melahap makanan di piringnya
Tiba-tiba Ray datang ke meja makan sambil mencium wajahku.
“Pagi love”. Sapanya
“Beb malu ih ada mama juga”.
“Nggak apa-apa kok Lea, itu artinya Ray sayang dan perhatian sama kamu nggak seperti satu itu tiap hari ribut saja kerjaannya”.
Melinda melihat ke arah kami dengan tatapan tidak suka, dia semenjak tinggal di rumah ini tidak pernah mendapat perlakuan selayaknya seorang menantu perempuan yang di cintai oleh keluarga suaminya, yang ada dia dan Reno sering bertengkar tentang hal apapun, apa dengan aku tinggal di sini akan menjadi bahan pertengkaran mereka lagi?.
semangat ngetik thor sampe tamat..