Menjadi guru tampan dan memiliki karisma over power memang tidak mudah. Dialah Adimas Aditiya, guru muda yang menjadi wali kelas sebuah kelas yang anehnya terlalu hidup untuk disebut biasa.
Dan di sanalah Rani Jaya Almaira berada. Murid tengil, manis, jujur, dan heater abadi matematika. Setiap ucapannya terasa ringan, tapi pikirannya terlalu tajam untuk diabaikan. Tanpa sadar, justru dari gadis itulah Adimas belajar banyak hal yang tak pernah diajarkan di bangku kuliah keguruan.
Namun karena Rani pula, Adimas menemukan jalannya rumahnya dan makna cinta yang sebenarnya. Muridnya menjadi cintanya, lalu bagaimana dengan Elin, kekasih yang lebih dulu ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Tes
Akhirnya yang ditunggu tiba juga, Rani kini berada di ruangan sederhana. Meja panjang, tiga penguji, dan satu kursi di tengah. Rani duduk tenang, kedua tangannya terlipat rapi di pangkuan, itu hari dia melakukan tes langsung dari Al-Azhar.
[Jujurly, aku gak bisa bahasa Arab kalau dalam versi tulisan. Jadi epribadeh, maaf nih ya kalau tulisanku ada banyak salahnya, ya minimal mirip lah gini kalau kata beberapa orang pengujiannya banyak tapi kita buat bentar aja. Soalnya pengujian yang sebenarnya panjang, kawan. Pertama kamu harus tahfiz, benar-benar tahfiz dari Surat Al-Baqarah sampai selesai. Terus pelafalan makhraj dan tajwid. Terus ada juga tes ditanya kaya di bawah ini mirip gitu, tasmi‘ bil maqṭa‘. Ini hafalan kaya gini sering banget dilakukan di Al-Azhar, coy. Ya di Indo juga sih, di beberapa pesantren mungkin. Dan nih ya aku kasih bocoran secuir dari mereka yang berpengalaman di sana. Katanya di sana itu gak ada lah istilahnya nyontek, dan kebanyakan ujiannya itu lisan dan hafalan. Bayangkanlah! Bunyek kalau kepala aku sih. Tapi kita ikuti dulu ya kisah Rani, semoga aku gak keburu pusing.]
Seorang penguji paruh baya membuka percakapan, suaranya ramah tapi tegas.
“Assalāmu ‘alaikum.”
“Wa‘alaikumussalām warahmatullāh.” Jawab Rani tanpa ragu. Penguji itu tersenyum tipis.
“Ismuki man?”
“Ismī Rānī Jāyā Almaira.” (Nama saya Rani Jaya Almaira.)
“Min ayna anti?”
“Ana min Indūnīsiyā.” (Saya dari Indonesia.)
Penguji kedua ikut masuk percakapan.
“Kam ‘umruki al-ān?”
“‘Umrī sab‘ata ‘ashara ‘āman.”
(Umur saya tujuh belas tahun.)
Penguji ketiga mengangguk puas.
“Hal tafhamī lughat al-‘Arabiyyah?”
(Apakah kamu memahami bahasa Arab?)
“Na‘am, afhamuhā qalīlan wa at‘allam al-ān.”
(Ya, saya memahaminya sedikit dan masih belajar.)
Ruangan itu hening. Salah satu penguji menutup berkas di depannya, lalu menatap Rani lebih lama.
“Ismuki qad sami‘nāh. Al-ān nurīdu an nakhtabir al-ḥifẓ.”
(Namamu sudah kami dengar. Sekarang kami ingin menguji hafalan.)
Rani mengangguk pelan.
“Tafaddhal.”
Penguji kedua berbicara.
“Iqra’ī min Sūrat Yūsuf, min qawlihī ta‘ālā…”
(Bacakan Surah Yusuf, mulai dari firman Allah…)
Ia menyebutkan ayat awal dengan sengaja di tengah cerita. Rani menjawabnya dengan sangat mudah, bahkan semua lafalnya terdengar amat jelas di telinga.
Beberapa ayat berlalu.
Penguji mengangkat tangan.
“Tawaqqafī.”
(Berhenti.)
Ia mencondongkan tubuh.
“Lima dhukira al-qiṣṣah hāhunā bi hādhā asy-syakl?”
(Mengapa kisah ini disampaikan dengan cara seperti ini?)
Rani tidak langsung menjawab.
“Karena kisah Nabi Yusuf bukan sekadar cerita,” ucapnya perlahan.
“Tapi penghiburan bagi orang yang dikhianati, disalahpahami, dan diuji berkali-kali.”
Penguji ketiga menyela.
“Wa mā al-‘ibrah al-a‘ẓam?”
(Apa pelajaran terbesarnya?)
“Bahwa kesabaran tidak selalu terlihat menang di awal,” jawab Rani.
“Tapi Allah tidak pernah lalai menyiapkan akhir yang adil.”
Suasana semakin serius.
“Sekarang hadis,” ucap penguji pertama.
“Udhkurī ḥadītsan ‘an an-niyyah.”
Rani langsung membacakan hadis tersebut.
“Artinya?” tanya penguji kedua.
“Sesungguhnya amal tergantung niatnya,” jawab Rani mantap.
“Dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.”
Penguji menatap tajam.
“Wa mā niyyatuki anti?”
(Apa niatmu?)
Rani menelan ludah, lalu menjawab jujur.
“An ata‘allama dīnan lā yastakbir, wa qalban lā yatakabbir.”
(Untuk mempelajari agama tanpa kesombongan, dan memiliki hati yang tidak angkuh.)
Hening.
Salah satu penguji akhirnya menutup buku catatannya.
“Hādhā laysa ḥifẓan faqaṭ… hādhā fahm.”
(Ini bukan sekadar hafalan… ini pemahaman.)
Penguji pertama menelungkupkan tangannya di dada dengan sopan.
"Selamat, Nak. Kamu memang layak berada di sini. Dan selamat atasmu yang sudah membuktikan diri dan bisa langsung masuk melalui jalur khusus yang sudah disiapkan." Ucap penguji tersebut, Rani tampak tersenyum.
"Terima kasih," ucap Rani. Setelah mengucapkan salam penutup, Rani langsung berlari ke arah Ibunya yang menunggu di ruang tunggu. Di sana, ada juga kakeknya yang tersenyum pada Rani.
"Bagaimana, Nak?" Tanya sang Ibu, Rani langsung tersenyum lebar.
"Anak Mamahkan kesayangan masa buat malu Mamah." Ucap Rani mengecup kening sang Mamah beberapa kali, ya meski sifat tengilnya susah hilang, namun niatnya kini sudah benar.
Rani pribadi juga berharap, semoga di sana nanti dia bisa mengubah kelakuannya yang terkadang sering terbawa emosi tak terkendali dengan lebih baik. Lebih bisa menjaga lisan dan perbuatannya, dan lingkungan terkadang memengaruhi segalanya.
Lingkungan Rani saat ini adalah orang-orang somplak para mahasiswa dan mahasiswi yang bicaranya ceplas-ceplos, dan dia juga 11-12 dengan Elyra. Jadi, bisa memiliki sifat tenang dari mana? Bila semua temannya rusuh semua.
"Kapan berangkatnya, Nak?" Tanya sang Kakek, Rani tampak sejenak terdiam sebelum akhirnya tersenyum.
"Insyaallah satu bulan mendatang, Kek. Untuk sementara Rani akan tinggal di sini selama dua minggu. Namun setelahnya Rani dan Mamah akan pulang ke Bukittinggi dan bersama dengan Kakek sebelum Rani berangkat." Jawab Rani, Kakeknya tersenyum bangga.
"Tentu saja, Nak. Serahkan urusan Ibumu padaku. Kamu belajarlah dengan giat, Kakek tak mengharapkan apa pun. Kakek hanya ingin kamu bahagia, kamu menjadi orang yang berguna untuk nusa, bangsa, dan agama, Nak." Ucap sang Kakek, Rani tersenyum tulus mendengarnya.
"Insyaallah, Kek," jawab Rani, kini tutur katanya mulai dicoba dijaga sedikit demi sedikit.
Hingga dua minggu kemudian, Kakeknya sudah pulang ke Bukittinggi dan Rani bersama Ibunya tengah berkemas di rumah. Sebuah mobil sedan putih tampak terparkir di bagian depan rumah Rani.
Seorang wanita keluar dari sana, dia menggunakan abaya hitam dengan cadar menutupi setengah wajahnya, dan seorang pria yang amat dikenali Rani.
"Papah?" Gumam Rani, Ibu Rani yang melihat itu langsung syok berat dan akhirnya jatuh pingsan di tempat.
"Mah? Mamah bangun, Mah!" Teriak Rani, Ayah Rani tampak mengetuk pintu. Rani tak membukanya, dia menatap semua ransel dan koper miliknya.
Rani langsung menghubungi ambulans dengan cepat, hingga akhirnya Ayah Rani berhasil masuk melalui jalur belakang. Rani membelalakkan matanya saat melihat sang Ayah bersama istri barunya berdiri di ambang pintu belakang.
"Keluar kalian!" Teriak Rani akhirnya, air matanya jatuh beruraian. Kesabaran yang mulai dia latih kembali runtuh.
Ambulans datang tak lama kemudian. Rani membuka pintu depan, membiarkan para perawat bertindak. Sedangkan Ayah Rani tampak mematung di tempat.
Rani menangis sejadi-jadinya, hingga akhirnya Ibunya dapat ditangani. Dengan tangan bergetar, Rani tak tahu harus menghubungi siapa saat itu. Tak ada sanak keluarga Ibunya di sana, dan yang dia pikirkan hanya Adimas dan Elyra.
Alhasil Rani menghubungi Elyra dan meminta dia datang. Rani masih menangis, dia beberapa kali menggigit sweater hitam yang dia gunakan. Bahkan jilbab hitamnya sudah tenggelam di balik cuilan sweaternya sendiri.
"Ran?" Sapaan Elyra. Dan ternyata di sana yang mengantar Elyra adalah Adimas.
Ya Allah malam² ngajak ditahan sambil batuk² 🤣🤣🤣
dasar Aryaaaaa astaghfirullah 🤣
pingin denger cerita Rani, yg ayah nya menjodohkan Rani sampai nangis gitu.
apa ibu nya Rani gak cerai dan jadi satu sama istri muda suaminya, kalau benar gak rela bgt aku.
dah 3 bab tapi masih kurang rasanya 😁
tetap ngakak walaupun mirip Gilang, tapi ngakak nya di tahan sampe perut sakit, mlm² di kira mba Kunti kalau ngakak 🫢
kayaknya banyak mengandung bawang