Kang Yun-seo, seorang pemuda biasa dari dunia modern yang doyan main game, tiba-tiba terbangun di dunia Murim yang penuh intrik dan seni bela diri. Ia dipanggil oleh Hwang Yehwa, ratu iblis yang sekarat akibat pengkhianatan, dan kini kehilangan kekuatannya, berubah wujud menjadi manusia biasa. Untuk bertahan di wilayah manusia yang memusuhi iblis, Yun-seo harus berpura-pura sebagai suaminya. Dengan pengetahuan modernnya, Yun-seo beradaptasi di akademi pedang, menghadapi turnamen, konspirasi gelap, dan bangkitnya kekuatan iblis, sambil menumbuhkan ikatan tak terduga dengan ratu dingin itu. Sebuah kisah isekai penuh aksi, komedi, dan romansa di antara dua dunia yang bertabrakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: SERANGAN BAYANGAN
Malam itu, istana Dinasti Iblis tampak tenang di bawah sinar bulan purnama.
Namun ketenangan itu menipu. Di balik tembok batu hitam, para prajurit berjaga dengan kewaspadaan tingkat tinggi. Yun-seo berdiri di balkon tertinggi, menatap cakrawala dengan mata tajam. Cincin Kekaisaran di jarinya bersinar redup—tanda kekuatan Kaisar Jin yang terus mengalir dalam dirinya.
Tiga tahun telah mengubahnya. Tubuhnya yang dulu kurus kini padat berotot karena latihan rutin. Wajahnya yang dulu polos kini penuh ketegasan. Tapi di balik semua itu, ia tetaplah Kang Yun-seo—pemuda dari dunia modern yang jatuh cinta pada ratu iblis.
"Hyung." Suara Cheol-soo dari belakang. Pandai besi muda itu kini telah tumbuh menjadi pemuda berusia 23 tahun dengan bahu lebar dan lengan kekar karena pekerjaannya. Tapi senyum cerianya tidak pernah berubah. "Semua sudah siap. Dua ratus prajurit terbaik di posisi masing-masing. Jebakan di gerbang utama sudah dipasang."
Yun-seo mengangguk. "Bagus. Kau sendiri di mana nanti?"
"Di pandai besi, hyung." Cheol-soo mengeluarkan sebuah pedang pendek dari pinggangnya. "Aku buat ini khusus. Namanya 'Pemutus Bayangan'. Bisa melukai makhluk kegelapan."
Yun-seo mengamati pedang itu—bilahnya hitam pekat dengan ukiran emas, gagangnya dari tanduk naga. "Kau jadi pandai besi hebat, Cheol-soo."
Cheol-soo tersenyum lebar. "Semua berkat hyung. Kalau tidak diajak ke akademi dulu, mungkin aku cuma jadi tukang besi biasa di Lorong Kegelapan."
Mereka berdua diam sejenak, menikmati kebersamaan di tengah ketegangan. Di kejauhan, suara serigala melolong—atau mungkin itu bukan serigala.
"Jin-ho sudah tidur?" tanya Cheol-soo.
"Sudah. Aku titipkan pada pengasuh terpercaya. Ada dua puluh prajurit terbaik di sekitar kamarnya." Yun-seo menghela napas. "Dia tidak tahu apa yang terjadi. Kusuruh dia tidur seperti biasa."
"Bagus. Anak itu terlalu kecil untuk lihat perang."
Tiba-tiba, sirene perang berbunyi dari tembok barat. DUAR! Ledakan mengguncang malam.
Yun-seo dan Cheol-soo berlari. Dari balkon, mereka melihat tembok barat terbakar—api hitam menjilat langit.
"Mereka datang," desis Yun-seo.
---
Pasukan bayangan menyerbu dari segala penjuru.
Mereka bukan iblis biasa. Makhluk-makhluk ini—disebut Wraith oleh para prajurit—adalah manusia yang telah mengorbankan jiwa mereka untuk kekuatan kegelapan. Tubuh mereka tembus pandang, bergerak seperti kabut, dan senjata biasa tidak mempan.
Tapi prajurit Dinasti Iblis tidak gentar. Mereka telah dilatih khusus untuk menghadapi musuh seperti ini. Tombak-tombak dengan ujung batu obsidian—satu-satunya material yang bisa melukai Wraith—terhunus.
Pertempuran pecah di seluruh area istana. Benturan senjata, teriakan perang, jeritan kesakitan—semua bercampur jadi simfoni kematian.
Yun-seo melompat dari balkon, mendarat di tengah pertempuran. Tombak Seribu Jiwa di tangannya menyala merah—api emas, bukan hitam. Dengan satu putaran, ia membabat tiga Wraith sekaligus. Mereka menjerit, lalu lenyap jadi abu.
"Di mana pemimpin mereka?!" teriaknya pada seorang prajurit.
"Gerbang utama, Tuanku! Mereka menerobos!"
Yun-seo berlari. Di sepanjang jalan, ia melihat pemandangan mengerikan—prajurit-prajuritnya bertarung mati-matian, beberapa sudah tewas. Tapi tidak ada waktu untuk berkabung. Ia harus mencapai gerbang.
Di gerbang utama, pemandangan lebih mengerikan.
Puluhan Wraith telah masuk. Mereka dikepalai oleh seorang wanita—rambut perak panjang, mata merah menyala, jubah hitam berkibar. Ia duduk di atas singgasana darurat yang dibuat dari mayat prajurit yang bertumpuk.
"Kang Yun-seo," sapa wanita itu dengan suara merdu tapi dingin. "Aku sudah lama ingin bertemu denganmu."
Yun-seo mengamatinya. Wajahnya—mirip Lilian, tapi lebih muda, lebih cantik dengan cara yang menyeramkan.
"Lilith," tebaknya.
Wanita itu tersenyum. "Tepat. Putri Lilian dan Penguasa Kegelapan. Pewaris sah dari dua bangsa yang membenci ibumu." Ia bangkit dari singgasananya yang mengerikan. "Di mana anakmu? Aku ingin bermain dengannya."
Yun-seo mengepalkan tombaknya. "Kau tidak akan menyentuhnya."
"Oh, kau pikir kau bisa menghentikanku sendirian?" Lilith tertawa. "Ratumu pergi. Pengawalmu sibuk. Kau hanya manusia setengah iblis yang belum menguasai kekuatannya."
"Aku cukup untuk mengalahkanmu."
Lilith melompat. Cepat—sangat cepat. Yun-seo nyaris tidak sempat menangkis serangannya dengan tombak. BRAK! Benturan itu menciptakan gelombang kejut yang merobohkan prajurit di sekitar.
"Lumayan," komentar Lilith sambil melayang mundur. "Tapi belum cukup."
Ia menyerang lagi—kali ini dengan kedua tangan mengeluarkan api hitam pekat. Yun-seo mengaktifkan perisai cincin. Api hitam menghantam perisai, membuatnya bergetar hebat. Retak mulai muncul.
"Aku tahu kelemahanmu," desis Lilith. "Perisaimu tidak akan bertahan lama."
Yun-seo mundur, bertahan. Di sudut matanya, ia melihat Cheol-soo bertarung dengan tiga Wraith di dekat pandai besi. Pandai besi muda itu menggunakan Pedang Pemutus Bayangan dengan mahir—satu tebasan, satu Wraith lenyap.
Tapi jumlah mereka terlalu banyak.
---
Di dalam istana, Jin-ho terbangun.
Ia mendengar suara ribut dari luar. Dentuman, teriakan, halilintar. Bocah kecil itu duduk di tempat tidurnya, matanya membelalak ketakutan.
"Ibu? Ayah?" panggilnya lirih.
Tidak ada jawaban. Pengasuhnya—seorang wanita iblis tua—tidak ada di kamar. Mungkin keluar untuk melihat situasi.
Jin-ho turun dari tempat tidur. Kakinya yang mungil menginjak lantai batu dingin. Ia berjalan ke pintu, membukanya perlahan.
Di koridor, dua prajurit berjaga. Mereka melihatnya, terkejut.
"Pangeran! Kembali ke kamar!" seru salah satu.
Tapi sebelum Jin-ho bisa kembali, bayangan hitam melesat dari ujung koridor. Dalam sekejap, kedua prajurit itu tewas—leher mereka terputus oleh senjata tak terlihat.
Seekor Wraith muncul dari bayangan, menatap Jin-ho dengan mata merah.
"Anak ratu," geramnya, menjulurkan tangan cakar.
Jin-ho gemetar. Air mata mengalir. Tapi di saat paling menakutkan itu, sesuatu dalam dirinya bangkit.
Matanya—yang hitam pekat—menyala merah.
Api hitam meledak dari tubuh mungilnya, menghantam Wraith itu dengan kekuatan luar biasa. Wraith itu menjerit, terbakar, lalu lenyap.
Jin-ho jatuh terduduk, menangis. Tapi di sekelilingnya, sisa-sisa api hitam masih menari—melindungi tuannya yang masih balita.
---
Yun-seo terdesak.
Perisainya sudah retak di mana-mana. Lilith terus menekan, tertawa senang melihat perjuangannya.
"Menyerahlah, Kang Yun-seo. Aku akan membunuhmu cepat. Lalu anakmu, lalu ratumu. Kalian akan menyusul ibuku di penjara."
Sebutan "ibuku" membuat Yun-seo teringat sesuatu. Lilian di menara—rantai, penyesalan, air mata.
"Kau tahu ibumu menangis karenamu?" katanya di sela pertarungan.
Lilith terhenti. "Apa?"
"Aku bicara dengan Lilian. Sebelum kau menyerang." Yun-seo memanfaatkan momentum. "Ia menangis. Ia tidak ingin kau jadi begini. Ia ingin kau bahagia."
"Diam!" Lilith menyerang lebih ganas.
Tapi Yun-seo terus bicara. "Ia menyembunyikanmu karena ia mencintaimu. Ia ingin kau hidup normal, jauh dari perang. Tapi kau memilih jalan ini. Jalan yang akan membuatnya mati dalam penyesalan."
"DIAM!" Api hitam membabi buta.
Yun-seo tidak bertahan. Ia melompat, menghindar, dan terus bicara. "Ibumu ada di menara, menunggu kau. Ia ingin bertemu, memelukmu sekali lagi. Tapi kau terlalu sibuk membenci."
Lilith berhenti. Tubuhnya bergetar. Matanya—merah menyala—berkedip, menunjukkan keraguan.
"Aku... tidak percaya padamu..."
"Coba lihat." Yun-seo mengeluarkan benda kecil dari sakunya—sehelai rambut perak yang diambil dari sel Lilian. "Ini rambutnya. Ia memintaku menyelamatkanmu."
Itu bohong. Lilian tidak pernah berkata begitu. Tapi Yun-seo harus mencoba.
Lilith meraih rambut itu. Di tangannya, rambut perak itu bersinar—masih ada sisa energi ibunya. Air mata mengalir di pipinya.
"Ibu..." bisiknya.
Saat itulah, dari langit, sosok bersayap hitam turun dengan cepat.
Yehwa.
Pedang Naga Iblisnya menyala merah, siap menyerang. Tapi ia melihat Lilith menangis, Yun-seo berdiri di hadapannya tanpa bertarung.
"Apa yang—"
"Tunggu!" teriak Yun-seo. "Dia ragu!"
Yehwa mendarat di samping suaminya, pedang masih terhunus. Lilith menatap mereka bergantian—air mata masih mengalir.
"Aku..." Lilith mundur selangkah. "Aku tidak tahu..."
"Ayo pulang," kata Yun-seo lembut. "Temui ibumu. Bicaralah padanya. Kalau setelah itu kau masih ingin perang, kita hadapi."
Lilith diam lama. Lalu, perlahan, api hitam di tangannya padam.
Para Wraith melihat pemimpin mereka melemah. Beberapa mulai mundur. Yang lain ragu.
Tapi tidak semua.
Seekor Wraith besar—lebih besar dari yang lain—melompat, menyerang Lilith dari belakang. "PENGHIANAT! KAU LEMAH!"
Yehwa bergerak lebih cepat. Pedangnya membelah Wraith itu menjadi dua sebelum sempat menyentuh Lilith.
Lilith jatuh berlutut, terkejut. Yehwa menatapnya.
"Hidupmu sekarang," katanya dingin. "Jangan sia-siakan."
---
Pertempuran mereda.
Pasukan bayangan mundur, kehilangan pemimpin. Prajurit Dinasti Iblis mulai membersihkan medan perang, merawat yang terluka, menghitung yang tewas.
Yun-seo berlari ke dalam istana, mencari Jin-ho. Ia menemukan putranya di koridor, duduk di lantai dengan dua prajurit tewas di sampingnya. Tubuh mungil itu dikelilingi bekas api hitam.
"JIN-HO!" Yun-seo menggendongnya erat.
Jin-ho menangis di pelukan ayahnya. "Ayah... Jin-ho takut... ada monster..."
"Sudah, Nak. Ayah di sini. Ibu juga." Yehwa datang, ikut memeluk.
Di sudut koridor, sisa-sisa api hitam masih membara—api yang keluar dari tubuh balita mereka.
Yehwa menatap suaminya. "Dia mewarisi kekuatan kita. Tapi ini... ini terlalu cepat."
Yun-seo mengangguk. "Kita harus ajari dia mengendalikannya. Sebelum terlambat."
Di luar, Lilith duduk di halaman, dikelilingi prajurit yang waspada. Ia tidak melawan. Matanya kosong menatap langit.
"Aku mau bertemu ibuku," katanya pelan.
Yehwa, yang baru keluar dari istana, mengangguk.
"Akan kuatur. Tapi ingat—satu gerakan mencurigakan, kau mati."
Lilith mengangguk lemas.
Perang malam itu berakhir. Tapi luka-luka masih terbuka. Dan di menara pengasingan, seorang ibu menunggu putrinya—dengan harapan dan air mata.
---