NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Pewaris Terkaya Yang Diremehkan

Istri Kontrak Pewaris Terkaya Yang Diremehkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Laskar Bintang

Demi menyelamatkan perusahaan ayahnya, Alina menerima pernikahan kontrak dengan pewaris konglomerat yang dingin dan kejam. Di mata semua orang, ia hanyalah wanita murahan yang menikah demi uang.

Tak ada yang tahu, Alina sebenarnya pewaris keluarga finansial terbesar yang sengaja menyembunyikan identitasnya.

Saat kontrak hampir berakhir dan rahasianya terbongkar, sang suami justru jatuh cinta. Kini, ketika kebenaran terungkap siapa yang sebenarnya sedang mempermainkan siapa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laskar Bintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tekanan yang Tidak Terlihat

Pagi itu berita utama bisnis menampilkan satu foto besar: Arsen Wijaya dan Livia Pratama berdiri dalam satu frame lama, diambil saat acara amal dua tahun lalu. Judulnya provokatif “Aliansi Lama Bangkit Kembali?”

Alina membaca artikel itu tanpa ekspresi, tapi jemarinya berhenti sedikit lebih lama di layar.

Media tidak pernah membutuhkan kebenaran. Mereka hanya butuh kemungkinan.

Di meja sarapan, Arsen tampak sama tenangnya seperti biasa. Ia membaca laporan di tablet sambil menyeruput kopi hitamnya.

“Kau sudah lihat berita?” tanya Alina akhirnya.

“Sudah.”

“Dan?”

Arsen meletakkan tabletnya. “Dan tidak ada yang berubah.”

Jawaban itu sederhana. Tegas.

Tapi Alina tahu dunia di sekitar mereka tidak sesederhana itu.

“Kau tidak khawatir ini akan mempengaruhi persepsi publik?” tanyanya lagi.

“Persepsi selalu berubah,” jawab Arsen datar. “Yang penting kontrolnya tetap di tangan kita.”

Alina menatapnya beberapa detik.

Kontrol.

Kata itu terasa ironis.

Karena semakin hari, ia sendiri mulai kehilangan kontrol atas hal yang paling ia jaga sejak awal: jarak.

Di kantor, suasana lebih panas dari biasanya.

Beberapa investor kecil mulai menjual sahamnya karena panik. Tidak signifikan secara angka, tapi cukup untuk menciptakan efek domino jika dibiarkan.

Dalam rapat darurat, Arsen berdiri di depan layar presentasi.

“Kita akan mengadakan konferensi pers sore ini,” katanya tegas. “Kita tegaskan posisi perusahaan dan bantah spekulasi aliansi.”

“Apakah Anda akan menyebutkan Ibu Alina?” tanya salah satu staf PR.

Ruangan langsung hening.

Arsen melirik Alina sebentar sebelum menjawab. “Ya.”

Semua kepala berputar ke arahnya.

Alina tidak menunjukkan reaksi. Tapi di dalam, pikirannya bekerja cepat.

Menyebut namanya berarti menempatkannya lebih jauh di depan publik. Artinya, semakin dekat dengan risiko identitasnya terbongkar.

Setelah rapat bubar, ia masuk ke ruang kerja Arsen tanpa mengetuk.

“Kau yakin?” tanyanya langsung.

Arsen berdiri di belakang mejanya. “Aku tidak ingin ada narasi bahwa kau hanya pajangan.”

Alina tersenyum tipis. “Aku tidak peduli narasi.”

“Aku peduli.”

Jawaban itu membuatnya terdiam.

Arsen berjalan mendekat. “Jika media terus menyerang dengan isu Livia, maka jawabannya sederhana. Aku tampilkan istriku.”

“Sebagai tameng?” tanya Alina pelan.

“Sebagai fakta.”

Tatapan mereka bertemu.

Ada kejujuran di mata Arsen yang sulit ia abaikan.

“Aku tidak ingin kau tertekan,” lanjutnya lebih rendah. “Jika kau tidak nyaman, aku bisa ubah strategi.”

Alina menggeleng pelan. “Tidak perlu. Aku akan ikut.”

Keputusan itu terasa seperti melangkah satu langkah lebih jauh ke garis depan.

Dan ia sendiri yang memilihnya.

Sore hari, ruang konferensi pers dipenuhi kamera dan mikrofon.

Alina berdiri di samping Arsen untuk pertama kalinya dalam sorotan sebesar itu. Gaun abu-abu sederhana yang ia kenakan kontras dengan kilatan lampu yang tak berhenti.

Arsen berbicara dengan tenang, menjelaskan kondisi perusahaan, membantah isu aliansi, dan menegaskan bahwa keputusan strategis diambil secara independen.

Lalu ia melakukan sesuatu yang tidak direncanakan.

Ia menggenggam tangan Alina.

Tidak lama. Tidak dramatis.

Tapi cukup untuk terekam jelas oleh puluhan kamera.

“Dan saya ingin menegaskan,” katanya tegas, “istri saya bukan bagian dari spekulasi apa pun. Ia adalah pendamping saya, dan saya berdiri bersama keputusan yang kami ambil.”

Kata kami menggantung di udara.

Alina merasakan hangat dari sentuhan itu, tapi juga tekanan yang tidak terlihat.

Ia tahu itu bagian dari strategi.

Tapi entah kenapa, tidak sepenuhnya terasa seperti sandiwara.

Malamnya, reaksi publik beragam.

Sebagian memuji soliditas mereka. Sebagian lain tetap meragukan.

Namun harga saham berhenti turun.

Itu kemenangan kecil.

Di rumah, suasana lebih tenang.

Alina berdiri di teras, memandangi taman yang gelap.

Langkah kaki Arsen terdengar mendekat.

“Kau hebat hari ini,” katanya pelan.

“Aku hanya berdiri.”

“Kau berdiri dengan percaya diri. Itu berbeda.”

Alina menoleh. “Kau juga cukup meyakinkan.”

“Aku tidak berbohong.”

Kalimat itu membuat dadanya mengencang.

“Bagian mana?” tanyanya.

“Semua.”

Angin malam berhembus lembut, membawa aroma bunga yang samar.

“Arsen,” ucap Alina perlahan, “jika suatu hari kau tahu aku tidak sepenuhnya seperti yang kau kira… apa yang akan kau lakukan?”

Arsen tidak langsung menjawab.

Ia menatapnya lama, seolah mencoba membaca sesuatu di balik pertanyaan itu.

“Selama kau tidak berkhianat,” katanya akhirnya, “aku tidak peduli siapa pun kau sebenarnya.”

Jawaban itu seperti pukulan lembut.

Karena masalahnya bukan pengkhianatan.

Masalahnya adalah rahasia.

Dan rahasia, cepat atau lambat, selalu terasa seperti pengkhianatan bagi orang yang tidak mengetahuinya.

Di sisi lain kota, Livia menonton ulang rekaman konferensi pers itu.

Ia menghentikan video tepat saat Arsen menggenggam tangan Alina.

Senyumnya memudar.

“Menarik,” gumamnya pelan.

Asistennya berdiri di belakang. “Apa kita lanjutkan rencana kedua, Nona?”

Livia menyilangkan kaki dengan anggun. “Tentu saja.”

“Targetnya?”

Ia menatap layar yang masih menampilkan wajah Alina.

“Istrinya.”

Keesokan harinya, undangan makan siang tiba di meja Alina.

Pengirimnya: Livia Pratama.

Tanpa pesan panjang. Hanya waktu dan lokasi.

Alina menatap kartu itu cukup lama sebelum akhirnya menyelipkannya ke dalam tas.

Saat Arsen masuk ke ruangannya, ia sudah kembali terlihat biasa.

“Ada yang aneh?” tanya Arsen, memperhatikan ekspresinya.

“Tidak,” jawab Alina ringan.

Ia tidak berbohong.

Hanya tidak mengatakan semuanya.

Dan untuk pertama kalinya sejak ia memasuki pernikahan kontrak ini, Alina menyadari sesuatu yang membuat napasnya terasa berat.

Ia bukan lagi hanya menguji Arsen.

Ia juga sedang menguji dirinya sendiri.

Seberapa jauh ia mampu menjaga rahasia… tanpa menghancurkan sesuatu yang mulai terasa nyata?

Dan lebih dari itu

Jika Livia benar-benar menjadikannya target, apakah ia akan tetap bermain aman?

Atau akhirnya membuka kartu yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat?

Permainan ini semakin dalam.

Dan garis antara strategi dan perasaan… hampir tak terlihat lagi.

(BERSAMBUNG)

1
Osie
mampir nih..baca sipnosis sepertinya seru..so lanjut baca dan moga ini cerita gak ngegantung kayak jemuran 🙏🙏
Nia nurhayati
mampirrr thorr
Lusi Sabila
kayaknya seru nih.. buat bucin yaa Thor tuh yg dingin kayak kulkas 10 pintu Arsen 😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!