NovelToon NovelToon
LAKSANA SAMUDRA

LAKSANA SAMUDRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Inar Hamzah

Melihatmu tersenyum lebar dibawah sinar mentari pagi, membuatku semangat menjalani hari.

Dandelion, adakah kesempatan untukku ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inar Hamzah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SELAMAT, KAMU TELAH MENIKAHI KU

Dua minggu lagi pernikahan Deya dan Rico akan di langsungkan. Namun Deya masih saja sibuk dengan kerjaannya. Seolah-olah dia sungguh enggan untuk mengurusinya, bahkan untuk sekedar fitting baju pengantin pun ia tak ada waktu. Semuanya dia serahkan pada orang tuanya, lebih tepatnya dia tak mau ikut campur untuk hal itu.

“De, kamu kapan mengambil cuti untuk acara pernikahan mu nak ?” Tanya Kia yang melihat Deya sedang mematut dirinya di cermin.

“Nggak tau bu.” Jawabnya singkat tanpa melihat sang ibu yang menatapnya sendu.

“De, kamu bahagia dengan pernikahan ini nak ?” Tanya Kia yang mulai mengikis jarak dengannya.

“Bahagia ataupun tidak, saya yang akan menjalaninya ibu. Saya akan berusaha sebisanya. Yang penting ibu dan ayah tidak khawatir dan bahagia atas pernikahan saya.” Jelasnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Kia membawa tubuh Deya dalam dekapannya. “Kamu masih punya waktu nak, jangan mengorbankan jika kamu tidak mau. Ibu menghargai keputusan mu, apapun itu.”

“Buu, saya mulai berdamai dengan diri sendiri, dengan semua ini. Dengan rasa sakit yang tak kunjung reda.” Imbuh Deya dan setetes cairan bening lolos dari pelupuk matanya.

“Hari ini sibuk, fitting baju ya untuk acara nya nanti.” Kia berusaha untuk berkata sebaik yang dia bisa pada sang anak.

“Nanti sepulang kerja ya bu, saya usahakan. Nanti saya kabari Rico juga.” Jawabnya dan bersiap untuk berangkat kerja.

Rumah yang awalnya biasa-biasa saja, kini mulai terlihat ornamen-ornamen pernikahan. Deya menatap sekeliling dan membenak. “Aku akan menjadi istri orang, bagaimana aku harus bersikap padanya ?”

Waktu berlalu bagai tak ingin tahu perasaan setiap orang, sama seperti Deya yang saat ini sibuk dengan pekerjaannya. Hingga sore tiba ia masih saja berkutat dengan meja kerja yang kian berantakan. Hampir saja gadis itu di buat menangis oleh kerjaan yang di rasa tak ada henti-hentinya.

Triing,,

Notif dari seseorang memenuhi layar depan ponselnya. Seperti biasa, ia begitu enggan untuk membukanya. Entahlah itu adalah pesan keberapa yang dia diamkan.

Sore ini Deya memutuskan untuk membuka semua pesan yang tertimbun itu, pandangannya langsung menuju pada pesan terkahir.

“De, masih sibuk. Jadi sore ini kan ? Kalau nggak mau balas, tidak apa-apa. Aku nunggu kamu di cafe depan kantor mu.”

Rico mengiriminya pesan yang terlalu mengerti untuk memperlakukan Deya sebagai perempuan yang sungguh di inginkannya. Seperti biasa, Deya kembali mengabaikan pesan itu. Sejurus kemudian dia mengambil tas dan bersiap untuk pulang. Sementara laki-laki di dalam cafe itu pandangannya tertuju pada pintu kaca kantor depan, berharap seorang perempuan sudi menampakkan dirinya sore itu.

Menunggu memang sebuah hal yang sangat membosankan, sepertinya sore ini Rico harus kembali menelan pil kecewa. Helaan nafas yang begitu dalam berusaha di tahannya, ia memejamkan mata singkat seperti menahan sesuatu yang akan lolos.

Belum sempat ia membuka mata, suara derit kursi yang ditarik begitu dekat dengannya. Ia tampak terkejut dengan seseorang yang berada di depannya. Orang yang selama ini di tunggu, di tunggu hadir nya, di tunggu pesannya.

“De.” Bisik Rico hampir tak terdengar.

Deya hanya mengangguk, namun matanya menyiratkan sebuah lelah yang berusaha di tahannya.

“De, ada masalah ? Capek banget ?” Rico bertanya dengan nada yang khawatir.

Tidak ada jawaban, namun cairan bening lah yang menjadi gantinya.

“Deee.” Panggil Rico kembali.

“Capek.” Jawab Deya yang menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. “Aku tak pernah ingin berada di posisi ini. Aku tak pernah berharap berada di pernikahan ini, aku sudah tak pandai prihal mencintai. Maaf, maafkan aku yang masih belum bisa menerima kenyataan ini.” Tambahnya kembali.

“Deee, jangan begini.” Rico mengusap wajahnya kasar. “Jika kamu benar-benar tak menginginkan pernikahan ini, aku bisa batalin saat ini juga De, aku--.” Ucapan Rico terputus suaranya tercekat, “aku mencintai mu dengan sangat De, meski bukan berarti kamu juga harus mencintai ku. Namun, jika kesempatan datang pada ku, biarkan aku memberikan semua cinta yang ku punya untuk mu, walau aku tahu perasaan mu pada ku tak akan pernah berubah.” Lirih Rico dengan tulus pada gadis di depannya itu.

***

Dalam balutan kebaya panjang putih, make up yang begitu sederhana namun memancarkan kecantikan pada setiap kedipan mata yang memandang. Pagi ini Deya menatap pantulan dirinya di kaca dengan nanar. Tiada terpancar kebahagian dalam kelopak mata yang indah itu, hanya tatapan sendu yang berpendarkan kesedihan dan tumpukkan air di ujungnya.

“Aku membenci diriku yang belum bisa mencintai mu bahkan setelah tulus yang engkau perlihatkan.” Bisiknya pada pantulannya.

Sementara,,

Hari ini sangat cerah, secerah senyum yang berusaha Rico perlihatkan. Iya, laki-laki itu sedang berusaha baik-baik saja. Padahal sebenarnya ia begitu cemas akan keadaan Deya. Perempuan yang semalam bertukar suara dengannya dengan nada bergetar, dengan permohonan pada Rico untuk memperlakukannya dengan baik setelah mereka bersama, karena ia sadar tidak ada perasaan lebih untuk Rico.

Dalam ruangan yang mulai di penuhi tamu undangan itu, Rico mantap dan saling berhadapan dengan Samsu. Namun, gugup menyelimuti, pikirannya berkecamuk, antara melanjutkan atau malah menghentikan. Menghentikannya dengan resiko mempermalukan kedua keluarga, melanjutkan pun sama saja dengan tega melihat Deya bersedih setiap saat.

Dalam bimbang yang semakin di rasa, Handoko mengelus lembut punggung Rico sambil berucap. “Semua yang abang pilih ada resikonya, maka pilihlah yang resikonya bisa abang jalani. Ini belum mulai abang masih bisa mementukan keputusan abang.” Bisiknya lembut dan tenang.

Seulas senyum, Rico lontarkan pada sang ayah, dan dia semakin mantap dengan keputusannya hari itu.

Setelah semuanya lengkap dan berkas-berkas yang di perlukan telah di persiapkan. Samsu saling berjabat tangan dengan Rico. Proses ijab Kabul di iringi dengan tangisan Samsu, tangisan karena akan melepas sang putri satu-satunya.

Di serahkannya tanggung jawab atas putri tercintanya, Laksmi Deyandra pada seorang laki-laki yang di rasa baik dan mampu membimbing sang putri. Arkana Samuelirico, laki-laki yang telah di kenalnya dari berpuluh-puluh tahun yang lalu, laki-laki yang mengorbankan cita-cita dan impiannya agar keluarganya tak perlu memikirkan dirinya.

Isak tangis kembali terdengar setelah Samsu secara hukum dan agama menyerahkan tanggung jawab itu pada Rico. Pun sama dengan Rico yang meneteskan air mata karena berhasil menikahi gadis yang selama ini di cintainya. Sedangkan dalam kamar pengantin itu, Deya menatap langit-langit kamar. Ia sudah tak ingin lagi menangis, namun sekarang dia malah bimbang dan seperti kehilangan arah.

Rangkain acara berjalan dengan lancar, akad di pagi hari dan resepsi di malam hari. Keduanya berusaha memerankan peran dengan sebaik mungkin. Sepanjang acara, keduanya hanya tersenyum dan tangan yang saling bertaut erat. Rekan kerja Deya sungguh kaget, berharap ini mimpi namun ternyata tidak. Berbeda dengan teman-teman Rico yang sudah menebaknya, karena Deya adalah satu-satunya perempuan yang berhasil membuatnya di mabuk kepayang.

Deya menatap langit malam yang cerah di balkon, dengan mengenakan baju tidur seperti yang biasa di pakai. Pandangannya lurus ke depan, tubuhnya tegap seoalah menantang. Dari arah belakang Rico menyenderkan pundaknya pada daun pintu. Dilihatnya perempuan yang pagi tadi dinikahinya, namun entah kenapa Rico merasa Deya semakin jauh dari jangkauannya.

“De.” Panggil Rico lembut dan berdiri di samping Deya.

Deya menoleh dengan keadaan wajah yang kacau, mata yang masih mengalir kan air, pipi yang masih menyisahkan bekas air, dan hidung yang memerah karena terlalu lama menangis.

“Selamat, kamu berhasil menikahi ku.” Ucap Deya sambil memegang punggung tangan Rico singkat, kemudian berbalik arah.

Belum sempat Deya melepas tangan Rico, laki-laki itu telah lebih dulu membawa Deya dalam dekapannya dan memeluk erat.

“Maaf, maaf kan aku. Aku akan bertanggung jawab atas semua ini De.” Ucap Rico sambil mengusap lembut surai hitam Deya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!