NovelToon NovelToon
Reverb

Reverb

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Konflik etika / Idol / Tamat
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Lucky Caleb adalah definisi kesempurnaan di Berlin—seorang penyanyi dan aktor papan atas dengan kekayaan melimpah dan popularitas yang menggila.
Namun, di balik kemewahan hidupnya, Lucky adalah pria yang terjebak di masa lalu. Kesuksesan lagu-lagu hitsnya sebenarnya merupakan rahasia yang ia simpan bersama Renata Brox, kekasih masa SMA yang juga merupakan penulis lirik di balik jeniusnya musik Lucky.
Tiga tahun lalu, saat mereka berusia 19 tahun, Renata memilih mundur. Muak dengan tekanan industri dan merasa tidak lagi menjadi prioritas di tengah kesibukan Lucky yang egois, Renata menghilang dan memulai hidup baru sebagai mahasiswi hukum yang cerdas di London.
Di tengah kesepian dan kegagalannya untuk move on, Lucky hanya memiliki Freya, asisten pribadinya yang setia. Freya adalah satu-satunya orang yang mampu menghadapi sisi dingin dan manja Lucky, sosok yang mengatur seluruh hidup sang bintang dan menjadi jangkar di tengah badai ketenaran.

Selamat Bacaaaa 🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#8

Dunia seolah berhenti berputar di bandara kedatangan Heathrow. Lucky Caleb, pria yang biasanya begitu menjaga imej dan jarak, seolah kehilangan seluruh kesadarannya sebagai seorang bintang global. Ia mengabaikan instruksi manajer di alat komunikasinya, mengabaikan protokol keamanan yang ketat, dan mengabaikan pandangan orang-orang di sekitar.

Langkah kakinya lebar dan terburu-buru, menerjang jarak yang memisahkan mereka selama tiga tahun. Tanpa sepatah kata pun, ia langsung merengkuh tubuh Renata Brox ke dalam pelukannya. Sangat erat, seolah jika ia melonggarkannya sedikit saja, gadis itu akan kembali menguap menjadi kabut London.

"Kau di London? Kau menungguku?" bisik Lucky dengan suara yang bergetar hebat. Kepalanya terkubur di ceruk leher Renata, menghirup aroma yang selama ini hanya ia temui dalam imajinasi sisa masa lalu.

Renata membeku. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini luruh membasahi parit cokelatnya. Ia mengira akan mendapatkan tatapan benci, makian, atau setidaknya sikap hambar yang dingin karena ia telah pergi tanpa penjelasan. Namun, pelukan ini mementahkan semua ketakutannya. Lucky masih Lucky miliknya. Pria ini tidak berubah; hatinya masih tersimpan di tempat yang sama saat mereka berusia sembilan belas tahun. Renata merasa seolah sedang melayang di atas awan, menemukan kembali rumah yang ia kira telah hancur.

Namun, tepat di belakang mereka, ada satu hati yang hancur berkeping-keping dalam kesunyian.

Freya berdiri mematung. Tangannya masih memegang tas perlengkapan Lucky, namun seluruh persendiannya terasa lumpuh. Ia melihat pemandangan itu dengan mata yang memanas. Ia sudah melihat foto Renata ribuan kali—di laci terkunci, di saku jaket Lucky, di dalam buku catatan rahasia pria itu. Ia sudah mengenal wajah Renata lewat ingatan Lucky, tapi menghadapi kenyataan langsung ternyata jauh lebih menyakitkan dari yang ia bayangkan.

Di balik masker hitamnya, air mata Freya jatuh dalam diam. Ia menelan sesak yang menghimpit tenggorokan. Kau bahagia, Luc. Itu tujuanku, kan? batinnya menjerit. Ia selalu berjanji bahwa tugasnya adalah memastikan Lucky bahagia dan tidak lagi tersakiti. Jika kebahagiaan Lucky adalah wanita ini, maka Freya harus menerima bahwa perannya hanyalah sebagai penonton di baris terdepan dalam kehancuran hatinya sendiri.

"Luc... dia siapa?" tanya Renata pelan setelah pelukan itu terlepas sedikit, matanya beralih pada sosok gadis bermasker yang berdiri kaku di belakang Lucky.

Lucky tersadar. Ia menoleh ke arah Freya, namun tangannya masih menggenggam erat jemari Renata. "Ini Freya. Asistenku," jawab Lucky singkat.

Tanpa menunggu lebih lama, Lucky menarik tangan Renata, namun ia juga memberi isyarat pada Freya. "Ayo masuk ke mobil," ucap Lucky.

Kalimat itu sebenarnya ditujukan untuk mereka berdua, namun Lucky justru bergerak lebih dulu untuk menarik Freya mendekat ke arah barisan mobil hitam yang sudah menunggu. Ia seolah ingin memastikan bahwa asistennya itu tidak tertinggal di tengah keriuhan.

Renata yang melihat tindakan Lucky terhadap asistennya itu sempat menegang. Ada sesuatu yang janggal dari cara Lucky memperlakukan gadis bermasker itu—sebuah kedekatan yang tidak biasa bagi hubungan majikan dan staf.

"Ayo, Renata. Masuk ke mobil. Kita butuh bicara," ajak Lucky lagi, kali ini nada suaranya penuh otoritas namun lembut.

Mereka bergerak di bawah pengawalan ketat para bodyguard. Beruntung, karena ini terminal pribadi dan masih sangat pagi, tidak ada kamera paparazzi yang menangkap momen emosional tersebut.

Di dalam mobil mewah yang kedap suara itu, suasana berubah menjadi sunyi yang menyesakkan.

Lucky duduk di bangku belakang, tepat di samping Renata. Tangan mereka masih bertautan di atas jok kulit, seolah sedang melakukan kompensasi atas waktu tiga tahun yang hilang. Lucky tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Ia hanya menatap wajah Renata dengan senyum bahagia yang tak pernah hilang—jenis senyum yang tidak pernah Freya lihat selama tiga tahun bekerja dengannya.

Sementara itu, Freya duduk di bangku depan, tepat di samping supir. Ia menatap lurus ke kaca depan, namun matanya terus-menerus melirik ke arah kaca spion tengah. Lewat pantulan kaca itu, ia bisa melihat betapa cerahnya wajah Lucky. Lucky tampak seolah baru saja mendapatkan kembali jiwanya yang hilang.

Renata pun sama diamnya. Ia hanya menunduk, sesekali melirik Lucky dengan tatapan bersalah namun penuh cinta. Ia masih terkejut dengan keberanian Lucky membawanya masuk ke dalam mobil ini.

Freya meremas jemarinya sendiri di bawah dasbor. Ia merasa seperti orang asing di dalam ruang yang biasanya menjadi miliknya.

Di dalam mobil ini, biasanya ia dan Lucky akan bercanda, Lucky akan manyun karena kelelahan, dan Freya akan menghiburnya. Tapi sekarang, ia hanyalah penghalang di antara dua kekasih yang baru saja dipertemukan kembali oleh takdir.

Biarlah kehancuran ini hanya milikku, Luc, bisik Freya dalam hati. Ia membetulkan posisi maskernya, memastikan tidak ada yang melihat bahwa di balik kain itu, bibirnya gemetar menahan tangis.

Mobil itu melaju menembus kabut pagi London yang mulai menipis. Lucky Caleb telah menemukan dunianya kembali, sementara Freya Montgomery mulai menyadari bahwa penyamarannya mungkin tidak akan pernah berakhir dengan akhir yang ia impikan.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
Ridwani
👍👍
winpar
hujn2 bca cerita sedih ini 😥😥😥😥
smngt Thor ceritanya bgus bgt
ros 🍂: Aaaa ma'aciww udah semangatin 🤭
total 1 replies
Ridwani
👍👍👍
winpar
pinter bgt kk thornya1 hari bnyk bnget up nya 🥰😍
ros 🍂: Makasih jejak nya kak, kan jadi tambah semangat nulisnya 🥰
total 1 replies
winpar
up lgi kk seru bgt ceritanya🥰😍
ros 🍂: Ma'aciww jejak nya kak🥰🙏
total 1 replies
winpar
sedih banget 😥😥😥😥
ros 🍂: Kita harus bahagia Kak 😭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!