NovelToon NovelToon
Milik Sang Kapten

Milik Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Menyembunyikan Identitas / Romansa
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

Karline sengaja bersembunyi di balik masker dan jaket gembel demi ketenangan. Namun, sebuah insiden di kolam renang membongkar segalanya. Di balik penampilan kumuhnya, ternyata ada kecantikan luar biasa yang membuat seisi sekolah lupa cara bernapas.
​Dean, sang kapten voli yang populer dan arogan, tidak tinggal diam. Sejak napas buatan itu diberikan, Dean mengklaim Karline sebagai miliknya. Kini, Karline harus menghadapi dunia yang memujanya, sekaligus menghadapi obsesi posesif sang kapten yang tidak sudi berbagi tatapan Karline dengan pria mana pun.
​"Lepaskan maskermu. Mulai sekarang, kamu aman di bawah kuasaku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 Luka yang Terbuka

Pagi itu, suasana SMA Garuda Kencana terasa lebih dingin dari biasanya. Karline berjalan melewati koridor utama dengan jaket kebesaran dan masker yang masih melekat. Namun, ada yang berbeda dari langkahnya, tidak ada ketegasan seperti kemarin-kemarin. Bahunya sedikit merosot, dan matanya terlihat sembap di balik kacamata beningnya.

​Tepat di tengah koridor, di saat arus siswa sedang padat-padatnya menuju kelas, Karline tiba-tiba berhenti. Ia berdiri diam seperti patung, menarik perhatian semua orang yang melintas.

​Perlahan, tangannya bergerak melepas kaitan maskernya. Kemudian, ia membuka topinya, membiarkan rambut hitamnya yang indah tergerai jatuh ke bahu. Terakhir, ia melepas jaket tebalnya, menampakkan seragam sekolah yang selama ini ia sembunyikan. Karline berjalan menuju loker pribadinya, memasukkan semua atribut "penyamarannya" itu ke dalam, lalu menguncinya rapat-rapat.

​Siswa-siswi di koridor mendadak mematung. Keheningan yang mencekam menyelimuti area itu. Mereka terpaku melihat wajah Karline yang selama ini menjadi misteri wajah yang begitu cantik, namun tampak sangat sendu dan hancur. Tanpa sepatah kata pun, Karline berjalan menuju kelasnya, meninggalkan ratusan pasang mata yang masih berusaha mencerna apa yang baru saja mereka lihat.

​Di dalam kelas XI-IPA 2, suasana tak kalah heboh. Saat Karline masuk, teman-temannya saling lirik. Sarah, yang sedang merapikan meja, sampai menjatuhkan kotak pensilnya.

​"Maaf, kamu siapa ya? Salah kelas?" tanya Sarah ragu-ragu.

​Karline hanya mengangguk pelan. "Ini aku, Sarah."

​"Karline?!" teriak Sarah dan teman-teman sekelasnya serentak.

​Mereka hampir tidak percaya. Karline yang mereka kenal sebagai sosok ninja misterius ternyata adalah gadis dengan kecantikan luar biasa yang bisa menyaingi Clarissa bahkan mungkin jauh melampauinya. Namun, kegembiraan mereka seketika sirna saat Karline duduk di bangkunya dan langsung menelungkupkan wajah di atas kedua tangannya. Isak tangis yang tertahan mulai terdengar, membuat suasana kelas mendadak haru.

​"Karl, kenapa? Kok kamu nangis?" Sarah mendekat, mengelus pundak Karline dengan cemas.

​Teman-teman sekelasnya yang lain mulai berkerumun. "Karl, cerita sama kita. Siapa yang bikin kamu kayak begini? Kamu cantik banget, kenapa malah sedih?"

​Karline masih diam, bahunya terguncang hebat. Namun, dorongan solidaritas dari teman-temannya yang terus memaksa akhirnya membuat ia mengangkat wajahnya. Dengan mata yang memerah dan suara yang serak, Karline menceritakan semuanya. Ia bercerita tentang pencegatan di belakang sekolah, tentang pembukaan paksa maskernya, dan yang paling menyakitkan, tuduhan kotor Dean tentang dirinya sebagai "barang pakai" untuk om-om.

​"Bajingan!" teriak salah satu cowok di kelas itu, memukul meja hingga suaranya bergema.

​"Gila, itu udah bukan sekadar senioritas, itu pelecehan verbal!" sahut yang lain dengan wajah merah padam.

​Satu kelas XI-IPA 2 mendadak kompak. Rasa kagum mereka pada kecantikan Karline berubah menjadi kemarahan besar pada kakak kelas mereka. "Kita nggak bisa diemin ini. Kita labrak mereka sekarang! Masa bodoh kalau mereka senior!"

​Di gedung kelas dua belas, Dean, Raka, dan Rio sedang duduk di depan kelas mereka. Penampilan mereka sangat berantakan, Rio mengenakan perban besar di hidungnya, sementara Raka berjalan sedikit mengangkang karena rasa ngilu yang belum sepenuhnya hilang.

​Dean hanya diam, menatap kosong ke lapangan. Namun, ketenangannya pecah saat segerombolan siswa kelas sebelas datang mendekat dengan wajah penuh amarah.

​"Woi, Kak Dean! Keluar lo!" teriak pemimpin kelas XI-IPA 2.

​Dean berdiri, mencoba mempertahankan wajah angkuhnya. "Mau apa kalian? Masih kurang masalah kemarin?"

​"Lo yang mau apa!" bentak salah satu siswa kelas sebelas. "kak, Lo udah keterlaluan sama Karline! Lo pikir karena lo kapten voli, lo bisa hina harga diri perempuan seenaknya? Denger ya, kita semua bakal bikin petisi buat berhentiin lo jadi kapten selamanya. Orang kayak lo nggak pantes jadi panutan!"

​Dean terdiam. Ia melihat kemarahan yang begitu nyata di mata adik-adik kelasnya. Rio dan Raka yang tadinya ingin ikut membentak, mendadak ciut saat melihat jumlah massa yang membela Karline.

​"Kalian nggak tahu apa-apa..." gumam Dean pelan.

​"Kita tahu semuanya dari Karline! Dan kalau sampai lo atau geng lo berani deketin Karline lagi, kita nggak akan segan-segan laporin ini ke kepolisian atas tindakan perundungan dan pelecehan!" ancam mereka sebelum akhirnya pergi meninggalkan Dean yang terpaku.

​Saat jam pulang sekolah, Karline berjalan keluar gerbang. Tanpa masker dan topi, kecantikannya benar-benar menjadi pusat perhatian. Namun, ia tidak peduli. Ia hanya ingin cepat sampai ke rumah.

​"Karline!" panggil sebuah suara dari belakang.

​Itu Raka. Ia mendekat dengan langkah ragu, wajahnya tampak gugup. Begitu berada di depan Karline, Raka seolah kehilangan kata-katanya. Ia terpana melihat wajah asli Karline secara langsung dari jarak dekat; wajah yang sedang menatapnya dengan penuh kebencian.

​"Mau apa lagi? Masih belum puas?" tanya Karline dengan nada yang sangat tegas dan dingin.

​"Gue... gue cuma mau..." Raka terbata-bata. Sebenarnya, Dean menyuruhnya untuk sedikit "mengecek" keadaan Karline, dan Raka sendiri merasa bersalah.

​"Dengar," Karline memotong ucapan Raka. "Kalian semua biadab. Aku masih menyimpan dendam pada kalian, terutama pada si manusia sialan itu, Dean. Katakan padanya bahwa aku tidak takut sedikit pun. Kecantikan atau fisik yang kalian hina itu tidak akan pernah bisa kalian miliki atau kalian hancurkan lagi."

​Raka tertegun. Niatnya untuk meminta maaf atau setidaknya mencairkan suasana mendadak sirna karena ketajaman kata-kata Karline. Ia hanya bisa berdiri mematung saat Karline berbalik dan masuk ke dalam mobil sedan hitamnya yang sudah menunggu.

​Dari kejauhan, di balik pilar sekolah, Dean memperhatikan kejadian itu. Ia mendengar setiap kata-kata pedas Karline melalui angin yang berhembus. Dadanya terasa sesak. Ia ingin maju, tapi ia tahu, saat ini ia adalah orang terakhir yang ingin dilihat oleh gadis cantik yang sedang terluka itu.

1
Anonymous
jgn gantung dong thor 😭
jajangmyeon
Suka banget sama ceritanya! Alurnya menarik dan karakternya juga bikin penasaran. Pokoknya recommended, yang lain wajib baca! 😆✨
Ra H Fadillah: Terima kasih, senang sekali melihat komentarmu yang sangat positif 💞
total 1 replies
Anonymous
loh kok beda thor?
Anonymous: oke thorr, semangat selalu 💪😎
total 2 replies
jajangmyeon
wihhhhh seru nii
brawijaya Viloid
yey cerita baru 😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!