NovelToon NovelToon
Iman Yang Tak Terbeli

Iman Yang Tak Terbeli

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Malolo

seorang gadis muslimah Shafira Azzahra 25 tahun yang taat, tinggal dengan orang tuanya dan seorang adik laki yang masih SMA. Ayahnya seorang tukang bersih di rumah Dave dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Dave 30 tahun adalah CEO kaya raya, arogan dan antipati dengan wanita yang berhijab. Pertemuan mereka di perusahaan Dave yaitu Mahesa grup. Shafira adalah karyawan di perusahaan itu di divisi keuangan. Dave diminta untuk mencari istri tapi blm ada yang cocok. Orang tuanya selalu mendesak. Dave tidak terlalu paham agama nya meskipun dia adalah muslim. Karena jarang di ajarkan orng tuanya yang sibuk berbisnis. Dave datang di perusahaan itu untuk menggantikan ayahnya yang sdh ingin istirahat. Sebelumnya Dave memimpin perusahaan di luar negeri. Dave tidak suka melihat karyawannya yg berhijab. Menurut dia semua wanita sama hanya menyukai uang. Dia ingin Shafira menanggalkan hijabnya jika msh ingin bekerja di perusahaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18. Layar Kebenaran dan Racun Masa Lalu

Malam merayap semakin larut di langit Jakarta, namun bagi mereka yang terjebak dalam pusaran konflik Mahesa Group, waktu seolah berhenti berputar. Di kediaman megah keluarga Mahesa, Bu Sarah duduk dengan punggung tegak di kursi kerjanya yang berlapis kulit domba.

Cahaya dari layar monitor memantul di kacamatanya, menampilkan sebuah foto lama yang sudah sedikit buram namun cukup jelas untuk menghancurkan reputasi seseorang. Di dalam foto itu, Shafira yang berusia sekitar 21 tahun tampak sedang duduk di sebuah kafe bersama seorang pria tampan berwajah oriental. Mereka tertawa, dan posisi kamera membuat mereka seolah-olah sedang berpegangan tangan.

"Cari tahu siapa pria ini. Temukan dia, tawarkan berapa pun yang dia mau agar dia mengaku bahwa Shafira adalah mantan kekasihnya yang materialistis," perintah Bu Sarah kepada asistennya melalui sambungan telepon. Suaranya tidak menunjukkan getaran emosi sedikit pun, hanya ada kalkulasi dingin seorang wanita yang merasa kekuasaannya terancam.

"Jika Dave ingin menggunakan kejujuran sebagai senjatanya, maka aku akan menggunakan 'kesucian' gadis itu sebagai kelemahannya. Di negeri ini, sekali seorang muslimah yang dianggap taat terseret skandal moral, kata-katanya tidak akan lagi dipercaya, meski dia membawa bukti dari langit sekalipun."

Sementara itu, di apartemen Dharmawangsa, kelegaan Dave hanya bertahan sekejap. Ia sedang duduk di sofa ruang tengah, sementara Shafira berada di dapur untuk menyiapkan teh hangat bagi mereka dan Pak Devan yang baru saja beristirahat di kamar tamu. Tiba-tiba, ponsel Dave bergetar gila-gilaan.

Tagar nama Shafira yang tadinya dipenuhi dukungan, kini mulai berubah arah. Sebuah akun gosip baru saja mengunggah foto yang sama dengan yang dipegang Bu Sarah, disertai narasi: “Dibalik jilbab lebarnya, benarkah sang sekretaris memiliki masa lalu gelap dengan putra konglomerat dari Surabaya?”

Dave merasakan dadanya berdenyut kencang. Ada sisa-sisa sifat lamanya—rasa tidak percaya pada wanita yang mendadak bangkit kembali. Ia menatap layar itu dengan mata yang menyipit. Pria di foto itu... ia tampak begitu akrab dengan Shafira. Dave mencoba mengatur napasnya, namun kecemburuan yang tidak rasional mulai merayap. Ia berjalan menuju dapur, langkahnya berat. Shafira sedang menuangkan air panas ke dalam cangkir, uapnya menutupi sebagian wajahnya yang tenang.

"Shafira," panggil Dave, suaranya sedikit serak.

Shafira menoleh dan tersenyum tipis. "Iya, Pak? Tehnya hampir siap. Bapak butuh sesuatu?"

Dave tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menyodorkan ponselnya ke hadapan Shafira.

Senyum di bibir Shafira perlahan memudar, digantikan oleh gurat keterkejutan yang nyata. Tangannya yang memegang sendok kecil bergetar pelan hingga sendok itu jatuh berdenting ke lantai keramik. Shafira menatap foto itu, lalu menatap Dave dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Dari mana... dari mana mereka mendapatkan ini?" bisik Shafira parau.

"Itu tidak penting, Shafira. Yang ingin aku tahu, siapa pria ini?" tanya Dave. Suaranya terdengar seperti interogasi, jauh dari nada lembut yang ia gunakan saat siaran langsung tadi.

"Apakah benar apa yang mereka katakan? Bahwa kau... bahwa kau pernah menjalin hubungan dengan dia?"

Shafira meletakkan cangkir tehnya dengan tangan yang bergetar hebat. Ia merasa seolah-olah oksigen di dapur itu mendadak hilang. "Namanya Yoga, Pak. Dia senior saya di kampus. Tapi apa yang Bapak lihat di foto itu tidak seperti yang Bapak bayangkan. Kami sedang mengerjakan proyek penelitian bersama, dan foto itu diambil secara sembunyi-sembunyi dari sudut yang salah."

"Lalu kenapa kau tertawa begitu lepas bersamanya?" Dave menuntut penjelasan, egonya sebagai pria yang mulai mencintai Shafira merasa teriris. "Kau bilang kau menjaga diri, kau bilang kau tidak pernah dekat dengan pria mana pun. Tapi di sini, kau tampak sangat bahagia, Shafira!"

Air mata akhirnya jatuh membasahi pipi Shafira.

"Karena saat itu saya belum tahu bahwa dunia ini penuh dengan fitnah! Yoga adalah teman baik saya sebelum dia menyatakan perasaannya dan saya menolaknya karena perbedaan keyakinan. Setelah itu, saya menjauh darinya. Saya bersumpah demi Allah, Pak Dave, tidak ada hubungan apa pun di antara kami selain teman satu tim penelitian."

Shafira melangkah mundur, merasa terluka karena keraguan yang terpancar dari mata Dave.

"Bapak bilang Bapak percaya pada saya. Bapak bilang Bapak akan melindungi saya. Tapi hanya dengan satu foto dari masa lalu, Bapak langsung berubah menjadi hakim yang kejam. Apakah jilbab saya membuat saya tidak boleh memiliki teman? Apakah masa lalu saya harus sempurna tanpa cela agar saya bisa dianggap jujur?"

Dave terdiam. Kata-kata Shafira menghujam tepat ke jantungnya. Ia melihat kerapuhan yang luar biasa di depan matanya. Ia menyadari bahwa ia baru saja melakukan persis apa yang ibunya inginkan: meragukan Shafira.

Di saat dunia luar menghakimi gadis ini, ia justru ikut menambah luka itu. Dave merutuk dalam hati. Ia menjatuhkan ponselnya ke meja dapur dan melangkah maju, ingin meraih tangan Shafira namun kembali tertahan oleh batasan yang ada.

"Maafkan aku," bisik Dave, kepalanya tertunduk. "Aku... aku hanya takut kehilangan alasan untuk membelamu, Shafira. Ibuku tidak akan berhenti. Pria di foto ini, Yoga, dia akan dicari oleh orang-orang ibuku. Mereka akan memaksanya untuk berbohong."

Shafira menghapus air matanya dengan ujung jilbabnya, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa kekuatannya.

"Jika dia orang baik, dia tidak akan berbohong. Tapi jika dia memilih uang daripada kebenaran, maka biarlah Allah yang menjadi saksi saya. Pak Dave, saya lelah. Saya sangat lelah harus terus membuktikan bahwa saya bukan wanita rendahan hanya karena saya miskin dan memakai hijab."

Shafira kemudian berlalu dari dapur, meninggalkan Dave yang terpaku sendirian. Keheningan malam itu terasa semakin menyakitkan. Dave tahu, esok hari badai yang lebih besar akan datang. Fitnah tentang "masa lalu" adalah racun yang paling cepat menyebar. Ia segera mengambil kembali ponselnya dan menghubungi Rio.

"Rio, lacak keberadaan pria bernama Yoga ini sekarang juga. Jangan sampai orang-orang Mama menemukannya lebih dulu. Dan satu lagi, siapkan pengacara tambahan. Kita tidak hanya akan berurusan dengan kasus tabrak lari, tapi juga pencemaran nama baik yang sistematis."

Di kamarnya, Shafira kembali bersujud. Isakannya terdengar pilu di tengah kesunyian apartemen mewah itu. Ia mengadu kepada Pemilik Semesta tentang betapa beratnya memikul kehormatan di tengah dunia yang hanya memuja harta dan rupa. Ia tidak tahu bahwa di luar sana, Yoga memang sudah berada di dalam sebuah mobil hitam, dikawal oleh dua pria berbadan tegap menuju kantor pusat Mahesa Group. Bu Sarah sudah selangkah lebih maju.

Rencana Bu Sarah sangat sederhana namun mematikan: Yoga akan muncul di televisi nasional besok pagi, memberikan pengakuan palsu bahwa ia dicampakkan oleh Shafira karena Shafira lebih memilih mengejar CEO kaya raya seperti Dave Mahesa. Narasi "wanita berhijab pengejar harta" akan menjadi palu gada yang akan menghancurkan karier Dave dan harga diri Shafira selamanya.

Malam itu, di bawah langit Jakarta yang tanpa bintang, dua kubu sedang menyiapkan amunisi terakhir mereka. Dave dengan cintanya yang baru tumbuh dan penuh keraguan, melawan Bu Sarah dengan ambisinya yang membatu. Dan di tengah-tengah itu semua, Shafira Azzahra hanya memiliki doanya—sebuah senjata yang sering kali dianggap remeh oleh mereka yang berkuasa, namun mampu menggetarkan arasy Tuhan.

Pukul tiga pagi, Dave yang masih terjaga di ruang tamu melihat Shafira keluar kamar dengan membawa mukena. Gadis itu tidak menoleh padanya, ia langsung menuju sudut ruangan yang ia jadikan tempat shalat.

Dave memperhatikan dalam diam. Ia melihat bagaimana Shafira melipat tangannya, menundukkan kepalanya, dan tenggelam dalam komunikasi yang begitu khusyuk dengan Sang Pencipta. Pada saat itu, Dave menyadari satu hal: ia tidak butuh bukti apa pun untuk mempercayai Shafira. Ia hanya butuh melihat bagaimana gadis itu bersujud, dan ia tahu, wanita yang bersujud seperti itu tidak mungkin seorang pembohong.

Dave berdiri, ia mendekati Shafira yang baru saja menyelesaikan salamnya. "Shafira, aku tidak butuh penjelasan lagi soal foto itu. Aku percaya padamu. Apapun yang mereka katakan besok, aku akan berdiri di depanmu. Bahkan jika seluruh dunia membelakangimu, aku akan tetap di sana."

Shafira menoleh, matanya masih basah oleh air mata, namun kali ini ada secercah cahaya harapan di sana. "Terima kasih, Pak Dave. Tapi ingatlah, Bapak tidak berdiri untuk saya. Bapak berdiri untuk kebenaran."

Dave mengangguk pelan. Besok adalah hari penentuan. Dan ia bersumpah, ia akan menghancurkan setiap kebohongan yang mencoba menyentuh mahkota cahaya milik Shafira Azzahra.

1
Novita Sari
saudara kembar bersatu....
Meghawati: lanjut
total 1 replies
Novita Sari
semangat thor, tambah seru..
.
Meghawati: menegangkan
total 1 replies
Novita Sari
Alhamdulillah thor update banyak terimakasih thor n semangat 💪💪💪
Meghawati: selalu semangat
total 1 replies
Novita Sari
dave ada saudara, lanjut thor....
Meghawati: lanjut
total 1 replies
Novita Sari
lanjut thor...
Meghawati: lanjuuut
total 1 replies
Novita Sari
astaghfirullah bu sarah udah mau mati gak sadar sadar..
Meghawati: hahaha belum dapat hidayah
total 1 replies
Novita Sari
jangan liat dari masa lalu safira 😭😭😭😭 Alhamdulillah update banyak terimakasih thor, semangat 💪💪💪💪
Meghawati: terimakasih supportnya
total 2 replies
Novita Sari
semangat dave safira
Meghawati: terimakasih
total 1 replies
Siti Naimah
keren Shafira 👍
Meghawati: matap
total 1 replies
Novita Sari
jangan jangan dave bukan anak kandung bu sarah
Meghawati: jahat banget
total 1 replies
Novita Sari
terus berjuang di jalan Allah Safira..
Meghawati: aamiin
total 1 replies
Novita Sari
tambah seru, ditunggu kebucinan dave sama safira thor
Meghawati: lanjut
total 1 replies
Novita Sari
terus berkarya thor, cerita nya bagus..
Novita Sari
cerita bagus,..
Meghawati: makasih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!